Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
211. Kenapa Dika dan Adip nangis2?


__ADS_3

Jingga berjalan cepat menuju kamarnya. Sepanjang jalan otak Jingga pun dipenuhi tanda tanya.


Sebenarnya suaminya itu ada urusan apa? Kenapa Om Dika, teman Baba yang lama tidak bertemu mencari suaminya. Apa bisnis yang Adip sembunyikan? Otak Jingga kan normal, berpikirnyan dangkal.


Kalau Om Gery wajar, Adip kuliah di Ibukota, kemungkinan kenal besar mengingat Adip mahasiswa yang aktif di beberapa organisasi. Nah Om Dika? Kapan kenalnya? Pekerjaanya saja tak ada hubunganya? 


“Klek,” Jingga membuka pintu kamarnya. 


Adip masih terlihat berbaring lelap di atas sofa, bahkan dengkuran halusnya terdengar di telinga Jingga. Jingga kemudian mendekat. 


Ditatapnya wajah tampan suaminya. Wajah tampan yang sebelumnya membuat hatinya seperti ditarik ulur.


Wajah yang suka mengerjai Jingga, suka marah- marah nggak jelas, menjauhinya, dan membuat Jingga tersinggung sekaligus jadi penasaran, tapi ternyata semua itu hanya untuk menutupi cinta yang besar untuknya. 


Jingga pun duduk memaksa di dekat Adip. Padahal sofa kan kalau buat tiduran hanya muat satu orang, tapi Jingga memaksa duduk menempel suaminya itu sedikit mendesak, tubuh Adip. Halal ini bebas mah, batin Jingga.


“Kalau diliat- liat, kok Bang Adip kaya ada mirip- miripnya sama Om Dika sih?” gumam Jingga reflek, tiba- tiba melihat Adip yang sedikit melongo. 


Kalau pas tidak tidur dan tersenyum beda sih, buat Jingga, Adip tetap paling tampan. Jingga kemudian iseng, tanganya terulur menyentuh  pipi Adip, dengan lembut, jari- jemarinya pun tergerak untuk membelainya. Jingga juga suka memainkan alis Adip yang tebal.


Jingga senang sekali bisa melakukan itu. Ya, lelaki tampan ini jadi miliknya sekarang.


Jingga bisa lakukan apa saja. Bahkan Jingga sudah berbagi nafas, lebih dari itu, Jingga sudah melakukan penyatuaan tubuh, berbagi keringat, berbagi cairan tubuh, berbagi kehangatan, meski gagal di tengah jalan.


Jingga ingat, Tari untuk bisa melihat Adip saja sampai berjuang menunggu di ruangan gelap mati lampu dan membosankan.


Jingga sekarang bisa memeluknya bebas. Jingga berfikir, Jingga seperti pemenang, pasti Tari iri. Rasa cinta Jingga dan syukur Jingga pun bertambah. 


“Cup,” Jingga pun gemas mencium bibis Adip yang sedikit melongo.


Tapi Jingga hanya sekedar memberi kecupan, Jingga pun melepaskanya. 


Akan tetapi saat Jingga menjauhkan wajahnya lagi terasa ada tangan yang mendekatkan menangkap kepalanya dan memdorong untuk maju lagi. 


“Hoh,” pekik Jingga kaget, 


“Lagi...” ucap Adip tersenyum nakal ke Jingga, ternyata Adip terbangun. "Cium lagi, yang lama!"


“Ish...,” desis Jingga tersipu.


Adip kemudian memajukan bibirnya dan memberikan ciuman lagi. Jika Jingga hanya sekedar kecupan, Adip lebih dari itu, memberikan luumatan panas dan basah, membelitkan lidahnya dan bermain di sana dan membuat Jingga panas gemetaran, menampung rasa indah yang tidak bisa dijelaskan.


Setelah merasa, Jingga nafasnya tersengal, Adip melepaskan paguutanya dan tersenyum, sambil menyapu bibir Jingga yang basah karena ulahnya, terlihat air liurnya masih menempel sedikit. Jingga terlihat sangat polos dan imut kalau begini. 


“Abang masih ngantuk, sini peluk, tidur sini!” ucap Adip dengan suara khas bangun tidur menepuk dadanya.


