It'S Perfect

It'S Perfect
Bermain Dengan Banyak Gadis


__ADS_3

Pagi itu Dikta datang kerumah Saga, ia berharap Saga akan mengerti ucapannya tentang Saka yang tidak main-main ingin menghancurkan rumah tangganya dengan Lesya.


Dikta mulai mengetuk pintu hingga beberapa kali. namun ia tidak menemukam siapapun yang membukakan pintu untuknya.


akhirnya Dikta berbalik hendak meninggalkan rumah Saga.


ceklek


pintu rumah akhirnya terbuka, saat itu Dikta kembali berbalik. ia melihat Saga yang berdiri ditengah pintu. Saga terlihat dingin menatapnya.


"Ga, gua mau-"


"kalo lu mau bahas soal waktu itu, lebih baik lu pergi. gua gak bisa nuduh kak Saka tanpa bukti apapun" tukas Saga.


"apa gua gak cukup Ga? lu tau kalo gua gak pernah berniat buruk sama lu dan mba Lesya kan?" Dikta kembali meyakinkan Saga.


Saat itu Saga terlihat memikirkan apa yang diucapkan oleh Saga. memang benar, selama ini Dikta tidak sesikitpun mengusik hidupnya. 'apa bener yang dikatakan sama Dikta? tapi kak Saka, kak Saka hak mungkin setega itu sama gua kan?!'


"gini aja Ga. karena lu masih ragu, mending kita selidiki ini bareng-bareng!"


Dikta menatap Saga serius, saat itu Saga juga menatapnya intens. dan akhirya Saga menyetujui ucapan Dikta dan memutuskan untuk menyelidikinya bersama dengan Dikta.


-


disepanjang jalan, Saga berbincang dengan Dikta diatas motor. mereka membahas bagaimana caranya untuk menyelidiki hal-hal yang membuat mereka curiga.


setelah cukup lama dijalanan, Saga dan Dikta sampai di parkiran sekolah. namun ketika mereka berdua hendak masuk kedalam gedung sekolahan, mereka melihat sesuatu yang mencuri perhatian.


"gimana kalo kita ikutin dia!" usul Saga, dan hal itu segera diangguki oleh Dikta.


Saga dan Dikta perlahan mendekat kearah seseorang yang mereka ikuti, siapa lagi kali bukan sang primadona sekolah, yaitu Liyora.


Saga dan Dikta terus mengikuti Liyora yang berjalan kearah belakang sekolah. mereka saling pandang ketika melihat Liyora mendatangi lokasi dimana Friska kehilangan nyawanya. Liyira terlihat mencari sesuatu ditempat itu, setelah kelokasi Friska meninggal, Liyora berlari ke tempat sampah. ia menggorek satu persatu kotak sampah.


"sial! kemana hpnya, kenapa gak ada? apa udah ada yang nemuin, atau udah diambil sama petuga kebersihan?" Liyora meraup kasar wajahnya karena tidak menemukan apa yang ia cari.


saat itu Liyora terlihat mengeluarkan ponselnya. ia berusaha menghubungi seseorang disebwrang sana.


"halo, batu itu udah gak ada kak. ini gimana dong?"

__ADS_1


"...."


"iya untung aja si pihak sekolah menutup kasus itu kak"


"...."


"aku gak kepikiran sampek situ kak, terus aku harus gimana sekarang?"


Tut


"argghhh brengs*k" racau Liyora. ia terlihat kacau setelah menelfon seseorang.


kletek


Liyora mencari sumber suara yang saat itu mengejutkannya, ia berlari ke dekat dinding dimana suara itu berasal. namun setelah ia memeriksanya ia tidak menemukan siapapun berada ditempat itu.


karena takut diketahui oleh orang lain, Liylra bergegas pergi dari tempat itu menuju ke kelasnya.


pelajaran berjalan lancar, hingga tiba waktunya pulang sekolah. kali ini Saga dan Dikta berpisah dipersimpangan jalan. Dikta tidak langsung kembali kerumahnya, pasalnya dia harus memeriksa keadaan Alden.


setelah membelah jalanan yang sepi, Dikta sampai di rumah Alden. ketika ia masuk, ia menyaksikan Alden yang berusaha belajar untuk berjalan. memang saat ini Alden sudah masuk ketahap pemulihan karena tulangnya yang patah sudah mulai membaik.


Alden yang akhirnya menyadari kehadiran Dikta, ia menghentikan aktifitasnya dan menatap Dikta dengan wajah datarnya.


