
Rintik hujan semakin deras melanda, acara pemakaman semakin mencekam. Disaat semua keluarga dan para sahabat Alden sudah pergi meninggalkan pemakaman, kini hanya tersisa Dikta dengan di temani oleh Saga dan juga Lesya.
Guyuran hujan semakin menjadi-jadi membasahi Dikta yang terus meraup tanah pemakaman, membuat Lesya dan Saga semakin tidak tega melihatnya.
Alden berusaha membuat Dikta tenang, tetapi saat itu Dikta tidak ingin mendengarkan siapapun. Ia justru menyuruh Saga dan Lesya untuk pergi meninggalkannya sendiri di samping makam Alden. Dan akhirnya Lesya dan Saga pun harus pergi meninggalkan Dikta.
"Al, kenapa kamu egois? Kenapa kamu nggak mau berjuang bareng aku buat cinta kita hmm?" Dikta terus berbicara tanpa henti, seolah Alden berada di hadapannya.
Dan tanpa Dikta sadari ia terlalu larut didalam tangisnya hingga terlelap di samping makam Alden.
Udara dingin terasa menusuk raganya hingga ke tulang. Perlahan Dikta membuka kedua matanya. Langit yang awalnya terlihat mendung, kini berubah menjadi hitam pekat dihiasi dengan bintang yang bersinar membuat Dikta semakin teringat akan kenangannya bersama Alden semasa hidupnya.
"Al, ada bintang jatuh. Kita harus membuat permohonan bukan?" Seperti orang yang tengah bersama orang kesayangannya, Dikta memejamkan matanya dan mengucapkan harapannya tanpa bersuara.
Setelah sangat lama, Dikta kembali kerumahnya dengan keadaan kacau. Didalam kamar yang penerangannya hanya temenan saja membuat Dikta semakin tidak terkendali, terlebih ia mengingat masa-masa kebersamaannya dengan Alden.
Sementara itu di tempat lain, setelah pemakaman, Via yang ditemani oleh Doni dan Andi memutuskan untuk ke rumah sakit. Ia akan menjawab permintaan dari Sharena.
Ceklek
__ADS_1
Doni membuka pintu ruangan rawat Arga. Disana terlihat Sharena dan Arga tengah membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Duduklah, dan katakan apa yang ingin kau putuskan" Tanya Sharena.
"Apa yang kalian bicarakan? " Arga menjadi bingung dengan ucapan Sharena saat itu.
Arga memang tidak tau tentang apa, tetapi ia berpikir jika ada yang tidak beres.
Sharena berjalan mendekati Via yang masih belum mengatakan apapun.
"Cepat katakan " Bentak Sharena.
"Aku akan bertanggung jawab"
Ketika Via mengatakan hal itu, sontak Andi dan Doni saling menatap satu sama lain. Mereka terkejut dengan keputusan yang Via ambil tanya mendiskusikannya dengan mereka.
"Lo nggak bisa setuju sama Sharena Via".Andi mencekal tangan Via.
" Iya Via, kami jangan gegabah. Aku tau kamu tidak memiliki perasaan apapun dengan Arga "
__ADS_1
Dan ketika Doni mengatakan hal itu, Aega menjadi semakin penasaran. "Dengar Via, apa sebenarnya tujuanmu? Dan setuju apa yang kau maksud? "
"Begini bang Arga, Via akan bertanggung jawab dengan menikah denganmu. Dengan begitu dia akan bertanggung jawab untuk. Mengurusmu karena dia lah yang menyebabkan bang Arga jadi kayak gini" Jelas Sharena panjang lebar.
Arga terperangah, ia tidak mengerti kenapa Sharena memberikan pilihan seperti itu kepada Via. Dan yang lebih membuat Arga terkejut, saat itu Via justru mau.
"Arga, tolong hentikan permainan Sharena yang seperti anak kecil. Aku tau kamu tidak menyukai Via kan? "
"Iya tuan Arga, lagi pula kecelakaan ini bukan Via yang merencanakannya. Jadi mana mungkin Via harus bertanggung jawab kan? " Andi pun menimpali ucapan Doni.
Doni tau jika Arga sudah tau perasaannya terhadap Via, dan dia yakin jika Arga tidak akan mau menerima apa yang di buat oleh Sharena tentang rencananya menikah kan Arga dengan Via.
Arga terlihat memimpikan sesuatu. Ia bahkan mengerutkan dahinya ketika menatap Via yang benar-benar menyetujui permintaan Sharena.
"Ayo bang Arga, sekarang keputusanmu"
"Aku.. "
Bersambung
__ADS_1