
Seusai menyelesesaikan pesanan, Saga mendatangi Lesya yang saat itu tengah duduk dengan seseorang yang ia kenal. saat mengetahui Yoo joon menemani Lesya, Saga terlihat tidak terlalu senang.
namun perasaan tidak senang itu dalam sekejap berubah menjadi perasaan khawatir ketika Saga melihat lutut Lesya yang saat ini terbalut oleh perban.
"apa yang terjadi, kenapa lutut kamu luka sayang?"
"itu karena suaminya sibuk dengan banyak gadis!" tukas Yoo joon
sebenarnya saat itu Saga ingin membalas ucapan Yoo joon, namun karena rasa khawatirnya yang terlalu tinggi, ia memilih untuk memperhatikan Lesya.
"aku hanya terjatuh Saga" ucap Lesya
"bagaimana kamu bisa terjatuh seperti ini?"
"semua itu karna fans kamu samp-"
"sudahlah Joonie, lebih baik kamu anterin aku pulang" potong Lesya.
"kenapa harus diantar sama Yoo joon Lesya, ada aku suami kamu"
"kak Saga..."
saat itu semua mata tertuju ke arah suara. "bagaimana kamu bisa anterin aku, kalo kamu masih kerja Saga. dan lihat udah ada yang ngantri disana"
Saga membuang nafas berat, ia menatap dalam istrinya. Saga lalu menatap Yoo joon yang berdiri disamping Lesya. "gua titip istri gua, lu jangan macem-macem!"
tanpa berdebat lagi, kini Yoo joon segera bergegas untuk mengantarkan Lesya. Saga harus membiarkan istrinya diantar oleh laki-laki lain.
pikiran Saga menjadi tidak tenang ketika memikirkan perkataan Yoo joon yang mengatakan bahwa ia terlalu sibuk dengan banyak gadis. ia sempat menghentikan kegiatannya meracik sehingga banyak sekali orang yang menunggu dan menjadi antrian panjang.
_
Alden sibuk berkutat dengan ponselnya. ia merasa kesal sendiri, karena lagi-lagi Dikta dan Friska terluhat begitu akrab. sesekali Alden melirik Friska yang terus menatap Dikta yang tengah asik memainkan gitar, sehingga Alden merasa sangat-sangat kesal.
"gua mau keluar cari makan, lu mau nitip apa Ta?"
__ADS_1
"emm.. gimana kalo lo ikut sama Alden, Fris?"
"ogah!" sahut Alden dan Friska bersamaan ketika mendengar saran dari Dikta.
"ini soalnha gua mau nitip banyak, jadi kalian gak mau ni?"
'kalo gua gak mau, kasian juga si Dikta' batin Alden.
'ini kesempatan gue biar Dikta suka sama gue, dengan terpaksa gue harus mau keluar cari makan sama si bapak durhaka!' itulah yang ada dibenak Friska.
"yaudah ayok berangkat Fris!" titah Alden dan Friska pun segera mengikuti Alden yang berjalan keluar.
sementara itu, Dikta hanya tersenyum melihat tingkah Alden dan juga Friska yang terlihat seperti kucing dan juga tikus.
"nanti gua chat pesenan gua!" pekik Dikta.
dan setelah beberapa saat, Alden dan Friska kembali dengan banyak sekali barang bawaan khususnya makanan yang dipesan oleh Dikta. ketika Friaka kesusahan membawa makanan yang mereka beli, Dikta segera membantu Friska untuk menaruh makanan-makanan yang ia pesan. sementara itu, Alden justru langsung duduk dengan kembali memainkan ponselnya.
'gue kok ngerasa akhir-akhir ini Alden semakin beda si? apa dia naksir sama gue?' Friska terus memikirkan Alden semenjak ucapan Alden ketika mereka berada diperjalan membeli makanan.
_Flashback On
"bisalah, tapi gue gak mau pegangan sama bapak durhaka kaya lo!" tukas Friska yang bersikeras untuk tidak berpegangan dengan Alden.
"apa maksud lo? gua udah kasih lo duit sebanyak itu, dan lo masih bilang gua bapak durhaka? lo nya aja yang gak bisa jaga bayi itu!"
