Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
80. Gadis Desa


__ADS_3

Tanpa Adip dan rombongan bertanya, dari arah tanah lapang terdengar suara bocah- bocah berkulit gelap meneriaki mereka.


"Eh ada orang ada orang kota!"


"Mereka yang ditunggu Bapak Tua!"


Bocah- bocah itu pun saling menebak dan berlari. Satu dari mereka berlari girang seperti hendak memberitahu sementara yang lain berdiri terpaku menunggu Adip dan rombongan mendekat.


Adip pun tersenyum senang sambil membetulkan berdirinya dan membuat Jingga juga sedikit bergerak. Entah kenapa lama- lama tubub Adip malah memanas bukanya tambah dingin. Padahal kan baju mereka semua kan basah, rupanya dua benda kenyal dan subur Jingga yang bertumpu dan menempel rapat ke bahu Adip menghangatkan Adip bahkan memanas.


"Kita sudah sampai, indah bukan desanya?" bisik Adip berkata tidak ketus lagi.


"Hemm iya!" jawab Jingga masih canggung.


Terlihat di depan mereka suaaana desa yang sangat alami di kelilingi tanah lapang rumput semak belukar. Tapi masih dalam pandangan mata mereka pohon- pohon tinggi mengelilingi kampung itu.


Anak - anak kecil itu berdiri dengan tatapan kedamaianya. Jingga seperti melihat dunia ajaib lain lagi, seperti membaca buku sejarah dan tiba- tiba terbentuk tiga dimensi.


Anak- anak itu berdiri tanpa alaa kaki. Pakaianya sangat lusuh dan tal layak pakai. Bahkan ada yang hanya memakai celana. Lucunya kulit mereka seperti pakaian, terlihat mengkilap dan kuat seperti baja.


Di tangan mereka saling menggenggam tali yang terhubung denngn permainan tradisional yang terbuat dari sabut kelapa yang membentuk roda mobil. Rupanya mereka sedang bermain mobil- mobilan.


Jinga meneteskan air matanya lagi dan terisak di balik punggung Adip. Jingga ingat Hijau dan Biru.


"Sedang apa Mereka? Apa mereka bisa ketemu Jingga lagi? Betapa beruntungnya Jingga dan adik- adiknya!"


"Hiks...hiks..." isakan Jingga terdengar ke Adip.


"Kau menangis?" tanya Adip.


"Maaf!" jawab Jingga gemetaran, baru saja mulai nyaman Adip seperri mau marahi Jingga lagi.


"Cengeng sekali!" ejek Adip.


"Aku teringat adik kembarku!" jawab Jingga sambil mengelap air matanya.


Adip tak menanggapi kata Jingga karena mereka sudah ada di depan anak- anak itu. Adip pun menyapanya.


"Hai... anak ganteng? Benar ini desa T?" tanya Adip.


"Iya, Bapak!" jawab anak- anak itu.


Dari arah berlawanan anak yang tadi berlari datang bersama seorang bapak yang bertubuh tinggi tegap. Bapak itu berpakaian rapih, dan tubuhnya lebih terawat.

__ADS_1


"Waah selamat datang, Bapak Dokter, dan Nona Nona!" tutur Bapak itu menyambut Adip dan rombongan dengan bahagia.


Adip, Nita dan lainya membungkukan badan menjawab sambutan kepala desa.


"Terima Kasih. Pak!" jawab Adip.


Pak Abraham pun salah fokus ke Adip dan Jingga yang basah kuyup.


"Ada apa ini? Kenapa pakaianya basah begini?" tanya Pak Abraham


"Tadi ada sedikit insiden!" jawab Adip.


"Kaki saya kram dan saya terjatuh ke sungai Pak!" jawab Jingga.


"Oh begitu? Kasian sekali, mari - mari ikut saya!" ucap Pak Abraham ramah dan baik membawa mereka datanf ke rumahnya.


Anak- anak pun jadi ikut mereka. Adip dan rombongan seperti tontonan menarik yang membuat anak- anak dan warga desa jadi keluar melihat mereka.


Meski sambil menggendong Jingga, Adip tetap terus berusaha menganggukan kepala saat berpapasan dengan orang- orang yang mereka melewati sebagai tanda pengenalan dan hormat.


Tidak lama mereka sampai ke sebuah rumah yang berbeda dari yang lain. Rumah itu berbntuk seperti jamur, sekelilingnya kayu seperti bambu dan atapnya seperti sapu tapi bukan sapu.


