
Di atas bukit yang gelap dan hanya disinari lentera, mendapat pertanyaan Jingga, Adip jadi gerogi sendiri.
Sementara Jingga pipinya bersemu merah, meski gelap tapi sorot matanya terlihat berbinar memancarkan kebahagian.
Amer benar- benar dibuar geli dan bingung.
Adip kemudian mengajak mereka ke gubuk hukuman.
“Sudah jam 2 malam, masih ada sisa 3 jam sampai subuh tiba. Ayo kita istirahat!” ajak Adip ke Amer dan Jingga.
Mereka bertiga kemudian berjalan ke rumah kaya di atas bukit itu.
Dengan ekspresi centil, Jingga menggigit bibirnya dan menyipitkan kedua bola matanya. Jingga berjalan dekat- dekat dengan Adip,berharap mendapat perlakuan sweet seperti pasangan penganten baru lain.
Sayangnya Adip berjalan cepat tanpa menggandeng Jingga atau mensejajarinya. Adip membiarkan Jingga berjalan di belakang bersama, Amer.
Adip justru merasa takut menyakiti Jingga, takut membuat Jingga tidak suka karena dia nikahi dengan cara tidak baik. Dia takut juga me.buat Jingga dalam masalah dengan Babanya.
“Aku istrinya kan? Apa itu artinya aku akan tidur dengan dia malam ini? ya Tuhan, aku tidak sabar kasih tahu Tari dan Siska. Aku istrinya Bang Adip,” batin Jingga senyum- senyum sendiri malah berfikir kemana- mana.
“Kak!” panggil Amer ke Jingga. Amer pun menjadi orang ketiga yang bingung.
Jingga tidak menghiraukan adiknya dan berjalan cepat ingin menyusul Adip tapi langsung ditarik Amer.
“Kak!” panggil Amer lebih keras dan menarik tangan Jingga.
Amer merasa Jingga aneh. Mereka kan sedang ditimpa masalah, baru saja mereka melow melow, kenapa sekarang Jingga berubah seratus delapan puluh derajat. Amer merasa Jingga harus jelaskan semuanya.
Karena Amer memanggil keras, bukan hanya Jingga yang menoleh tetapi Adip juga.
“Maaf Bang Adip, Amer mau bicara sebentar sama Kak Jingga!” tutur Amer.
“Oh ya.., silahkan, gue ngantuk dan capek banget, gue tidur duluan ya!” ucap Adip berpamitan.
"Ya Kak!" jawab Amer.
Adip buka hanya capek dan ngantuk tapi badanya juga masih terasa pegal dan sakit.
“Lhoh kok...!” celetuk Jingga merasa kecewa. Mereka kan menikah, kenapa Adip tak mengajaknya.
“Amer sakit Kak, duduklah!” ucap Amer ke Jingga meminta.
__ADS_1
“Hemmm Ya!” jawab Jingga memanyunkan bibir, pandanganya ke Adip yang berlalu masuk ke rumah panggung di atas bukit itu.
Sementara dirinya dan Amer duduk di teras di dini hari itu.
“Kak Jingga nggak capek apa?” gerutu Amer kesal ke kakaknya.
“Apa maksudmu? Aku merasa tidur lama!” jawab Jingga.
“Tadi, Kakak menangis? Kenapa sekarang terlihat semangat sekali? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Amer kemudian.
Mendengar pertanyaan Amer, Jingga yang berseri- seri berasa mimpi menjadi istri Adip, menelan ludahnya berfikir dan flashback ke beberapa jam yang lalu. Jingga pun mendadak diam dan murung.
“Kak!” panggil Amer lagi.
“Kita nggak lagi mimpi kan?” tanya Jingga malah kaya orang bingung.
“Menurut kaka?”
“Aku merasa ini mimpi!” jawab Jingga.
Amer kemudian menggerakan tanganya mencubit keras paha Jingga.
“Ini nyata Kak! Ini nyata!” ucap Amer kemudian.
