Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
10. Lolos


__ADS_3

Cahaya terang mulai menghilang, langit yang berwarna jingga dan keemasan mulai berganti, menyusut menjadi gelap disusul kerlipan bintang. Tidak mau bertahan dalam kegelapan, para insan menyalakan lampu penerang, membuat dunia tetap bersinar walau malam datang. 


“Buna... udah maghrib, bangun Bun!” tutur Jingga lembut, menggoyangkan tubuh dan membangunkan Bunanya yang tampak letih dan lesu. 


Buna Alya perlahan membuka matanya. 


“Astaghfirulloh, jam berapa ini?” tanya Buna Alya menyadari dirinya ketiduran.


“Maghrib, Bun!” 


“Duh... Buna ketiduran lama ternyata, Hijau sama Biru nyariin Buna nggak?” tanya Buna justru mengkhawatirkan anak-anaknya. 


“Nggak Bun!”


“Mereka dimana?”


“Sama Baba Bun!” 


“Sama Baba nggak rewel? Ngamuk nggak? Bikin baba marah nggak ya?” tanya Buna segera bangun dan ingin beranjak mencari putranya. Buna lupa niatnya mau menanyai Jingga kenapa hari ini berbohong.


Buna tau anaknya kembar ke 4nya sangat aktif, berbeda dengan kakak-kakaknya. Buna juga tau kalau suaminya jarang berinteraksi dengan anak ke 5 dan ke 6 ini, bisa gawat kalau si kembar rewel.


“Mereka tenang sama baba, Bun! Baba kan juga ayah mereka, biar aja, biar Baba kenal sama anak- anaknya! Biar baba taunya nggak kerja terus. Udah Buna santai aja di sini!” Jawab Jingga sambil bersungut- sungut.


“Sayang, baba itu ayah Jingga yang sayang sama Jingga, nggak boleh ngomong gitu! Baba kerja juga buat Buna, Jingga dan adik-adikmu! Kasian baba kalau si kembar rewel, Buna ke bawah dulu ya!” tutur Buna Alya lembut membela suaminya dan berniat menemui mereka.


“Buna tunggu! Infus Buna darahnya naik!” cegah Jingga menyuruh Bunanya tetap tinggal di kamarnya. 


Ternyata benar, infus Buna darahnya naik dan macet. Jingga segera mengambil peralatan kuliahnya sebagai mahasiswi kedokteran untuk membetulkan infus Bunanya. Buna Alya pun patuh pada anaknya yang sebentar lagi akan menjadi dokter muda. 


“Buna... habis lahiran adik, harus KB lho Bun! Pokoknya ini hamil yang terakhir!” ucap Jingga pada ibunya dengan nada memerintah. 


“Ibu juga pengenya gitu, tapi semua jenis kb nggak ada yang cocok buat Buna. Buna selalu pusing dan perdarahan kalau pakai KB. Babamu nggak mau Buna pakai KB, mau pakai tubektomi, apalagi, baba lebih nggak ijinin, Buna juga takut operasi, Sayang.”


Buna Alya tampak sendu, kalau ngobrol sama Jingga Buna masuk dan nyambung, tapi kalau sama babanya selalu berselisih. Buna tahu hamil di atas usia 35 tahun beresiko tinggi.


Rencana Buna dan Baba juga Nila adalah anak terakhir, dua laki-laki dua perempuan, cukup. Eh, Buna kejedoran tau-tau hamil si kembar, dikiranya juga udah cukup si kembar, karena tidak KB, ternyata masih ada lagi yang sekarang.


“Baba lah Bun yang harus ber_KB!” jawab Jingga cerdas.


Sebagai perempuan dan yang tahu ilmu, Jingga merasa kesal ke Babanya, bukan tidak bersyukur, tapi Baba dan Buna mereka kan orang modern, kenapa Baba Jingga tidak memikirkan kesehatan istri dan anaknya.


