Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
100. Rencana ke Kota.


__ADS_3

Jingga terus memegang kancing kemejanya, menahan deguban jantung yang terus meningkat tidak bisa dia kendalikan. Bahkan meski tak ada orang Jingga senyum- senyum sendiri. 


Diperlakukan baik dan begitu istimewa oleh Adip ternyata mampu mengaduk- aduk perasaan Jingga, sehingga jantungnya seperti bergoyang- goyang tidak bisa dia atur. 


Jingga juga masih merasa mimpi kedua tanganya, yang belum pernah merasakan, mengenyam koas atau praktik resmi di rumah sakit, sudah berhasil menyelamatkan dua nyawa secara ilegal.


Meski taruhanya penjara jika gagal, tapi Tuhan menempatkanya di situasi terjepit sperti itu membuat dia bersyukur. 


“Kamu kenapa Ngga?” tanya Yuri saat masuk menatap heran, Jingga duduk di pojokan kamar lesehan lantai kayu itu. 


“Kenapa gimana?” tanya Jingga tersipu, wajah Jingga merona merah karena malu dan bahagia. 


Yuri kemudian mendekat dan menyentuh kening Jingga dengan punggung telapak tanganya sambil berdecih.


Seminggu ini mereka saling diam, Jingga juga tampak murung dengan bukunya. Begitu mereka baikan Jingga langsung melakukan hal luar biasa senyum- senyum sendiri lagi. Begitu beratkah beban Jingga, sampai Jingga kena mental? Begitu pikir Yuri.


“Apaan sih?” pekik Jingga menepis tangan Yuri. 


Lama kelamaan saat berdekatan dengan Jingga, Yuri tiba- tiba mencium bau asam. Yuri reflek menutup hidung dan mengernyitkan dahi.


Melihat gelagat itu Jingga jadi tersinggung. 


“Lo kenapa?” tanya Jingga. 


“Gue yang tanya, lo kenapa? Dan habis ngapain sih? Bau banget!” jawab Yuri jujur. 


Jingga menelan ludahnya mendadak kepercayaan diri dan aura bahagianya anjlog dan meredup seketika.


Jingga langsung menarik kedua kain lenganya menoleh sudut dada pangkal ketiaknya bergantian, membuktikan bau yang Yuri tuduhkan.


“Uweegh!” Jingga langsung mual, membau keringat dirinya sendiri. 


Yuri menjauh tersenyum mengejek.


Jingga langsung menarik sudut bibir dan mengerucutkanya dengan ekspresi seperi ingin menghilang masuk ke bumi. 


“Lo abis ngapain sih? Perasaan tadi nggak gini- gini banget? Sandal dan baju kamu kulihat juga kotor?” tanya Yuri menginterogasi. 


Jingga menunduk sangat malu. “Apa tadi saat bersama Adip aku juga sebau ini? ahh... malunya?” batin Jingga wajahnya langsung pucat.


“Hey...!” pekik Yuri. Melihat Jingga menunduk.


“Huaaaa!” Jingga langsung menutup mukanya harga dirinya langsung turun bahkan menghentakan kakinya seperti anak kecil yang menangis. 


Yuri semakin melihat aneh ke Jingga. “Hey kamu kenapa sih?” 


“Pantes dia selalu membelakangiku? Ternyata aku sangat bau!” lirih Jingga merengek.


Jingga jadi salah mengira, Adip yang tak kuasa melihatnya dikira karena Jingga bau. Padahal Adip menghindar karena menahan dheg- dhegan.


Adip kan terbiasa mengurus hewan, bau kotoran hewan aja dia lolos kalau cuma keringat Jingga karena lelah berjalan mah lewat. 


“Dia?” tanya Yuri curiga. 

__ADS_1


“Ehm!” Jingga pun berdehem dan tak ingin ketahuan kalau dia habis berkencan dengan Adip. 


“Dia siapa?” tanya Yuri mendesak.


Jingga jadi menelan ludahnya membenarkan posisinya. 


“Bukan siapa- siapa!” jawab Jingga menghindar


“Kamu punya pacar di sini?” tanya Yuri lagi sambil


“Ngawur!” jawab Jingga mengelak. 


“Kamu abis jalan sama Bang Adip?” tebak Yuri terus terang.


Di desa itu kan tidak ada pemuda seumuran Jingga yang belum menikah. Jingga juga tidak mungkin kan jatuh cinta sama masyarakat sekitar yang masih berpendidikan standar. 


Mendengar kata Adip disebut, Jingga langsung maju dan membungkam mulut Yuri. 


“Sssssttt jangan keras- keras, jangan sampai Nita dan Siska dengar!” bisik Jingga 


Yuri langsung menepis tangan Jingga. 


“Jangan deket- deket bau kamu!” ucap Yuri sambil meledek Jingga. 


“Isssh!” 


“Kamu abis jalan kemana sama Bang Adip? Pantes kususul kata warga udah pergi!” tanya Yuri  lagi, bukanya bicara lirih malah semakin keras, sehingga Nita, Prilly dan Siska mendengarnya. 


