It'S Perfect

It'S Perfect
Dia Istriku


__ADS_3

Hari pertunangan Alden dengan perempuan yang dijodohkan dengannya pun tiba. Saat itu Alden terlihat sangat tampan dengan jas yang ia kenakan. Sementara itu Dikta juga menghadiri acara pertunangan Alden.


"Dikta ikut aku" Alden menarik Dikta kedalam kamarnya.


"Ada apa Al?"


"Sebenarnya aku mau bilang kalo pertunangan ini harus dilakukan, tapi tolong jangan salah paham" Alden memegang tangan Dikta erat, ia terus memlerhatikan mata Dikta yang menatapnya menuntut penjelasan.


Seakan tau apa maksud dari tatapan Dikta, Alden menarik nafasnya dalam-dalam.


"Aku harus lakuin ini karena aku baru tau mama punya sakit jantung Ta, dan itupun kak Muel yang kasih tau aku tadi sore."


"Apa? Tante punya penyakit jantung?" Alden mengangguki ucapan Dikta dengan mata yang sudah memerah, dengan segera Dikta menarik Alden kedalam pelukannya.


"Jadi terpaksa aku harus melakukan pertunangan ini Ta, tapi aku janji perlahan aku akan menolak supaya mama gak kena sersngan jantung" mendengar suara Alden yang bergetar membuat Alden semakin mengeratkan pelukannya.


"Tanang Al, aku percaya sama kamu jadi please jangan nangis okey?" Entah sejak kapan Alden menjadi secengeng ini sehingga semakin membuat Dikta gemas.


"Ta, kamu kok ketawa si? Apa kamu gak khawatiri sama hubungan kita?"


Lagi-lagi Dikta terkekeh, masih dengan Alden didalam pelukannya Dikta mengusap ounggung Alden dengan lembut. "Disini tidak ada yang lebih cemas dari aku Al, aku yang terancam kehilangan kamu Al. Dan itu sebenarnya sangat membuatku marah. Jika aku bisa, sekarang juga aku akan memberitahu semuanya tentang hubungan kita Al. Tapi, aku juga tidak bisa mengabaikan kesehatan tante!"


Dikta kemudian mendudukkan Alden diatas tempat tidur. Dikta lalu berjongkok dihadapan Alden. Dikta sedikit mendongak karna posisinya yang lebih rendah. Perlahan Dikta mengusap lembut wajah Alden dengan mengulas senyum di wajahnya.


"kamu jangan terlalu tertekan Al, karna aku selalu percaya denganmu."


"kau berjanji tetap percaya sama aku kan Ta?"


Dikta tersenyum dan mengangguki Alden. Kemudian Dikta bangkit dan mengecup puncuk kepala Alden.


Damn


Seseorang dibalik pintu merasakan kekesalan yang amat besar, ia kemudian pergi ke sebuah ruangan dan memukul tembok dengan sangat keras.


"Jadi kalian masih berpikir untuk membatalkan hubungan itu setelah pertunangan ini?" Samuel kembali memukul tembok ya g ada dihadapannya.


"Kau memang laki-laki baik Dikta. Tapi tidak seharusnya kau menjalin hubungan dengan adikku! Sebenarnya aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, tapi aku tidak bisa membiatkan adik-adikki salah jalan! Tapi sejak kapan kalian memiliki perasaan satu sama laim? Padahal Alden dulu sering bergonta ganti perempuan termasuk almarhumah Friska!"


Samuel lalu merapikan pakaiannya, ia kembali memasuki ruang tamu untuk memulai acara pertungan Alden. Saat itu semua sahabatnya hadir namun Lesya menangkap sesuatu yang janggal.


'Ada apa dengan mereka? Apa mereka memiliki masalah?' Batin Lesya yang tidak sengaja melihat Alden terus menatap Dikta, begitupun sebaliknya.


'Ah sudahlah mungkin saja mereka sedang ada masalah, biar ku tanyakan besok'


Lesya kemudian berjalan kearah Alden yang saat itu hendak melakukan ritual pertukaran cincin. Begitu sumringah raut wajah sang perempuan, sementara Alden, Alden justru terus memperhatikan Dikta yang bwrdiri didekat meja dengan beberapa minuman beralk*hol.


