It'S Perfect

It'S Perfect
Kecemburuan Saga


__ADS_3

Malam hari di kediaman Darmawan. disebuah ruang tengah dimana tempat berkumpul keluarga Darmawan merasa hening. disana terlihat dua orang paruh baya yang tengah berbincang.


"kenapa ya mi, semenjak papi pulang dari luar kota, Saga dan Lesya tidak pernah berkunjung kesini?" kala itu tuan Darmawan begitu merasa kesepian, memang sejak ia kembali dari perjalanan bosnisnya, ia tidak pernah melihat putra bungdu dan menantunya datang berkunjung ke rumahnya.


saat ini memang hanya tuan Darmawanlah yang berharap kedatangan Saga dan Lesya. berbeda dengan nyinya Darmawan yang masih meragukan tentang ketulusan dari seorang Lesya untuk Saga.


"mungkin saja Lesya yang melarang anak kita untuk menemui kita pi. papi tau kan, Lesya juga yang sudah menghasut keluarganya untuk menarik investor penting dari perusahaan kita. jadi tidak menutup kemungkinanjika kali ini ia juga yang melarang Saga untuk sekedar main kerumah ini pi!" ketus nyonya Darmawan.


"papi tidak habis pikir dengan pemikiran mami, kenapa sekarang mami begitu tidak menyukai Lesya. padahal kita tahu, selama ini Lesya adalah menantu yang baik kan mi?" tuan Darmawan berusaha mengingatkan istrinya, ia berharap istrinya akan menyayangi menantunya seperti awal mereka menjadi satu keluarga.


"mami memang sangat menyayangi Lesya pi, tapi mami sangat menyayangkan sikap anarkis yang Lesya miliki. hingga detik ini rasa sayang mami ke Lesya masih sangat besar pi. tapi semenjak kejadian yang menimpa Liyora saat itu, membuat keraguan mami terus timbul pi" nyonya Darmawan terdengar sangat meeindukan hubungannya dengan menantunya dulu. tetapi semenjak hasutan dari Liyora, ia terus ingin menguji tentang ketulusan dari Lesya untuk putra bungsunya.


sementara itu, Lesya yang saat ini sudah kembali dari rumah sakit, ia masih bersikap dingin dengan suaminya. saat ini ia justru sibuk berbincang dengan Saka yang ia minta untuk mengantarnya pulang.


"emm.. kak Saka"


"ada apa Lesya?"


"aku minta tolong sama kak Saka, tolong temani pak Arga di rumah sakit. dia tadi dipatuk sama ular, aku yakin saat ini dia membutuhkan seseoramg ada disisinya"


Ketika Saga yang mendengar ucapan Lesya, ia menjadi kesal. ia semakin cemburu ketika mengetahui istrinya membeei oerhatian untuk pria lain. dan saat itu juga, Saga yang tadinya di dapur, ia segera bergabung dengan membawakan minuman untuk Saka.


"minumlah kak, dan setelah ini lebih baik kak Saka langsung balik ke rumah buat istirahat. kak Saka gak perlu ke rumah sakit buat nemenin Arga. lagian tu orang anak buahnya bejibun, jadi gak perlu orang lagi kan?" ketus Saga.


"ya sudah aku harus segera kembali ke rumah sakit. dan untuk kamu Lesya, cepat puluh" ucap Saka sembari mengusap lembut lenganesya dan berlalu pergi.


'aku tau saat ini kamu pasti semakin kesal karena aku tidak menurutimu kan Saga? dan siapa juga yang akan kembali kesana, tadi Arga sudah mengatakan kalau dia akan memilih rawat jalan dan aku mengiyakan ucapan Lesya hamya untuk membuatmu kesal!' Saka pergi dengan bibir yang tersungging.


Melihat sikap istrinya yang masih dingin, Saga memberanikan diri untuk mendekat ke arah istrinya yang terduduk disofa ruang tamu dengan tangannya yang memainkan kuku-kuku tangannya.


"sayang, aku ingin bilang sesuatu!" ucap Saga sembari meraih tangan Lesya.


