Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
14. Ngeri


__ADS_3

“Sudah lama menunggu?” tanya Baba Ardi ke kandidat calon mantu kesayangannya. 


“Belum Tuan, baru beberapa menit, kebetulan tidak ada jam ngajar, jadi saya bisa tiba lebih cepat!” jawab pria itu dengan santun ke Baba Ardi dan Jingga. 


“Oke, sudah sarapan? Ayo pilih mana menu yang Nak Rendi suka!” tawar Baba Ardi sangat ramah. 


Jingga yang dari awal sudah hilang mood diam seribu bahasa dalam duduknya. Pertemuan macam apa ini? Sejak kapan babanya kenal dengan dosen killer yang amat menyebalkan ini. Pantas Jingga tidak bisa bernafas dalam kampus ternyata bahkan dosen gila ini kenal dengan Babanya, dan apa ini? Baba mengajak Jingga untuk berkenalan denganya. 


“Oh Baba, Jingga bukan hanya kenal tapi sangat kenal, Jingga juga sangat benci laki- laki ini!” batin Jingga dengan mata bulatnya. Jingga rasanya mau muntah saat mendengar babanya memanggil, Nak Rendi, iyuuh. 


“Alhmdulillah belum Tuan, sengaja saya belum sarapan, mengosongkan perut untuk makan bersama Non Jingga dan Tuan Ardi.” Jawab Rendi lugas lagi. 


“Ehm...” Jingga berdehem rasanya sangat tidak nyaman sekali melihat dosen yang biasanya sok cool di kelas dan sekarang berbosa basi sok ramah pada Baba Jingga. 


“Oh yaya, kalau begitu cepat pesan makananya!” sambung Baba Ardi. 


“Ya Tuan!” jawab Rendi. 


“Sayang, ayo pesanlah menu kesukaanmu, ini restoran favoriitnya Buna sama Baba lho!” tutur Baba Ardi mengerlingkan mata memberi kode ke Jingga untuk lebih luwes menyambut calon suaminya. 


“He... ya Ba!” jawab Jingga malas, Jingga kan tadi di rumah juga udah sarapan. 


“Oh ya, kalian belum kenalan kan, Jingga kenalkan dia adik temen Papa, namanya Rendi, dia dosen Sayang,” tutur Ardi berbosa basi. 


Rendi kemudian tersenyum.


“Kami sudah saling kenal, kebetulan Non Jingga mahasiswa saya Tuan!” jawab Rendi berbosa basi. 


Sementara Jingga hanya menunduk, menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinganya dan menatap ke arah luar. Benar- benar menjemukan. 


“Oh begitu? Yaya syukurlah kalau begitu, kalau kalian sudah saling kenal. Haha!” jawab Baba Ardi tersenyum puas. 


“Bukankah begitu Non Jingga Pelangi Gunawijaya?” tanya Rendi meminta konfirmasi. 


“He... iya Pak!” jawab Jingga tersenyum dengan sangat masam dan canggung. 


“Baik- baik, berarti kalau kalian sudah saling kenal lebih enak ngobrol tanpa Baba dong!” ucap Baba Ardi kemudian, membuat Jingga terhenyak. 


“Ba...” seru Jingga spontan. Apa- apaan Jingga mau ditinggal berdua dengan dosen super duper menyebalkan ini. 

__ADS_1


“Baba lupa Jingga, hari ini ada meeting, hari kemarin Baba bolos ke kantor temani Bunamu! Maaf ya Nak Rendi, saya harus ke kantor dulu,” ucap Baba Ardi. 


“Oh  iya Tuan, silahkan!” 


“Ba...!” lirih Jingga lagi tidak mau ditinggal dan merasa kesal. 


Baba Ardi hanya mengelus rambut Jingga lembut dan mengedipkan matanya, Baba Ardi justru menatap Rendi dan berbicara padanya. 


“Nitip Jingga ya Nak Rendi, sekalian nanti antar dia kuliah, kalian satu kampus kan?” tanya Baba Ardi. 


“Iya Tuan.” Jawab Rendi hormat, sementara Jingga mengepalkan tanganya menahan kesal ke babanya, bahkan wajah Jingga memerah menahan hasra* ingin menangis. Menurut Jingga Babanya benar- benar tega, tega banget malah. 


Baba Ardi kemudian pergi meninggalkan anak dan calon menantu kesayanganya itu. Baba Ardi pergi dengan menyunggingkan senyum. Baba Ardi yakin Rendi bisa membuat putrinya jatuh cinta. Baba Ardi juga mau, dengan usia Rendi yang matang, dia bisa jaga dan bimbing Jingga.


