
Saga memandangi wajah istrinya yang sedang terlelap. namun saat memperhatikan wajah istirnya, kepalanya terasa pening. saat itu bayangan-bayangan saat ia amnesia, tiba-tiba menguasai dirinya. hingga saat ia menci*m Liyora didepan Lesya pun muncul di benaknya.
'gua udah lakuin kesalahan besar. gua udah nyakitin perasaan perempuan yang paling gua sayang. dan parahnya gua malah deket sama Yora!'
Saga mengusap lembut kepala istrinya yang masih terlelap. Saga begitu menyesali apanyang terjadi saat dirinya mengalami amnesia. 'gua gak salah jatuh cinta sama perempuan sebaik dan secantik kamu Lesya!'
tanpa terasa malam semakin larut, Saga pun sudah masuk ke alam mimpinya.
sementara di kediaman Darmawan, saat ini Tuan Darmawan tengah bersitegang dengan istrinya sendiri.
"papi gak bisa nyuruh mami minta maaf sama Lesya pi. apa papi tau apa yang terjadi tadi siang hemm?"
Nyonya Darmawan pun menatap tegas suaminya "mami lihat luka di kepala Liyora itu cukup serius pi, dan mami yakin itu memang perbuatan Lesya! mana mungkin Liyora akan menyakiti dirinya sebdiri pi, papi coba pikir hal itu!"
"iya pi, tadi Ella juga lihat kok luka Liyora. mana ada perempua waras yang mau ngelukain dirinya sendiri kan pi?"
Saka yang mendengar itu cukup muak. namun ia memilih untuk diam 'huh, kalian ini perempuan naif. sudah jelas Liyora itu penipu! dan aku yakin Lesya gak mungkin buat nyakitin cewe ular itu.'
Saka memperhatikan satu persatu wajah orang tuanya dan istrinya yang masih saling beradu argumen 'sebenernya aku gak suka lihat Lesya di salahin seperti ini. tapi ini akan bagus buat aku! karna dengan begini, susah untuk Saga bersatu sama Lesya. dan perlahan aku akan masuk di hati Lesya dengan cara menghibur dia dan membela dia dari tuduhan mami!' Saga menyunggingkan senyumnya dengan angannya yang membuat dirinya seolah sudah lebih dekat dengan tujuannya.
brakk
suara meja yang dipukul oleh Tuan Darmawan, membuat lamunan Saka buyar. saat itu Tuan Darmawan tidak ada pilihan selain memukul meja, karena Ella yang terus berbicara tanpa sela.
"papi, papi jangan kasar sama Ella. dia itu juga menantu kita pi! jangan karena papi bela menantu papi, papi jadi bersikap gak adil sama menantu kita yang satunya pi". nyonya Darmawan menentang suaminya untuk membela Ella. dan hal itu membuat Ella merasa sangat senang.
'aku yakin, perlahan posisi Lesya yang di sayang sama mami bakal pindah ke aku! dan dengan begitu Saka gak bakal nyeraiin aku, dan aku masih bebas gunain uang keluarga Darmawan' diam-diam Ella tersenyum licik memikirkan semua yang akan dialami Lesya yang tidak lagi mendapat pembelaan dari ibu mertuanya.
saat mendengar hal itu, Saka berdiri dan menatap kedua orang tuanya. "eghem.. pi, mi, Saka dan Ella harus segera pulang. karna Saka harus nyelesaiin kerjaan Saka yang belum selesai"
Saka mengalihkan pandangannya menatap Ella yang terlihat tidak senang dengan tatapan yang di berikan oleh Saka.
__ADS_1
-
[keesokan hari di sekolahan]
Pagi itu setelah Saga mentarkan Lesya ke kantornya, ia segera bergegas untuk pergi kesekolahan. setelah menempuh perjalanan limabelas menit Saga telah sampai di area parkir. dan saat itu tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"woe siapa lu.." Saga berusaha membuka tangan yang melingkar di pinggangnya.
"tada... ini aku Liyora Saga. kamu kenapa si, biasanya juga kaya gini kok!"
