
"Aku ingat siapa aku, namaku adalah Saga. aku memiliki istri yang bernama Lesya, bahkan kami akan segera memiliki seorang anak. aku akan pergi dan menemui istriku"
Seorang perempuan paruh baya berjalan mendekat dan menggenggam tangan putrinya yang menangis tersedu.
"kamu itu Dewa, suami putriku yang baru saja kau nikahi. kamu tidak bisa pergi dan menemui perempuan itu"
"tapi aku ini Saga bu, aku bukan Dewa"
mendengar jawaban Saga, Perempuan yang bernama Zora semakin terisak dalam tangisnya.
"mungkin saja kami akan sah menjadi suami istri jika namaku benar-benar Dewa bu, tapi aku adalah Saga. jadi pernikahan tadi tidak bisa dikatakan sah" ucap Saga meyakinkan.
"tapi kau adalah suamiku sekarang, kalau kau pergi aku akan bunuh diri"
Zora mengancam bunuh diri dan meraih pist*l yang saat itu dibawa oleh bodyguard yang berdiri di sampingnya.
ya, Zora bukanlah orang sembarangan. dia adalah satu-satunya putri dari orang yang juga bukan sembarangan. orang tuanya adalah pemilik sebuah perkebunan teh dan tidak hanya itu, orang tuanya memiliki beberapa bisnis lainnya yang bisa dikatakan mereka tidak bisa dianggap remeh.
"jangan lakukan itu Zora. aku bukan Dewa mu yang menjalin hubungan denganmu selama bertahun-tahun itu. aku ini Saga, jadi aku harus pergi"
"apa kamu akan membalas kebaikan kami dengan cara seperti ini Dewa?" ucap Novi
"tidak seperti bu, aku bahkan tidak bisa mengganti kebaikan ibu Novi. tapi aku tidak bisa melakukan pernikahan ini dengan Zora bu, karena aku sudah memiliki istri. dan bahkan mungkin sekarang anakku sudah lahir"
__ADS_1
Tap tap tap
Seorang lelaki paruh baya pun berjalam ke arah Saga. tatapan mata yang sangat tajam membuat siapapun akan menciut bila berhadapan dengannya.
_
Alden menarik nafas dalam dan bersiap untuk menikahi Dita yang saat ini berdiri di sampingnya. Alden memejamkan kedua matanya cukup lama.
tangannya terasa sakit merasakan cengkeraman dari seseorang disebelahnya yang saat itu sama-sama tidak siap dengan pernikahan yang akan mereka jalani.
kedua netra Dita memandang sekelilingnya dimana ia dikelilingi oleh-oleh orang-orang terdekatnya. namun ia merasa tidak satupun orang yang tau penderitaannya saat ini, begitu tersiksa dengan keadaan yang menurutnya begitu membuat dilema.
Pandangannya tertuju pada satu orang yang tengah berdiri dengan seorang wanita yang menurutnya bukanlah tandingannya. ia merasa wanita tersebut sangat jauh lebih tinggi darinya dan lebih berarti di hati seseorang yang saat ini menjadi pusat perhatiannya.
Netranya yang memerah terpejam agar tidak membuat air matanya jatuh. Langkahnya yang gemetar terasa jelas oleh Alden yang menggenggam tangannya. tatapannya bertemu dengan Alden yang sama-sama merasa tersiksa dengan keputusan nya.
'ya, aku akan menjadi seorang laki-laki yang gentleman dan tidak takut apapun untuk seseorang yang aku cinta. aku tau banyak orang bahkan mungkin semua orang akan menentangnya. tapi aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. mungkin nama keluarga kami akan tercoreng, tapi aku tidak bisa mengorbankan Dita untuk itu. meskipun nantinya banyak yang terluka, tapi aku harus jujur'
Perlahan langkah Dikta semakin mendekati ke arah Alden dan juga Dikta ia memantapkan hatinya untuk mengakui semuanya.
'Dikta, apa yang akan kamu lakukan? jangan bodoh Dikta!' Alden menautkan alisnya dan menggeleng melihat kedatangan Dikta
Namun Dita tidak mengindahkan isyarat yang diberikan oleh Alden. ia hanya membalas Alden dengan mengedipkan matanya pelan dan mengangguk. ia ingin Alden percaya dengan apa yang akan ia lakukan saat ini adalah jalan terbaik.
__ADS_1
'no Dikta, jangan lakukan. atau kau juga akan menerima kebencian orang-orang karena aku Dikta! ' Alden justru menyalahkan dirinya, karena ia menganggap semua masalah ini karena dia jatuh cinta dengan Alden yang semula bukanlah seorang laki-laki yang bisa jatuh hati kepada seseorang yang bergendre sama.
Rasa sedih yang terus ia rasakan bertambah menjadi rasa panik. Alden semakin gemetar, ia sendiri tidak siap jika sesuatu terjadi terhadap keluarganya dan juga Dikta. ia tau jika Dikta mengakui hubungan mereka, tidak akan ada tempat untuknya dan juga Dikta.
'aku tau mungkin banyak pasangan yang seperti kita diluaran sana. mungkin saja kita bisa hidup diluar sana dan mengabaikan pendapat orang lain. tapi bagaimana dengan keluarga kami nanti? mungkin saja mba Lesya bisa menerima hubungan kami, tetapi bagaimana dengan orang lain?'
Kini Dikta Sudah berdiri tepat di samping Dikta yang tengah berdampingan dengan Dita.
"apa yang kamu lakukan Dikta? " lirih Alden?
"aku akan menghentikan sandiwara ini Alden, aku gak mungkin biarin Dita menjadi korban dari hubungan kita kan? " balas Dikta.
"apa yang kamu lakukan Dikta, selain keluarga kita, Kenan juga dalam bahayakan?"
"aku yakin, Sharena tidak akan berbuat apapun kepada Kenan Alden, percaya denganku" Dijta memantapkan dirinya dan kini menatap ke arah orang-orang yang datang.
Suasana yang sangat hikmat membuat ketegangan bagi Alden dan juga Dikta.
"Pernikahan ini tidak akan terjadi!"
Semua tamu undangan tertuju dengan seseorang yang mengatakan hal tersebut. Bahkan saat itu Riana membulatkan kedua matanya.
.
__ADS_1
.
. bersambung