
Pasangan penganten kata orang bak ratu dan raja sehari. Setelah sholat dzuhur dan makan siang di tempat privat keluarga, Adip dan Jingga kembali didandani.
tempat makan khusus keluarga
Dengan sentuhan tangan MUA dan sapuan bedak khusus, Jingga menjadi bidadari yang membuat semua mata terpana. Semua teman Adip satu pemikiran, Adip hebat dan beruntung dapetin Jingga.
Gaun Akad...(versi Hijab tapi yaaa)
Untuk acara resepsi pagi, mengenakan gaun yang bernuansa adat. Itu juga ganti dua kali. Sesi Siang 1 jam pertama dengan adat mengikuti adat ibunya Jingga, tapi tidak memakai polesan lukis melainkan tempel, jadi mudah dilepas. Lalu setelahnya gau modern.
Gaun resepsi Siang setelah lepas riasan paes Ageng.
Begitu juga saat malam, pertama keluar dengan riasan adat dari kampung Emak bapaknya Adip, riasan memakai siger. Setelah satu jam riasan sigernya dilepas diganti riasan modern l
Malam lebih simple dan nuansa pink, sesuai dekor kemarin. Adat malam ikut adat kampung Emak.
Untung MUA nya sudah pro, dan wajah Jingga juga sudah cantik. Polesan yang diberikan tidak ribet, hanya butuh waktu setengah jam, Jingga berganti busana jadi, tetap cantik pula.
Kini mereka baru selesai resepsi siang, dan istirahat di ruang khusus dekat tempat make up.
“Aku capek..., nanti masih ada lagi ya?” keluh Jingga saat di ruang ganti di resepsi season pertama.
Mereka selesai pukul 5 sore.
Adip melepas jasnya sambil menghela nafasnya dan menatap Jingga dengan tatapan kasian dan sayang.
Saat Akad dan keluar pertama resepsi, Jingga sangat bersemangat dan bahagia. Bahkan sebelum keluar, Jingga tak henti- hentinya melenggak lenggok di depan kaca dan memandangi gaunya tidak sabar untuk memakainya. Jingga juga selalu meminta difoto Adip.
Sekarang Jingga berubah ekspresi 180 derajat. Wajah Jingga tampak sangat letih. Baru tahu resepsi itu sangat melelahkan. Untung Jingga belum hamil seperti Buna dulu.
“Tadi katanya ada yang nggak sabar pengen pakai dirias pakai gaun yang bagus? Katanya pengen tampil perfect, nikahan seumur hidup sekali. Masa segini aja ngeluh?” sindir Adip.
Adip kan tak banyak dirias, hanya memakai beskap dan jas. Adip juga pekerja keras, jadi tak mudah capek. Apalagi bayangin hadiah nanti malam, dia selalu semangat.
“Hehe...,” Jingga nyengir lalu manyun, “Aku mau foto- fotonya aja, tapi kalau harus bersalaman dan berfoto dengan orang sebanyak itu lagi aku capek,” tutur Jingga lagi tak henti berkicau. "Menu harus senyum terus lagi. Nggak bisa udahan apa resepsinya?"
Adip melihat istrinya ngedumel, hanya tersenyum dengan penuh cinta dan memencet hidung bidadarainya.
“Hhhhh... yang milih dan punya ide, ngedekor dua resepsi siapa? Nggak sayang usah dekor dua lantai ballroom begitu?"
"Sayangnya, aku lebih duka dekorasi yang malam Aku kan suka pink!"
"Ya udah. Semangat, bentar doang kok abis itu udah. Nanti aku pijitin deh!"
"Bener?"
"Iyah!"
"Hehe, I love you," jawab Jingga sambil memeluk tangan Adip manja. Adip digombali Jingga hanya tersipu.
"Yuk sholat, terus mandi makan, kita masih punya waktu sampai bakda maghrib kan untuk istirahat. Charge energi untuk acara yang selanjutnya!” ajak Adip mengajak sholat.
