Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
55. Ditunda


__ADS_3

Sebetulnya tanpa diminta dan diancam, Jingga memang ingin mengakhiri hubungan dengan Tama. Hanya saja timingnya belum tepat.


Jingga juga belum ada kesempatan untuk membicarakan itu. Waktunya juga berlalu sangat cepat, bari tadi sore Jingga bertemu Tama, dan Jingga langsung sibuk. Jingga belum ada kesempatan untuk mengungkapkan dan membicarakanya dengan Tama.


“Saya tunggu keputusanmu malam ini juga!” tutur Pak Rendi lagi menekan Jingga. 


Sebenarnya Pak Rendi sangat cemburu mengetahui Jingga punaya pacar. Pak Rendi merasa jauh sebelum Jingga pacaran dengan Tama, dan jauh sebelum Baba Ardi menyetujui perjodohan itu. Pak Rendi sudah mengincar Jingga. Hanya saja Pak Rendi bermain cantik, dia menjaga Jingga dari kejauhan dan mendekati keluarganya. 


“Kenapa bapak suka sekali mengancam saya?” tanya Jingga kesal.


“Dalam usaha mendapatkan hatimu, tidak ada aturan dilarang mengancam kan?” jawab Pak Rendi. 


“Apa bapak pikir dengan cara mengancam seperti ini Bapak bisa mendapatkan cinta saya?” tanya Jingga lagi. 


“Kita lihat saja nanti, huh?” jawab Pak Rendi lagi mengedikan bahunya. 


Jingga menelan ludahnya berfikir, kesepakatan cinta macam ini. Bukankah cinta itu anugerah? Kenapa harus dengan cara seperti ini? 


Jingga benar- benar putus asa terhadap hidupnya. Inikah jalanya menemukan cintanya. Apa selamanya Jingga akan terbelenggu dan takut dengan semua bayang- bayang Babanya. Tidakkah Tuhan akan memberi Jingga cinta seperti kata Pujangga? Jingga ingin merasakan cinta yang menggetarkan hatinya.


“Saya memang akan putus dengan Tama, tapi bukan karena ini!” jawab Jingga lantang, ingin memberitahu Jingga kalau Jingga ingin dianggap perempuan bebas dan mandiri yang melakukan sesuatu berdasarkan hatinya bukan ancaman.


“Bagus! Apapun itu, lakukan, saya hanya mau dengar, putuskan dia!” jawab Pak Rendi tersenyum sangat puas menatap Jingga. 


Jingga pun menyerahkan ponsel Pak Rendi lagi.


 


“Kamu cantik memakai baju casual begini!” puji Pak Rendi dengan hangat.


“Ehm!” Jingga berdehem tidak nyaman. “Saya tidak butuh pujian bapak!” jawab Jingga. 


“Memuji calon istri sendiri boleh dong!” jawab Pak Rendi lagi semakin membuat Jingga risih dan tidak nyaman. 


“Masih ada yang perlu dibicarakan? Saya harus segera kembali ke kamar saya butuh istirahat!” tanya Jingga ketus. Berlama- lama duduk dengan Pak Rendi membuat Jingga ingin muntah, meski bagi Rendi sangat menyenangkan. 


“Baru jam 8! Di sini dululah, aku tahu kamu tidak nyaman dengan kamarmu, kupesankan kopi ya? Atau coklat panas?” jawab Pak Rendi melirik jam tangan mahalnya dan menawarkan Jingga makanan, kapan lagi Pak Rendi bisa leluasa mengajak Jingga mengobrol.

__ADS_1


“Nggak usah sok tahu deh, siapa bilang saya nggak nyaman dengan kamar saya. Saya nyaman kok!” jawab Jingga berdiri dan berniat bangun segera pergi. 


Sayangnya saat Jingga bangun, Pak Rendi menarik tangan Jingga dan menyuruhnya duduk. Sialnya lagi saat adegan itu si Tama yang baru ada perlu dengan sahabatnya lewat dan melihatnya dengan jelas.


“Jingga! Pak Rendi!” pekik Tama syok. 


Tatapan mata Tama tidak pergi dari tangan Pak Rendi yang masih  memegang tangan lentik Jingga yang mulus.


Tama menghentikan langkahnya, Tama megulum lidahnya. Lalu Tama menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis ke Jingga. 


Tama sangat mengerti sekali, dari pernyataan teman – teman Jingga, Jingga adalah anak yang polos. Tama adalah pacar pertama Jingga. Jingga sangat membatasi pergaulan dengan laki- laki apalagi kontak fisik. 


Saat melihat Jingga dibonceng tukang ojek saja Tama naik pitam dan tidak terima, sekarang Tama melihat perempuan yang dia anggap wanitanya dipegang laki- laki dewasa yang semua orang tahu masih jomblo. Tama juga tahu betul bagaimana perangai Pak Rendi dan pamor Pak Rendi di kampus. Emosi Tama pun kembali tersulut. 


