Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
51. Pertanyaan


__ADS_3

Sayang seribu sayang. Saat Jingga dan Tari membuka pintu keluar, para senior berkeliling meminta semua peserta kumpul di aula Asrama tiga hari itu. 


“Yah!” keluh Jingga psimis dan muka memucat. “Bagaimana ini?” tanya Jingga. 


“Pikir nanti, sekarang kita kumpul dulu, oke!” jawab Tari sangat dewasa membimbing Jingga. 


“Ya! Oke!” jawab Jingga pasrah. 


Mereka pun menunda keluar asrama membeli baju dan alat mandi.


“Ada apa?” sahut Uti dari dalam mendengar kasak kusuk.


“Kumpul ke Aula yuk!” ajak Tari. 


"Hah? Kumpul?" Uti yang mau mandi dibuat kaget dan langsung melempar handuk


"Iya, ayuk! Cepetan!" jawab Tari.


Mereka bertiga kemudian bergegas ke Aula. Di aula mahasiswa dari banyak kampus itu sudah membaur jadi satu. Kakak senior mereka yang ternyata para dosen dari berbagai kampus menyiapkan mereka untuk berbaris. 


Betapa terkejutnya Jingga, saat melihat segerombolan orang yang berdiri dan berjajar di kelompok panitia, ada dua orang yang Jingga kenal. Dia adalah Pak Rendi, dan Tama pacarnya. 


“Haishh... kenapa bisa ada mereka? Gawat!” batin Jingga menundukan wajahnya. 

__ADS_1


Untung Jingga berbaris di tengah agak belakang jadi Jingga tidak terlalu terlihat.


"Apa Tama akan ikut ke pulau P karena ajakan Jingga waktu itu? Atau hal lain? Oh iya, Tama kan ketua Bem. Semoga Tama hanya hadir selama di pulau S saja. Tidak ikut ke pulau P" Batin Jingga. 


“Pak Rendi? Kenapa Pak Rendi ada di sini, kok mereka nggak ikut bus, aku juga nggak liat di bandara atau pesawat. Kapan sampainya?” Jingga pun bertanya- tanya dalam hati. 


Semangat Jingga untuk ikut pun meredup. Jingga sangat kesal jika Pak Rendi sampai ikut dan menjadi satpam utusan Babanya. Mimpi Jingga akan hancur berantakan. 


Salah satu senior yang berbicara di depan mengeluarkan suaranya yang menggelegar tanpa mic. Beliau adalah Kak Pras, sang ketua panitia pusat untuk angkatan Ruang Inspirasi tahun ini. Kak Pras adalah dosen  dari salah satu universitas negeri dari provinsi tetangga. 


Mereka pun memberikan yel- yel semangat agar membekas di hati peserta ruang inspirasi. Memberikan suntikan kata yang menjadi pacuan agar semua peserta mempunyai tekad berjuang dengan ikhlas saat terjun di lapangan nanti. 


Para peserta pun mengumandangkan ikrar dan yel- yel dengan membara. Paduan dari ratusan suara peserta berpadu menjadi satu dan menggema di aula itu. Jingga yang baru ikut kegiatan semacam itu pun jadi merinding dan terharu dibuatnya. Ada rasa bahagia dan tekad yang tercipta. 


Tanpa Jingga ketahui, ada satu orang yang duduk di belakang sebagai pengawas juga, yang terus memperhatikan Jingga. Untungnya Tama ataupun Pak Rendi belum mengetahui keberadaan Jingga, karena Jingga terus menunduk dan berlindung pada mahasiswa di depanya yang berbadan kekar.


Panitia lain berganti mengisi acara membacakan susunan jadwal yang akan mereka ikuti selama tiga hari itu. Jingga pun kaget saat panitia itu membacakan nama Pak Rendi sebagai pemateri. Pak Rendi nanti akan menjelaskan pertolongan pertama jika peserta mengalami gangguan kesetatan. 


“Oh ternyata dosen dan dokter gila itu isi acara, oh ya Tuhan, aku harus bolos di jam dia kalau begitu.” Batin Jingga licik.


Jingga kan mahasiswa kedokteran, tidak perlulah Jingga ikut materi ini. Peserta lain kan dari banyak jurusan jadi menurut Jingga mereka wajib ikut. 


“Kalau Pak Rendi isi materi, lalu Tama ngapain? Aku temui dia nggak ya?” 

__ADS_1


****


Terima kasih buat yang masih mau baca.


Sebenarnya Author agak insecure terhadap novel ini, mau dibuat cepet tamat karena sepii banget dan nggak semangat.


Author jadi kepikiran mau ganti judul.


Minta pendapat dari kakak2 semua dong.


bagusan tetep Rumah Jingga


atau


Kisah Cinta anak Sultan


atau


Cinta anak Sultan?


covernya juga? Ganti nggak ya?


hehe makasih yang mau baca.

__ADS_1


__ADS_2