Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
234. Yang Nggak bikin Gendut


__ADS_3

Ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga. Atau lebih tepatnya berani berbuat berani bertanggung jawab, atau siapa yang menanam ya akan memanen, tergantung sih apa yang dia tanam. 


Ya, istilah itu sekarang menimpa Odah dan keluarganya. Sebelum lanjut dirawat dokter sudah menjelaskan rencana perawatan Uwak, rincian biaya dan waktu yang dibutuhkan. Suami Uwak langsung pusing dan meminta alternatid lain.


Dokter memberi saran, bisa dirawat di rumah saja. Yang penting rutin fisioterapi dan rajin minum obat, terpanta juga.


Uwak memutuskan merawat si Odah di rumah. Sebab kalau di rumah sakit tak ada yang menunggu dan merawat juga. Kalau di rumah kan ada pekerjanya.


Uwak masih bisa mendengar, masih bisa melihat, tapi tangan kanan dan mulutnya susah digerakan. Uwak hanya bisa berbaring atau duduk di kursi roda mejadi tanggungan dan beban keluarga. 


“Bagaimana ini?” gumam suami Uwak gemetaran memegang kepalanya baru saja menerima telepon.


Niat mau curhat ke anaknya yang kuliah di luar malah anaknya bilang sudah di rumah dan marah- marah.


Suami uwak tambah pusing. Apalagi mengingat hal yanh baru dia temui.


Flashback Siang


Di saat mereka mengurus administrasi. Bapak dan dua pasangan orang tampan mendekati suami Uwak dan anaknya


"Itu mertua Adip yang kaya raya. Bah," ucap anaknya.


"Syukurlah sepertinya dia tahu ibumu sakit. Pasti mau jenguk dan bantu kita. Ayo kita sapa. Bersikaplah yang sopan dan ramah," ucap Suami Uwak GR.


Uwak ke Gran dikira besanya mau jenguk. Uwak mendekat tersenyum dan menyapa mengajak salaman tanganya ditolak. 


"Selamat Siang.. besan. Terima kasih sekali. Suatu kehormatan kalian datang ke sini jengung istri saya. Terima kasih," tutur Suami Uwak.


“Apa kamu suami Odah?” tanya Baba sinis. 


“Iiiyaa. Sa- saya Uwaknya Adip,” jawab suami Uwak. "Perkenalkan, saya...," ucap suami Uwak mengulurkan tangan.


Sayangnya langsung ditolak.


"Turunkan tanganmu. Aku tidak ingin mengotori tanganku!" jawab Om Dika menahan emosi.


“Hooh,” Baba tertawa sinis sambil menghela nafas mengejek.


Om Dika mengepalkan tanganya, rasanya ingin menghajar orang itu. Tapi kalau main kasar, bukan kelasnya Baba dan Om Dika. Apalagi lawan di depanya ini terlihat memprihatinkan. 


Umurnya seumuran Baba, tapi sudah timbul uban, keriting dan tidak terurus lagi rambutnya. Hanya saja perutnya buncit. 


Suami Uwak dan Anaknya kebingungan dan juga menampakan muka bete. Mereka kan di kampung paling kaya. Mereka tidak pernah dihina orang. Sukanya menghina.


"Maksud kalian apa?" tanya anak uwak.


“Maksud kami? Hehe," jawab Baba dengan muka mengejek


"Oke sepertinya memang kita perlu kebalan. Perkenalkan, saya Dika. Adik Mas Indra Hardiatna Wirajaya, adik Ipar Indira Maharani,” ucap Om Dika tegas. 


“Gleg,” Uwak langsung pucat dan gemetaran. Padahal Baba dan Om Dika belum mengeluarkan somasi apapunn. 


“Mas Indra? A- a.mm anu ss sa, saya,” Suami Uwak sampai bigung mau bilang apa. 


“Hah? Ya...kenapa? Kaget? Katamu kamu Uwaknya Adip, kenal dong dengan Kakakku? Kenal juga sama aku?” jawab Om Dika kesal.


Suami Uwak tambah gemetaran tidak bisa berbuat apa- apa?


"Siapa mereka Pak?" tanya anaknya. Suami Uwak langsung menginjak kaki anaknya.


“Iiya ... Tuan, Sss Saya saya kenal.” jawab suami Uwak.