“Sholat terus yang dipikirin, boleh nggak sih aku malas sholat dan mandi? Aku pengen rebahan,” rengek Jingga lagi menggerutu kumat malasnya, dan heranya jujur ke Adip malas sholat.
“Ish... plethak!” untuk kesekian kalinya, belum genap satu hari Adip sudah berungkalinya memberi hukuman jitakan ke Jingga. Mungkin kalau tinggal bareng akan lebih sering. Jingga kan kelewatan malasnya.
“Hobby banget pukul- pukul istri?” keluh Jingga.
“Bentar lagi maghrib asharnya udah mau abis, buruan sholat! Abang sekarang bertanggung jawab, terhadapmu! Dosa abang, kalau istri Abang malas. Bangun! Sholat itu wajib!” ajak Adip kemudian menarik tangan Jingga bangun.
“Hummmm,”
Meski dengan malas, Jingga patuh ke Adip, sholat jamaah di ujung waktu karena baru selesai melepas riasan resepsi.
Masih di ruangan yang tadi pagi, yang di jadikan tempat make up dan berfoto. Mereka berdua tidak peduli ada para kru MUA di dekat mereka berkumpul, Adip dan Jingga duduk di sofa senderan.
Jingga kan memang tidak tahu malu, melihat paha Adip nganggur, Jingga merebahkan kepalanya, memejamkan matanya dan bersantai di paha Adip.
Jingga masih tidak sadar setiap dirinya merasa bebas dan tenang dekat- dekat dan nempel Adip, Jingga hanya merasa nyaman dan hangat. Tapi berbeda untuk Adip, itu membuat Adip kegerahan, tapi kaya candu, gerah- gerah menuntut dan memacu jantung Adip memompa cepat.
__ADS_1
Kali ini semua rasa itu tidak Adip tolak atau usir, seperti dulu di pulau Panorama. Adip biarkan semua rasa itu mengembang, bahkan dinikmatinya. Adik kecilnya membesar pun dia biarkan bebas bertahan.
Adip pun membiarkan Jingga gelendogan sesukanya. Adip malah membelai kepala Jingga.
“Mau maghrib jangan tidur, mandi aja yuk!” ajak Adip iseng.
“Nggak mau,.. mandinya nanti aja kalau udah selesai semua resepsinya,” jawab Jingga malas dan matanya terpejam.
“Ya udah istirahatnya di kamar, jangan di sini, malu! Nggak nyaman juga kan?”
“Ngapain malu? Kan kita udah nikah?” jawab Jingga ngeyel.
“Ya udah ke kamar, yuk biar bisa rebahan nyaman,”
“Nggak mau, itu kamar penganten kita, nanti nggak surprise! Kita ke kamarnya nanti aja!” jawab Jingga lagi.
Mendengar kata kamar pengantin dan surprise, Adip langsung tersenyum semangat. Sementara Jingga bicara setengah sadar, hampir terlelap saking capeknya.
“Okeh...berarti kamu udah siap, kasih surprisenya ya? Pokoknya nggak boleh tidur atau pura- pura capek! Abang juga nggak sabar dapet surprisenya,” tutur Adip mengulum lidahnya tersenyum nakal menjawab sambil menundukan wajah berbisik ke telinga Jingga.
“Hoh!” pekik Jingga baru ngeh. Jingga langsung bangun dari rebahanya dan duduk menatap suaminya
“Ehem...,” Jingga pun berdehem tiba- tiba dheg- dhegan.
“Udah siap kan?” tanya Adip lagi sambil merapihkan rambut Jingga. Adip tersenyum menampakan sisi kelelakianya.
“Ehm...,” Jingga jadi salah tingkah dan menelanudahnya “Nggak sakit kan?” tanya Jingga menyeringai.
“Ya nggak tahu, kan Abang juga belum pernah, ayo kita lakukan bersama! Katanya enak kok, katanya surga dunia,” jawab Adip lagi, dengan kerlingan matanya.
Jingga hanya menelan ludahnya. Otak Jingga malah terbayang, sehebat apa rasanya. Pintu masuk gua Jingga kan kecil. Jingga masih ngeri membayangkan ada benda yang pernah dia rasa sangat keras masuk.