Saga tersenyum smirk menatap Liyora yang masih mengira Saga belum mengingat apapun. "emm Yora, nanti malam kita ketemu di resto biasa ya. tapi sekarang gua harus ke lapangan nyusulin tim basket gua oke!"
"ihh babe.. kok gua si? biasanya juga aku kamu! kamu kenapa si pagi ini aneh banget!" Liyora mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam Saga.
"iya maaf Yora, aku kelapangan dulu oke"
Saga pun berlari ke lapangan basket. disana seperti biasa, ia sudah ditunggu oleh tim basketnya, termasuk Dikta dan Alden. saat melihat Alden dan Dikta, Saga segera menarik kedua sahabatnya sedikit menjauh dari tim basketnya.
"gua mau kalian malam ini siapin makan malam romantis di resto mariposa"
"gua gak bisa, malam ini gua mau pergi kesuatu tempat"
"gak ada penolakan!" bukannya menuruti Saga, Dikta justru pergi begitu saja.
Saga yang mendengar penolakan dari Dikta pun menautkan kedua alisnya dan menatap penuh tanya ke arah Alden yang juga sama-sama bingung seperti Saga.
"jangan bilang lu tetep nyuruh gua sendirian buat nyiapin itu!" melihat Saga yang sudah tersenyum penuh makna pun Alden akhirnya menuruti ucapan Saga.
"oke gua siapin, tapi gua si heran aja gitu ya Ga! kenapa bisa istri masadepan gua tu cinta sama orang nyebelin kayak lu? kenapa dia gak terima gua aja yang jelas-jelas cinta smaa dia dan romantis? padahal gua gak kalah cakep loh dari pada lu!"
"udah terima nasib aja lu Al"
__ADS_1
setelah selesai membicarakan hal tentang renacanya untuk makan malam, kini Saga dan Alden kembali bergabung dengan tim basketnya.
tak terasa hari sudah semakin siang, dan bel pulang sekolah pun berdering. siang ini Saga tidak langsung kembali ke rumah mertuanya, melainkan kembali ke rumah orang tuanya untuk menemui ibunya.
sesampai di kediaman Darmawan, Saga melihat ibunya yang tengah berada didekat kolam renang yang sedang bersantai dengan minumam dan camilan yang tersedia.
"mi.." Saga memeluk ibunya singkat.
"mi, ada yang mau Saga omongin sama mami!"
nyonya Darmawan menyupitkan matanya, ia tau apa yang akan Saga katakan kepada dirinya. "kalo kamu nyuruh mami buat minta maaf sama Lesya, mami gak bisa Saga." tukasnya.
"mami, mami kenapa si kok kaya gini?"
"mami itu tau anak mami yang gak suka bohong Saga!"
"maksud mami?"
"kamu sendiri yang bilang kalo Lesya udah nyelakain Liyora, dan mami gak suka sama orang yang memghalalkan segala cara hanya untuk kepentingannya sendiri." Nyonya Darmawan kemudian memegang tangan Saga dan menatapnya dalam-dalam. "mami tau mungkin kamu saat ini membela istri kamu karna ingatan kamu sudah pulih. tapi kenyataan gak bisa di ubah kalo Lesya itu tidak sebaik yang mami kira selama ini Saga!"
"ayolah mi, ini bukan mami! yang Saga tau mami itu bijak buat nilai yang baik ataupun buruk. Saga yakin Saga waktu itu hanya termakan ucapan Yora mi! "
"apa luka Liyora itu bohong Saga? itu jelas-jelas luka serius Saga, dan mami gak bisa tolerir itu!" nyonya Darmawan pun bergegas meninggalkan Saga. namin sebelum ia benar-benar pergi, nyonya Darmawan berhenti disamping Saga.
"dan mami harap kamu tinggal di rumah ini, atau jika kamu memilih tinggal bersama Lesya di rumah Guntara, mami gak akan mau ngomong sama kamu!"ancam nyonya Darmawan.
"aku gak bisa pilih salah satu dari kalian, kalian adalah perempuan yang paling aku sayang dan terpenting dalam hidupku"Saga memijat kepalanya yang terasa pening.
.
.
__ADS_1
.bersambung
.