Kini di meja makan di privat room itu, dosen dan mahasiswinya itu tinggal berdua. Mereka berdua saling diam dan suasananya sangat canggung.


Jingga terus menundukan wajahnya enggan menatap dosenya itu, dongkol dheg- dhegan. Sementara pak Dosen memperhatikan mahasiswi cantiknya dengan seksama. Jingga pun tahu kalau laki- laki dewasa di depanya sedang melihatnya. 


"Ehm..." Pak Rendi berdehem memancing Jingga.


Pancingan Pak Rendi berhasil, Jingga mendongakkan kepala balas menatap Dosenya. Pak Rendi kemudian tersenyum menatap mahasiswi cantiknya.


"Sejak kapan Bapak kenal ayah saya?" tanya Jingga berani.


"Sejak awal!" jawab Pak Rendi santai.


"Apa maksudnya sejak awal?" tanya Jingga kesal.


"Sejak kamu masuk ke kampus ini!"


"Hoh!" Jingga kemudian melongo dan tambah kesal.


Jingga ingat waktu awal Jingga mendaftar ke kampus itu, ayahnya memang selalu bilang dimana tempat Jingga berada selama masih di negaranya jangan harap bisa lepas dari pengawasan Babanya.


"Kenapa Bapak tidak pernah bilang kalau bapak kenal ayah saya?"


"Untuk apa?"


"Ehm... ehm... terus untuk apa bapak datang kesini menemui kami?" tanya Jingga salah tingkah ingin membahas tentang perjodohanya. Yang benar saja Jingga mau berjodoh dengan dosenya ini, menggelikan batinya.

__ADS_1


"Apa ayahmu tidak cerita?" tanya Pak Rendi ingin menggoda Jingga.


"Baba saya tidak katakan apapun!" jawab Jingga malu mau mengatakan, sebenarnya Jingga mau tanya, : "Apa benar anda mau dijodohkan denganku? Kenapa mau?" tapi Jingga tidak sampai hati mengeluarkan pertanyaan itu.


"Hmmm benarkah Babamu tidak berkata apa-apa?" tanya Pak Rendi lagi.


"Ehm..." Jingga berehem lagi. "Kenapa Pak Rendi juga jual mahal sih, ayo cepat katakan. Jadi aku akan menolaknya dengan tegas!" batin Jingga kesal sendiri.


"Tidak, Baba saya hanya mengajakku makan, saya tidak menyangka ada bapak di sini!" jawab Jingga kemudian.


"Ehm... yaya!" jawab Pak Rendi lagi dengan menatap Jingga tajam.


"Jadi selama ini yang suka lapor ke ayah saya tentang saya Bapak?" tanya Jingga menuduh.


"Lapor? Lapor apa?"


"Saya peringatkan ke bapak. Seberapapun anda dekat dengan ayah saya. Jangan campuri urusan saya!" ucap Jingga lagi malah sok-sokan menggertak.


Tentu saja Pak Rendi tersenyum.


"Kenapa tersenyum?" tanya Jingga tersinggung.


"Jingga... Jingga!" gumam Pak Rendi malah menggelengkan kepala.


"Kalau bapak kesini menemui saya dan ayah saya, karena ayah saya bilang akan menjodohkan saya dengan bapak. Satu hal yang harus bapak tahu. Saya nggak suka dengan bapak. Jadi sebaiknya bapak jangan setujui apa kata ayah saya!" ucap Jingga akhirnya menurunkan gengsinya dan memulainya duluan.


Sekali lagi Pak Rendi hanya tertawa mendengar perkataan Jingga. Jinggapun sangat kesal melihat ekspresi lawan bicaranya itu.


"Bapak tidak dengar kata saya? Jadi apa yang ayah saya katakan pada bapak? Apa ayah saya berniat menjodohkan saya dengan bapak?" tanya Jingga lagi sekarang sudah semakin nekat karena kesal.


"Ya! Aku yakin kamu tau meski kamu pura-pura tidak tahu. " jawab Pak Rendi tegas.


"Ehm. Saya mohon ke bapak. Jangan setujui apa kata ayah saya!"


"Bagaimana kalau saya terima?"


"Hoh yang benar saja! Sudah saya katakan saya tidak suka bapak!"


"Kalau aku suka kamu gimana?" jawab Pak Rendi lagi membuat Jingga semakin kesal dan tidak menyangka. Jingga mendadak kelabakan dan ngeri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2