
Sekitar pukul 11 malam, mereka sampai di depan ruko pertokoan rumah Uwak Adip. Mobil merah bersejarahnya terparkir di pekarangan seperti tak terurus. Sementara satu unit mobil terios dan dua mobil bak bagus terparkir di parkiran.
Uwak Adip ini memang juragan sembako dan pengepul sayuran.
Padahal sebelum orang tua Adip meninggal, mereka pedangang biasa.
Uwak Adip ini yang dulu tahu banyak tentang penyakit ibunya Adip dan katanya membantu bolak balik kerumah sakit untuk pengobatan. Katanya lagi yang mengurus pemakaman ibunya Adip, Menampung Adip dan adiknya. Tapi adik Adip endingnya meninggal dan Adip sempat ditaruh ke panti asuhan dengan alasan anak uwak Adip juga sudah banyak anak.
Yang menebus Adip dan ambil Adip malah karyawanya yaitu Bapak dan Emak. Ah entahlah jadi suudzon kan. Hehe.
“Sepertinya sudah pada tidur Dip,” ucap Emak melihat lampu rumah utama sudah dimatikan.
“Nggak apa- apa Mak, kita temui Uwak besok. Kita ke kamar Mang Jojo aja!” ucap Adip.
Jadi di rumah Uwak Adip ada rumah utama, ada ruko toko sembako dan mess karyawan. Uwak Adip kaya.
Tapi, meski katanya Adip itu ponakan, kalau Adip berkunjung, Adip disuruh tinggal bersama pegawai. Adip juga disuruh bekerja. Itulah sebabnya, Adip memilih kos dan datang sesekali jika libur.
Adip, Emak dan Bapak masuk ke rumah kecil khusus karyawan. Sementara Pak Sandi memilih tidur di mobil.
Mess karyawan ternyata ada depan belakang. Depan untuk karyawan perempuan dan belakang karyawan laki- laki.
“Assalamu’alaikum Mang!” sapa Adip ketok- ketok pintu Mang Jojo.
Sahabat Adip pun keluar mengerjapkan matanya. Semua syok Adip datang malam- malam. Semua pun menanyakan hal yang sama.
“Kamu kan katanya, di Pulau Panorama? Kok di sini? Jangan- jangan gosip yang waktu itu ada di internet beneran kamu?” tanya Mang Jojo dan temanya.
Teman- teman Adip kan melek internet. Adip yang malah tidak tahu gosip jadi bingung.
Saat mereka ingin mencari beritanya lagi sudah tidak ada karena sudah ditakedown oleh keluarga Baba.
“Gosip apa? Aku baru pulang kemarin,” jawab Adip.
“Lah ini ada apa? Malam- malam kesini? Sama Emak Bapak juga?” tanya teman Adip lagi
“Aku mau jemput Uwak, sekalian undang kalian. Terus mau minta tolong juga,” jawab Adip.
“Minta tolong apa?”
“Sarti dan Yuli ada kan?” tanya Adip menanyakan karyawan perempuan yang menempati mess samping. Mereka pelayan toko yang rajin dan pekerjaanya rapih jika disuruh bungkus- bungkus.
“Ada?”
“Bangunin dong, biar emak gue istirahat, di sana!” tutur Adip dengan bahasa akrab.
“Lah, kenapa nggak ketuk, Bos sih? Kasian emakmu sudah tua, tidur di dalam aja!” tutur Mang Jojo.
Adip kan saudar Uwak Bos, masa Emak dan Bapak yang sudah tua tidur bareng karyawan di kamar tingkat dan sempit. Tapi Adip tahu diri dan paham bagaimana sifat istri Uwaknya yang pelit dan sombongnya minta ampun.
“Kaya nggak tahu aja. Emakku betah bareng Yuli aja. Besok aku juga mau minta tolong, bungkusin sasrahan ke dia!” ucap Adip lagi.
“Heh... Sasrahan?” tanya teman- teman Adip kaget.
“Iyah, gue mau undang kalian juga jadi pengiringku. Lusa gue resepsi,” ucap Adip lagi.