Karena membahas ke arah sana, Adip semakin panas lagi. Kali ini Adip juga, yang agresif. Adip maju mendekat dan tanganya terulur menelusup melewati pinggul ramping Jingga dan memeluk.
“Ehm...,” Jingga dipeluk Adip merespon positif dan malah mundur merapat.
“Tapi kata orang sakit?” ucap Jingga lirih
“Kan kata orang Sayang, kita buktikan aja nanti, nyatanya kamu sampai punya adik 6 kan? Kalau sakit mana ada orang ingin menikah? Bahkan ada prostitusi,” jawab Adip lagi, berbisik sambil mencium belakang telinga Jingga.
Jingga pun menggeliat kegelian. Iya juga sih, pikir Jingga. Tapi sungguh, Jingga belum sekalipun melihat video atau film dewasa. Jingga hanya membaca teori, jadi Jingga agak ngeri dan aneh membayangkanya.
"Aaaakh, plak!" tiba- tiba Jingga berteriak dan reflek memukul tangan Adip.
Sampai pegawai hotel dan MUA di seberang mereka menoleh. Tapi hanya menoleh saja, melihat dua pasangan Nona besar berduaan tak mau mengganggu.
"Sakit Bang!" omel Jingga dahinya mengkerut sempurnya.
"He...," Adip malah nyengir tanpa dosa. "Kan katanya sekarang itu punya abang! Boleh dong Bang Adip pegang" jawab Adip.
"Tapi tanganya jangan nakal gitu. Masa di pencet keras banget. Pegel tauk!" keluh Jingga lagi sambil tanganya terulur melindungi dadanya.
"He..., yaya!" jawab Adip.
Adip gemas, merasa sudah memiliki hak, melihat dua squisshy cantik menempel di dada Jingga di atas tanganya, Adip jadi ingin memainkanya.
Adip reflek merremas sekuat tenaga. Tentu saja sakit.
Apalagi itu adalah kali pertama untuk mereka berdua. Jingga kan dalam posisi melamun dan tidak siap.
Mereka belum tahu kalau dilakukan pelan- pelan dan dengan perasaan, dunia berubah menjadi surga.
"Ish....," desis Jingga lagi manyun.
Bayangan Jingga jadi buruk lagi. Bagaimana nanti kalau harus dibuka dan lain sebagainya. Jingga pun mendadak menelan ludahnya.
"Huuuft, semua orang menikah akan melakukan ini kan? Kenapa orang lain sangat suka hal itu yah. Ahh bagaimana ini? Tapi Aku cinta Bang Adip. Kata orang kalau cinta nggak seram. Seloow seloow," batin Jingga menghibur diri sendiri.
"Ya udah, abang kan katanya mau mandi. Sana mandi," ucap Jingga ketus.
"Mandi bareng yuk!" ajak Adip lagi semakin berani.
"Hoh? Bareng? Nggak!"
"Kenapa pahalanya besar lho!" tutur Adip lagi.
Jingga menelan ludahnya.
__ADS_1
"Ya, tapi pokoknya nggak sekarang. Aku mau ke Oma dan Buna!" jawab Jingga.
"Oooh,oke. Nggak mau bareng?"
"Nggak. Abang mandi aja. Aku mau ke Buna!" jawab Jingga.
"Ya. Tapi nanti jangan malas sholat maghrib!"
"Iya Buna kan juga sholat. Nanti selesai sholat aku ke sini lagi. Kan dirias lagi!"
"Oke!" jawab Adip
Adip pun menggunakan kamar mandi terdekat dan mandi sendiri. Sementara Jingga berjalan cepat ke kamar Bunanya.
Jingga harus tanya tips n trik Malam Pertama biar tidak sakit pada Bunanya. Jingga sekarang juga ngeh nasehat nenek siang kemarin.
Aah di kepala Jingga berputar- putar bayangan menegangkan.