“Ya besok Buna coba ngomong ya sama baba, biar baba yang KB!” jawab Buna


“Harus Bun! Baba harus pikirin Buna juga. Jingga benci sama baba, baba tuh egois. Jangan-jangan nanti Jingga nikah hamil, Buna ikut hamil lagi!” ucap Jingga lagi dengan nada benci, sambil membetulkan aliran infus Bunanya.


“Hussh! Jingga... nggak boleh begitu, kamu ni! Baba ayah kamu, dosa lho benci sama orang tua sendiri. Baba juga sayang banget sama Jingga dan Buna, Baba nggak egois juga, hamil kan Tuhan yang kasih,” 


"Terserah Buna lah. Belain aja terus suami Buna yang egois dan galak itu!" jawab Jingga lagi mengatai ayahnya sendiri.


Mendengar anaknya mengatai suaminya egois Alya malah ketawa. Ardi udah berkali-kali dinasehati jangan kekang anaknya dan coba pikirkan perasaan anaknya tapi tetap saja hanya berfikir sesuai sudut pandangnya. Alhasil, dia dianggap sebagai ayah egois.


"Suami Buna kan juga ayahmu. Kalau nggak ada ayah nggak ada kamu. Baba sayang banget lho sama Jingga"


“Sayang apaan? Jingga dengar Bun? Baba mau jodohin Jingga, kessel! Pokoknya Jingga nggak mau tau! Kalau Baba jodohin Jingga, Jingga mau kabur dari rumah, Jingga mau susul Ikun sama Amer, Jingga mau ikut Oma Rita!” ungkap Jingga dengan bibir manyun dan membuka handscoonya, kini aliran infus Bunanya lancar lagi, dan di saat yang bersamaan pintu kamar Jingga diketuk. 


“Masuk!” jawab Jingga. 


Di pintu kamar Jingga, tampak Babanya dengan peluh dan keringat di keningnya, terdengar nafasnya tersengal. Di punggung belakang dan depanya dua adik Jingga yang super aktif saling bergelayut manja tanpa takut. Walau di mulut, mereka berdua mengatai babanya galak, tetap saja menempel pada baba mereka menyenangkan. 


“Turun! Dah sekatang dah sama Buna lagi!” ucap Baba Ardi menurunkan Hijau dan Biru di ranjang Jingga. 


“Iisshhh, siap- siap jadi kapal pecah kamarku! Kenapa harus dibawa masuk si Ba..” batin Jingga dengan mata bulatnya. Kebiasaan si kembar kalau ke kamar Jingga semua barang Jingga diambilnya dan diacak-acak.

__ADS_1


“Bunaa...” seru Hijau dan Biru menghambur ke Bunanya. 


“Sayangnya Buna... uluh pinter banget sih, sini cium Buna!” sambut Buna hangat.


Biru dan Hijau kemudian memeluk Buna dari samping kanan kiri dan mencium pipinya. 


“Buna!” seru Jingga tiba-tiba. Buna, baba dan kedua adiknya sampai kaget.


Jingga melihat darah di tangan Bunanya, karena Hijau dan Biru rusuh infus di tangan Buna yang baru saja di betulkan malah lepas dan darahnya mengalir kemana-mana.  


“Ih dalaah, dalaaah!” seru Biru malah histeris melihat darah, bahkan darah Bunanya mengotori sprei kamar Jingga.


"Buna kenapa? Kenapa tangan Buna beldalah?" tanya Hijau tidak takut.


“Turun! Turun! Kalian duduk sendiri!” omel Jinga ke adik- adiknya.


Hijau dan Biru kemudian turun dan mendekat ke Babanya lagi. Baba Ardi juga tampak ngeri melihat tangan istrinya bersimbah darah. 


“Lihat Buna kalian! Buna lagi sakit. Dengar kata Baba makanya, jangan usil terus!” ucap Ardi menasehati dua anaknya. 


Hijau dan Biru diam menunduk ketakutan melihat Bunanya berdarah. 