“Lepas Pak!” lirih Jingga melepaskan tangan Pak Rendi. 


“Kamu bisa jelaskan ini Jingga?” tanya Tama mulai dengan nada meninggi. 


Jingga gelagapan dan terdiam. Jingga kan anak baik- baik. Pacaran juga baru aja belum genap sebulan. Itu juga coba- coba, kenapa di hadapkan ke situasi macam drama seakan Jingga perempuan play girl yang jahat. Oh bukan play girl, tapi Jingga merasa seperti mahadewi yang diperebutkan.


Mendengar ancaman Pak Rendi, Jingga kemudian menatap Tama dan Pak Rendi bergantian apa ini? 


“Maaf Pak! Di sini anda bukan dosen saya, saya butuh waktu untuk berbicara empat mata dengan pacar saya!” jawab Rendi berani menantang ke Pak Rendi. 


“Oh iya? Apa itu pacar?” jawab Pak Rendi tidak mau kalah. Pak Rendi kemudian berdiri dengan santai, menampakan muka coolnya dan memasukan kedu tanganya ke sakunya. 


Tama menelan ludahnya kalah telak. Tama memang mahasiswa, secara status dia jauh dengan Pak Rendi. Tapi sebagai anak muda yang merasa dekat dan berhasil mengambil hati Jingga, Tama merasa satu langkah menang dan berhak membawa Jingga. 


“Ikut aku!” ucap Tama memberi kode ke Jingga.


 


“Pilihan ada di tanganmu!” bisik Pak Rendi menunjukan ponselnya ke Jingga, sebelum Jingga pergi.


Jingga diam tidak menanggapi dan mengikuti langkah Tama. Mereka berhenti di sebuah ruangan kantor dekat dengan tangga kamar Jingga.


“Ada hubungan apa kamu sama Pak Rendi? Hah!” tanya Taman membentak Jingga lagi. 

__ADS_1


“Tolong, jangan bentak saya Kak! Bisa bicara pelan dan baik- baik saja nggak?” jawab Jingga kini berani melawan Tama.


“Kamu bilang bicara baik- baik? Hah. Aku melihat pacarku berduaan dengan laki- laki bangkotan, berpegangan tangan. Apa ini?” tanya Tama lagi.


“Nggak ada yang berpegangan tangan, Kak!” jawab Jingga mengelak, menurut Jingga berpegangan artinya saling menggenggam, bukan dari sebeah pihak, kalau tadi kan sebelah pihak. Jingga tidak terima kalau dikatai seperti itu.


“Kamu masih mengelak? Jelas – jelas aku melihatnya. Jadi ini alasan kamu ikut ruang inspirasi ini? Pantas ya kamu susah dihubungi!” 


Tama yang emosian pun semakin meledak emosinya, apalagi sekarang dibubuhi rasa cemburu.


“Kak, ini tidak seperti yang kak Tama lihat, aku ikut acara ini, karena memang aku ingin!” jawab Jingga tidak terima karena Tama menuduhnya dengan rendah dan keji.


“Karena ingin , ingin jauh dariku dan kamu mau dekat- dekat dengan dosen bangkotan itu? Iya!” tuduh Tama lagi.


“Kak!” pekik Jingga benar- benar tidak menyangka Tama sepert itu.


Jingga ingin memutuskan Tama dalam keadaan tenang dan menjelaskan akar permasalahanya dengan baik, bukan bertengkar seperti ini.


“Apa? Apa? Hah!” jawab Tama lagi di luar kendali bahkan Tama mendekat ke Jingga dan meraih tanganya. Jingga pun ketakutan dan menarik tanganya.


“Kenapa? Kenapa kamu tidak mau kupegang? Di sini nggak ada Babamu dan pengawalmu kan? Kamu pacarku kan?” tanya Tama seperti orang kesetanan. 


Jingga melihat sekeliling ternyata sepi. Mendadak Jingga jadi ketakutan menghadapi Tama. Ternyata Tama tak seperti kata sahabatnya yang sangat baik. Tama ternyata Arogan.


Jingga pun memundurkan langkahnya. 


“Sadar Kak! Kak Tama kenapa sih?” tanya Jingga masih mencoba menenangkan dan berdiksusi baik- baik dengan Tama. 


“Tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku! Kalau kamu tidak mau kusentuh, maka tidak ada orang lain juga yang bisa menyenthmu! Kamu Jinggaku, mengerti!” ucap Tama tiba- tiba mengeluarkan sifat posesif gilanya. 


Dheg 


Perkataan Tama yang bagi Tama sebagai ungkapan cintanya yang sangat besar, tapi bagi Jingga ini lebih mengerikan dari ancaman Pak Rendi.


Jingga jadi semakin ketakutan. Belum mengatakan putus saja Tama sudah terlihat sangat seram. Jingga pun tidak berani mengatakan putus untuk sekarang. 


Jingga kemudian berfikir bagaimana caranya sekarang kabur dari Tama dan segera ke kamar. 

__ADS_1


__ADS_2