Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
207. Siapa nama Besan Mas Ardi?


__ADS_3

Demi istri tercinta Adip keluar kamar. Hotel Baba yang kelas VVIP kan, dalamnya tidak hanya satu kamar tapi ada ruangan bersofa besar dan mewah. Ada kaya mini kitchen juga lalu berdinding kaca menghadap view ibukota. Depan balkon kamar ada kolam tema sky view ala- ala Santorini gitu.


"Mana air minumnya?" gumam Adip memeriksa.


Di mini kitchen memang ada lemari pendingin. Adip membukanya tersenyum. Pelayanan hotel Baba memang top. Tersedia sebotol air mineral, air jus, air susu kemasan, ada yoghurt ada teh dan ada kopi juga, pokoknya komplit.


"Hhh..., istriku sukanya apa ya?" batin Adip.


Mereka kan tidak pacaran atau kenalan intens lama. Adip hanya dekat dengan Jingga sebentar. Adip tidak tahu dari sekian minuman mana yang disuka istrinya.


Yang Adip tahu, Jingga menghabiskan 3 air kelapa yang langsung diminimum dari buahnya. Jingga juga mau mengikutinya, minum air dari mata air tanpa dimasak.


Jadi Adip mengambil air mineral netral dan yoghurt.


"Sayang...," panggil Adip ke kamar, istri cantiknya tidak ada di atas kasur lagi.


Dilihatnya jilbab Jingga terserak di lantai.


"Hhh...," Adip hanya mendengus, lalu melirik ke kamar mandi yang tertutup.


"Haish," Adip kemudian mendesis tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Dasar Jingga. Beraninya, berani- berani bohongan. Alias "wani- wani pitek," batin Adip.


Pas di Pulau Panorama Jingga sok sokan agresif, godain Adip yang diam, giliran Adip maju, Jingga malah mundur.


Adip pun berjalan ke kamar mandi nggak mau ditinggal.


Jingga tidak sadar kalau desain Babanya, dinding kamar mandi transparan buram dengan kamar. Adip melihat samar- samar tubuh Jingga. Jingga di kamar mandi terlihat lucu sekali.


Jingga berputar- putar menggigit jarinya pakaianya masih lengkap. Adip jadi gemas tahu istrinya ternyata sedang malu- malu, polos kali.


"Kamu nggak akan bisa menghindar, Sayang! Fitrah manusia memang begini," batin Adip mengulum lidahnya berjalan ke kamar mandi.


"Door... door....," Adip menggedor pintu.


"Hoh!" pekik Jingga menyalakan kran kamar mandi, berusaha menghindar.


"Sayang buka pintunya, nakal kamu ya bohongin Abang? Tuh udah Bang Adip ambilkan minum!" tutur Adip.


Jingga masih di dalam, sambil memegang dadanya yang berdegub kencang.


"Sayang," panggil Adip lagi lebih keras. "Nggak usah pura- pura nggak denger. Nanti budheg beneran lho!" ucap Adip lagi.


"Haissshh!" desis Jingga mematikan kran, Adip mana bisa dibohongi lagi.


"Taruh aja di atas meja. Nanti aku minum,"


"Nggak jadi bareng?"


"Mandi sendiri- sendiri aja ya. Aku udah gerah! Bangeta" jawab Jingga beralasan.


"Pahalanya besar lho kalau mandi bareng!" rayu Adip lagi.


"Yaa... nanti kita cari pahala yang lain, sekarang nggak dulu!" jawab Jingga lagi tidak mau kalah.


Adip mengulum lidahnya berfikir. Istrinya benar- benar menggemaskan dan bawel ternyata. "Huuuft"


"Gerah apaan? Kamu belum buka baju kan?" ucap Adip lagi. Tidak bisa dibohongim


"Hoh," pekik Jingga. "Kok tahu?"


"Tahulah!" jawab Adip tersenyum.


"Isssh...," Jingga mendesis pas lihat dinding di sampingnya kan kaca.


"Udah nggak sah malu. Kita kan suami istri. Abang kan juga udah liat semuanya, sebelumnya." tutur Adip lagi.


"Aiiih," keluh jingga di dalam sambil menggigit bibirnya.


