It'S Perfect

It'S Perfect
Nggak Ada Artinya


__ADS_3

Lesya perlahan membuka kedua matanya. Saat itu ia berada didalam pelukan Arga yang menolongnya dari sebuah sepeda motor yang hampir menabraknya. Saat itu Lesya tidsk merasa kesakitan karena ia berada di pelukan dan di atas Arga yang saat ini tidak sadarkan diri.


"Arga.. Tuan Arga bangunlah"


"Lesya segera bangkit dan menepuk-nepuk wajah Arga agar terbangun. Dan benar saja, setelah beberapa saat Arga bangun dan memegangi kepalanya.


" Ssshh"


Ketika Arga merasa ada yang basah, ia melihat tangannya. Dan warna merah menempel di tangannya. Sontak hal itu membuat Lesya cemas.


"Tuan Arga, kepalamu berdarah" Dengan segera Lesya mengajak Arga untuk ke rumahnya.


Disana Lesya meminta Dina untuk mengambilkan kotak obat. Lesya mulai mengobati kepala bagian belakang Arga dengan telaten. Sementara itu Saka terlihat tidak suka melihat Lesya begitu memperhatikan Arga.


"Jika terluka kenapa kau tidak ke rumah sakit, bukannya kau itu orang yang sangat kaya?" Celetukan Saka membuat Arga melihat kearahnya yabg datang dengan di dorong oleh Liyora.


Namun saat itu bukannya menjawab Saka, Arga justru menaikan sebelah sudut bibirnya dan menyulut emosi Saka. Namun saat itu Saka menahannya karena Lesya menatapnya tidak suka.


"Sudah selesai. Tuan Arga, apa kau merasa pusing"


"Ah iya, sepertinya aku perlu untuk beristirahat sebentar" Balasnya.


"Baiklah istirahatlah tuan Arga, aku akan membiarkanmu teh"


Sepeninggalan Lesya di dapur, Saka dan Arga mulai serang kalimat satu sama lain.


"Kau ini benar-benar ingin mendapatkan Lesya ya Arga? Sudah jelas kau itu tidak pa-pa tapi masih bilang kau itu pusing"


"Lalu apa bedanya denganmu Saka, aku tidak yakin jika saat ini kau masih belum bisa berjalan dengan perawatan yang sudah dilakukan oleh adikmu yang bodoh itu"


Seperti biasa apa yang di ucapkan oleh Arga memang sering terkesan kasar, namun mamang benar adanya.


'Aku yakin orang sepertimu tidak akan Terima begitu saja dengan kekalahanmu. Dan entah apa konspirasi yang kau lakukan disini untuk mengkhianati adikmu lagi dan tentu saja melawan Saka!' ucapnya dalam hati.


"Jangan sembarangan dengan ucapanmu Arga" Karena takut Lesya curiga dengannya, Saka membantah semua apa yang dikatakan oleh Saka.


Setelah beberapa saat Lesya keluar dengan membawakan Arga teh. Terlihat jelas saat ini Lesya merasa sangat bersalah dengan apa yang di alami oleh Arga.


"Emm tuan Arga, aku minta maaf karena menyelamatkanku kau harus terluka seperti ini"

__ADS_1


"Tidak apa, Lesya. Aku hanya curiga jika ini semua ada yang merencanakannya. Karna yang aku lihat, tadi kau sudah berjalan di tepian jalan. Tetapi pengendara sepeda motor itu masih saja hampir menabrakmu, bukankah itu aneh? "


Saat itulah Arga menangkap raut wajah seseorang yang terlihat salah tingkah ketika mata mereka saling bertaut.


_


Sudah beberapa hari semenjak kejadian Dikta mabuk, Alden tidak pernah tersenyum ketika melihat Dikta. Bahkan Alden hanya berbincang dengan Alden jika berhubungan dengan restoran, selain itu Alden tidak pernah mengatakan apapun lagi.


Dikta yang merasakan perubahan tersebut berpikir dirinya memang sudah keterlaluan terhadap Alden. Hingga akhirnya Dikta memutuskan untuk meminta maaf.


"Dimana Alden? Tadi dia baru saja di sinikan! "


Dikta mencari Alden didapur restauran hingga mendatangi ruangannya, namun Dikta tidak menemukannya sama sekali.


"Emm Dita, dimana Alden? "


Dikta bertanya kepada Dita yang saat itu baru saja keluar dari dalam toilet.