"Iya Ba!" jawab Biru dan Hijau kompak.


“Buna sakit ya Ba?” tanya Biru. 


“Iya!” jawab Babanya. 


“Maafin Hijau ya Bun!” ucap Hijau. 


“Nggak apa- apa, Buna baik- baik aja kok! Kan udah diobatin Kak Jingga!” jawab Buna tersenyum ke anak-anaknya.


Akhirnya, infus Buna dilepas saja karena sudah tidak bisa diperbaiki. Kalau pun Bunanya masih sakit harus dipasang ulang, tapi Buna memilih dilepas aja, dan mau coba makan dan minum. 


“Hhhh..., sepertinya Baba nggak jadi marahin aku dan nggak bahas perjodohan. Hihi, ada untungnya juga Buna sakit!” batin Jingga melihat keluarganya keluar dari kamarnya. 


Jingga kemudian menunaikan sholat maghrib, mengambil ponselnya, melihat story teman- temanya. Satu yang menyita perhatian Jingga. Kak Tama memposting dirinya bersama teman-teman perempuanya di sebuah taman hotel berbintang, memang tidak ada yang istimewa karena mereka berfoto berempat, tapi keempat perempuan itu tampak seksi dan cantik. 


“Ah... menyebalkan! Kenapa mereka dekat- dekat Kak Tama sih? Harusnya kan tadi aku ikut! Ah menyebalkan!!” gerutu Jingga kemudian melempar ponselnya. 


Caption Kak tama selanjutnya, "Sayang, kamu nggak jadi ikut, next ada kamu ya!"


Merasa Jingga tadi mau diajak, Jingga tersenyum GR. Jingga membalas story Tama, dan kata Tama status itu memang untuknya. Jingga dan Tama kemudian berlanjut chattingan. Jingga berbunga-bunga karena dia dan idolanya semakin dekat.


**** 


Di mushola keluarga, Baba Ardi memimpin sholat anak, istri dan beberapa karyawanya, minus Jingga. Setelah itu mereka membiarkan Hijau dan Biru mengaji bersama gurunya. Baba dan Buna kini berdua duduk di sofa. 


“Gimana Jingga Bun?” tanya Baba Ardi. 


“Maaf Ba, Buna ketiduran pas Jingga mandi, Buna belum sempat tanya Jingga pergi kemana?” 


“Tuh kan! Gini nih, kamu tuh dari dulu nggak berubah, Sayang, terlalu lembut dan lembek jadi orang, apalagi ke anak sendiri. Mas salahin sifat kamu, tapi nggak selamanya harus begini. Ada waktu kita harus tegas. Kalau nggak, yang ada kita dibodohi anak sendiri!” omel Ardi menyalahkan istrinya yang dianggap kalah sama anaknya.


“Astaghfirulloh, Ba..., Jingga itu anak kesayangan kita. Jingga nggak mungkin bohongin Baba dan Bunanya, lagian Jingga ngelakuin kesalahan baru sekali, dan itu juga hanya terlambat pulang, Baba kalau ngomong sukanya ih, anak sendiri dikatain begitu.” jawab Buna Alya merasa dirinya benar dan suaminya berlebihan.


“Buna Sayang, Jingga mengelabuhi sopir kita. Jingga juga pergi tanpa ijin kita, dan Buna masih belain dia?” 


“Mungkin Jingga ada perlu Ba!” ucap Buna Alya masih berfikir positif terhadap putrinya.


“Nih lihat!” ucap Ardi memperlihatkan sebuah foto.


Anak buah Baba Ardi ternyata ada yang memergoki Jingga saat bersama sopir nakal yang mengerjai Jingga, dia memfotonya dan melaporkan pada Babanya.

__ADS_1


Buna memperhatikan foto anaknya dengan seksama, di perbesarnya foto anaknya itu, kemudian Buna mengernyitkan matanya menatap suaminya heran. Buna kemudian terdiam, apa iya Jingga serendah itu seleranya?


