
*****
Seperti ada ikatan batin, di saat Iya dan Iyu merengek minta keluar dibelikan es krim. Baba mengetok pintu ruang PS khusus anak laki- laki. Di rumah Baba memang disediakan ruang khusus anak- anak bermain.
"Baba...," panggil Iya dan Iyu berlari ke Baba minta dipeluk.
Kalau lagi kangen dan minta perlindungan Iya dan Iyu lengket pada Baba.
"Ba... kakak curang. Iyu menang katanya mau beliin esklim tapi Kakak. Malah main telus!" adu Iyu ke Babanya.
Baba melirik ke kedua twins versi besar dan kecil. "Siapkan diri kalian! Malam ini ikut Baba!" tutur Baba memerintah.
Ikun dan Amer yang sedang memegang kendali game langsung menoleh.
"Kemana Ba?" tanya Anak- anak.
"Kita buat anak itu jadi buronan tanpa kita kotori tangan kita!" ucap Baba.
Ikun yang cerdas langsung paham. Kan Tama juga sekarang sudah tidak punya nyali. menampakan muka di depan umum.
"Dia udah masuk perangkap, Ba. Tinggal eksekusi!" jawab Amer ke Babanya.
"Bukan dianya yang penting, kita bersihkan nama Kakakmu!" tutur Baba memberitahu.
Rupanya Baba tak ingin main kasar. Baba yang penting nama anak menantunya bersih. Nanti masyarakat yang akan mengadili.
Tapi untuk anak muda seperti Ikun dan Amer kurang seru.
"Ya Ba...Ikun kita mau eksekusi, Ba!"
"Kita mau berpesta, jangan kotori tangan kalian!" tutut Baba.
"Ya, Ba!"
"Abis makan ya!"
"Siap Ba!"
"Baa.. eklimnya Iya dan Iyu gimana?"
Protes Iya dan Iyu nagih janji. Kakaknya nyuekin kan ada Babanya.
"Yuk sama Baba yuk!" jawab Baba kali ini sedang baik.
Iya dan Iyu pun kompak naik ke tangan Baba. Baba bawa anaknya keluar dan jalan- jalan beli eskrim.
****
Di kampung
“Jangan banyak- banyak bawaanya, Maak. Ini bawa apa aja?” tanya Adip heran.
Emak Adip, disuruh siap- siap bilang iya. Tapi Pak Sandi, Bapak dan Adip sudah ngantuk Emak masih di dalam ternyata siapin macam- macam.
“Katamu kamu belum belanja sasrahan kan? Masa Emak nggak bawa apa- apa? Ini nanti bisa dibungkus dihias jadi tambahan sasrahanmu, biar banyak!” tutur Emak menunjukan barang- barangnya dengan nada terengah- engah.
Adip melihat satu persatu barang yang Emak keluarkan, kemudian mengusap tengkuknya bergidik dan bingung.
Tapi kalau liat wajah emak, Adip kasian.
Emak sudah bungkus cabai segar- segar ada sekitar 3 kilo. Lalu bawang merah dan bawang putih. Ada juga kelapa besar- besar dan satu tunduh pisang ambon yang panjang- panjang dan besar.
“Maak... tapi ini? Berlebihan!” ucap Adip pelan.
Sasrahan yang diinginkan Jingga kan pasti bukan sasrahan ala desa.
Berbeda dengan yang dipikiran emak. Semua dibawa. Lengkap semua bumbu dapur, bahkan ada yang bawa kambing, lalu sandang pangan make up lengkap untuk mempelai perempuan.
Bayangan emak kan pasti nikahan di rumah Jingga ramai- ramai masak. Padahal acara Jingga di hotel, semua bersih dan terima jadi. Untuk apa sasrahan bumbu- bumbu dapur.
“Berlebihan gimana? Kemarin anak Pak Kadus lebih banyak. Emak tahu, emak bukan ibu kandungmu, tapi kan Emak tetap emakmu, masa anaknya nikah emak diam saja! Ini yang bisa Emak kasih buat kamu!” ucap Emak tersinggung karena melihat ekspresi Adip.
“Hufth....,” Adip menghela nafasnya lalu,
Adip menelan ludahnya menahan sabar, pokoknya dimanapun, mau sama orang desa, orang kota, tua muda, kaya atau miskin bicara sama makhluk berjenis kelamin perempuan memang harus berhati- hati. Jangan sampai menyinggung.
