Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
94. PR untuk Om Gery


__ADS_3

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Adip memergoki Jingga bersembunyi mengintip Adip di bawah rumah panggung rumah warga di dekat sungai itu. 


Jingga langsung kelabakan, salah tingkah dan tidak bisa berkutik karena ketahuan.


Adip kemudian menoleh ke sekitar takut ada warga dan si penghuni rumah melihat dan membuat keributan. 


“Ikut aku!” ucap Adip mengajak Jingga pergi ke suatu tempat yang sepi. Bukan untuk pacaran, tapi Adip ingin memberitahu Jingga.


Adip mengajak ke tepian sungai, di situ ternyata ada bebatuan halus dan besar yang biasa warga gunakan sebagai tempat duduk untuk memancing.


Di atas batu itu terdapat pohon rindang yang membuat batunya teduh. Tempat yang sangat indah untuk bersantai, duduk sembari menikmati pemandangan air mengalir yang jernih. 


Jingga ikut dan berjalan menunduk mengikuti Adip. 


“Apa maumu? Kenapa mengikutiku? Kau ingin mengobati mereka kenapa tidak dari awal?” tanya Adip meletakan tas yang berisi obat- obatan dan alat kesehatan yang dia ambil dari puskesmas pembantu di desa itu. 


“Apa yang kamu lakukan terhadap warga desa? Belajar darimana kamu melakukan itu? Bukankah kamu seorang veteriner? Berani sekali melakukan itu?” tanya Jingga justru seakan menghakimi Adip, menurut Jingga apa yang dilakukan Adip menyalahi aturan. 


Adip menelan ludahnya menatap Jingga. Jingga masih saja tidak mengerti situasinya.


“Kenapa memangnya?” tanya Adip balik menantang Jingga. 


“Apa kau tidak takut membahayakan nyawa mereka? Apa segitunya kah aku ingin dipuji dan jadi dewa penyelamat di sini?” tanya Jingga lagi masih berusaha ingin menegaskan ke Adip, prinsip Jingga yang benar jadi warga yang taat aturan dan patuh pada undang- undang.


“Oke gue salah! Lalu menurutmu apa langkah dan tindakan yang tepat untuk membuat mereka tidak dalam bahaya? Hah!” tanya Adip balas menyerang Jingga. 


Jingga menelan ludahnya tercekat, tapi Jingga langsung berfikir dan tidak mau kalah. 


“Kita bisa mengirim mereka ke puskesmas agar ditangani dokter yang tepat! Kau tau? Kamu bisa dikatakan mall praktek kalau begini?” ucap Jingga lagi. 


“Hee hahaha!” Adip justru menatap Jingga dan menertawai Jingga dengan tawa mengejek. Tentu saja Jingga jadi diam tersinggung. 


"Mall praktek?" tanya Adip.


"Ya! Kamu bekerja ngawur tanpa legalitas dan ijin, mereka manusia bukan hewan atau kelinci percobaan!" jawab Jingga lagi.


"Apa kamu akan melaporkanku? Lapor kemana?" tanya Adip lagi.


Jingga terdiam, tidak punya jawaban. Maksud Jingga itu mengajak Adip bertindak ssesuai prosedur dan wewenang mereka.


“Oh ya? Apa tadi kamu bilang? Membawa ke puskesmas katamu?” tanya Adip melihat Jingga terdiam.


“Ya!” jawab Jingga mengangguk merasa pemikiranya benar.


“Apa kau lupa berapa jarak puskesmas ke tempat ini? Berapa waktu yang diperlukan untuk sampai ke sana? Dan dengan cara apa harus sampai kesana?” tanya Adip menekan Jingga agar Jingga berfikir lagi dengan apa yang Jingga katakan.


“Tau! Kita harus melewati sungai selama 5 jam untuk sampai ke puskesmas,” jawab Jingga. 

__ADS_1


“Kau masih bisa bilang bawa mereka ke sana?” tanya Adip lagi. 