__ADS_1
Mang Jojo dan Udin kemudian terbengong.
“Lo beneran mau nikah? Berarti yang gue baca di internet itu beneran kamu? Wah cantik banget istrimu Dip,”
“Hasig! Udah buruan, minta tolong bangunkan Yuli, kasian Emakku!” tutur Adip memaksa, tanpa menjelaskan, dirinya. Adip malu mau cerita- cerita.
Akhirnya mereka patuh. Mereka membangunkan anak mess perempuan dan Emak menginap di situ.
Adip pun tak ingin banyak bercerita dulu ke teman- teman kulinya itu. Adip memilih tidur, calon penganten kan harus fit.
Sebenarnya Adip bisa pulang ke kosan Adip di kota dekat kampusnya. Adip juga bisa kabari teman- teman organisasi Adip yang notabenya pelajar bukan kuli. Adip bisa siap- siap di sana. Pasti teman- teman Adip akan mendukung. Tempat istirahatnya juga lebih layak.
Akan tetapi kenapa Adip memilih uwak yang galak dan sombong. Sebagai anak yang sadar akan biruul walidain, di hari bahagia, adip tetap mengundang orang yang katanya ada hubungan darah dengan orang tuanya.
Adip juga tetap ingin mengajak Mang Jojo dan Udin datang ke pestanya. Meski mereka kuli, sopir angkut sayuran,mereka baik ke Adip. Adip selalu ingat teman- temanya dari semua golongan.
Untuk teman- teman organisasi dan kuliah Adip, Adip undang via whastap. Mereka tetap Adip kabari, karena Baba memang menyuruhnya.
Karena Adip terbiasa tidur sembarangan, tak menunggu lama sudah terlelap. Dan tidak terasa subuh datang.
Para karyawan sudah bangun dan buka toko serta melakukan pekerjaanya. Akan tetapi rumah uwak Adip pintunya masih tertutup.
Anak- anak uwak Adip memang terdidik manja dan malas. Mungkin karena mereka merasa anak juragan.
Bahkan meski katanya saudara Adip, mereka enggan ngobrol dengan Adip.
Adip juga malas, dan hanya berusaha menghormati uwak laki- lakinya yang katanya saudaranya.
Adip kemudian memilih bertanya- tanya pada Yuli dan Sarti tentang sasrahan. Hari itu, bersama Emak, Yuli dan Sarti, Adip menyiapkan sasrahan Jingga.
Meski di kampus Adip dihormati, Adip tetap humble akrab dengan siapapun.
“Terus minta tolong sama siapa lagi? Aku butuh bantuan kalian. Bikin aku sewajarnya pengantin!” pinta Adip memelas.
“Katamu istrimu dokter? Kalau aku yang pilihin, nanti salah lagi?” ujar Yuli si minderan.
Mereka pernah simak gosip tentang Adip juga.
“Udah nggak apa- apa. Istriku baik banget dan terima aku apa adanya kok. Kalian pasti senang kalau bertemu denganya.
Yang penting ayok temani aku belanja! Budgetku minim soalnya!” ucap Adip.
Adip kan belum gajian dan Cuma bawa uang 5 juta daat hutang dari atasan.
“Hhh...ya udah ayuk ke pasar!” jawab Yuli.
Dengan naik motor mereka beli sandal sepatu, alat sholat, alat make up, tempat perhiasan, tas dan sebagainya. Adip belikan sasrahan Jingga di pasar tradisional.
Buat Adip yang penting ada dan Adip datang bersama rombongan sepantasnya pengantin. Adip tak peduli merek. Toh nanti dihias Yuli dan Sarti nggak ada yang perhatikan mereknya.
Adip ke toko perhiasan tapi hanya membeli tempatnya. Kalung mas kawin yang Adip berikan ke Jingga adalah kalung peninggalan mendiang Ibunya.
Setelah selesai, Adip lihat uwak dan istrinya membawa buku mengotrol dagangan. Adip pun tidak menyiakan kesempatan, mendekat dan siap memohon doa.
