
Setelah selesai dengan urusannya di kantor, Lesya segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Yoo joon yang masih terbaring koma.
"ah iya aku belum memberi tahu bibi, kalo Joonie koma! tapi bagaimana kalo bibi serangan jantung? bibi kan punya riwayat jantung? atau akau beritahu sama paman aja? nggak.. nggak.. mereka berdua gak boleh tau, mereka punya riwayat penyakit yang gak bisa kalo denger kabar seburuk ini! "
Ditengah pikirannya yang dilema, Lesya tidak menyadari jika ada peringatan lantai basah didepannya.
sreettt
"Aaa.... "
grep
Saga sudah menangkapnya lebih dulu sebelum Lesya terjatuh. semburat kecemasan terlihat jelas di wajah Saga dengan garis rahang yang tegas.
"Lesya apa yang kamu pikirkan? jika kamu jatuh bagaimana tadi, untung saja aku menangkapmu! " ucap Saga yang sedikit meninggikan suaranya.
Dan saat itu Lesya bukannya menjawab ucapan Saga ia langsung pergi kedalam ruangan Yoo joon.
Saga mengggelengkan kepalanya dan segera menyusul Lesya.
Perlahan Saga memutar kenop pintu ruang rawat Yoo joon, dimana di sana Lesya tengah memegangi tangan Yoo joon dengan verkeluh kesah menceritakan segala yang ia rasakan.
"Joonie, kenapa kamu gak bangun-bangun si.. gak ada satu orang pun sesabar kamu. kamu gak pernah bentak aku walaupun aku ceroboh atau aku bikin kesel kamu kan Joonie"
Air mata Lesya mengalir deras di wajahnya. lalu ia menyekanya kasar dan kembali memegangi tangan Yoo joon yang bahkan belum bisa meresponnya.
"aku gak pernah punya niatan buat nyelakain anak aku yang bahkan masih di dalam perut aku Joonie, kamu tau itu kan? aku gak pernah bohong kan Joonie? apa aku sebagai ibu akan tega sengaja mencelakakan diri aku sendiri dan membuat bahaya bayi aku! "
Karena merasa tidak tahan melihat istrinya menangis sesenggukan, Saga segera menarik istrinya kedalam pelukannya. "maaf sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. aku mengatakn hal itu karena aku sangat mencemaskan dan calon anak kita Lesya"
Saga begitu menyesali ucapannya karena membuat Lesya sampai berpikir bahwa pria lain lebih memahaminya dibandingkan suaminya sendiri.
setelah beberapa saat, Saga melepas pelukannya dan berlutut menatap wajah istrinya.
Diusapnya airmata yang menganak sungai di wajah Lesya dengan sangat lembut. pandangannya yang perlahan turun, dan tangannya yang mengusap perut Lesya yang kini mengandung sekitar tiga bulan dengan penuh kasih sayang.
"sudah jangan menangis okey, aku minta maaf karena membuat wanitaku ini terluka karena ucapanku. dan sayang,, maafkan ayahmu ini ya, ayah janji gak akan bikin ibumu menangis lagi seperti ini"
Tanpa mereka sadari, Dikata dan Alden bahkan melihat semua adegan itu dari luar pintu. dan karena itu keduanya mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Ta, mereka itu lucu ya. abis berantem akur lagi.. udah kayak anak kecil kan? " ujar Alden yang mengulas senyum tipis diwajahnya membayangkan apa yang baru saja ia saksikan.
"kamu benar Al, dan aku harap kita nantinya akan lebih harmonis dari pada mereka! " ucapan Dikata membuat Alden menatapnya Lekat.
__ADS_1
"ada apa Al? apa ucapanku barusan itu salah? "
Alden justru menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca. dan hal itu membuat Sinta bingung. ia merasa ucapannya salah dan membuat Alden bersedih.
"setelah kamu mengatakan itu, aku yakin kita akan bisa ngelewatin semuanya Ta."
"itu pasti Al"
Dikta lalu memperhatikan keadaan sekitarnya, setelah ia yakin tidak ada yang melihat mereka, Dikata mengecup kening Alden sekilas dan mengusap lembut puncuk kepalanya.