"Gua disini"


Suara Alden membuat Dikta mencari keberadaan Alden, hingga saat Alden mengikuti Dita yang keluar dari dalam toilet yang sama oleh Dita.


"Kalian?" Ucap Dikta penuh selidik.


"Ah lu Ta, kayak lu gak kenal gua. " Ketika Dita ingin menjawab Dikta, Alden justru memotong ucapannya dengan jawaban yang bahkan membuat Dita sendiri tidak mengerti.


'Huh, ini apa si maksud Alden. Apa dia harus berakting didepan Dikta? Padahal Dikta kan juga tau kayak apa hubungan kami? '


"Gua mau ngomong sama lu Al, sorry Dit gua harus ngomong sama Alden" Tanpa menunggu jawaban dari Dita, Dikta menarik Alden keruangan Alden. Karena saat itu ruangan Alden lah yang paling dekat.


Ketika didalam ruangan, Dikta menghempaskan tangan Alden dengan cukup kencang. Namun bukannya marah, saat itu Alden justru menarik sebelah sudut bibirnya dengan Alis yang terangkat sebelah.


"Maksud kamu apa Alden, kenapa kamu harus akting didepanku depanku dengan mengatakan hal sperti itu tadi" Kini suara Dikta mulai melembut.


"Gua udah bilangkan sama lu Ta? Lu udah kenal gua kan? Kayak apa gua sama cewek-cewek gua dulu, sebelum kita jadian! "


"Please jangan marah Al, jangan panggil aku seperti itu disaat kita berdua. Dan aku tau kenapa kamu melakukan itu, semua itu karena kamu ingin membalasku karena aku mencium Nadia kan? "


Alden yang berdiripun berpindah dan duduk di kursi miliknya. Ia menyilangkan kakinya dan menatap Alden datar dengan jari tangan yang menyatu dengan siku yang ia tumpukan pada pegangan kursi miliknya.

__ADS_1


"Seseorang mencium pasangannya itu wajar, terlebih dia sangat mencintai pasangannya kan? "


"Apa maksudmu Alden? jangan memancingku untuk melakukan yang tidak seharusnya aku lakukan! "


"Apa kamu benar-benar mencintai Dita Alden? Dan sekarang kamu mencari-cari kesalahanku? " Tambah Dikta dengan dahi yang berkerut.


"Coba tanyakan dengan diri live sendiri Ta. Disini siapa yang jatuh cinta dengan orang lain hmm? "


Ucapan Alden sudah menggambarkan jika ia menolak tuduhan ds4i Dikta dan justru kiniempertanyakan perasaan Dikta.


Dikta yang bahkan tidak tau menau ketika dirinya tengah mabuk pun bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Alden saat ini.


Dikta meraih tangan Alden dan menatapnya lekat.


"Apa yang sebenarnya kamu katakan Al? Aku bahkan mengikuti permintaanmu untuk berpura-pura mencintaimu Nadia."


"Lalu, apa aku menyuruhmu menciumnya? "


"Aku tau itu salahku. Aku melakukan itu karena aku kesal ketika kamu dengan mudahnya menyuruhku dekat dengan wanita lain Al. Seolah-olah aku nggak ada artinya buat kamu! " Kini Dikta mengatakan alasannya melakukan hal itu.


Bagai sebuah tamparan, ucapan Dikta kalo ini membuat Alden sadar tentang keegoisannya yang begitu saja menyuruh Dikta tanpa mempedulikan perasaan Dikta yang terluka.


'Aku minta maaf untuk itu Ta, tapi apa yang kamu ucapkan saat mabuk. Benar-benar membuatku juga terluka'


"Lalu saat kau mabuk, apa ucapanmu itu aku yang menyuruhmu? "


Dikta benar-benar tidak mengingat apa yang ia ucaokan hingga sampai detik ini Dikta belum bisa memberi jawaban untuk Alden.


Drrrttt Ddrrrttt


Ponsel Dikta tiba-tiba berdering, dan ketika nama Lesya yang tertera di ponselnya membuat dahinya berkerut.


"Iya halo mba Lesya, ada apa? "


Bukannya menjawab, Lesya justru menangis sejadinya hingga membuat Dikta dan Alden yang mendengarnya cemas.


"Aku akan kesitu, mba Lesya "


.

__ADS_1


.


. Bersambung


__ADS_2