“Bagus kalau kenal! Apa kamu merasa pernah bertemu denganku? Katamu kau Uwaknya Adip kan?” tanya Om Dika lagi puas sekli melihat suami Uwak gemetaran. 

__ADS_1


“Oh ya... terima kasih sudah menampung iparku dan anak- anaknya. Gimana apa tabungan kakakku sudah habis? Masih kurang atau masih sisa?” tanya Om Dika lagi. 


Suami Uwak keringetan tidak bisa menjawab. Anaknya pun kebingungan.


“Bagaimana? Kenapa tidak dijawab? Aku lihat kalian sudah berkemas. Aku tak punya waktu berbicara dengan orang sepertimu. Sebelum aku lepas kendali sebaiknya aku harus pergi. Cepatlah pulang. Ada kejutan untuk kalian.” jawab Om Dika berlenggang pergi. 


Uwak pun langsung lemas tak bertenaga keringatnya keluar banyaj sekali. Anaknya juga kebingungan.


Mereka pun segera pulang. Sekarang Uwak sudah di rumah. Masih dengan mendorong Uwak Odah pakai kursi roda ada polisi mengantarkan surat panggilan.


Ditambah lagi saat masuk ke rumah, anak satunya sudah pulang menunggu di ruang tamu. Hal yanh buat tambah pusinh di sampingnya ada perempuan dengan perut buncit didampingi ayah dan ibunya.


"Apa ini? Kenapa semua terjadi bersamaan?" gumam Suami Uwak.


"Aaak aaak uuuk uuuk...,"sementara Uwak Odah hanya kesusahan henrqk bicara tapi tidak bisa.


Rupanya Baba dan Om Dika tetap ingin memberikan ganjaran untuk Uwak.


Om Dika ingin mereka melepaskan semua harta Adip. Kalau cukup bukti juga ingin dipenjara. 


Kalaupun Adip tidak  butuh, biar dikelola Mang Udin dan yang lain. Penghasilanya bisa dikelola untuk kebutuhan ponsok Abah Anwar.


Meski begitu, Om Dika tetap mencari bukti agar sah secara hukum.


Akan tetapi sore ini mereka baru memberi peringatan. Karena Adip sendiri belum memberikan keputusan. 


***** 


Di Rumah Emak


Jingga sekarang tahu kenapa Adip betah di pulau panorama. Selain indah ternyata hampir sama dengan di rumah Emak.


Selepas adzan Isya suasana langsung sepi. Suara yang terdengar tinggal binatang malam yang entah seperti apa wujudnya Jingga tidak tahu. 


Dua minggu lebih di Pulau Panorama membuat Jingga jadi lebih akrab dengan alam. Jingga jadi tak kaget dan malah mulai menikmati. 


“Sepi banget,” gumam Jingga. Jingga kemudian menyalakan tivi. 


Baru jingga menyalakan tv suara langkah Bapak, Emak dan suaminya datangg. 


“Assalamu”alaikum?” 


“Walaikum salam,” 


Jingga menyambut keluarga barunya pulang. Lalu Emak dan Bapak gabung menonton Tivi. Sementara Adip bablas ke belakang. 


“Kaget ya Neng? Di sini sepi?” tanya Emak memulai percakapan.


“Nggak kaget Mak, di Pulau Panorama lebih sepi” jawab Jingga. 


“Oh ya... ya.., Neng Jingga kan pernah tinggal di sana!” 


“Tapi Mak, kalau di sana kan karena tempatnya luas tapi orangnya sedikiit, kalau di sini kayaknya orangnya udah banyak deh, terus orang- orang emang pada kemana? Kok sepi?” tanya Jingga. 


“Ya di rumahnya masing- masing. Begadang kan pamali Neng. Begadang untuk ngaji aja. Terus kan besok orang- orang harus kerja di ladang, jadi malam istrahat, tidur, kan baiknya gitu. Kecuali yang ada pekerjaan malam,” jawab emak panjang. 


Jingga mengangguk, sekarang Jingga tahu kenapa suaminya juga disiplin waktu. Ternyata didikan Emak yang ajarin Adip. 


Merasa hangat dan disayang Emak, Jingga jadi tak sungkan ngobrol dan tanya- tanya. Termasuk kebiasaan Adip, warna kesukaanya dan juga makananya.


Baru tadi sore mereka bahas Uwak, sedih sedih, kini mereka tertawa akrab bahas Adip. Emak memang pandai mengolah rasa dan suasana. Tapi Adipnya malah tidak ada.