Lesya yang mendengar itu menatap manik mata Saga dengan lekat. "ada apa?" tukas Lesya.

__ADS_1


"aku akan mengatakan ini, tapi aku ingin kamu menganggap ini bukan sebagai penjelasan, namun ini adalah kebenaran."


Lesya mengernyitkan dahinya dan terus menatap Saga yang saat ini berlutut dihadapannya.


"aku tau saat itu kamu lihat aku di cium sama Elsa. tapi aku gak pernah tau soal itu sayang, dan kenapa aku gak marah, itu karna aku menjaga nama baik Coffee shop sayang. aku harap kamu bisa maafin aku yang udah ngebiarin cewe itu ngelakuin itu. tapi aku gak akan pernah khianatin kamu, dan aku akan resign dari situ. aku gak mau lihat istri aku kecewa, aku juga gak mau lihat istri aku diemin aku kaya gini. karna kamu segelanya buat aku sayang."


plak


plak


setelah mengucapkan itu, Saga menampar wajahnya dihadapan Lesya. seketika Lesya menahan tangan Saga untuk tidak menyakiti dirinya sendiri.


"stop Saga, aku gak rela lihat orang nyakitin kamu walaupun itu diri kamu sendiri!" Lesya mengusap lembut wajah Saga.


Saga menatap Lesya dengan nanar. ia merasa sangat terharu mendengar ucapam dari istrinya, seketika Lesya memeluk istrinya yang masih duduk dihadapannya.


"tapi aku masih marah Saga!" ucap Lesya dengan bibir yang mengerucut.


Saga yang masih memeluk istrinya, ia melihat raut wajah Lesya yang yang seperti anak kecil. dan hal itu membuatnya semakim gemas.


Saga mengecup sekilas bibir ranum istrinya, dan saat itu juga pipi Lesya bersemu merah.


"eh apa ini? kenapa mba istri kok kelihatannya malu si sama suaminya sendiri?" Saga semakin menggodai istrinya yang sudah sangat malu.


"Saga.."


"iya apa mba istri sayang..? lagi?"


"Saga, aku mengantuk ayo kita ke kamar aku mau tidur."


"oh jadi mau lanjut di kamar?"


"Saga.." Lesya mencubit pinggang suaminya hingga membuat Saga terjingkat.

__ADS_1


_


Alden sangat bingung, pasalnya hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. namun ketika ia sampai, ia baru ingat orangtuanya tidak ada dirumah sampai waktu yang tidak ditentukan.


"terus gua masuk kerumahnya gimana? gua belum bisa gerakin kami gua!"


namun saat itu Alden merasa sangat terkejut ketika seseorang mengangkat tubuhnya. pandangan mata Alden bertemu dengan seseorang yang mengangkatnya, siapa lagi kalau bukan Dikta.


"ada gua, Alden! lagian lu kenapa si pulang gak bilang sama gua?"


"ya gua takut ngerepotin lu lah Ta!" ucap Alden yang berusaha mengatur nafasnya yang menjadi tidak beraturan.


"eh lu kok malah bengong si Al, kuncinya dibuka dong! barat ni." protes Dikta yang melihat Alden hanya diam tanpa membuka kunci rumahnya.


"ah iya lupa gua"


setelah itu Dikta mendudukan Alden di atas sofa ruang tamunya. disana ia melihat rumahnya yang kosong tidak ada satu orang pun.


"oh ya Al, lu kok udah boleh pulang sore ini si? kayaknya kaki lu masih parah!" tanya Dikta.


"iya gua udah bosen selonjoran terus disana Ta!"


"oh ya, tumben lu gak bareng sama Friska?" tukas Alden.


"gaklah, kenapa? lu kangen sama Friska?"


"apaan si Ta, mana mungkin gua kangen sama cewe lu!"


"dia bukan cewe gua! ya udah gua mau lihat dapur lu ada apaan!" ucap Dikta dan bergegas menuju dapur!


entah kenapa, Alden mendadak sangat senang ketika mendemgar Friska bukan pacar dari sahabatnya.


.

__ADS_1


.bersambung


__ADS_2