“Oh ya, sebentar, emak punya tabungan kalung sama giwang. Kamu sudah siapkan mas kawinya belum?” tanya Emak lagi masih heboh.
Adip semakin bingung, bagaimana memberitahu emaknya kalau menantunya dan besanya itu beda dengan orang lain.
Jingga tak perlu semua itu. Tapi emak sebagai Emaknya Adip, Emak terlihat begitu semangat ingin berperan dalam pernikahan anak angkat satu- satunya.
Emak selalu ingin kasih yang terbaik versinya.
“Nih... biar anak emak gagah di hadapan mertua, mas kawinya banyak. Mak tambahin, ini gelangnya 15 gram, ini antingnya sepasang 5 gram. Banyak ini, istrimu katamu calon dokter kan? Jangan malu- maluin kasihnya!” ucap Emak tergopoh- gopoh.
Emak tahunya anaknya baru kerja takut Adip tak punya persiapan maskawin. Sebagai orang tua Emak ingin bantu anaknya.
Adip jadi terharu dan sedih melihatnya.
__ADS_1
Adip lalu menggenggamnya kemudian mengambil tangan emak pelan dan memasukan perhiasan emak ke telapak tangan emak lagi.
Emak pun bingung. Matanya berkaca- kaca. Orang tua mana yang tidak kalang kabut dan bingung, anaknua merantau jarang pulang. Pamit kerja pulang- pulang jemput katanya mau nikah dalam waktu singkat.
“Simpan lagi, Mak. Adip tak perlu ini,”
“Kenapa? Kamu nggak mau pemberian Mak?”
“Mak, dengerin Adip!” tutur Adip pelan menatap emaknya penuh sayang.
Emak Adip terdiam masih tersinggung, perjuangannya seperti tak dianggap Adip.
“Kenapa? Emak hanya ingin bantu kamu! Apa kurang banyak? Kurang bagus ya? Maafkan emak Nak,” tutur Emak lagi.
“Maak, ini sudah banyak sekali. Ini punya Emak, hasil perjuangan Emak, sudah, emak simpan saja, emak pakai buat Emak. Istri Adip, nikahan Adip, biar Adip yang urus dan tanggung, tidak ada yang lebih mahal dari doa emak dan Bapak buat Adip dan istri Adip untuk saat ini,”
“Tapi kan kamu baru kerja sebulan! Berapa memang tabunganmu? Masa depanmu masih panjang, Mak belum pernah kasih apa- apa ke kamu!” tutur Emak lagi kali ini terisak.
“Kata siapa nggak pernah kasih apa- apa? Emak kan udah didik Adip, udah kasih, kasih sayang yang berlimpah buat Adip, kasih tempat tinggall dan tempat pulang untuk Adip. Obatin Adip kalau sakit, nggak bisa Adip sebutin, Mak. Udah mending Emak sekarang dandan. Kita ke pesantrennya Abah Anwar. Malam ini kita berangkat ke Uwak. Besok pagi kita berangkat menginap di hotel!”
“Terus ini? berarti nggak dibawa?” tanya Emak Adip menunjuk banyak panenanya.
Adip menatap emak kasian.
“Tetep bawa, buat oleh- oleh!” jawab Adip asal.
Emak pun siap- siap dengan singkat sore itu. Mereka otewe dengan supir Baba Pak Sandi.
Pak Sandi juga heran dengan barang- barang yang dibawa Emaknya Adip. Tapi tetap dibawa.
Mereka pun menuju ke pesantren Abah Anwar, guru spiritual Bapak Emaknya Adip, sekaligus yang bimbing Adip. Kalau terhadap Abah Anwar, Baba pernah kenal namanya meski tak kenal secara personal.
Meski bukan kyai besar dan pesantrenya kecil, tapi Abah Anwar berilmu. Banyak orang- orang penting yang mendekatinya untuk meminta nasehat dan petunjuk datang ke Abah jika hendak menghadapi sesuatu. Termasuk orang tua Adip dulu.
Menjelang maghrib, mereka sampai.
Di hadapan mereka nampak sebuah pesantren atau padepokan kecil di tengah pegunungan yang dingin dan asri.
Bangunanya bersih tapi seperti rumah Emak, bahan- bahan bangunanya banyak yang terbuat dari kayu dan bambu.
Di masjid kecil di tengah komplek itu terdengar adzan khas anak kecil. Santri dan santri wati bersarung tampak bergerombol memasuki mushola. Sebagian ada yang berwudzu.
“Alhamdulillah, pas kita bisa ikut jamaah,” ucap Bapak Adip.