_
Andi hanya berbaring di atas sofa sembari menonton acara televisi. dan saat itu ia melihat Via yang sudah bersiap untuk pergi. namun saat itu Via hanya memakai dress bawah lutut dengan rambutnya yang di cepol keatas dengan make up tipisnya namun justru membuat Via semakin menawan dimata Andi.
"Via, lo mau kemana? " tanya Andi dengan suaranya yang lembut.
"gue harus ketemu sama tuan Arga Ndi"
"untuk? "
"pak Doni bilang tuan Arga ingin menanyakan tentang proyek waktu itu"
"kok gue nggak di disuruh datang juga Vi?"
"gue anterin ya"
"buat apa Andi? "
"ya buat keamanan lo lah Via"
"bagi gue itu udah gak penting sekarang, gue udah kotor. gak ada yang gue takutin sekarang! "
Semenjak kejadian kemarin, sosok lembut dan penakut itu hilang dari diri Via. dan jujur saja itu membuat Andi bersedih.
"Lo gak boleh ngomong gitu Vi, yang kotor itu perbuatan laki-laki yang gak bertanggung jawab itu Vi. sedangkan lo, lo itu cuman korban. dan lo gak boleh merasa rendah kayak tadi yang lo omongin! "
"gue gak mau debat, gue pergi"
Kini Via benar-benar pergi tanpa di antar oleh Andi.
"walaupun lo gak butuh gue, tapi gue bakal selalu ada buat lo Vi. gue gak akan biarin kejadian kemarin numpang lo lagi! "
Andi bersiap memakai jaketnya dan mengambil kunci mobilnya. ia segera mengikuti Via yang menuju restoran untuk bertemu dengan Arga.
__ADS_1
Sesampainya di restoran, Andi tidak bisa terus mengikuti Via karena Arga sudah memesan ruang VIP yang biasa digunakan oleh para pengusaha yang mengadakan meeting penting agar tidak bisa didengar orang lain.
"lebih baik gue tunggu disini sambil pesan secangkir kopi"
Andi pun memesan kopi kesukaannya agar tidak bosan menunggu Via di dalam yang tengah bertemu dengan Arga.
"ini udah tiga puluh menit kenapa Via sama tuan Arga gak keluar-keluar ? "
Andi masih berusaha sabar, namun hingga satu jam Via dan Arga tak kunjung keluar hingga kopi yang dipesan oleh Andi tersisa cangkirnya saja.
"ini ada yang gak beres, lebih baik gue langsung ma-" Andi kembali berputar dan kembali duduk di tempatnya ketika melihat Via keluar dengan tergesa.
Andi yang ingin mengejar Via, ia urungkan karena melihat Arga mengejar dan mencekal pergelangan tangan Via. dan ternyata saat itu Arga hanya memberikan Via sebuah amplop yang entah apa itu isinya.
Dan setelah itu Arga meninggalkan Via yang masih berdiri di depan restoran.
"gue harus sampek rumah lebih dulu. jangan sampek Via sampek rumah malah gue gak ada. bisa-bisa dia curiga kalo gue ngikutin dia"
Andi melipir agar tidak terlihat oleh Via menuju ke arah mobilnya yang sengaja ia parkir agak jauh dari restoran agar tidak ketahuan oleh Via.
Dan setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Andi kembali ke posisi yang ketika Via meninggalkan rumahnya.
dan Via pun sampai lima menit setelahnya.
"gimana sama pertemuannya Vi? "
"emm tuan Arga hanya menanyakan beberapa poin Saja, dan setelah itu kami tidak membicarakan apapun lagi."
"emm Via, gue laper. maaskin nasi goreng dong"
"okey, gue ganti baju dulu ya"
Setelah berganti pakaian, Via yang hanya mengenakan kaos oblong oversizenya mulai membuatkan Andi nasi goreng kesukaannya.
"auh.. "
Suara Via membuat Andi yang berada di ruang tengah berlari dan memeriksa keadaan Via yang tanpa sengaja terkena pisau dapur. dengan segera Andi menyesap darah yang keluar dari jari Via. dan tanpa disengaja, pandangan mereka pun bertemu. hingga keduanya hanya saling berbicara melalui mata mereka, yang terlihat kini Andi mulai menaruh perhatian lebih terhadap Via.
.
.
. bersambung
__ADS_1