“Hissssh! Sssst!” tegur Jingga menyuruh Yuri ngomong pelan.


Melihat Jingga tersipu- sipu membuat Yuri semakin senang menggoda. 


“Diam- diam ya? Kalian?” goda Yuri lagi. 


“Dia hanya mengajakku ke pantai!” jawab Jingga mengelak tapi akhirnya malah bercerita dan kasih bocoran.


“Waah kepantai? Pantai mana?” tanya Yuri lagi antusias. Meksi kagum Adip, Yuri tidak cemburu.


“Tau ah, suruh diam malah!” jawab Jingga sewot lalu Jingga mengambil handuk dan bergegas mandi. 


"Ciee... yang abis kencan ke pantai!" goda Yuri lagi.


Jingga benar- benar malu dan mengira Adip tak menatapnya karena bau. 


“Pantas dia terus menghindariku! Ah Jingga Jingga!” batin Jingga merutuki dirinya sendiri. 


Selama menolong persalinan dan mendaki bukit menuju ke pantai, keringat Jingga memang bercucuran keluar dari segala penjuru, tapi saat di pantai semua itu tersamarkan karena angin yang kencang.


Namun saat menuju pulang dan langsung masuk ke rumah semua keringat yang menempel ke pakaian dan kulit mengumpul menjadi parfum alami. Yuri yang membau, Adip sama sekali tidak. 


****


Adip tak kalah berbunga- bunganya dari Jingga. Tak peduli apa hubungan mereka dan seperti apa nantinya,yang pasti Adip senang seharian bersama Jingga. Sepanjang jalan dia bersiul.

__ADS_1


Sampai di rumah Adip langsung mandi dan menyapa anak angkatnya. 


Adip juga menyusun laporan dan persiapan datang ke balai veteriner. Esok Adip bukan hanya pergi ke kota kecamatan melainkan ke kantor kabupaten pusat. Dimana kantor tempat bekerja sesungguhnya berada. 


Selain memikirkan pekerjaanya hal yang memenuhi otak Adip adalah, benda apa yang ingin dia belikan agar membuat Jingga bahagia.


Sampai Adip membuat coretan daftar barang yang menurutnya penting untuk dibeli. 


“Laptop dan hape dia kan hanyut, dia pasti butuh itu!” batin Adip memutuskan.


Lalu Adip mengintip dompetnya, hasil penjualan kucing Amer lumayan banyak. 


“Ku belikan ponsel saja kali ya?” batin Adip kemudian. 


**** 


Kabar kelahiran Ibu Martha ditolong Jingga langsung menyebar ke penjuru desa. Warga desa yang berbondong- bondong menjenguk tak henti- hentinya memperbincangkan Jingga. 


Nama Penyihir yang sempat tersemat untuk Jingga kini terganti menjadi Nona dokter sungguhan. Murid- murid Jingga teman Maria dan teman Yusuf ikut berbalik memperbincangkan Jingga memuji.


Hingga saat malam Siska dan yang lain jamaah semua menanyakan Jingga. Sudah 5 hari Jingga tak datang ke mushola. 


“Kenapa Nona dokter tidak pernah kelihatan, Nona guru?” tanya salah satu warga. 


“Nona Jingga sedang berhalangan!” jawab Yuri. 


Selaian karena kemarin Jingga tidak cukup mental bertemu dengan anak- anak yang mengatainya penyihir, Jingga juga kedatangan tamu bulanan. Hari ini hari kelima dan sudah mulai berhenti, tapi Jingga belum berangkat ke mushola. 


“Oh begitu!” jawab ibu- ibu. 


Lalu ibu- ibu itu kembali saling memuji Jingga sehingga sampai di telinga Nita. Nita yang dari awal tidak suka dengan Jingga mendengar Jingga dipuji- puji langsung mencibir kesal. 


Sesampainya di rumah dia pun langsung mengadu ke sahabatnya. 


“Aku juga dengar Bang Adip mengajaknya ke pantai!” ceplos Prilly malah mengompori saat Nita dan Siska menggunjing Jingga. 


“Apaah?” pekik Siska sangat kesal dan cemburu. Mereka tadi hanya samar- samar, tapi Priy memastikan saat mengobrol dengan Yuri. 


“Dia memang kegatelan, nggak sama Aji nggak sama Adip dia begitu!” ucap Nita kesal.


“Bukankah selama ini Bang Adip jutek ke dia dan perhatian ke gue? Kenapa Bang Adip tidak pernah mengajakku ke pantai?” gumam Siska terbakar cemburu. 


Anak- anak salah mengartikan kebaikan Adip. Siska merasa keramahan Adip dikira perhatian dan suka, padahal memang sifat Adip begitu. 


****


Kakak seperti pembaca yang menunggu Up. Author juga menunggu kolom komentar.


Hihihi


Kasih semangat buat author yaak.


Makasih.

__ADS_1


Love you...


__ADS_2