“Ya masalah jarak kan dan transportasi itu kan memang konsekuensinya letak geografis di sini? Kalau memang mau berobat mereka harus tempuh dong! Itu juga untuk kesehatan mereka!” jawab Jingga masih tetap idealis. 


“Ck..ck...!” Adip geregetan dengan Jingga berdecak dan menggelengkan kepalanya. 


“Apa kau tahu? Ayah Yusuf dan Tuan Yoseph itu satu- satunya penarik perahu yang ada di desa ini! Tidak ada lalu lintas ke kecamatan jika mereka sakit. Apa kau masih akan bilang mereka harus menggerakan perahu sendiri sementara dia demam tinggi? Hah!” omel Adip ke Jingga membuat Jingga terdiam.


Dari sini Jingga sedikit tersentak. Jingga tidak tahu apa pekerjaan ayah Yusuf dan Tuan Yoseph yang kemarin datang ke rumahnya.


Sementara Adip , melihat Jingga makin diam semakin Adip ingin berkata. 


“Apa kau juga akan bilang biarkan saja mereka sakit, menunggu perahu dari kecamatan yang mau menjemput mereka? Yang entah kapan akan datang? Lalu kamu akan membiarkan mereka mati sia- sia? Iya begitukah maumu?"


"Bukan itu maksudku!" jawab Jingga lirih mulai tau letak kesalahanya.


'"Aku bisa gila menghadapi perempun sepertimu! Jika sampai terjadi sesuatu dengan mereka bukan hanya keluarganya yang bersedih, kau pun akan terpenjara di desa ini untuk selamanya!” ucap Adip berlebihan menakut- nakuti Jingga. Tapi memang begitu adanya, tidak semua orang bisa menjalankan perahu melawan arus sungai untuk pergi ke kota karena mereka berada di desa hilir.


Jingga pun semakin tidak bisa menjawab. Jingga ingin minta maaf tapi terasa berat dan tidak ada kesempatan karena Adip terus berkata memarahi Jingga.


“Oh ya? Kamu mengataiku mall praktek? Apa sungguh setelah ini kamu akan melaporkanku? Oh iya aku lupa, kamu punya Om menteri kesehatan ya? Wah waah, laporkan saja aku padanya!” ucap Adip akhirnya membuka identitasnya sendiri memberitahu Jingga kalau dia memang dokter hewan yang bersahabat dengan Amer dan Bunga.


Jingga yang mendengarnya langsung melotot ke Adip. 


“Kamu tau siapa aku? Jadi benar kamu Veteriner yang Bunga ceritakan? Kamu jugakah tukang ojek itu?” tanya Jingga menggebu akhirnya Adip sendiri yang mengakui siapa dia.


“Kemasi barangmu! Lusa ikutlah aku ke kota. Pulanglah, angkat kakimu dari sini! Nona Jingga Putri Gunawijaya!” ucap Adip menatap Jingga dalam dengan emosi.


“Hoooh! Kau mengusirku?” tanya Jingga kesal. 


“Aku menawarkan kemudahan untukmu! Keberadaanmu di sini tidak berguna!” jawab Adip menghina Jingga lagi.


Jingga yang sebenarnya mau minta maaf jadi emosi menyimpan kata maafnya. Jingga justru merasa tertantang dengan perkataan Adip.


 


“Bagaimana kalau aku tidak mau pergu dan aku tetap di sini?” jawab Jingga kekeh. 


“Oh ya? Kamu yakin kamu bisa bertahan di sini?” tantang Adip lagi. 


“Yakin! Kenapa tidak?” jawab Jingga. 


“Hoh! Apa sebenarnya maumu?” 


“Seharusnya aku yang bertanya padamu!” jawab Jingga menggebu. 


“Woah!” pekik Adip.

__ADS_1


“Kenapa sih? Kamu selalu bersikap begini terhadapku? Kenapa kamu selalu meremehkanku? Apa salahku padamu? Kenapa kamu selalu menyudutkan ku dan hanya berfikir sudut pandangmu? Kenapa tidak mencoba mengerti sudut pandangku, dan mengajariku?” jawab Jingga mengeluarkan unek- unek dan emosinya merasa Jingg diperlakukan berbeda oleh Adip. 