Saat mereka turun, bertepatan Abah dan Umi Nyai juga berjalan keluar rumah menuju mushola, mereka pun tersenyum melihat kedatangan Adip sekeluarga.
Karena sedang maghrib mereka mahgriban dan jamaah dulu. Setelah dzikir selesai, abah meminta pengurus pondok untuk menggantikannya mengajar kajian bakda maghrib.
“Katamu, kamu ke pulau Panorama, Dip. Rasaku baru kemarin pamitan kok sudah pulang?” tanya Abah Anwar ke Adip.
Adip kemudian menunduk malu, semua orang berkomentar begitu. Adip seperti anak nakal dan kegatelan yang tak serius kerja. Bukanya dapat uang malah dapat istri.
Tapi kan itu semua takdir, Adip juga inginya kerja, cari ilmu cari pengalaman, cari uang lanjut S2, memantapkan karir baru menikah.
Kenyataanya Alloh datangkan bidadari cantik, siap menemaninya berjuang masa iya ditolak.
“Maaf, Bah. Adip ambil cuti,”
“Cuti?”
“Iya Bah?”
“Kerja kook sukanya ambil cuti, gimana mau sukses?” sindir Abah membercandai Adip. Abah memang terbiasa mendidik Adip disiplin.
“Ehm...,” Adip berdehem malu mau bilang.
“Ini Adip katanya ketiban rejeki, Bah!” sambung Bapak Adip membantu Adip pamit ke Abahnya.
“Rejeki gimana?”
“Katanya, di pulau Panorama Adip menolong gadis, lhah kok malah Adip disuruh nikahin, nah ini orang tuanya si gadis malah suruh resepsi sekalian,” tutur Baba Adip bercerita dengan bahagia.
Selama di dalam mobil tadi, Adip pun menjelaskan bagaimana perjalanan Adip dan Jingga hingga akhirnya menikah mendadak. Termasuk Adip hanya libur 7 hari dan setelah ini akan ldr.
Adip cerita kalau istrinya masih mahasiswa calon dokter tapi tidak cerita bagaimana kayanya orang tua Jingga. Bagi Adip itu semua tidak penting soalnya.
“Lah bagus banget itu, itu namanya rejeki, Dip! Harus sudah siap nafkahin anak orang!” jawab Abah memberi nasehat.
Adip tersenyum mengangguk.
“Iya Bah, Alhamduilillah, bismillah,”
“Tapi beneran cuma nolong apa gimana? Kok dinikahkan?” tanya Baba lagi meledek Adip.
Adip jadi tersipu- sipu. Meski laki- laki kalau diguraui orang tua kan malu.
“Awalnya memang benar- benar nolong, Bah,” jawab Adip.
“Tapi sekarang cinta?” tanya Abah lagi.
__ADS_1
“He... iya Bah, mohon doanya Bah!” tutur Adip.
“Hah... Umi ikut senang mendegarnya, tapi umi juga sedih,” sahut istri Abah yang dari tadi ikut duduk bersama Emak mendengarkan.
“Lhoh kok sedih, Nyai?” tanya Bapak Adip.
“Pengenku kan selesai dari Pulau Panorama Adip pulang kesini, bantu Abah urus pesantren. Daftar kerja di dinas kabupaten sini aja!” sambung Umi.
Adip menunduk berdehem. Sebenarnya dari SMA, Adip masuk ke pesantren Abah. Umi dan putrinya suka dan naksir dengan Adip. Mereka ingin Adip jadi menantu Abah.
Tapi Abah tak pernah berkomentar mengenai keinginan putri dan istrinya.
Abah hanya sering memberikan tambahan tugas dan pekerjaan pada Adip. Sehingga Adip sering terlambat dan tertidur saat sekolah atau ngaji. Tapi heranya Adip selalu bisa menjawab.
Sampai menjelang lulus, Abah kemana- mana minta ditemani Adip. Dan Adip baru tahu, kalau tagihan sekolahnya digratiskan. Adip sekolah SMA dibantu Abah. Emak dan Bapak hanya tinggal kirim biaya makan.
Didikan Abah, Bapak dan Mamak yang membuat Adip bisa lakukan apa saja, tidak malu dan tidak mudah menyerah. Sampai akhirya Adip ikut seleksi kuliah dan meninggalkan pesantren.
Adip sudah siap hidup mandiri. Bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan meringankan beban Bapak yang hanya seorang petani.