“Hohhh...!" Jingga menghela nafasnya tidak berbicara.
"Apa Kak Adip sungguh bejat? Kakak bagaimana mengenal Bang Adip?" tanya Amer penasaran mengingat perkataan Jingga tadi.
"Sssttt... Jika ini nyata. Apa itu artinya aku juga sungguh diperkosa Tama?” gumam Jingga kemudian, Jingga tidak menghirauman pertanyaan Adiknya malah salah fokus ke yang lain. Jingga terbengong dan murung.
“Hoh... Kakak diperkosa?” tanya Amer ikut terbengong dan menoleh ke Jinga antusias.
“Ceritakan apa yang terjadi, kenapa Bang Adip yang nikahin aku? Dimana Tama? Kenapa kalian ada di sini?” tanya Jingga ekspresinya menjadi gusar dan begitu menggebu ingin tahu.
“Siapa Tama?” tanya Amer lagi ikut- ikutan tidak nyambung dengan pertanyaa Jingga. Amer salah fokus ke nama yang Jingga sebutkan itu.
“Dia ... dia mantan pacar kakak!” jawab Jingga menunduk dan memilih bajunya seperti anak yang takut dimarahi orang tuanya, Jingga tahu, Amer pasti marah kalau tahu kelakuanya.
"Ya Tuhan Kakak. Kenapa kakak jadi begini? Jadi sungguh Kakak berduaan dengan laki- laki. Dan Bang Adip jadi kambing hitamnya? Kakak Punya pacar??" tanya Amer lagi hampir marah..
"Bukaan. Bukan begitu!"
__ADS_1
"Astagah,kenapa kakakku yang polos jadi begini? Buna dan baba pasti marah Kak. Kak Rendi ityu tampan dan baik!" omel Amer salah paham
"Aih bukan gitu!"jawab Jingga ingin menjelaskan.
"Bang Adip juga sungguh malang. Kakak tahu? Bang Adip dan Kak Jingga hampir dibunuh ramai- ramai oleh warga!" lanjut Amer lagi meerasa kakaknya sangat parah.
"Dibunuh?" tanya Jingga.
Amer kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukan apa yang terjadi dengan Jingga sebelumnya.
"Hoooh! Astaga!" pekik Jingga matanya melotot kemudian menoleh ke tanah lapang di halaman rumah panggung yang dia duduki.
"Jadi aku nggak mimpi? Bang Adip nolongin aku?" tanya Jingga kemudian.
"Ya...!" jawab Amer.
Jingga kemudian menunduk merasa sangat malu dan juga merasa bersalah dengan Adip.
"Sekarang ceritakan ke Amer. Siapa Tama?Apa yang terjadi?" tanya Amer.
Jingga kemudian menceritakan yang dia alami detail.
"Astagah. Kakak kenapa kau bodoh sekali??" umpat Amer malah mengatai kakaknya.
"Kalau benar aku diperkosa? Kenapa aku nggak sakit sama sekali ya?" celetuk Jingga kemudian.
"Hhhh....!" Amer kemudian menghela nafasnya kesal dan mengepalkan tanganya.
"Kita, visum ke rumah sakit. Kakak harus ceritakan ke Ketua adat di sini, kita juga harus secepatnya pergi. Selain itu kita juga harus temukan, teman kakak yang bernama Tama itu!" ucap Amer memberitahu Jingga.
"Ya... !" jawab Jingga mengangguk. Jingga sekarang melamun lagi, pantas Adip diam murung.
"Ya udah ayo masuk. Kita harus istirahat sementara di sini!" ajak Amer berusaha berdiri.
"Amer tunggu!"
"Apa?"
"Tapi perbikahana kakak tadi sah kan? Kakak beneran nikah ma Bang Adip kan?" tanya Jingfa kemudian
"Hmmm.... kalau kata penghulu dan pemuka agama desa ini begitu!"
__ADS_1