It'S Perfect

It'S Perfect
Benih Cemburu


__ADS_3

Saga hendak mengejar Lesya yang pergi lebih dulu kedalam kamar, namun Saka mengehentikannya.


"Saga, apa ada yang terjadi? "


Saga lalu duduk di sebuah sofa dan di ikuti oleh Saka yang di bantu oleh Liyora untuk duduk bersama dengan Saga.


"Dina, kau bisa meninggalkan kami." titah Saga dan segera dituruti oleh Liyora.


"apa yang terjadi Saga, hubunganmu dengan Lesya terlihat tidak baik-baik saja. kalian sering berdebat ketika kembali ke rumah! "


Saka sengaja menanyakan itu agar ia terlihat perduli dengan adiknya. di samping itu ia juga mengorek sejauh apa perselisihan antara Saga dan juga Lesya yang seringkali tidak sependapat seperti yang ia saksikan baru saja.


Sementara itu Saga yang sudah mengetahui niatan Saka, ia meladeni agar Saka dan Liyira menyangka jika dirinya dengan Lesya benar-benar bertengkar.


"entahlah kak, aku merasa Lesya terlalu ikut campur dengan urusan Yoo joon" ucap Saga sembari meremas tangannya, dan hal itu tertangkap oleh pandangan Saka sehingga diam-diam Saka tersenyum didalam sanubarinya.


"apa Yoo joon benar-benar parah Saga? "


"ya, dia mengalami koma beberapa hari. dan saat ini Yoo joon kehilangan sebagian ingatannya terlebih tentang Dita."


"Dita? siapa Dita Saga? "


"dia seseorang yang di sukai oleh Yoo joon kak"


Saat itulah Saka mencoba untuk membuat Saga cemburu. "tapi jika Lesya terus bersikeras mengurus sahabatnya itu, besar kemungkinan dia akan semakin dekat dengan istrimu kan Saga?"


Saka mulai menanamkan benih-benih kecemburuan yang memang ada benarnya menurut Saga. karena ia adalah seorang laki-laki, jadi ia tau pandangan suka dari seorang laki-laki untuk lawan jenis.


'apa yang dikatakan kak Saka kali ini memang benar. aku tau dari dulu Yoo joon menyukai Lesya, hanya saja Lesya terlalu naif dan menganggap Yoo joon benar-benar menganggapnya seorang sahabat. bukan seseorang yang bisa dikatakan bisa menjadi kekasih'


Saka menarik salah satu sudut bibirnya. ia tau saat ini Saga mulai terpengaruh dengan ucapannya.


"ya sudah kak, lebih baik kau istirahat. aku akan mencoba berbicara dengan Lesya"


Setelah mengatakan hal itu, kini Saga mendekati Lesya yang sudah berada di dalam selimut dan tidur membelakangi tempat Saga biasa tidur.


Saga menyentuh pundak Lesya yang saat itu belum benar-benar tertidur. Lesya hanya tidak ingin berbicara dengan Saga.


"Sayang, apa kau marah? " Saat itu Lesya tidak menjawab pertanyaan dari Saga sehingga membuat Saga berulang kali menarik nafasnya.

__ADS_1


"baiklah, walaupun kalau kamu sudah tidur aku akan tetap mengatakan ini." Saga membenarkan selimut di tubuh Lesya dan kini berbaring di belakang Lesya dan melingkarkan tangannya tepat di pinggang Lesya dan mengusap lembut perut Lesya yang sudah tidak rata.


"sebenarnya aku tadi tiba-tiba mengatakan hal itu karena aku tau saat itu kita di awasi oleh kak Saka Lesya. tapi ternyata kami benar-benar marah, jadi maafkan aku udah bikin kamu marah ya sayang" Saga mengecup lembut kepala bagian belakang Lesya yang saat itu membelakanginya.


'jadi saat itu ada kak Saga? '


Karena tidak mendapat sahutan dari Lesya, akhir ya Saga memejamkan matanya dan agak memberikan jarak dengan Lesya. saat itu ia takut jika terus memeluk Lesya, ia akan membuat tidur Lesya tidak nyaman. Saga memejamkan matanya dengan kebanyakan yang beralaskan kedua tangannya.


perlahan tangan mungil melingkar di perutnya dan sebuah kepala berada diatas dads bidangnya. dengan mata yang sudah terpejam Saga menyunggingkan senyumnya dan membalas pelukan Lesya. kini keduanya tertidur dengan perasaan yang lega karena tidak salah paham lagi.