Cukup banyak minuman yang dihabiskan oleh Dikta, hingga saat itu Alden hendak menghampiri Dikta, namun Samuel mencegahnya. Ia menyuruh Alden untuk sekedar mengobrol dengan perempuan yang sudah resmi menjadi tunangannya.

__ADS_1


Acara pertunangan pun usai, diperjalanan pulang Lesya hanya menatap keluar jendela. Saga yang melihat hal itu pun memegang tangan Lesya yang ada dipangkuannya.


"Sayang ada apa? Apa perutmu merasakan sesuatu?" Tanya Saga yang masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan sebelah tangannya yang teris menggenggam erat tangan Lesya.


"Aku khawatir dengan Alden dan Dikta, Saga."


"Ada apa dengan mereka sayang?"


"Sepertinya mereka ada masalah, yang aku lihat mereka berdua sedang bersitegang"


"Baiklah, besok biar aku cari tau"


_


Hari ini Arga kembali datang ke kantir Lesya dengan ditemani oleh Doni.


"Don, kau sudah siapkan semuanya?"


"Sudah pak"


Arga dan Doni memang selalu berbicara formal disaat berada diperjalanan bisnis, berbeda disaat mereka berdua bersama mereka bahkan akam saling mengejek meskipun hanya dalam candaan.


Di dalam ruangan, mereka sudah ditunggu oleh Dylan dan juga Lesya. Dan kini mereka mulai membahas projek mereka yang baru.


'Auh.. ini kenapa perutku sangat sakit' Lesya memegangi perutnya.


Namun ia masih berusaha untuk melanjutkan meeting bersama dengan Dylan dan Arga.


Brug


Ketika Arga dan Dylan hendak keluar, mendadak Lesya tumbang begitu saja.


"Lesya" ucap Arga dan Dylan bersamaan.


"Aku akan menyiapkan mobil" ucap Doni.


"Iya Doni cepat kamu siapkan biar aku yang mengangkatnya" sahut Dylan. Namun saat itu ponselnya berdering.


"Halo, ada apa Dita?"


"..."


"Oke, kamu tenang aku alan kesana!"


"Tolong bawa sepupuku ke rumah sakit tuan Arga, aku harus pergi. Ini sangat emergensi!" Raut kecemasan terlihat jelas dimata Dylan.


"Kau tidak perlu khawatir tuan Dylan"

__ADS_1


Dylan pun segera pergi, sementara itu Aega mengangkat tubuh Lesya.


Ketika keluar dari ruang meeting, orang pertama melihatnya adalah Andi. Dengan segera Andi menghampiri Arga yang saat itu menggendong Lesya dengan gaya bridal style.


"Ada apa dengan bu Lesya pak Arga?"


"Entahlah, tadi dia mendadak pingsan dan saya harus segera mebawanya kerumah sakit." Ucap Arga dan berlalu pergi.


Tidak bisa dipungkiri, Andi terlihat sangat cemas. Hingga saat itu Via datang ia tidak menyadarinya.


"Andi..."


Hingga beberapa kali Via memanggilnya, Andi baru menyahutinya.


"Huh iya ada apa Vi?"


"Ada apa sama bu Lesya?


"Gue juga gak tau Vi"


Disepanjang jalan Arga terus memperhatikan Lesya yang yang terpejam dengan kepala yang ada dipangkuannya.


'Kamu kenapa Sya? Apa kamu sakit?' Arga terus menatap Lesya yang terlihat pucat. Seketika Arga teringat dengan Arvin.


'Aku berjanji aku tidak akan membiarkan Lesya. Kenapa-napa bang'


Shiit


Arga memegangi Lesya agar tidak terjaruh.


"Kenapa mengerem mendadak Don?"


"Ada Saga didapan Arga!"


Tok tok


Saga mengetuk pintu mobil dan Arga segera membuka pintu. Seketika Arga menyingkirkan Arga dan menggendong Lesya.


"Mau kau bawa kemana Lesya Saga?"


"Dia istriku, jadi aku yang akan membawanya ke rumah sakit. Aku berterima kasih kau sudah mau membawanya untuk pergi ke rumah sakit. Tapi aku tidak akan membero peluang untuk pria lain membuatku dan istriku berhutang budi!"


Arga masih menatap kepergian Saga hingga sudah tidak terlihat lagi. Ia mengepalkan tangannya melihat Lesya dibawa oleh Arga.


'Aku akan membuatnya meninggalkan Saga. Itu janjiku vang Arvin'


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2