It'S Perfect

It'S Perfect
Berangkat Berdua?


__ADS_3

Hari ini Lesya menugaskan Via untuk menemani pihak dari perusahaan Arles Company untuk meninjau lahan baru yang akan mereka bangun beberapa unit perumahan mewah.


Via bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuknya dan juga Andi yamg kini harus tinggal satu atap karena pernikahan mereka.


Ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri, Via berkutat didalam dapur yang baru beberapa minggu menjadi istri Andi. Meskipun begitu kedekatan Andi dan Via justru merenggang dibandingkan ketika mereka menjadi sahabat. Bahkan Andi lebih menjaga jarak dengan Via.


Melihat Andi yang belum keluar kamar, Via melanjutkan kegiatannya didapur. Pagi itu Via memasak masakan kesukaan Andi.


"Ah kenapa lupa tadi lupa ngiket rambut gue? Sekarang gue sendirikan yang kesusahan?" Via merutuki dirinya sendiri sembari menyibak helai rambut yang menutupi wajahnya dengan punggung tangannya yang masih kotor karena adonan tepung.


"Eh.."


Via tersentak ketika tangan besar bergerak di bagian leher belakang dan merapikan rambutnya. Saat itu Via tidak melihat kedatangan Andi yang ternyata sudah berdiri dibelakanya.


"Andi, lo udah bangun?"


Bukannya menjawab, Andi justru terfokus untuk membenarkan rambut Via. Tangannya yang teruz menyentuh bagian leher belakang Via, membuat gelenyar tersendiri yang dirasakan oleh Via.


"Gue bisa sendiri kok Ndi.."


"Dengan tangan yang masih banyak tepung kaya gitu?" Via menoleh kebelakang dan mendongak karena tinggi badan Andi yang terlampau jauh darinya.


"Udah mana iket rambutnya?"


Andi menatap wajah Via yang mendongak didepan dada bidangnya.


"Ada di saku celemek Andi.."


Tanpa menunggu lama Andi segera mengambilnya dan mengikat rambut Via.


"Nah, kalo gini kan cantik"


Via yang mendapat pujian seperti pun tersipu malu. Entah Andi melihatnya atau tidak, ucpannya seperti itu sering membuat Via menjadi salah tingkah.


"Ya udah gue mandi dulu ya Vi, inget jangan meleng nanti pisonya ngenain tangan!" Itulah yang selalu Andi ucapkan ketika Via tengah memasak.


Selang bebapa saat keduanya sudah duduk dimeja makan dengan pakaian rapi mereka, dan bersiap untuk pergi bekerja.


"Oh ya Andi, nanti gue berengkatnya langsung ke lahan yang mau di bangun. Jadi gue nanto sampek kantor berangkatnya sama pak Doni"


"Kenapa lo ngomongin ini ke gue Vi?"


"Gue tau mungkin ini kedengarannya aneh, tapi gimanapun lo suami gue sekarang Andi. Jadi gue harus ngomong sama lo, ya walaupun gue gak ngomong lo juga gak bakalan marah!" Sambung Via sembari menyuapkan makanan terakhir dari piringnya yang saat ini sudah kosong.


Andi menatap Via dengan tatapan yang sulit di artikan, sehingga Via memilih untuk lamgsung bangkit dari tempat duduknya.


"Gue kemobil duluan ya Andi, piringnya lo taruh aja di washtafel. Biar gue cuci nanti sore pulang kerja." Andi pun segera bangkit karena dirinya juga sudah menghabiskan makanannya.


Setelah menempuh 30 menit perjalanan, mereka tengah sampai di depan kantor yang ternyata Doni sudah berdiri disamping mobilnya yang terparkir di lobbi kantor.


Doni mengerutkan dahinya ketika melihat Andi dan Via keluar dari mobil yang sam.


"Kalian? Berangkat berdua?"


"Iya karna kami satu arah. Dan kami memang cukup dekat" ketika Via ingin menjawab, Andi sudah lebih dulu membalas pertanyaan dari Doni.


"Iya karna kami bersahabat cukup lama" timpal Via dan Doni hanya manggut-manggut mengerti ucapan Via.


"Baiklah, mari.." Doni membukakan pintu mobil. Namun sebelum Via masuk, ia mengikat rambutnya sehingga leher jenjangnya terlihat indah dimata Doni.


sontak Andi teringat ketika ia mengikat rambut Via ketika didapur. 'Kenapa Via justru mengikat tambutnya seperti itu? Apa dia tidak tau, laki-laki akan menginginkannya kalau seperti itu caranya!'

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Andi menarik ikatan rambut Via dan membuat Via terkejut.


"Andi.."


"Aku butuh ini untuk mengikat sesuatu didalam, jadi aku minta ini okey" Andi menggerling dan berlalu kedalam.


Via hanya menggeleng melihat tingkah Andi yang memang terkadang seperti anak kecil baginya.


Berbeda dengan Andi yang kadang seperti anak kecil, saat ini justru Saga lebih dewasa ketika bersama istrinya di rumah.


Hal itu sampai membuat Lesya tertegun ketika ia mendapati Saga yang merapikan temoat tidurnya hingga menyiapkan sarapan untuk Lesya.


"Saga, harusnya aku yang melakukan ini"


"Suami juga perlu membantu istrinya sayang.. jadi kamu cukup duduk disini untuk menemani suami kamu yang tampan ini"


Ditengah kemesaraan antara Lesya dan Saga, Saka dan Liyora terus memantaunya dari ruang tengah. Saat itu Liyora mulai menyusun rencana bersama dengan Saka.


"Kak Saka, nanti.kalo mereka berjalan ke arah sini, kakak pura-pura aja terhuyung karena belajar berjalan. Dan disaat bersamaan aku kaka Saka senggol Lesya sampai jatuh biar Lesya kegug*ran"


"Nggak bisa Liyora, kalau aku melakukan itu, itu sama saja aku menyakitu perempuan yang paling berharga dalam hidupku."