Jingga baru ingat, gegara Tama brengsekk itu kan Adip yang tolong Jingga. Adip udah lihat semuanya, termasuk kebun jagungnya yang waktu itu baru ditanam. Kalau sekarang sudah lebat karena lupa memanen.


Tapi tetap saja Jingga dheg- dhegan malu sekali berhadapan dengan Adip jika harus toples begitu.


Pernikahan mereka mendadak. Jingga kan seminggu ini di kapal. Kalau sebelumnya Jingga rutin bebersih luluran potong- potong. Jingga belum sempat melakukan itu semua.


"Yaang. Nakal kamu yaa? Ingat, kita sekarang udah nikah lho. Masa sama suami malu?" ucap Adip lagi. "Ayolah!" rayu Adip lagi.


"Siapa yang malu. Nggak kok nggak malu. Jingga pengen mandi sendiri dulu aja," jawab Jingga berasalan tidak mau keliatan gugupnya.


"Oke... kalau begitu. Abang nggak maksa. Tapi buruan ya! Awas kalau bohong!" ucap Adip lagi.


"Ya!" jawab Jingga.


Adip kemudian mundur dan memilih duduk, mata Adip pun lepas dari dinding kamar mandi. Meski tak mandi bersama, Adip nisa melihat aktivitas Jingga. Ternyata melihat bayangan Jingga melepas pakaian satu persatu dari kaca yang buram, lebih menegangkan untuk Adip.


"Ouuh," desah Adip membiarkan Adik kecilnya tumbuh dan berkembang sehat. Rasanya tidak sabar menunggu Jingga. Adip hanya bisa menelan ludahnya dan melonggarkan kancingnya.


Tapi Adip kemudian ingat, bakda magrib tadi mereka langsung disuruh bersiap dimake up. Mereka belum sholat Isya. Adip pun menahanya lagi. "Astaghfirulloh," batin Adip mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Sayang... mandinya cepetan! Abang ingin buang air!" tutur Adip punya ide agar waktu cepat berlalu.


"Ya!" jawab Jingga. Sebenarnya tempat mandi dan kloset terpisahkan oleh bilik, tapi pintu masuknya satu. Jingga pun tak mau ambil resiko.


Jingga langsung mandi cepat- cepat. Saat Adip menunggu Jingga, ponsel Adip berbunyi.


"Kreek...," Jingga membuka pintu.


Semerbak wangi sampo rambut Jingga dan sabun dari tubuh basahnya tercium. Jingga terlihat sangat menawan.


"Belum sholat Dip, ingat kamu harus turun," batin Adip menelan ludahnya berpapasan dengan Jingga yang memakai handuk kimono.


"Ehm...," dehem Adip.


Jingga juga dheg- dhegan, otak Jingga berputar, apa alasan untuk menolak setelah ini, tidak ada? Ah ya tidur cepat? Tapi kasian Adip.


Sepertinya waktu mengakhiri kepolosan matanya dan keperawanannya memang harus berakhir. Jingga harus siap menerima tamu untuk bersarang.


"Semua pernikahan kan memang begini kan? Sekarang atau nanti akan sama " batin Jingga. "Dia suamiku, selow Jingga, selow. Aku cinta dia, aku siap, Nggak sakit, nggak." batin Jingga lagi sudah berfikir banyak mengira Adip akan melakukan hal lain.


"Udah wudzu sekalian?" tanya Adip membuyarkan otak kotor Jingga.


"Hoh!" pekik Jingga kaget.


"Kita belum Isyaan kan? Sekalian wudzu. Abis sholat kita temui Bapak, Emak dan yang lain. Mereka katanya mau pulang malam ini!" ucap Adip lagi.


"Ehmmm... ya!" jawab Jingga mengangguk. "Huuuft" Jingga membuang nafasnya. Jingga kira melihat Jingga memakai handuk saja, Adip akan menerkamnya. Ternyata tidak, Adip malah ajak Jingga sholat dan turun.


Jingga pun masuk lagi mengambil air wudhu. Adip menunggunya. Setelah Jingga selesai barulah Adip masuk.


Sekarang gantian, Jingga yang melihat Adip mandi.


"Gleg," Jingga menelan ludahnya.