“Mengajarimu?” tanya Adip lagi tiba- tiba Adip menjadi dheg- dhegan dan hilang kendali. 


“Tidak, tidak jadi!” jawab Jingga malu menyadari ucapan Jingga seperti memohon belas kasih Adip, Jingg jadi tersipu. 


Adip kemudian menatap Jingga lagi, bukanya marah, tapi jantung Adip semakin dheg- dhegan tidak bisa dikendalikan.  


“Haish kenapa aku ini? kenapa dia selalu terlihat menarik jika begini? Ingat Adip dia sudah punya calon suami. Kastamu juga berbeda denganya!” batin Adip. 


Mereka kemudian terdiam sejenak.


"Aku akan buktikan padamu! Aku bisa berguna di sini!" ucap Jingga memecahkan suasana canggung mereka.


“Baiklah, lalukan! Kalau memang kamu ingin tetap di sini. Berusahalah semampumu untuk bertahan dan jangan menyesal!” ucap Adip dingin menjawab Jingga. Adip bangun membawa tas berisi alat kesehatanya itu. 


Jingga pun terdiam dengan mulut terkatup dan mengunci. Jingga diam dengan matanya lurus menatap ke sungai, membiarkan Adip pergi, berlalu sampai bahunya menghilang. 


“Kenapa dia selalu meninggalkan aku begitu saja setelah menyakitiku dan mengataiku sih? Tidak bisakah dia berbicara baik padaku? Aku kan mau minta maaf dan berterima kasih!” batin Jingga tambah sedih lagi. 


Jingga serba salah kalau mau ngobrol sama Adip. Jingga ingin Adip juga bersikap ramah dan santai terhadapnya.


Jingga tidak tahu kalau sebenarnya Adip juga sangat ingin memberitahu Jingga baik- baik, mengajaknya bekerjasama.


Adip juga sangat tidak tega melihat Jingga menangis, saat Jingga menangis lebih dari Adip peduli ke teman- teman Jingga yang hanya sekedar ramah. Adip ingin melindungi Jingga, merasa sakit juga dan ingin memeluknya erat. Sayang, Adip harus melawan itu, bahkan batinya tersiksa sendiri saat tau Jingga calon dari Dokter Rendi.


Jingga memikirkan apa kata Adip, Jingga jadi mengerti, kalau memang Pak Yusuf dan Pak Josep satu- satunya Nahkoda perahu di desa itu, berarti mau tidak mau mereka memang harus menolongnya. 


Jingga kemudian duduk di batu tepi sungai itu. Menikmati arus air sungai, menikmati udara yang kaya oksigen itu, sambil menjernihkan pikiranya. Meyendiri menikmati alam yang masih sangat alami ternyata tidak buruk. 


Jingga merasakan ketenangan dan mulai mencerna apa yang Adip katakan. Di dunia ini ternyata ada banyak hal yang terjadi begitu saja, yang menghadapkn kita pada pilihan sulit yang keluar dari jalur seharusnya, tapi tetap harus dilakukan.


“Huuuft...” Jingga menghela nafasnya halus. Ya, kali ini Jingga setuju dengan pendapat Adip. 


Jingga akan menolong warga, Jingga tidak mau dikatai Penyihir jahat lagi. Di tempat ini Jingga harus bermanfaat untuk orang lain. 


"Om Gery... ini PR untuk Om, Om Gery kelak harus tau kenyataan ini!" batin Jingga kemudian mulai berfikir dewasa. Keluarganya kan orang berpengaruh.


Seharusnya yang salah bukan Adip yang terpaksa melanggar kode etik, tapi Om Jingga dan Baba Jingga yang seharusnya melek dengan sisi dunia yang mereka tidak tahu. Ini PR besar untuk om Gery.


****


Sekali lagi ya Kak


Ini negeri antah berantah di dunia halu dan setting waktunya tidak jelas.


Jangan menebak tentang tempat ya. Dosa!

__ADS_1


Hihihihi


__ADS_2