
Untuk kedua kalinya Jingga di hadapkan dalam keadaan membawa diri, tak ada uang, tak ada pakaian ganti dan tak ada ponsel. Hanya membawa sikap, bergantung pada Tuhan dan kebaikan orang- orang. Walau hanya sebentar, tapi cukup terasa dampaknya.
Saat Adip dan Jingga keluar kan hanya berniat membersihkan diri. Semua dia tinggalkan di rumah Emak, kecuali pelindung diri alias pakaian. Itu saja punya Jingga sudah basah sampai kerinh sendiri, pokoknya baunya luar biasa, Nano- nano.
Untung Jingga cantik jadi apapun yang dikenakan tetap luwes dan enak dipandang.
Dan Jingga kini tahu, syarat hidup pertama pertama adalah amal dulu, ilmu dan kewarasan raga serta batin. Jika itu semua terpenuhi, rejeki, kedudukan sosial, uang pendidikan dan lain akan mengikuti dan bisa diusahakan setelahnya.
Kini Adip dan Jingga di kantor polisi, menjawab setiap detail kejadian. Termasuk apa yang mereka lakukan. Kurang lebih satu jam mereka di sana.
"Apa anda punya musuh?" tanya Polisi.
Adip dan Jingga saling tatap. Kalau yang mereka anggap musuh tidak ada,tapi mungkin yang benci banyak.
"Kami baru saja menikah Pak! Kalau musuh kami tidak, tahu! Saya rasa tidak," jawab Adip.
"Baru menikah?" tanya Polisi.
"Ya... dua hari lalu!" jawab Adip.
"Waah... jangan- jangan dari mantan? Berapa mantan kalian? Ada siapa saja?"
"Kami nggak punya mantan!" jawab Adip dan Jingga kompak.
"Masaa?" tanya polisi meragukan Adip dan Jingga yang keduanya berwajah tampan dan cantik.
Adip melirik Jingga.
"Kamu kali Yang... Tama. Pak Rendi," sahut Adip.
"Abang juga. Kemarin ada itu yang nangis-nangis Salma? Kak Vivi? Tari? Tita? Nita?" jawab Jingga tidak terima.
__ADS_1
Di hadapan polisi mereka malah berdebat mantan.
"Nggak! Nggak ada mereka semua orang baik!" jawab Adip.
"Ya siapa tahu sakit hati? Tama kan udah nggak berkutik dia buronan. Pak Rendj nggal mungkinlah!" jawab Jingga lagi menerka.
Polisinya malah jadi penonton.
"Jadi siapa kira- kira yang mencurigakan?" tanya polisi.
Jingga dan Adip saling tatap lagi.
"Uwak?" pekik Adip dan Jingga bersamaan.
"Uwak? Siapa itu?"
Jingga dan Adip kemudian menyampaikan kalau mereka juga baru berurusan dengan polisi mengenai kasus Uwak.
"He....," Jingga tersenyum.
Polisi kemudian memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah. Adip jadi cemburu, apalagi Jingga tak mengenakan hijab
"Jaga matanya Pak!" pekik Adip marahin polisi.
"Kenapa, tidak bilang dari tadi kalau kalian keluarga Gunawijaya!" ucap Polisi malah menyalahkan Jingga.
"Lah kan nggak ada pertanyaan dari Bapak siapa keluarga saya!" jawab Adip lagi.
"Kalau kalian anak Tuan Ardi ya pasti banyak musuhnya," ucap Polisi lagi.
Siang tadi kan Baba baru saja menemui atasan mereka. Kasus Uwak sudah diserahkan ke polisi. Kasus Tama juga iya. Apalagi sebelumnya banyak sekalo catatan Baba. Meski seringnya Babalah dan anak buahnya yang bantu polisi.
__ADS_1
"Terus gimana Pak?"
"Sudah cukup. Kalian boleh pulang!"
"Lah Pak? Kan rumah kita kebakar? Pulang kemana?" jawab Jingga.
"Oh ya ya!"
"Ponsel kita juga kebakar Pak!" celetuk Jingga lagi.
Polisi manggut manggut.
Setelah berdiskusi Polisi pun memutuskan memberikan bantuan ke Jingga dan Adip. Mereka dipinjami motor, untuk mobilisasi. Bahkan mereka juga kasih pinjaman ke Adip dan Jingga. Ya tentu saja itu semua ilegal dan Jingga beserta Adip disuruh tutup mulut dari orang- orang.
Jingga dan Adip pun keluar membawa motor patroli. Berboncengan membelah dinginya malam saling berpelukan.
"Dingiin Bang " bisik Jingga.
"Pegangan yang kenceng!"
"Kita belum mandi lho Bang. Baju Jingga basah!"
"Ya udah kita ke rumah Uwak, pinjam pakaian teman- teman Abang. Minta makanan, mandi abis itu kw rumah sakit?"
"Kok rumah uwak? Najis"
"Bukan ke Uwak. Tapi karywannya. Mereka teman-teman Abang!" jawan Adip.
"Oke!"
****
__ADS_1
Maaf pendek. Yang penting absen yaaak