Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
148. Buna peredam Baba


__ADS_3

“Diam kalian, ini urusan Baba dengan anak Baba!” bentak Baba pada Amer dan Ikun yang hendak melerai Baba.


“Ba... sabar dulu, Kak Jingga tidak sepenuhnya seperti yang ada di foto itu dan timelinya, Kak Jingga tidak seperti yang Baba fikir!” tutur Amer lagi dengan penuh keberanian. 


Amer sangat tahu perasaan Jingga. Jingga sudah sangat sedih, atas hal yang menimpanya. Jingga kehilangan martabatnya dengan ditelanjangi seorang laki- laki.


Lebih dari itu jika benar pemerkosaan itu terjadi, Jingga kehilangan harga diri dan harta berharga yang selama ini menjadi mahkota hidupnya. 


Belum sembuh luka itu, Jingga masih harus dituduh, difitnah dan dicemarkan nama baiknya.


Nama baik yang tidak hanya satu dua orang yang tahu, tapi seluruh negeri. Nama baik yang tidak hanya membawa nama Jingga, tapi nama keluarga, atas nama mahasiswa, atas nama pemuda organisasi yang membawanya atas nama penggiat gerakan sosial di pedalaman. 


Tanpa ada yang tahu kejadian itu saja Jingga sudah tertekan, ditambah jika Jingga harus menahan bullian dan makian.Jingga butuh topangan dan dukungan. Jingga pasti rapuh dan kacau. Amer tahu itu.


Mendengar perkataan Amer, otak Jingga pun terhubung. Meniduri? Foto? Timeline? Apa Baba sudah tahu apa yang menimpanya? Foto apa? timeline apa? Siapa yang menyebarkanya? Dimana? Jingga sang pelaku tidak tahu apapun. 


“Braakkk... Prang!” 


Mendengar perkataan Amer, menurut Baba, Amer mulai melawan, Baba malah semakin marah dan emosi.


Hal yang paling mudah Baba ungkapkan saking membuncahnya amarah adalah memecahkan semua barang di depanya.


Baba ingin memukul Amer ataupun Jingga, tapi tangan Baba tak kuasa. Baik Jingga ataupun Amer adalah buah cinta Baba dan Buna yang mereka jaga dan besarkan selama bertahun- tahun. 


Dentuman setiap keping vas mahal dan besar yang dipecahkan dengan sekuat tenaga oleh Baba semakin menambah gemuruh hati yang mendengarnya.


Tidak hanya Jingga yang gemetaran, Amer ataupun Ikun. Buna yang hatinya remuk redam dan begitu ngilu tatkala matanya mendapati foto buah hatinya ikut bergetar. 


Selama hampir 22 tahun menikah, suaminya tidak pernah semarah hari ini. Buna tahu bagaimana perasaan Baba, karena Buna merasakan lebih dari apa yang Baba rasa. 


Seorang ibu dan ayah adalah perisai utama bagi anaknya. Rasa yang mereka terima jika anaknya tersakiti akan lebih berkali-kali lipat dirasakan. Anak yang Buna kandung selama 9 bulan dengan penuh perjuangan dan kasih sayang. 


Anak yang mereka jaga sepenuh hati dan berlimpahan cinta, harus menjadi tontonan dalam keadaan tidak baik. Anak kesayangan mereka harus menjadi bullyan jutaan manusia.

__ADS_1


Lebih dari itu semua, di otak Buna dan Baba, mahkota putrinya berakhir pada laki- laki yang tak tahu asal usulnya dengan cara tak semestinya. 


Dunia Buna terasa hancur, seperti ada yang mengoyak hatinya dengan sangat kuat. Buna tidak mampu menahan semua rasa itu. 


“Hah... hah...!” Buna merasakan nafas yang begitu berat, dan perutnya terasa kram menahan tegang, Buna terhuyung, kursi pijakannya ikut bergeser.


“Bunaaa!” pekik Amer dan Ikun berlari menahan Bunanya yang hampir jatuh tersungkur ke lantai. 


“Hiiiks... hikkss!” Jingga semakin deras air matanya mengalir, badanya gemetaran menghadapi kemarahan Baba. Jingga juga menyakiti Buna dan Oma. “Bunaa... Baba...!” lirih Jingga dengan bergetar. 