“Mmmmpth,” Jingga mengangguk menyiakan.


Jingga kan juga sangat suka dipeluk atau memeluk sebelumnya, baik dipeluk Buna, Amer, Ikun, Nila ataupun adik kembarnya.


Untuk Jingga saat dipeluk atau memeluk itu hal yang luar biasa nyaman. Jingga seperti mendapatkan energi dari orang itu, merasa ada tempat berlindung. 


Meski di sofa yang sempit, Jingga membaringkan tubuhnya dan memeluk erat suaminya.


Adip juga memeluknya erat, sehingga mereka saling peluk di sofa itu.


Untuk Adip hal itu sangat menyenangkan dan membahagiakan, hangat, nyaman dan menenangkan. Rasa itu berbeda dari rasa sekedar mengikuti tuntutan biologis. 


Mereka saling menutup mata sejenak bertukar energi panas dan saling mengcharge semangat, tiba- tiba.


“Cup.. cup... cup...,” sambil memeluk, Adip menghujani, kepala Jingga yang ada di bawahnya dagunya.


Dalam kecupan itu tercurah syukur dan bahagia Adip. Meski tadi Adip terlelap sebentar, ternyata itu membuat Adip lupa semua kecewanya, tidur memang obat kecewa paling ampuh mengusir kecewa. 


“Katanya mau tidur?” lirih Jingga mencibir bangun. Adip bukanya tidur tapi terasa malah masih erat memeluk dan mencium. 


“Jadi nggak bisa tidur, Sayang,” jawab Adip meledek. 


“Hmmm... ya udah bangun sekalian, udah pagi!” jawab Jingga manyun lalu mengurai pelukanya dan duduk. 


Adip hanya bisa berekspresi kecewa, rasa hangatnya terurai lagi. 


“Eeeeeghh,” Adip kemudian menggeliat, merentangkan tanganya dan membuka matanya sempurna, lalu ikut duduk dan bangun. 


“Abang kenal Om Dika?” tanya Jingga kemudian. 


Sambil mentup mulutnya karena menguap, Adip mengernyit, muncul tanda tanya. 

__ADS_1


“Om Dika?” tanya Adip. 


“Iyah!” jawab Jingga mengangguk. 


“Yang mana orangnya?” tanya Adip lagi sambil menegakkan duduknya agar lebih segar dan kesadaranya full. Teman Baba yang tadi ditemui Adip dan Jingga kan banyak.


“Teman Baba, yang semalam sama Baba dan Buna,” ucap Jingga.


“Oh... itu? Yang orang dari kampung Jauh?"


"Iyah, kampungnya Oma Mirna!"


"Nggak sih? Kenapa emangnya?” jawab Adip.


“Kirain kenal? Ada bisnis apa gitu?” cibir Jingga. 


“Nggak ada, kenapa emangnya?” tanya Adip lagi lalu meraih sisa teh dingin yang tadi pagi dia buat dan meneguknya.


“Dia mau ketemu, sama Abang. Katanya penting, masa Tante Dina nangis sama peluk Jingga, pas tanya nama lengkap Abang,” tutur Jingga cerita.


“Whuah, begitukah?” pekik Adip bingung, lalu garuk- garuk kepala. 


“Aneh nggak sih?” tanya Jingga lagi. 


“Hhhh...,” Adip hanya menghela nafasnya berfikir tapi tidak komentar. Adip malah memeriksa ponselnya. 


“Ya sudah, gampang nanti kita temui mereka. Beginilah resiko punya wajah ganteng? Mungkin mau nawarin anaknya, untuk jadi istri kedua buat Abang,” ucap Adip malah nyeletuk bercanda. 


“Isssshhh, enak aja!” desis Jingga mencubit kesal, baru juga bareng sehari post resepsi udah kepikiran istri kedua. 


“Hehehe...," jawab Adip ketawa, Adip suka kalau liat Jingga cemburu.


"Enggak Sayang, canda! Kamu istri Abang satu- satunya, paling cantik, paling abang cinta,” jawab Adip memencet hidung Jingga. 


“Nggak suka bercanda, begitu! Jelek bercanda. Bete!” 