Adip bergabung di komunitas pengamen angklung, jadi tukang ojek online magang di klinik hewan. Jual beli hewan dan aktif di berbagai organisasi.
Adip juga menyandang beberapa gelar pemuda berprestasi karena hal itu.
Malah akhir- akhir masa kuliah, Adip bisa berbagi. Adip juga tetap mencari kosan yang dekat dengan tempat ngaji.
*****
“Hiks... hiksss...,”
Dibalik tembok ruang tamu Abah Anwar, seorang putri menangis mendengar kabar pernikahan Adip.
Dia adalah Salwa, putri Abah Anwar yang juga sangat mencintai Adip. Salwa selalu mencuri- curi pandang saat Adip bantu Abah. Saat Adip datang dia bahagia melepas rindu bawa orang tuanya, dikira mau lamar ternyata mau kasih undangan.
Keluarga Abah Anwar memang memperlakukan Adip berbeda, mereka menggadang- gadang Adip adip menantunya. Tapi kini semua pupus.
Adip terjebak cintanya Jingga.
****
Di ruang Tamu lagi.
“Lho... Umi ya nggak boleh gitu. Hidup manusia itu sudah ada yang mengatur, anak lanang mau menikah ya kita harus bahagia!” sahut Abah ke istrinya.
“Jangan lupain kami ya Dip!” tutur Umi Nyai lagi.
“Tentu saja, Bah, Mi... sampai kapanpun, Abah sama Umi tetap orang tua Adip. Adip akan tetap sering kesini,” turur Adip.
“Lha terus acaranya kapan? Istrimu orang mana? Kapan dikenalin?” tanya Umi Nyai lagi.
“Nah itu dia, kedatangan saya dan Bapak Emak kesini, mau undang Abah dan Umi ke resepsi saya, lusa. Di hotel Guawijaya!” tutur Adip memberitahu.
"Weh... hotel Gunawijaya?” tanya Abah kaget.
Kalau Emak dan Bapak kan orang yang hidupnya buruh di ladang. Jadi tidak tahu dan kenal dengan nama Gunawijaya. Saat Adip memberitahu hanya iya- iya aja.
Berbeda dengan Abah yang muridnya banyak dan sering diundang ke kota- kota. Abah kenal dengan nama Gunawijaya.
“Ehm..., Iya Bah!” jawab Adip berdehem.
“Itu besar sekali itu hotelnya, menginap di situ mahal sekali. Abah pernah menginap di situ disuruh bacain doa murid Abah. Cuma orang kaya yang mampu bayar resepsi di situ,” tutur Abah Anwar bercerita.
Emak dan Bapak pun melirik heran ke Adip. Adip kan menjanjikan mereka mau menginap di hotel itu, uang darimana?
Adip pun menunduk menelan ludahnya, bagaimana Adip mau bilang, kalau istri Adip dan mertua Adip yang punya hotel itu. Pasti akan pada kaget, Adip memilih diam.
“He... iya Bah!” jawab Adip hanya tersenyum saja.
“Emang istrimu, kerjanya apa? orang tuanya kerjanya apa?” tanya Abah lagi.
“Dokter dan pengusaha, Bah!” jawab Adip.
“Oh... pantas,” jawab Abah hanya mengira pengusaha biasa.
Setelah berbincang, dan Adip mohon doa, lalu Umi Nyai mengajak mereka makan malam.
Pisang ambonya jadinya Emak berikan sebagai oleh- oleh untuk Abah Anwar.
Adip pamit lebih dulu dan Abah sekeluarga datang pada hari H.
Mereka kemudian berangkat ke rumah Uwak, si Bos Adip yang galak dan pelit. Meski begitu Adip tetap hormat dan menempel.
Dengar-dengar uwak itu juga dulu bos Emak dan Bapak.
Uwak juga yang taruh Adip di panti asuhan dan kemudian diminta oleh Emak dan Bapak. Karena katanya Uwak ada hubungan kekerabatan dengan orang tua kandung Adip, tapi tak ada yang tahu pastinya. Orang tua Adip sudah meninggal. Uwak Adip sendiri bungkam. Uwak dan istrinya tampak galak dan sedikit ngobrol.
Bahkan meski punya 3 mobil, untuk Adip bekerja Adip diberi mobil rongsokan. Adip disuruh bekerja keras jadi kuli antar barang- barang juga hanya diberi upah kecil.
Karena kata emak bapak, Uwak saudara, Adip tetap patuh dan menghormatinya mereka.
__ADS_1
Mereka pun menuju ke rumah Uwak.