
Dikta benar-benar terkejut mendengar penyakit Alden saat ini. ia juga terkejut dengan Alden yang sekarang banyak mengkonsumsi alkohol.
"kamu tau Dikta, Dita bilang dia sering mengalami hal ini karena pacarnya yang mengabaikannya. karena itulah Alden lari ke minuman"
Dikta menatap Lesya yang saat ini menceritakan semua yang sudah di katakan oleh Dita kepadanya.
"tapi mba Lesya, apa yang aku ambil ini adalah keputusan yang benar. dia bahkan akan menjadi seorang ayah, mana mungkin aku masuk di antara Alden dan Dita? "
Dan saat itulah Saga dan juga Lesya menceritakan hubungan sesungguhnya antara Alden dan juga Dita.
"apa? mana mungkin mereka bisa menganggap hubungan seperti itu? ini tidak benar kan Ga? "
"gue tau ini emang nggak bener Ta, tapi Dita juga masih sangat cinta sama Yoo joon!"
Lesya dan Saga justru merasa pening memikirkan hubungan rumit para sahabatnya. dan hal itu akan menjadi tugas tambahan mereka selain menangani Mafia yang mengancam rumah tangga dan keselamatan mereka.
"lalu dimana Alden di rawat?" suara Dikta membuyarkan semua pikiran Lesya dan juga Saga.
"Alden di rawat di rumah sakit dekat rumahnya "
Dengan langkah besarnya Dikta segera menuju ke mobilnya untuk pergi menemui Alden. Dikta menempuh tiga puluh menit perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui Alden.
Sesampainya di rumah sakit Dikta segera menuju ruangan tempat Alden untuk di rawat.
"aku akan mengatakan kepada Alden, jika aku akan berjuang bersamanya untuk hubungan ini. sebelumnya mungkin aku terlalu gegabah, dan mengambil keputusan tanpa berbicara terlebih dulu. tapi kali ini aku akan memperbaiki semuanya Alden" Dikta begitu bersemangat untuk menemui Alden.
Ceklek
Kedua pasang mata menatap ke arah Dikta yang baru saja masuk. Alden terlihat datar dengan kedatangan Dikta, dan hal itu membuat Dikta merasa aneh. sebelum hari ini Dikta selalu menatapnya dengan penuh cinta.
"Hai Dita" sapa Dikta.
"Hai Dikta, mumpung lo disini gue nitip Alden ya. gue harus balik buat masakin Kenan" Dikta segera mengangguki Dita dan duduk di kursi sebelah ranjang rumah sakit.
Melihat pintu sudah tertutup sempurna, Dikta memeluk Alden yang masih duduk. saat itu tidak ada balasan dari Alden hingga Dikta melepas pelukannya.
"maafin aku Alden, aku nggak tau kalo kamu sakit"
"gue nggak pa-pa Ta, gue udah baikan"
Dikta terperanjat ketika Alden menyebut dirinya dengan sebutan gue. padahal selama ini bahkan kemarin ketika Alden menemuinya, Alden menyebut dirinya dengan sebutan aku
"Al aku mau kita-"
"iya gue paham Ta, gue nggak akan maksa lo buat buat balik sama gue. Dan mulai sekarang gue hanya nuik lo buat urusan bisnis kita, gue nggak akan ganggu lo lagi"
Belum saja Dikta selesai dengan ucapannya, Alden langsung memotongnya dan mengatakan jika dia tidak akan memaksa Dikta lagi untuk kembali bersamanya.
__ADS_1
"Al-"
Ceklek
Ketika Dikta ingin mengulangi ucapannya, seorang suster datang untuk mengantar makanan untuk Alden.
"tuan, ini buburnya. dan setelah itu tuan harus menghabiskan obatnya ya tuan. dan obatnya akan lebih banyak dari biasanya karena sakit anda sudah men-"
"baik Sus, aku akan meminum semua obat itu"
"baiklah, kalau begitu saya permisi tuan"
'Alden pasti sekarang masih marah denganku, biar aku mencobanya mengatakannya setelah dia pulih'
"biar aku yang menyukaimu Al"
Alden menahan tangan Dikta dan segera mengambil alih mangkuk bubur yang ada di tangan Dikta.