“Ya kan, orang nawarin terserah, yang penting Bang Adip cintanya ke kamu, Abang pilih kamu seorang!” rayu Adip lagi.


“Hmmm,” 


“Udah, bantu Bang Adip kemas- kemas yah, kita ke rumah Emak sekarang!” 


“Ya itu baju kamu? Kalau nggak bawa baju, gimana nanti di rumah Emak?” 


“Ishh, itu kan pakaian kotor Bang,” 


“Nanti dicuci, di emak,” 


“Nggak ih, udah biarin itu diambil tukang laundry, di rumah Emak, kita beli lagi aja!” ucap Jingga enteng. Kebiasaan Jingga jadi anak Baba kan gitu, apa- apa tinggal beli aja. 


Adip menelan ludahnya dan menatap istrinya tajam. Enak banget beli-beli aja. Jingga lupa, sekarang Jingga sudah pindah penyuplai uangnya. 


“Beli aja- beli aja, emang punya uangnya?” tanya Adip menantang, Jingga kan belum kerja.


“Punya lah,” jawab Jingga. 


“Uang darimana?” 


“Black card yang dikasih Baba,” jawab Jingga lagi dengan entengnya. 


“Plethak,” Adip pun kembali menyentil kening Jingga. 


“Kenapa?” 


“Lupa kesepakatan kita kemarin? Mulai sekarang kamu tanggung jawab Abang, bukan Baba lagi!” 


“Lah tapi ini kartu aku, aku juga masih anak Baba kan?” 


“Kembalikan ke Baba!” tutur Adip pelan dengan nada menekan dan dewasa.


“Kok gitu?” tanya Jingga masih tidak rela benar- benar harus melepas black card yang memudahkanya.


“Kita diskusikan ini lagi besok setelah pulang dari Emak, Abang juga harus pamit ke Baba dan Bunamu. Sekarang kita kemasi barang- barang kita. Setelah ini kita ke rumah sakit jenguk uwak, abis itu ke rumah Emak, agenda kita masih banyak! Pokoknya kebutuhan kamu, Abang yang tanggung! Tapi harus nurut!” ucap Adip tegas dan bergegas bangun. 


Entah usaha apa yang Adip sembunyikan dan punya tabungan apa Adip percaya diri bisa hidupi Jingga.


Meski nanti pada prakteknya Adip tahu tak akan sepenuhnya lepas dari orangtua dan butuh bantuan. Akan tetapi Adip tetap akan memilah dan merencanakan masa depanya. Sebagai kepala rumah tangga yang utuh dan mandiri.

__ADS_1


“Ishh...,” desis Jingga manyun.


Jingga tidak bisa menembus sampai sejauh apa pola pikir Adip. Yang pasti karena bucin Jingga ikut saja. Jingga bahagia yang penting sama Adip aja.


Meski begitu sekarang Jingga mulai berasa kehidupan nyata jadi istri seorang Adip yang prinsip hidupnya berbeda dari orang lain,  ke depan tak akan sesantui bayangan Jingga.


“Nih yang kotor taruh kresek ini, yang bersih taruh sini!” ucap Adip kembali dari dalam membawa kresek dan menunjukan ke Jingga. 


“Hoh,” pekik Jingga syok menatap keranjang kotor yang Adip bawa. Jingga jijik dan syok disuruh mengemasi pakaian kotor, padahal pakaianya sendiri dan hanya sedikit. 


“Kok bengong? Kamu istri Abang kan? Ini baju kamu kan? Abang bantuin, Abang beresin punya Abang, kamu beresin punya kamu, masih baik lho suamimu ini, orang lain istri beresin semuanya,” tutur Adip mengajari Jingga melakukan tugasnya. 


“Tapi ini kotor Bang...,” jawab Jingga menawar lagi, Jingga tak puas sebelum menawar meski endingnya nurut. Dan Adip selalu tetap kukuh mengajari.


“Ya makanya dipisah, yang kotor dibungkus plastik, nanti dicuci di rumah, kamu mau mau pakaian dalam kamu di pegang- pegang sama pegawai laundry laki- laki di sini? Kalau Abang sebagai suami kamu nggak rela. Abang doang yang boleh lihat dan pegang. Meski itu hanya pakaian!” tutur Adip lagi dengan tegas.


