
Alden menemani Dita yang terlelap dengan memegangi tangan Dita. saat itu Dylan mengetuk pintu untuk melihat keadaan Dita saat ini.
"bagaimana keadaan Dita Alden?"
"dia masih tidur kak, dan syukurlah masih belum terlambat. jika aku telat, bayi kami bisa tidak selamat"
"memang apa penyebab Dita jadi seperti ini?"
Alden terdiam sejenak, ia tidak mungkin untuk memberitahu alasan sebenarnya. karena tidak segera menjawab, hal itu membuat Dylan berpikir jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alden.
"aku tau ini masalah rumah tangga kalian, tapi ada baiknya kau membicarakannya agar kalian bisa mendapat solusinya Alden" tambah Dylan.
"aku akan mengurusnya kak Dylan. oh ya, kenapa kak Dylan ada di rumah sakit?"
"aku akan menemui Andi yang sedang menemani Via, anaknya di rawat di rumah sakit ini"
Mulut Alden membentuk huruf O dengan kepalanya yang mengangguk beberapa kali.
"baiklah, aku akan menemui Andi sekarang. semoga Dita lekas sembuh"
"iya kak terimakasih"
Dylan keluar ruangan Dita dengan perasaannya yang masih mengganjal. ia tau jika Dita tidak mudah terpengaruh apapun jika itu hanya hal kecil. Dylan sudah mengenal Dita cukup lama, bahkan ia juga mempunyai perasaan terhadap Dita.
"akan aku selidiki nanti, lebih baik sekarang aku menemui Andi"
Ketika ia menemukan ruangan tempat Rea di rawat, Dylan pun segera masuk. tanpa ia sadari seseorang baru saja datang dan melihat dirinya masuk ke ruangan tersebut.
Didalam sana Dylan berbincang dengan Via dan sesekali menatap Via cukup lama untuk menegarkan hati Via, namun dari luar tidak terdengar apa yang tengah mereka bicarakan, dan membuat seseorang di luar ruangan menjadi panas.
"aku pernah membuat Dita menikah dengan orang yang tidak dia cintai. sekarang pun aku juga bisa melakukan apapun untuk seorang wanita sepertimu, tidak dengan Doni ataupun mantan suamimu Andi. tapi aku akan membuatmu menikah dengan orang yang benar-benar kamu benci! dan aku akan mencari tau itu."
Ya, orang yang berada di luar ruangan adalah Sharena. seseorang yang sangat mencintai Dylan.
Ketika Sharena tengah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ketika ia melihat sisi lain di luar ruangan, di sana ada Andi dan juga Arga yang tengah bersitegang. alhasil Sharena mendekat dan mendengarkan apa yang tengah dibicarakan oleh Andi dan Arga.
__ADS_1
"jangan dekati lagi Via, dia sangat membencimu tuan Arga!"
"aku tidak mendekatinya. aku hanya ingin memberikan hak dari putriku, dan sampai kapanpun Rea adalah putriku karena dia darah dagingku"
"dan karena itulah Via sangat membencimu karena kau merenggut kesuciannya. dan dengan melihat Rea, Via akan terus mengingatmu dan membencimu"
Sharena terhenyak mengetahui Arga adalah anak dari Via. ia begitu terkejut dengan apa yang ia dengar.
Dan saat itulah Sharena berpikir tentang ucapannya. "apa aku harus membuat Via menikah dengan bang Arga? tapi, apa bang Arga mencintai Via? lalu Lesya? "
_
Dikta duduk sembari mengawasi sahabatnya yang masih terus menerus menegak minuman hingga membuat kesadarannya hampir hilang karena terlalu mabuk. Dikta sendiri tidak tau ayo penyebab Saga sangat banyak minum, tapi satu yang pasti. penyebabnya tidak lain adalah Lesya, itulah yang di yakini Dikta.
"apa lebih baik aku memberitahu mba Lesya? Saga seperti ini pasti ada kaitannya dengan mba Lesya, mana mungkin aku langsung memberitahu mba Lesya."