"Ohm.. jadi kak Saka mau Lesya mengandung anak pria lain, yang bukannya kakak yang harusnya ayah dsri bayi yamg akan Lesya lahirkan nanti?"


Liyora memang sangay pandai untuk mempengaruhi orang lain. Hingga ia menanamkan keraguan dan kejahatan kepada orang lain.


Saka terlihat berpikir, hingga saat itu Lesya dan Saga mulai berjalan ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Saka menuruti ssran dari Liyora untuk berpura-pura terhuyung.


Grep


"Mas Saka, mas Saka baik-baik aja kan? Maaf mas Saya tadi mau ambil minum buat mas Saka."


Untung saja saat itu Lesya tertangkap oleh Saga, sehingga Lesya tidak sampai terjatuh.


"Maaf mas Saga.."


"Ya sudah Saga, ayo kita bersngkat sekarang. Klien penting sudah menunggu!" Saga akhirnya mengangguki ucapan Lesya.


Setelah menemluh perjalana beberapa menit, Saga mengantar Lesya ke sebuah kafe untuk meeting dengan salah satu klien pentingnya. Disana ia sudah melihat Andi yang duduk di meja pesanan mereka.


"Andi, apa klien kita belum datang?"


"Mungkim lima menit lagi akan tiba bu Lesya"


"Baiklah" Lesya lalu menoleh ke arah suaminya. "Saga, kau masih disini?"


"Kebetulan hari ini aku libur kuliah, dan aku akan menunggumu disini."


Setelah Saga menunggu Lesya dimeja yang ada disudut kafe, meetimg pun selesai. Saat itu Lesya dan Andi tersenyum lebar karena kliennya sangat puas dengan kerja sama yang mereka bina saat ini.


"Tunggu Andi, kamu pesan apapun yang kau mau aku harus kesana terlebih dulu"


Lesya seperti tidsk ingay jika suaminya ditempat itu, ia tidak meminta izin lebih dulu dan langsung berlari keluar.


"Andi, istriku mau kemana?"


"Saya tidak tau pak Saga. Bu Lesya tiba-tiba berlari begitu saja seperti ingin memastikan sesuatu."


Dan ketika Saga keluar dari dalam kafe, ia tidak menemukan keberadaan Lesya. Ia lalu memutuskan untuk menelfon Lesya, namun Lesya tidak mengangkat telefon darinya.


"Maaf pak Saga, ini tas milik bu Lesya"

__ADS_1


"Astaga Lesya, dia mau kemana si sampai melupakan ini"


"Bagaimana kalu kita cari bersama pak Saga"


"Biar aku yamg mencarinya, kamu lanjutkan pekerjaanmu. Nanti takutnya ada yang pemtimg di kamtor Andi"


"Baik pak"


-


Lesya mencari keberadaan seseorang yang ia kenal hingga ke sebuah apartemen.


"Huh, bukannya Dikta punya apartemen didekat sini? Kenapa dia harus pergi ke apartemen ini bersma Alden? Loh, bukannya itu sepupu Arga?"


Disaat bersamaan ketika Lesya melihat Alden bersama Dikta, ia juga melihat Sharena yang saat itu berdiri disamping Alden dan Dikta.


"Apa mereka saling kenal?"


Namun seketika Lesya terkejut ketika melihat Alden dan Dikta bergandengan dan masuk kedalam lif. Karena rasa penasarannya, Lesya memutuskan untuk mengikutinya.


"Lantai 12?"


Akhirnya Lesya menaiki lif yang kedua dan sampai di lantai 12. Saat itu ia melihat Alden dan juga Dikta pergi kesebuah unit, dimana sebelum mereka benar-benar menutup pintu, Lesya sudah menjulurkan ujung sepatunya. Namun karena Alden dan Dikta masih terlalu senang, mereka tidak menyadari seseorang menyusup kedalam unit yang mereka sewa.


Lesya mengendap-endap dan versembunyi dibalin dinding. Kedua netranya membulat sempurna ketika melihat Alden memeluk Dikta.


"Aku bersyukur karna kamu sudah tidak marah Dikta"


"Aku juga bersgukur karna hati kamu milikku sepenuhnya"


Cup


Dikta mengecup sekilas bibir Alden. Dan hal itu juga tertangkap oleh kedua mata Lesya yang semakin membulat sempurna.


'Apa ini? Mereka berdua?' Hati Lesya mencelos mengetahui kenyataan bahwa Alden dan Dikta ternyata memiliki hubungan yanh tidak biasa.


Klontang


Pyar


"Siapa Al?"


Dnegan perlahan akhirnya Lesya memperlihatkan dirinya. Dan kedua pria itu sama-sama terkejutnya dengan Lesya saat ini.


"Mba Lesya?" Ucap Dikta dengan susah payah menelan salivanya.


"Kalian berdua. Sejak kapan kalian berdua.." Lesya tidak melanjutkan plucapannya dan menatap Alden Dikta bergantian dengan nafas yang tidak teratur.


"Auh.. perutku.." Lesya memegangi perutnya yang sakit.


Dengan segera Alden dan Dikta membantu Lesya dan mereka dudukan diatas tempat tidur tempat mereka duduk.


"Sepertinya mba Lesya mengalami kram perut" ucap Dikta.


Setelah menarik nafas dan membuangnya perlahan, Lesya kembali menatap Alden dan Dikta.


"Aku sudah mendingan, tapi sejak kapan kalian memiliki perasaan itu?"


Keduanya masih terdiam dan melihat satu sama lain.


.

__ADS_1


.bersambung.


.


__ADS_2