“Gleg,” Jingga diam tidak berani menawar lagi.


Bunanya memang suka ajari Jingga untuk memilah pakaian, tapi seringnya Jingga bawel. Di rumah Baba semua ditaruh di tempat kotor dan ada yang angkut, malah seringnya yang Jingga tidak suka langsung dibuang.


Baru di pulau Panorama kemarin Jingga belajar menghemat baju. 


“Iya...,” jawab Jingga patuh meski ekspresinya malas. 


Adip meliriknya sekilas, Jingga mulai memunguti pakaianya, semalam dari keranjang pakaian kotor. Jingga melipatnya pelan meski terkesan lucu dan tetap rapihan Adip. Sebenarnya ada rasa kasian. Adip tahu Jingga tak pernah lakukan itu tapi untuk Adip itu semua perlu. Adip pun menyunggingkan senyum tipisnya tanpa Jingga tahu. 


Meski bawel dan suka manyun ternyata Jingga istri yang patuh. 


***** 


Saking tidak sabarnya ingin segera bertemu Adip, Dokter Dinda dan Om Dika yang biasanya olahraga 30 menit, hari ini, baru 15 menit sudah berhenti. 


Mereka bergegas mandi dan menunggu Jingga dan Adip datang.


Dokter Dinda dan Om Dika tidak peduli Baba dan Buna lagi, tapi langsung ingin segera memeluk Adip. Nama Wirajaya sudah jadi kunci otentik, firasat Dokter Dinda 100 persen benar. 


“Kok nggak dateng- dateng sih?” gumam Om Dika yang biasanya tenang kini tampak gelisah. 


“Tunggu, Mas. Pengantin baru kan biasanya mesra- mesraan, dulu. Dulu kita juga gitu kan?” jawab Dokter Dinda, tidak tahu kalau Jingga sedang berkemas. 


“Oke,” jawab Om Dika sambil menggerak- gerakan sepatunya tidak sabar. 


Tidak lama setelahnya, sepasang pemuda halal berjalan bergandengan. Jingga mengenakan gamis cantik berwarna biru muda, sementar Adip mengenakan kaos oblong dan celana ¾ berjalan kearahnya. 


Om Dika dan Dokter Dinda langsung melebarkan senyumnya. Om Dika tak kuasa menahan haru, matanya berkaca- kaca lagi.


Bahkan saking senangnya dan tidak sabar, Om Dika berdiri menyambut Adipati keponakan yang dia sayang dan dia rindukan. 


Adip jadi seperti Jingga tadi, bingung melihat tatapan Om Dika. 


“Pagi.. Om, Tante?” sapa Adip melepaskan gandengan tanganya dari tangan Jingga memilih membungkukan badan tanda hormat. 


Bukan menjawab, Om Dika langsung maju dan memeluk Adip erat, dan air matanya tumpah. 


Adip diam tidak merespon dan bingung sendiri.


“Pak Lik merindukanmu, Nak. Kamu kemana aja? Yangti selalu menanyakanmu!” bisik Om Dika sambil terisak. 


Adip langsung tercekat dan bingung. 


“Pak.. Lik? Yangti?” Otak Adip langsung dipenuhi tanda tanya. 


Jingga yang melihatnya juga bingung dengan pemandangan di depanya. Terlebih dokter Dinda tantenya ikut menangis haru melihat suaminya memeluk Adip.


“Apa maksudnya Om Dika? Om Dika kenapa?” tanya Adip berbisik. 


*****


Dari arah lift, berjalan ke restoran pasangan suami istri senior dengan perut istrinya yang buncit. Mereka juga menuju ke arah Adip.


Baba dan Buna yang sudah keramas berencana sarapan ke restoran hotel dan sudah membawa nama ayah kandung Adip. Letnan Jendral Indra Hardiatna Wirajaya. 


“Ada apa ini? Kenapa Adip dan Dika berpelukan sambil menangis?” gumam Baba ke Buna sambil berjalan. 


Buna jadi ikutan dheg- dhegan. 


“Ayo cepat jalan makanya Ba! Adip nggak bikin masalah kan?” jawab Buna. 

__ADS_1


*****


__ADS_2