Sesampainya di ruangan Buna, Buna ternyata tidak sendiri. Melainkan ada Baba, Pak Dhe Gery, Om Farid, Satu lagi yang jarang terlihat Om Dika, Bu Dhe Mira, tante Anya dan tante Dinda. Mereka tampak asik mengobrol. Entah ngobrol apa?
"Sore Om...Tante," sapa Jingga nyengir. Nggak bisa curhat nih kayaknya.
Semua pun menoleh dengan senyum.
"Eh penganten, sini duduk. Banyak makanan nih? Udah makan belum?" tawar Dokter Anya.
"Udah Tante," jawab Jingga.
"Sini... sini duduk!" ajak Bu Dhe Mira.
"Mana suamimu?" tanya Dokter Dinda.
"Lagi mandi, Tante!"
"Oh ya, suamimu orang mana sih?" tanya Dokter Dinda akhirnya. Dokter Dinda mau tanya me Buna tapi kelupaan karena asik ngobrol hal yang lain.
"Orang kota Bukit, Tante," jawab Jingga menjawab sesuai alamat Emak Bapak Adip, bukan kampung halaman Ayah kandung Adip sebenarnya.
"Ooh," jawab Dokter Dinda seperti mengusir kegundahanya setelah mendengar asal usul Adip
"Suamimu, kuliah dimana sih? Kok temen- temen Dokter Gery banyak yang kenal Adip sih?" tanya Dokter Anya menimpalo ternyata selama resepsi memperhatikan.
Buna dan Baba juga tertarik dengan jawaban pertanyaan Dokter Anya.
Hari pagi adalah jatahnya tamu- tamu rekan kerja Baba. Para pengusaha dan pejabat penting di negara Baba.
Di luar sangkaan Baba dan Buna, ternyata beberapa pengusaha dan pejabat kenal Adip. Mereka tidak kenal Jingga dan ucapin selamatnya malah ke Adip. Adip juga kenal dengan teman- teman Om Farid.
"He... kan Jingga juga nggak tahu!" jawab Jingga dengan polosnya.
Adip memang tak menyombongkan diri dan sebutin prestasinya ke Jingga. Itu saja Jingga sudah bucin.
"Adip itu ketua komunitas gerakan pelestari lingkungan. Pernah dapat penghargaan juga. Dia juga pernah jadi duta mewakili pemuda di negara kita kumpul dengan negara- negara tetangga untuk itu. Dia juga pernah beberapa kali nongol di tv untuk isi acara talk show. Pas kemari demo- demoa dia juga ikut mewakili forum komunikasi sama anggota dewan,"
"Dia juga suka ajuin proposal ke pengusaha-pengusaha untuk selamatin hewan- hewan liar. Dia pendiri komunitas itu!" jawab Dokter Gery tidak heran dan sudah tahu banyak.
Baba hanya diam tapi dadanya mengembang. Baba hanya dengar laporan dari Pak Dino, Adip aktif selama jadi mahasiswa tak sedetail Om Gery.
"Oh pantes aku nggak asing. Kok pas pertama lihat, aku kaya pernah lihat. Tak liat- liatin terus. Kaya mirip siapa gitu, kaya saudarnya Mas Dika, itu lho, Mas. Sepupu kamu, yang orang kota Batik,"jawab Dokter Dinda malah menyimpulkan tanda tanyanya.
"Mirip sih, tapi kan bukan!" jawab Om Dika.
"He....,"
Jingga hanya nyengir dan mengusap tengkuknya. Tidak peduli.
Fiks, upaya tanya- tanya tips n trik malam pertama gagal. Jingga malah diwawancarai, dan topiknya suami Jingga.
Buna rasa mah, anaknya akan pintar sendiri, jadi Buna memang tidak briefing Jingga.
Tanpa terasa, adzan maghrib datang. Jingga segera sholat dan bersiap resepsi malam.
"Huuuh, panjangin waktu resepsinya ya Alloh. Tapi jangan capek- capek! Yang ajakin salaman dikit aja. Buat Bang Adip aja yang capek," batin Jingga.
*****
Hehehehe.
__ADS_1
Pada puasa nggak sih?