“Baba dapet dari mana foto ini?” tanya Buna. 


“Ya adalah,  sekarang baru percaya kan apa kata Baba? Baba nggak bisa tinggal diam, dia anak kita yang berharga, Baba buatnya aja dengan penuh cinta, bisa- bisanya dia jalan dengan laki- laki gembel begini!” ujar Baba Ardi gusar, pikiranya semakin jauh travellingnya.


“Baba istighfar, nggak boleh ngrendahin orang begitu hanya dari foto, lagian kita belum tanya Jingga, kenapa Jingga ada di foto itu? Siapa dia dan ada hubungan apa? Jangan ambil kesimpulan aneh- aneh dulu Ba. Konfirmasi ke Jingga dulu ya!" ucap Buna masih berusaha berfikir tenang.


"Nggak, dia aja ngelabuhi sopir, dia pasti aka bohong!"


"Ba... Buna kenal anak kita kok, mungkin itu teman, atau rekan. Kalau nggak salah anak kita itu naksir senior di kampusnya, ganteng, pinter dan terpandang juga, bukan laki-laki ini!” 


“Nggak. Baba nggak peduli siapa yang ditaksir Jingga. Baba akan pilihkan orang yang tepat yang bisa jaga anak kita, dan ini keputusan final Baba!” ucap Baba lagi tegas.


“Ba, Jingga nggak mau dijodohin!” 


“Mau nggak mau harus mau, salah siapa dia berani bohongin Baba!” 


“Ba...” rayu Buna lagi.


“Bun, jangan bela anak yang salah. Ingat anak kita masih banyak, kita juga tidak bisa fokus ke Jingga saja. Biar Jingga ada yang didik dan urus, sakit kepala Baba kalau bayangin Jingga salah jalan begini!” ujar Baba Ardi emosi.


“Ba...” 


“Nggak! Panggil Jingga sekarang!” 


Saat Baba Ardi sudah bertitah, Buna Alya pun diam tidak berani membantah lagi. Apalagi ada bukti foto yang jadi senjata Babanya. Kini Buna tidak bisa menolong Jingga.


Baba Ardi memerintahkan ART nya untuk memanggil Jingga turun. Mereka menikmati makan malam bersama, awalnya tampak biasa saja, tapi setelah semua selesai makan, Buna mengajak adik- adiknya ke kamar. Jingga dan Babanya kini berdua. 


“Ehm...” Jingga kemudian berdehem dan berniat meninggalkan Babanya. Jinga masih ngambek dengan Babanya. 


“Mau kemana kamu?” tanya Baba dengan nada serius, sangat seram.


“Ke kamar Ba!” jawab Jingga lirih.


“Baba mau ngomong!” 


“Jingga minta maaf Ba, Jingga...” ucap Jingga mengira Babanya mau marah. Jingga berniat minta maaf, tapi Babanya tidak ingin mendengar kata Jingga.


“Baba nggak mau dengar alasan kamu. Besok ada perkuliahan jam berapa?” 


"Hoh!" pekik Jingga kaget, Babanya memotong perkataanya dan malah tanya jadwal kuliah.


"Besok pagi temani Baba. Kamu kuliah jam berapa?" tanya Baba menurunkan nada bicaranya.


“Jingga kuliah siang Ba!” 


“Jam 09.00 ikut Baba!” ucap Baba Ardi lagi.


“Ikut Baba?” 


“Ya, jangan terlambat dan jangan beralasan!” 


“Ya Ba!” 


"Ya sudah. Kembali ke kamarmu!"


"Ya Ba!"


Baba Ardi kemudian bangun dan menuju ke ruang kerjanya.


"Hoooh!" Jingga mengelus dadanya lega. Jingga bahagia hari ini dia lolos dari ceramah babanya. Padahal Jingga kira mau dihukum.

__ADS_1


__ADS_2