_


Karena akhir pekan, Dikta memilih untuk berolah raga pagi dengan berlari mengelilingi taman yang ada di dekat apartemennya. akhir pekan kali ini berbeda dari biasanya yang selalu ditemani oleh Alden, namun kali ini ia hanya berlari sendiri.


tubuh yang merasa letih dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya membuat Dikta memilih untuk beristirahat di sebuah bangku taman.


Dikta mendadak terjangkau karena sesuatu yang dingin menempel tepat di lengan kirinya.


"Nadia, lo disini? "


"iya Dikta, gue sengaja kesini karena gue tau lo pasti ada disini."


"tentu, karena gue sering lihat lo joging disini sama Alden. dan lo jangan lupa Dikta, taman ini deket sama rumah gue kan? "


"ah iya, gue baru inget" Dikta tersenyum tipis dan segera menenggak minuman yang dibawakan oleh Nadia.


Dikta bukannya mengajak Nadia berbincang, ia justru hanya terdiam dengan megerutkan dahinya. Dikta justru lebih fokus dengan ponsel yang ada ditangannya saat ini.


"mereka sangat serasi ya Dikta, gue harap hubungan kita juga akan seperti mereka" celetukan Nadia yang mengatakan jika Alden dan Dita serasi membuatnya tidak suka.


Ya, sesuatu yang membuat dahi Dikta berkerut adalah postingan dari akun media sosial Alden, dimana saat itu Alden mengajari Kenan sebuah jurus bela diri seperti yang dilakukan oleh Yok joon tempo hari.


"jangan berbicara terlalu jauh Nadia, kita baru saja menjalin hubungan. bahkan kita juga belum terlalu lama mengenal" ketus Dikta


Seketika senyum yang ada di wajah Nadia mendadak pudar. dan dengan perasaan yang tidak suka, Dikta pergi meninggalkan Nadia tanpa mengantarnya pulang terlebih dulu.


Sementara itu ditempat lain saat ini Andi menemani Via untuk berjalan pagi untuk membuat kandungannya lebih sehat. ditengah perjalanannya, mereka bertemu dengan Doni yang membawa beberapa makanan yang memang sangat di sukai eh wanita hamil.


"dengar pak Doni, apa kau ingin membuat istriku berjualan rujak? " ketus Andi menamai Doni.

__ADS_1


"Andi.. " Via merasa tidak enak dengan apa yang dikatakan oleh Andi dan menyuruh untuk diam.


Doni kemudian mendekatkan wajahnya dengan telinga Andi. "dengar Andi, kau tidak perlu berpura-pura dihadapanku. meskipun status Via adalah istrimu, tapi aku tau hatimu bukan untuknya. dan izinin aku untuk membuat Via bahagia" lirih Doni


"apa maksudmu mengatakan itu pak Doni?"


"dengar Andi, seperti yang ku bilang aku tau kau menikah dengan Via tanpa rasa cinta. bahkan mungkin anak yang dia kandung saat ini adalah pria waktu itu"


mengetahui terjadi kerang dingin antara Doni dan dan Andi, Via segera membuat suasana agar menjadi lebih nyaman dengan mengajak keduanya untuk makan rujak yang dibawakan oleh Doni.


saat itu Doni dan Andi tidak ikut makan, namun Via begitu lahab dan membuat kedua pria yang bersamanya mengukir senyum tipis diwajahnya.


"aaakk..ssshhh"


"ada apa Via? " tanya Andi


bukannya menjawab, Via hanya memegangi perutnya dan merintih kesakitan.


"ini semua gara-gara pak Doni"


"apa yang kau katakan Andi, aku hanya membawakannya makanan yang dia inginkan" balasnya tidak mau kalah.


Dan ketika keduanya berdebat, seseorang lebih dulu mengangkat tubuh Via dan membawanya. sontak hal itu membuat A di dan Doni merasa aneh.


"Tuan Arga, kau mau membawa istriku kemana? "


Dan saat itu Arga tidak memperdulikan pertanyaan Andi dan justru memasukkan Via kedalam mobilnya.


"tuan Arga jawab aku! " Andi menahan pintu mobil Arga ketika Arga hendak menutupnya.


"iya Arga, lo mau bawa Via kemana? " kini Doni yang bertanya.


"apa kalian gila? kalian berdebat disaat seorang yang sedang mengandung merasa kesakitan. dan aku akan membawanya ke rumah sakit"


Arga melajukan mobilnya meninggalkan Andi bersama dengan Doni. saat itulah keduanya merasa aneh dengan sikap Arga yang berubah.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2