"Saga berhentilah, lo nggak boleh banyak minum kayak gini. lo bilang kita harus nanganin Agra sama anaknya, tapi kenapa lo malah buang-buang waktu dengan mabuk kayak gini?"
Bukannya menanggapi perkataan Dikta, Saga justru sudah terjatuh dalam keadaan tidak sadar. melihat hal itu Dikta lalu mengantar Saga ke rumahnya. ketika sampai di rumah Saga, Dikta melihat kedatangan Lesya yang di antar oleh Yoo joon.
Dikta mengerutkan dahinya karena melihat Lesya bersama dengan Yoo joon. Dikta lalu menghampiri Lesya yang sedang berjalan menuju pintu rumahnya.
"baiklah" balas Dikta sembari memakai Saga kedalam rumah.
"Sya, aku pulang ya. kamu jaga kesehatan" Lesya mengangguki ucapan Yoo joon dan segera mengikuti Dikta yang memapah suaminya kedalam kamar.
Setelah merebahkan Saga di tempat tidurnya, Dikta lalu mendekat ke arah Lesya.
ia memperhatikan Lesya yang bersikap biasa saja melihat keadaan suaminya seperti itu.
"mba Lesya nggak mau tanya kenapa Saga kayak gini?"
"aku tau apa yang bikin dia kayak gini Dikta, jadi aku tidak perlu menanyakannya sama kamu"
Dikta terkejut mendengar jawaban seperti itu, ia lalu. berpamitan dan pergi meninggalkan Saga bersama Lesya.
__ADS_1
Setelah Dikta pergi, Lesya lalu berjongkok di samping ranjang disisi Saga terbaring. tangannya mengusap lembut wajah Saga yang terlihat sangat kacau dan letih.
perlahan air matanya mengalir dari pelupuk matanya. perasaaan bersalah menggelayuti hatinya, namun Lesya kembali mengingat ancaman dari Zora.
Yang bisa dilakukan Lesya saat ini hanya melanjutkan rencananya untuk membuat Saga membencinya dan meninggalkannya.
"sebelum kamu sadar, aku harus segera mengganti pakaianku Saga. maaf Saga, aku melakukan ini demi Elgara. maaf membuat perasaanmu terluka seperti ini! tapi ketahuilah Saga, aku justru lebih terluka dan hancur melihatnya seperti ini."
Lesya menyeka air matanya dan segera melepas sepatu Saga. dan segalanya ia mulai mengganti pakaianku Saga yang berbau minuman.
"aku mohon jangan seperti ini Saga. aku ingin melihatmu seperti biasanya. kamu adalah anak kuat yang selalu enerjik dan aku suka jika kamu membuatku kesal dengan sifat kekanakanmu"
Malam berlalu begitu cepat karena Lesya baru tidur pukul empat pagi karena terus memikirkan tentang Saga yang jadi sekacau ini ketika ia bertingkah seakan menjalin hubungan dengan pria lain.
Lesya menggeliat dan membuka matanya. saat itu ia tidak mendapati Saga disebelahnya. Ia memutuskan untuk mencari keberadaan Saga, namun ia tidak menemukannya. akhirnya ia memutuskan untuk memasak.
tap
tap
tap
Suara langkah kaki semakin dekat. bukan hanya suara langkah kaki satu orang, melainkan lebih. pagi itu Saga datang bersama dengan seseorang.
"Saga, siapa orang itu"
Namun saat itu Saga tidak menjawab pertanyaan Lesya. Saga justru pergi ke ruangan lain dan menutupnya.
Melihat sikap Saga yang mendiamkannya benar-benar membuat Lesya terluka. tetapi Lesya menarik nafas untuk lebih tenang.
"Lebih baik aku cek Elgara, apa dia sudah bangun"
Ketika Lesya membuka kamar Elgara, ia mendapati suster yang menjadi babysitter Elgara masih tertidur begitupun dengan Elgara. akhirnya Lesya memutuskan untuk kembali keluar dan melanjutkan membuat sarapan untuknya dan Saga.
"siapa orang tadi? kenapa Saga datang bersama orang asing? padahal dia tau saat ini keluarganya banyak ancaman!"
__ADS_1
.
. bersambung