"jangan Ta, nggak akan baik jika dokter atau suster melihatnya. dan sebentar lagi Dita juga akan datang, gue nggak mau kalo Dita tau padahal hubungan kita udah selesai."
Alden dengan segera memakan bubur dari rumah sakit. saat itu ia hanya menghabiskan seperempat dari bubur yang disediakan sehingga membuat Dikta khawatir.
'jika Alden sangat sedikit makan, aku takut jika penyakitnya semakin parah dan akan.. tidak tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu.'
"baiklah Al, aku harus pergi dulu. baru saja resto menghubungi kalau ada suatu hal yang terjadi."
Akhirnya Dikta benar-benar pergi, namun saat itu tiba-tiba Dita menarik Dikta kesudut rumah sakit.
"Dita, lo kenapa tarik gue kesini? "
Saat itu Dita memeriksa situasi dan kondisi di sekitarnya. ia memastikan agar tidak ada seorang pun yang melihat mereka berbicara.
"gue mau lo bantuin Alden Ta, gue mau lo buat bujuk pacarnya Alden supaya dia mau balikan sama Alden Ta"
"terus gimana sama pernikahan lo sama Alden? " Dikta memang sengaja mempertanyakan hal itu untuk memastikan bahwa keputusannya untuk kembali memang benar.
"Dita, gue sama Alden nggak ada apa-apa selain pernikahan Dikta"
"terus anak di kandungan lo? "
"ini cuman buat papa, nggak lebih! please Dikta bantu pacarnya Alden supaya balik ke Alden ya? "
"gue usahain ya Dita, semoga dia mau balikan sama Alden"
_
Keesokan harinya sebelum kembali ke rumah sakit, Dikta memilih untuk pergi ke kantor Lesya untuk membicarakan tentang rencananya yang akan kembali dengan Alden.
__ADS_1
"pagi pak Dikta" sapa Via
"pagi.. oh ya gimana keadaan kaki kamu Via?"
"sudah mendingan pak"
"syukurlah! emm.. apa bu Lesya ada didalam?"
"iya Pak, bu Lesya saat ini bersama dengan pak Yoo joon"
"ya sudah aku akan menemui mereka"
Setelah Dikta masuk ke ruangan Lesya, Via saat itu bergegas untuk ke pantry untuk membuat minuman untuk Dikta. namun saat itu didalam sana sudah ada seseorang yang tengah menikmati kopinya.
Karena melihat Andi, Via mengurungkan niatnya. namun Andi yang sudah melihatnya segera menahan langkah kakinya dan membawa masuk ke dalam Pantry.
"Via, gue mau kita ngomong"
"sorry Ndi, gue harus balik ke meja gue karena gua terus nganterin berkas buat bu Lesya."
"sebentar aja Via"
Saat itu Via memikirkannya terlebih dulu. karena melihat Andi yang sungguh-sungguh, akhirnya Via bersedia untuk di ajak bicara oleh Andi.
"gue cuman mau tau apa yang bakal lo putusin Via? apa lo bakal nikah sama tuan Arga, atau pak Doni? "
Mendengar pertanyaan itu membuat Via mengerutkan dahinya. "kenapa lo tanya itu sama gue Andi? seharusnya lo tau kalo gue nggak pernah berharap kalo tuan Arga tanggung jawab. karena gue nggak mau anak gue di besarin sama orang kayak gitu."
"tapi gue juga pengen tau, kenapa lo nggak jujur soal Arga yang udah berbuat bejat Via? apa lo mau ngelindungin dia? ”
"terserah apa yang lo pikirin Andi, yang jelas lo bener-bener nggak kenal sama gue sampek lo bisa tanya kayak gitu ke gue"
Via hendak pergi meninggalkan pantry, namun lagi-lagi Andi mencekal oergelangan tangan Via.
"Via, gue mau minta maaf sama lo"
"iya gue maafin, ya udah ya Andi gue harus pergi"
"Via gue serius"
Via tidak ingin berbicara dengan Andi lebih lama hingga ia menarik tangannya dengan sekuat tenaga hingga tubuhnya tidak stabil.
"Via" Andi membulatkan kedua matanya melihat keadaan Via satu ini.
.
. bersambung
__ADS_1