Tubuh kekar itu, tempatnya berpulang, tempatnya bersandar sekarang, miliknya. Jingga tak seharusnya takut atau menolak. Tempatnya sekarang berlindung, menitipkan surga dunia dan akhiratnya. "Aku siap, seberapapun sakitnya, aku siap!" batin Jingga.


Adip mandinya cepat. Belum selesai Jingga bengong dan melamun Adip sudah keluar dari kamar mandi.


"Lhooh. Belum ganti?" tanya Adip.


"Ehm... iya maaf!"


"Buruan, Isyaaan. Udah ditunggu Emak sama Bapak," tutur Adip kali ini berwajah serius.


Jingga mengangguk dan patuh. Mereka kemudian berganti pakaian, dan sholat jamaah. Karena buru- buru Adip tak begitu menghiraukan Jingga.


Teman- tema Adip sendiri sudan check out tadi sore.


"Kok nggak nginep lagi aja, Mak?" tanya Jingga ramah ke mertuanya, meniru panggilan Adip.


"Uwak Adip masuk rumah sakit, Nak" tutur Emak.


"Uwak?" pekik Jingga menoleh ke suaminya. Baba dan Buna juga ikut menoleh dengan tanda tanya. Siapa uwak? Kenapa tidak datang?


"Masuk rumah sakit?" pekik Adip tak kalah kaget.


"Iya, Dip. Bu Bos jantungnya kumat. Sory ya. Kita harus cabut sekarang," tutur Mang Udin.


"Ya nggak apa- apa, besok aku nyusul," jawab Adip mengangguk.


"Udah kamu tenang aja, nikmati dulu pengantin barunya sebelum balik ke Pulau P," ucap Mang Jojo menepuk bahu Adip.


Adip mengangguk. Bapak, Emak dan yang lain pun berpamitan pada Baba, Buna dan yang lain. Baba meminta supir yang mengantar mereka biar mobil Adip yang ditinggal di hotel.


"Terima kasih, Ba," ucap Adip ke mertuanya merasa canggung.


"Kamu kenapa mobil begitu dipertahanin sih? Di rumah kan mobil banyak!" ucap Baba.


Sekarang Buna sudah lihat mobil Adip dan tampak prihatin.


"Tau tuh Bang Adip," sambung Jingga.Jingga kan dendam banget dengan itu mobil merah.


Adip menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya tenang.


"Itu mobil mendiang ayah kandung saya, Ba!" jawab Adip pelan lalu melirik ke Jingga. Adip berharap Jingga bisa mengerti seberapa mahal dan berartinya mobil tua itu untuk Adip. Selain menjadi tempat pertemuan pertama dengan Jingga, itu mobil warisan dan bersejarah.


"Gleg," Jingga langsung diam, bahkan matanya berkaca- kaca. "Mobil ayah Abang?" gumam Jingga mendadak mulutnya tercekat tak bisa berkata.


Baba dan Buna juga sama, jadi tercekat, sedih dan merasa tidak nyaman.


Om Dika dan Tante Dinda yang tak sengaja mendengar hatinya jadi tergelitik timbul penasarsn lagi.


"Oh. Masih bagus tapi mesinya?" tanya Baba lagi membutarkan suasana tegang.


"Masih, Ba. Itu mesin bandel kok! Luarnya saja kurang perawatan," jawab Adip. Adip kan menabung untuk biaya kuliah, dan kegiatan sosial.


Baba mengangguk mendengarnya.


"Baba punya kenalan tukang permak mobil lama. Besok Baba kenalin ya. Mobilmu, biar di sini dulu!" ucap Baba, bijak, kali ini mengeluarkan sifat sayangnya ke mantu.

__ADS_1


"Ya Ba!" jawab Adip patuh. Jingga jadi tersenyum haru pada Babanya. Jingga berterima kasih Baba sayang suami Jingga.


Baba melirik jam tanganya sudah jam 10.


"Ya sudah, kembali ke kamar kalian. Waktunya istirahat!" ucap Baba.


Jingga dan Adip mengangguk. Baba juga berjalan, bersama Tante Dinda dan Om Dika.


"Jadi besanmu tadi itu, bukan besan kandung Al?" tanya Dokter Dinda nyeletuk.


"Bukan, mantuku yatim piatu," ucap Buna sedih.


Dokter Dinda dan Suaminya saling tatap.


"Kenapa?" tanya Baba.