"lu ngetawain gua Ta?" Alden menekuk Wajahnya. ia mengira Alden menertawakannya yang tegah belajar untuk berjalan.


"gua seneng aja liyat lu bisa jalan lagi Al" sahut Dikta


"iya lu seneng karna gua gak ngerepotin lu lagi kan? terus lu mau kaya Saga tu, tepos kesana kesini, iya kan?!"


Dikta menautkan kedua alisnya, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alden. "tepos? apaan lagi si bahasa lu Alden Biantara?"


"tebar pesona! gua yakin lu pasti mau lakuin itu setelah lu bebas udah gak ngerawat gua kan Ta?"


"heh Alden, gua ini bukan lu. jadi jangan samain gua sama lu yang suka tebar pesona!"


"udahlah gak usah ngomongin itu, sekarang gimana sama kasus yang lagi lu selidiki?" kini Alden mulai serius dengan pembicaraannya.


"tadi gua sama Saga denger Liyora telfin seseorang. dan yang lebih aneh lagi, dia itu nyari batu di lokasi Friska meninggal Al"

__ADS_1


"apa? jangan-jangan emang bener kalo Friska itu gak bun*h diri, tapi dia dihabisi sama Liyora!" tukas Alden.


Alden segera mendekat kearah Dikta, namun karena keseimbangannya yang belum stabil, Alden terhuyung dan terjatuh diatas lanti.


"auh..." Alden mengerang kesakitan, ia terus memegangi kakinya yang masih dalam tahap pemulihan.


"Alden, lu gak pa-pa Al?" Dikta berlari dan segera membantu Alden untuk duduk di sofa.


"sakitlah Ta, gitu aja masih ditanya!" Alden terlihat kesal kepada Dikta.


"sorry-sorry Al, lu si belum pulih juga udah main jalan-jalan gitu!" Dikta mulai meluruskan kaki Alden. ia mengambil air hangat dan mengomores kaki Alden untuk mengurangi rasa sakitnya.


"gua makasi sama lu Ta, karna selama orangtua gua gak ada, lu slalu ada bantuin gua!" seketika Dikta menghentikan aktifitasnya yang mengompres kaki Alden dan menatap lekat kedua manik mata Alden yang saat itu menatapnya intens. namun tanpa mengucapkan apapun, Dikta mengacak rambut Alden dengan tertawa renyah.


Alden terhenyak ketika Dikta mengacak rambutnya, entah kenapa Alden menjadi salah tingkah saat Dikta melakukan hal itu. "eghem, rambut gua rusaklah Dikta!" Alden mendorong tangan Dikta. namun Dikta kembali mengacak rambut Alden hingga beberapa kali, hingga Alden pun ikut terkekeh.


sementara itu ditempat lain, Arga kini mengajak Lesya kesuatu tempat. ketika Lesya menanyakan untuk apa pergi ketempat tersebut, Arga hanya menatap kedepan. pasalnya saat itu ia hanya fokus mengemudi tanpa membalas pertanyaan dari lesya. karena kesal Lesya menarik jas Arga dan membuat Arga mendekat hingga hanya berjarak sekitar satu jengkal dari Lesya.


"saya bekerja sebagai sekertaris bapak, tapi pak Arga tidak bisa seenaknya seperti ini!" aura kepemimpinan Lesya mulai keluar. mendapati sikap Lesya yang seperti itu membuat Arga menghentikan mobilnya.


bukannya menjawab, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya kearah Lesya.


Lesya merasa tidak nyaman sehingga ia berusaha mendorong Arga. namun Arga justru semakin mendekat. dan ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa senti, Arga tersenyum smirk.


"huh, lo pikir gue mau ngapain lo? gue ajak lo kesini, karna kita harus menemui klien kita yang baru datang dari korea. gue tau lo sangat pandai berbahasa korea, maka dari itu mulai sekarang lo jangan banyak tanya. atau ketakutan lo bakal gua wujudin, ngerti!"


Dengan susah payah Lesya mencerna ucapan Arga karena posisinya saat ini. melihat sikap Lesya, Arga kembali fokus dengan kemudinya dan memperhatikan jalanan.


glek


Arga susah payah menelan salivanya, andai saja Lesya tau. itu akan membuat harga diri Arga terguncang karena diam-diam ia terus memperhatikan bib*r Lesya yang menantang baginya.


'tahan Arga, lo itu sering bermain dengan banyak gadis. lo gak perlu setertarik itu dengan perempuan yang udah khianatin abang lo sendiri!'


.


.


.bersambung

__ADS_1


__ADS_2