“Assalamu’alaikum Wak,” sapa Adip.
__ADS_1
“Oh kamu? Tenyata benar kamu yang datang?” jawab istri Uwak Adip sombong, didatangi Adip seperti tak suka.
“Ada apa Dip? Katanya sama Emak Bapak? Mana? Kalian bukan mau utang kan?” tanya Uwak laki- laki.
Mendengar kata utang, hati Adip jadi panas rasanya.
“Ehm. Maaf Wak. Kita tiba di sini udah malam, jadi kita mampir ke rumah Mang Jojo,"
“Makanya kalau bertamu, ingat waktu, sopan santun dipakai, katanya udah sarjana? Gimana sih!” jawab uwak perempuan lagi sadis.
Anak Uwak Adip kan kuliahnya di DO.
Adip menelan ludahnya menahan sabar. Kadang – kadang kalau emosi, Adip ingin memilih mereka bukan saudaranya dan tak usah melibatkanya lagi, tapi kata orang mereka saudaranya jadi Adip berusaha stay cool. Alloh kan larang kita memutus tali persaudaraan.
“Maaf... Adip cuma mau mohon doa dan kabarin, Uwak, besok pagi Adip nikah.” ucap Adip singkat.
“Heh? Nikah?” pekik Uwak Adip kaget.
“Iyah!”
“Huh... benar kan? Anak nggak tahu diri, udah sekolah tinggi- tinggi, baru aja kerja udah nikah aja!” cibir istri uwaknya lagi, suudzon.
Adip hanya melirik dan mengepalkan tanganya. rasanya ingin cepat berpamitan.
“Sekiranya ada waktu, Uwak sekeluarga bisa datang jadi pengiring Adip. Terus Adip juga mohon ijin, Udin, Mang Jojo, Yuli dan Sartu ikut, pinjam mobil merahnya, juga.” tutur Adip sopan.
“Kalau mereka ikut terus toko gimana? kamu mau ganti uang penghasilan sehari?” tanya istri Uwak Adip lagi.
Adip semakin mengepalkan tanganya menahan marah. Padahal Adip juga banyak bantu uwaknya tidak dibayar. Karywan uwak kan banyak. Teman- temanya ijin sehari masa nggak boleh.
“Memang kapan acaranya? Dimana?” tanya Uwak Laki- laki.
“Di hotel Gunawijaya. Sudah dipesankan hotel untuk 5 kamar, untuk keluarga Adip. Kita bisa berangkat siang ini, kalau uwak mau,” jawab Adip kemudian.
“Hoh... hotel Gunawijaya?” pekik Uwak perempuan Adip tiba- tiba matanya melotot kaget.
"Iya, Wak. Ijinkan Mang Jojo, Udin, Sarti dan Yuli ikut ya!" ucap Adip lagi.
"Kamu serius mau nikah di hotel Gunawijaya?" tanya Uwak Adip.
"Serius!"
"Aku tahu kamu pandai berbicara dan menghayal. Tapi nggak usah ketinggian kalau menghayal Dip!" ejek Uwak perempuanya.
"Kalau Uwak mau ikut, ayo siap- siap. Kita chek in jam 12. Kalau tidak, Adip mau bawa mobil merahnya untuk angkut teman- teman dan barang Adip!" tutur Adip lagi sopan.
Adip kan kasian sama Pak Sandi belum mandi dan tadi malam tidur di mobil, jadi subuh tadi, Adip suruh Pak Sandi pulang. Toh mereka kan udah dekat kota.
"Nggaklah, aku mau buka toko aja. Pak ambilkan amplop sumbangan!" jawab Istri Uwak Adip dengan congkaknya.
"Tidak usah. Wak," jawab Adip lalu berbalik.
Motor merah kan memang sudah dibuang kuncinya ada di Mang Jojo.
Katanya tetangga Uwak Adip, mobil merah itu juga mobil mendiang ayahnya Adip yang dipakai untuk kerja. Makanya Adip rawat dan Adip pakai.
__ADS_1