Setelah masuk mereka terheran- heran karena di dalamnya rapih dan luas. Adip hendak menurunlan Jingga.


Adip pun mengikuti Nyonya itu masuk ke kamar. Nita dan yang lain ikut Pak Abraham di ruang tamu duduk, rupanya Pak Abraham sudah menyiapkan makanan.


Di dalam kamar Adip menurunkan Jingga pelan. Kali ini tatapan Adip tidak marah lagi tapi penuh perhatian sehingga membuat hati Jingga bergetar.


"Makasih!" ucap Jingga lirih.


"Hmm. Jadilah tamu yang baik!"bisik Adip ke Jingga.


"Ya!" jawab Jingga lirih.


Sementara istri Tuan Abraham yang sudah dibisiki Tuan Abraham menyiapkan pakaian dan minyak urut untuk Jingga.


"Saya permisi, Nyonya!" ucap Adip .


"Ya. Kau juga ganti pakaianmu!" ucap Bu Natalia, istri Tuan Abraham


"Dimana saya bisa berganti pakaian?" tanya Adip.


"Suamiku akan menunjukanya!" jawab Nyonya Natali.

__ADS_1


Adip mengangguk dan keluar kamar.


Bu Natali kemudian memberikan Jingga pakaian sederhana kaos polos dan rok setinggi lutut.Jingga jadi tersadar dimana tas dan barang-barangnya.


"Kenapa?" tanya Nyonya Natali mendengat Jingga bergumam kaget.


"Tidak Nyonya!"


"Panggil Mama Tua!" jawab Bu Natali.


"Iya Mama Tua!"


"Silahkan ganti pakaianmu. Kalau sudah panggil aku. Aku akan bantu kakimu yang kram!"


"Iya, terima kasih!" Jingga pun segera memakai pakaian itu. Setelah itu Ibu Natali membantu Jingga membaluri kaki Jingga denga minyam entah minyak apa itu.


Sementara Jingga diobati, di luar Adip yang sudah berganti pakaian bersama Nita dan yang lain mengobrol dan menikmati hidangan. Ternyata mereka nanti tinggal di rumah panggung dekat dengan sekolah desa tempat mereka mengabdi nanti, untuk para perempuan.


Untuk Adip, karena Adip harus pulang pergi ke kota dan berkeliling desa, Adip diberi rumah dinas di dekat pantai. Ternyata di bawah bukit mereka tinggal sudah lautan indah.


Pak Abraham pun menjelaskan beberapa aturan adat yang ada di desa itu. Atutan yang harus ditaati meski tak tertulis.Salah satunya di situ sangat dilarang pergaulan bebas. Karena dulu ada legenda tidak baik, yang membawa petaka jika ada warga yang melakukan itu.


Itulah sebabnya rombongan Jingga perempuan semuanya. Pak Abraham juga menjelaskan peraturan- peraturan lain. Anak- anak mengangyuk mengerti.


Jingga yang sudah berganti pakaian dan kakinya sudah bisa diajak untuk berjalan keluat kamar. Jingga terlihat seperti bunga desa yang keluar dari sarang penyamun.


Bagi Adip Jingga sangat cantik dan feminim. Memakai kaos oblong berwarna biru dan rok berwarna hitam setinggi lutut dengan bawahnya agak merumbai.


"Sudah sembuh Nona? Siapa Namamu?" tanya Tuan Abraham.


"Nama saya Jingga!"jawab Jingga.


"Ayo kemari. Silahkan duduk mari kita makan bersama!" ajak Tuan Abraham ramah.


Jingga mengangguk tersenyum dan berjalan bergabung. Jika sebelumnya Jingga masih mengenakan pakaian trendy dengan celana jeans panjang dan kaose bermerek, kini Jingga terlihat sederhana dengan pakaian desa yang warnanya mulai pudar.


Mereka pun menyantap santapan makanan yang disediakan Tuan Abraham. Jingga menelan ludahnya kaget, di meja makan tak ada nasi, seperti saat di kecamatan


Adanya sepiring makanan yang berbentuk seperri bubur tapi lebih padat. Lalu ada semangkok masakan kuah kuning dan isinya ikan.


"Gleg"


Sepertinya satu bulan ke depan Jingga akan bertemu dengan ikan terus.

__ADS_1


__ADS_2