Jingga tidak pernah menyangka, perbuatanya berdampak hebat untuk kedua orang tuanya.


Baba ikut menoleh ke Ikun, yang berusaha menopang tubuh Buna. Baba pun kalang kabut, semua emosinya redam dan hilang berganti panik yang luar biasa.  


“Buna.. Buna baik- baik saja kan Bun?” seru Amer khawatir. 


“Haaah... hah...“ Buna terus memegangi perutnya dan berusaha mengatur nafasnya. Mata Buna juga sudah berkaca- kaca. 


“Sayang... kamu baik- baik saja kan? Katakan mana yang sakit, maafkan aku...” tanya Baba segera mendekat ke Buna.


Ketiga jagoan Buna pun membawa Buna agar berbaring dengan nyaman di atas sofa.


"Sayaang..." panggil Baba sangat khawatir melihat Buna memejamkan matanya berusaha mengatur nafas.


“Ba...!” lirih Buna kemudian sambil menahan sakitnya. 


“Iya Sayang, mana yang sakit? Katakan aku harus apa?” tanya Baba kalut Baba memegangi tangan Buna kuat. 


Baba paling tidak bisa melihat istrinya sakit apalagi sedang hamil. Baba tidak mau karena satu anak, mengorbankan anak yang lain, apalagi istrinya kenapa- kenapa. 


Buna kemudian membuka matanya menatap suaminya penuh harap.


“Jangan kasar Ba..., sabaar! Yah! Jangan kasar... sabar Ba! Sabaaar! Huh!” lirih Buna sambil menangis mengkode Baba untuk menurunkan tensi.

__ADS_1


Rupanya Buna tidak kuat mendengar suaminya murka dan melihat buah hatinya menangis ketakutan. Buna berusaha menguatkan suaminya agar tidak salah langkah dan menyakiti putrinya. 


Baba mengangguk kemudian memeluk Buna. 


“Kita dengarkan dulu apa kata Amer dan Jingga Ba...!” tutur Buna lagi. 


“Kamu baik- baik saja? Apa perutmu sakit? Apa baby kita baik- baik saja?” tanya Baba lagi. 


Buna mengangguk sambil menyeka air matanya.


"Buna baik- baik aja. Jangan khawatir!" jawab Buna lagi menyembunyikan rasanya. Sebagai seorang ibu yang merupakan jantung dan inti sebuah keluarga. Buna harus kuat. Jika semua kacau dan hilang kendali semua akan hancur. Buna harus bisa mengendalikan semuanya dan mengatur keadaan agar tetap stabil.


Apapun yang menimpa mereka adalah ujian. Mereka harus hadapi dengan keberanian lapang dan keikhlasan. Seberat apapun itu harus dihadapi.


Buna kemudian menoleh ke Jingga yang berdiri mematung dengan deraian air mata. Air mata Buna pun lolos lagi, tidak kuasa menahan perih, putrinya begitu terlihat kacau.


“Kemari, Nak... duduk samping Bunda!” panggil Buna lembut merentangkan tanganya menyuruh Jingga duduk. 


Dengan langkah berat dan wajah menunduk, Jingga menyeret kakinya mendekat ke Baba dan Buna yang dia takuti.


“Kalian juga, kemarilah duduk sini!” ucap Buna lagi ke kedua anaknya. 


Amer dan Ikun langsung tunduk patuh. Mereka bertiga kemudian duduk tenang melingkar di sofa mahal di istana Baba.  


"Katakan apa yang terjadi! Huh... Kenapa ada foto ini?" tanya Buna pelan dan air matanya masih belum mau berhenti menetes.


Jika Buna sudah bertindak, semua pun patug terdiam. Suasana hening, Amer menunggu Jingga. Sementara Jingga mengambil nafasnya dan meminta untuk melihat ponsel Buna.


****


Terus dukung author... like koment dan vote.


Insya Alloh siang ini Up lagiii.

__ADS_1


Makasih pecinta Jingga. I love youu...


(Maap ya kalau nupel author beda dr yg lain)


__ADS_2