Sementara Bapak memilih duduk di luar sambil menghisap rokok. Jingga jadi kecarian suaminya.

__ADS_1


Emak yang biasa tidur awal mulai ngantuk. “Hoaam... Emak ngantuk, Neng!” tutur Emak.


“Ya Mak, silahkan kalau mau tidur, Mak!” jawab Jingga.


Jingga pun jadi fokus hanya nonton TV. “Bang Adip kemana?” gumam Jingga penasaran suaminya tidak ada. Apa Adip sedih atau kenapa? Sedang apa? Jingga pun masuk mencari suaminya. 


“Astagfiurulloh, Abang...” pekik Jingga kesal.


Jingga kecarian Adip, ternyata Adip sedang makan lagi. Pantas saja Adip meminta Emak ajarin Jingga masak. Masakan Emak memang teruji. Malam itu Adip sampai nambah tiga kali.


Tadi sore saat makan bersama Adip nambah. Dan sekarang Adip ke belakang sendiri ambil nasi lagi dan makan lagi, nambah lagi nggak ajak- ajak lagi. Entahlah, rakus suka atau mau nabung energi. 


“Kenapa Sayang? Sini duduk sini!” jawab Adip menoleh tanpa rasa salah. Padahal pikiran Jingga kemana-mana.


“Ck! Jingga kira, Abang lagi nangis di kamar apa dimana? Taunya makan,” gerutu Jingga. 


“Uhuk... uhuk...,” Adip tersedakk mendengar penuturan Jingga. “Minum.. minum..,” ucap Adip minta dilayani Jingga diambilkan minum.


“Issshh...,” desis Jingga. 


Benar- benar di balik sisi Adip yang dewasa, alim, menarik perhatian banyak perempuan ternyata ada sisi rakus dan berantakanya Adip. Tapi saat begini Adip jadi terlihat laki- laki banget. 


Adip pun segera meneguk air dari Jingga. 


“Kamu bilang Abang nangis?” tanya Adip. 


“Iyah,” 


“Ahahaha,” Adip menghentikan makanya malah tertawa. 


“Ishh malah ketawa, Jingga beneran khawatir tauk,” desis Jingga manyun lagi.


Adip tidak menjawab malah makan lagi. Jingga kira Adip sedih atau marah setelah tadi sore membahas Uwaknya.


Adip pun mempercepat makanya, dihabiskan dalam waktu singkat karena diliatin istri cantiknya. Sampai tanganya dijilati saking gurihnya masakan Emak. 


“Sukurlah kalau Abang nggak sedih, Jingga kira Abang sedih abis ngobrol gitu sama Bapak,” ucap Jingga lagi.


“Iya Abang sedih kok, Sayang, abang sedih.” jawab Adip enteng, tapi isi kata dan ekspresinya berbeda.


“Masa? Tapi kelihatanya nggak deh, masa sedih makanya lahap gitu? Kaya gorila,” jawab Jingga. 


“Ya, Bang Adip kalau sedih begini makanya banyak,” jawab Adip lagi dengan ekspresi datar.


“Hoh? Iyaakah?” jawab Jingga menanggapi serius. 


Bayangan Jingga langsung tertuju di masa depan berarti Jingga harus pandai buat makanan agar suaminya happy.


“Iyaah, ini Abang juga masih lapar Sayang, tapi nasinya habis,” jawab Adip lagi. 


Jingga menelan ludahnya terkejut. 


"Hah segini masih lapar? Tadi nasinya masih banyak Abang abisin masih lapar juga?" tanya Jingga syok.


“Beneran! Gimana dong?” 


“Ngeri banget sih Bang, gendut nanti Bang?” jawab Jingga lagi masih dengan ekspresi terkejut dan polosnya.  


“Makan yang nggak bikin gendut aja gimana?” jawab Adip lagi mulai tersenyum.


“Maksudnya?” tanya Jingga lola. 


“Abang pengen makan kamu, abis ini lagi ya. Kasurnya udah jadi kok!” bisik Adip ke telinga Jingga sambil meniup kuping Jingga. Lalu mengambil piring dan bangun hendak ke sumur. 

__ADS_1


“Abaaaang!” pekik Jingga kesal sekarang sudah mudeng maksudnya Adip. "Dasaaar!!" cibir Jingga kesal.


Adip malah jalan sambil terkekeh.  


__ADS_2