Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
29. Adip pensiun


__ADS_3

Adipati berjalan tergopoh ke ruang teman- teman panitia Ruang Inspirasi. Adipati sudah lulus kuliah jadi sudah jarang berinteraksi dengan mereka, kampus Adipati juga beda gedung. 


“Sory gue telat!” ucap Adip ke teman- temanya. 


“Eh Bang Adip. Belum telat kok Bang, masih kurang 5 menit lagi!” jawab Rangga teman Adip. 


“Gimana lancar semuanya?” tanya Adip. 


“Lancar, Bang Adip mau seleksi sendiri?” tanya Rangga. 


“Nggak usah lah, gue kan udah pensiun! Gue udah tua juga, waktunya kalian yang terjun, oke!” jawab Adip lagi dengan gaya santainya dan meletakan tas. 


“Bang Adip beneran mau pensiun dari organisasi?” tanya Rangga. 


“Lah ya gue kan juga butuh bereproduksi dan menatap hidup Bro!” jawab Radit lagi. 


“Cita- cita dan semboyan kita belum tercapai Bang! Kita masih butuh orang- orang kaya Bang Adip!” ucap Tita sahabat Adip yang lain. 


"Ah kalian tu, terlalu mendramatisir. Di kampus kita banyak orang yang lebih hebat dari gue! Kalian juga bisa lanjutin perjuangan gue! Kalau mau mengejar kata adil dan makmur sampai kiamatpun kita nggak akan dapetin, setidaknya kita berjuang tentang apa yang ada di hadapan kita. Gue juga punya tugas dan tempat pengabdian baru!” ucap Adip lagi. 


“Haish Bang Adip niih!” sambung Rangga. 


“Udah mana yang harus gue tanda tangani!” ucap Adip lagi mengalihkan pembicaraan.


“Tapi Abang masih bimbing kami kaan dan ikut di acara ini?” tanya Tita dengan tatapan memelas. 


Adip tersenyum, sebenarnya Adip sekarang sudah tidak menjabat apapun, baik di organisasi atau pun di kantor yayasan yang mendukung program itu.

__ADS_1


Adip hanya mahasiswa yang dulu menuangkan idenya dalam bentuk proposal, saat menjadi ketua untuk diajukan. Yang melaksanakan dan menindak lanjuti adik- adik kelasnya didukung para pegawai dari yayasan dan kementrian pendidikan. 


“Tergantung ya!” jawab Adip ngambang. 


“Baang!” ucap Tita dengan bibir manyun tanda meminta. 


“Aku ikut bantu untuk di kawasan dekat dengan tempat praktekku nanti!” ucap Adip kemudian.


“Lhoh Bang Adip mau praktek? Bang Adip beneran mau pulang kampung?” tanya Tita sedih. 


“Yap. Gerah gue idup di kota terus. Gue kangen sama udara sejuk. Waktunya gue tuangin ilmu gue di lapangan gaes!” jawab Adip lagi.


“Bang... di sini kan Bang Adip juga orang lapangan! Stay cool di sini lah Bang!” sahut Rangga  menimpali.


Mereka merasa keberatan dtitinggal senior mereka yang menurut mereka baiknya minta ampun. Selama ini Adip banyak memotivasi dan kasih arahan agar organisasi mereka hidup dan bergerak.


Adip ingin pulang ke kampungnya, membangun desa dan mengabdikan ilmu di kampung halamanya sebagai dokter hewan. Adip juga mau berumah tangga dan membangun keluarga kecil dan bahagia. 


“Bang Adip mau nikah?” tanya Tita langsung berubah wajahnya. 


“Yaiyalah gue mau nikah. Masa membujang terus sih?” jawab Adip lagi.  


“Udah ada calonya Bang? Kapan?” imbuh Rangga penasaran.


“Belum sih! Tapi gue mau nikah sama gadis desa aja!” jawab Adip asal nyemlong. Adip memang tidak suka cewek-cewek kota yang menurutnya rempong.


“Bang, gue juga dari desa lho Bang!” celetuk Tita ngebanyol, tapi diam- diam Tita juga ngefans ke Adip. 

__ADS_1


“Nggak, gue mau cari istri yang mau gue ajak berpetualang dan nggak banyak protes kaya Lo!” jawab Radit langsung mensekak mat dan mematikan harapan. 


"Ah Bang Adip. Aku juga siap berpetualang kok. Nikah sama aku aja Bang. Jangan pulang kampung dululah!"


"Gue udah dapet tempat praktek di sana! Ketemu di sana aja nanti!" jawab Adip.


"Hemmm." Tita hanya berdehem.


“Kata Bang Adip mau bikin perubahan peradabapan di sini. Kalau Bang Adip pulang kampung siapa yang mau Bang Adip perjuangkan! Bang Adip ih ngecewain kita!” ucap Rangga lagi.


Adip dulu salah satu mahasiswa yang banyak vokal dan suka ikut bersuara jika ada forum- forum diskusi mahasiswa. Adip juga suka ikut demo. Tapi seiring berjalanya waktu, Adip berubah pikiran. Kerasnya ibu kota ternyata cukup membuat Adip jengah.


“Kita jadi orang berpengaruh atau tidak kan nggak harus hidup di kota gaes. Di Kota terlalu banyak manusia yang bersandiwara karena kepentingan. Kita tidak hanya butuh teori, tapi praktek. Mengerti kehidupan menyatu dengan alam dan berbakti di sana juga tidak kalah keren. Kita juga bisa kok membangun nama dari pinggiran!” jawab Adip mengeluarkan unek- uneknya dan prinsipnya. 


“Ya deh! Sukses ya Bang!” ucap Rangga kemudian. Ide Adip memang selalu beda dengan yang lain.


“Sedih deh nggak ada Bang Adip lagi!” gerutu Tita. 


Adip hanya tersenyum, kemudian mengambil kertas- kertas laporan yang kemarin masih ada campur tangan dirinya. Adip ingin menuntaskan tugasnya sebelum pensiun.


Selain Rangga dan Tita belum ada yang tau juga kalau Adip sudah tidak aktif lagi. Tempo hari Adip masih mengisi acara, masih ikut kegiatan out bound dan kegiatan sosial. 


Tari dan Uti juga salah satu mahasiswa yang ikut acara out bond yang diadakan organisasi mereka. Di situ juga Adip yang melakukan sosialisasi program ruang Inspirasi, mereka kira Adip masih jadi tim. 


****


Di dalam mobil minicooper seorang dokter forensik yang juga seorang dosen memijit pelipisnya. Dia merasa dikerjai oleh bocah kecil yang selama ini mencuri hatinya.

__ADS_1


"Gue kira semudah dan sesimple itu dapetin kamu Jing. Bahkan setelah Babamu kasih lampu ijo kamu susah didekati!" batin Pak Rendi kembali memegang setir mobil karena lampu apill kembali hijau


__ADS_2