"Apa, Mas Ardi tahu siapa besan Mas Ardi?" tanya Om Dika.


Sedari tadi, Om Dika tidak berhenti menatap Adip.


"Kenapa memangnya? Besanku sudah meninggal saat mantuku balita katanya,"


"Mantumu sangat mirip dengan Mas Indra sepupuku," tutur Om Dika.


"Mas Indra?" pekik Buna dan Baba.


"Iya..., dia juga sudah meninggal, keluargaku lepas kontak dengan istrinya, apa Mas Ardi tahu nama besan Mas Ardi?" tanya Om Dika lagi.


Baba diam berfikir. "Besok kita tanya Adip," jawab Baba.


Baba tidak menghafal nama besanya yang sudah tidak ada.


****


Mendengar kabar uwaknya sakit, Adip jadi lemas dan hilang moodnya sepanjang jalan ke kamar Adip diam..


Jingga ikut merasakan kegelisahan suaminya. Jingga juga merasa bersalah karena menghina mobil Adip terus.


"Ehm...,"


Sesampainya di kamar, Adip langsung mengambil air mineral yang dia ambil untuk Jingga malah dia minum sendiri.


Jingga sendiri melepas hijabnya, berganti pakaian tidur dan menyisir rambutnya. Jingga akan memenuhi janjinya.


Sementara Adip setelah minum malah tampak berbaring melamun sedih.


"Maafin, Jingga, ya Bang," tutur Jingga naik ke kasur dan mengibaskan rambutnya menebarkan pesonanya.


Adip menoleh dan mengangguk tersenyum, tapi senyum Adip berbeda dengan tadi. Jingga jadi bingung lagi.


"Bang Adip sedih ya?" tanya Jingga.


"Besok temani Abang jenguk uwak Abang ya. Kita pulang ke rumah Emak," ucap Adip. "Kamu mau kan?"


Jingga mengangguk. "Mau Bang,"


"Jangan protes karena rumah Emak Abang jelek ya," tutur Adip lagi dengan wajah sayunya.


Adip khawatir Jingga akan protes tidur berdua di ranjang kecil dan ruangan sempit dan berdinding bambu. Kalau Adip sih suka- suka aja,malah lebih seru bagi Adip.


"Kapan Jingga protes Bang. Jingga sayang sama Bang Adip, Jingga ikut kemana Bang Adip pergi,"


"Makasih, Sayang. I Love You!"


"He..., Love you too!" jawab Jingga tersipu. "Oh ya? Uwak itu siapa? Kok nggak dateng di nikahan kita?" tanya Jingga lagi.


Adip menatap istrinya sayu ragu mau jawab. Adip rasanya malu menceritakan masa kecilnya ke istri cantiknya itu, apalagi kelakuan uwaknya. Tapi sebagai orang yang katanya saudara, Adip tetap harus kenalkan istrinta.


"Besok Abang kenalin. Sekarang tidur yuk. Kamu capek kan?" ajak Adip ke Jingga


Jingga hanya mengangguk. Adip malah menarik selimut, mematikan saklar lampu terang dan menyalakan lampu tidur. Lalu merebahkan badanya dan mengajak Jingga tidur di pelukanya.


"Ini Bang Adip nggak jadi mijitin aku dan nggak nagih itu lagi?" gumam Jingga jadi berharap. Jingga kan udah sangat dheg- dhegan otaknya berputar-putar jauuuh sekali, dan bersiap-siap.


"Mungkin, Bang Adip sedih karena uwaknya sakit. Syukurlah, malam ini aku aman. Aku bisa siap- siap besok," batin Jingga lagi malah jadi kecewa.


"Hhhhh....,"


Jingga hanya bisa menghela nafasnya pelan membuang kecewa keGRannya. Lalu Jingga merapatkan tubuhnya memeluk Adip dan memejamkan matanya.


Meski begitu, rasanya sangat nyamn tidur di pelukan suami tampanya.


*****


Yang nunggu MP, harap bersabar yaak. Nulis MP nggak mudah buat author.


Author juga pen sajikan alur yg utama. Semoga tetep suka. Insya Alloh abis ini. Kuusahain malam ini pumpung libur. Tapi Buat yang masih single skip yaa.


Oh ya kalau terlalu vulgar tegur aku yaak. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2