"gua tau, waktu itu lo sengaja bikin bayi itu keguguran gegara lo mau deketin Dikta kan? udah ngaku aja deh lo Fris, gak usah main nyalahin gue"
pletak
dengan keras Friska menyentil kepala bagian belakang Alden yang saat itu tidak mengenakan pelindung kepala yang biasa digunakan oleh pengendara bermotor.
"Friska! ngapain lo jitak kepala gua?" pekik Alden.
"cangkem lo kalo ngomong dijaga dong Alden! udah jadi bapak durhaka, sekarang lo malah nyalahin gue atas keguguran yang gue alami. lo pikir gue gak kehilangan bayi gue? lo pikir gue sengaja bikin dia meninggal cuman buat dapetin Dikta? lo gak pernah ngerasain ada kehidupan di dalam perut lo kan Alden? lo gak pernah kepikiran, nanti kalo dia lahir lo bakalan gimana, kasih dia nama siapa bakalan mirip siapa, lo gak oernah mikirin itu. makanya lo dengan mudah nuduh gue yang enggak-enggak!" ucap panjang lebar Friska yang sesekali menyeka airmatanya.
__ADS_1
"gue tau bayi itu gak ada yang ngarepin kehadirannya, tapi gue bener-bener sayang sama dia Alden. gue udah ngebayangin gue gendong bayi gue, dia nangis dipelukan gue. dan gue juga abakalan berusaha gedein dia walaupun gue harus ngebesarin dia sendiri tanpa ayahnya! jadi lo gak berhak nuduh gue sengaja buat ngilangin dia Alden" Friska semakin menggebu-gebu dengan suara yang bergetar.
'apa ucapan gua tadi udah keterlaluan sampek Friska nangis kaya gini!'
Alden segera menepikan motornya. ia kemudian turun dan Friska lun turun dari motor itu. melihat keadaan Friska, Alden segera menarik Friska kedalam pelukannya.
"gua minta maaf Friska, perkataan gua emang bodoh. gua gak tau kalo lo sebegitu kehilangan dan sesedih ini karena bayi kita yang belum lahir meninggal. dan gua minta maaf disaat-saat seperti itu gua gak ada buat lo." Alden mengusap lembut rambut Friska, sementara Friska justru semakin menjadi dengan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan.
"gua tau kita lakuin itu bukan karena cinta. tapi gua juga sedih karena dia harus pergi sebelum melihat keindahan dunia ini Friska. jadi lo lupain kata-kata gua yang tadi, gua ngomong kaya tadi ksebenernya karena entah kenapa gua kesel banget kalo lihat lo deket-deket sama Dikta. tapi gua sekarang gak ngelarang lo buat deketin Dikta, karena itu hak lo!"
mendengar kalimat terakhir dari Alden, Friska mendongak menatap Alden yang saat itu tengah memperhatikannya. "kenapa Al, kenapa lo gak suka lihat gue deket sama Dikta?"
"eghem, yaudah ayo kita beli pesenan Dikta. lo oasti udah laperkan!" Dikta menghapus air mata diwajah Friska dan kini kembali menaiki motor dan bergegas untuk membeli makanan bersama Friska.
_Flashback Off
"Friska, kenapa lo ngelamun?" peetanyaan dari Dijta membuyarkan semua lamunan Friska tentang kejadian yang baru saja ia alami.
"eh enggak kok Dikta, gue cuman laper aja. ini gue mau makan!" sahut dikta sesikit gugup dan kini duduk dengan mengambil makanan yang sudah ia beli.
sesekali ketika mwnikmati makanan, Friska mencuri pandang untuk memlerhatikan Alden yang saat itu berkutat dengan ponsel ditangannya.
'gua gak nyangka kalo lo juga perduli sama dia, bahkan tadi lo ngakuin kalo itu anak kita Al. dan bahkan lo terang-terangan bilang kesel kalo gue deket sama Dikta. apa itu artinya lo beneran suka sama gue Al?'
"eh guys coba kalia lihat ini" Alden menunjukkam sebuah foto kepada Dikta dan juga Friska.
"astaga, kalo ini si udah gak bener. gua harus kesana sekarang!"ucap Dikta
"gue ikut" sahut Friska.
"gua juga!"
"yaudah ayo buru" titah Dikta
.
__ADS_1
.
.berasambung