
Setelah selesai makan rombongan pun menuju ke rumah dinas dekat dengan sekolah SD. Beruntung ternyata desa T adalah desa di kecamatan itu yang sebagian besar warganya beragama sama dengan Jingga dengan Adip. Hanya saja tetap aturan Adat merela masih melekat.
Mereka pun masuk ke rumah panggung yang lebih kecil dan lebih lusuh dari rumah panggung di kecamatan. Bahkan ruanganya sangat bau apek dan banyak debu ditemukan juga laba- laba dimana.
"Uhukk uhuk...., haciim!" Jingga yang terbiasa hidup di tempat yang mewah dan bersih langsung bersin- bersin.
Semua anak- anak pun langsung menoleh. Jingga jadi pusat perhatian dan terpojok. Jingga kemudian menundukan kepalanya merasa bersalah.
"Maaf!" lirih Jingga.
Jingga sekarang sadar dirinya tak boleh mengeluh harus bertahan apapun keadaanya meski tubuh tak bisa berbohong.
Jingga bersin- bersin pun kan di luar mau Jingga itu respon alami tubuh Jingga.
"Gue minta maaf ke Lo terkain Aji.Tapi Ingat ya. Lo di depan gue nggak usah sok princess atau manja. Kita di sini sama- sama harus survive dengan alam. Musibah banget tau nggak sih gue punya kelompok kaya Lo!" ucap Nita ketus dan menunjuk- nunjuk Jingga.
Jingga hanya diam mendengarkan. Di sini Jingga tak punya siapa- siapa dan nggak bisa ngapa- ngapain. Bukan Jingga lemah, Jingga malas bertengkar.
"Ya! Gue maafin dan Gue nggak akan repotin kalian kok!" ucap Jingga.
"Oh ya?" jawab Nita mengejek.
"Ya!" jawab Jingga ingin membuktikan kalau dirinya nggak manja.
"Kalau gitu buktikan. Nih! Kerjain!" ucap Nita ketus dan menyodorkan sapu ke Jingga.
Prilly dan Yuri hanya diam di pihak Jingga. Siska di belakang Nita ikut menantang Jingga.
"Oke!"jawab Jingga.
Kopee pakaian mereka yang diangkut helikopter ternyata sudah sampai lebih dulu. Mereka kemudian mengangkat koper itu masuk.Jingga kemudian mengambil satu masker nya.
Meski Jingga tak pernah melakukanya, demi tidak mau dibully teman- teman sebagai anak manja. Padahal apa yang Jingga lakukan sekarang juga salah satu bullyan. Karena Nita dan Siska dan Prilly hanya membersigkan kamar mereka dan menata barang mereka.
__ADS_1
Sementara Jingga memegang sapu. Membersihkan sarang laba- laba dan membersihkan debu- debu, di seluruh rumah itu.
Jingga hanya dibantu Yuri. Sesekali Jingga masih bersin- bersin dan sesekali Jingga juga menyeka keringatnya. Tanpa sadar saat Jingga menyentuh wajahnya dia memegang bintik kecil di wajahnya. Jingga pun langsunh histeriss.
"Huaaa, Yuriii !" panggil Jingga reflek sambil hampir menangis mendekat ke Yuri yang sedang jalan di tangga mau turun dan buang sampah. Yuri berhenti di tengah tangga hampir bagian bawah. Jingga turun mendekat satu tangga lebih tinggi dari Yuri.
"Apa?" tanya Yuri kaget.
"Liatin wajah gue?" ucap Jingga meminta.
"Apa?" tanya Yuri tidak mengerti perasaan wajah Jingga baik- baik saja.
"Gue jerawatan ya?" tanya Jingga di luar denga mata nanar seperti mendapatkan musibah. Ini di luar dugaan Yuri.
"Cuma tiga doang, nih di atas bibir sama di pipi kanan! Sama di dahi," ucap Yuri polos dan jujur menunjuk jerawat Jingga yang muncul karena Jingga tak memakai perawatan wajah yang biasanya.
"3? Doang? Huaaaa huaa, Bunaa. Jingga jerawatan!" rengek Jingga sungguhan hampir menangis.
Sementara Yuri menatap Jingga aneh, dalam hati ingin mengumpat. Bagaimana tidak, wajah Yuri yang langganan jerawat biasa aja, kenapa Jingga jerawatan sedikit aja langsung heboh.
Jingga dan Yuri yang berdiri di tangga rumah panggung pun langsung menoleh. Ternyata yang datang Adip. Jingga pun mengernyitkan dahinya kesal dan mereka saling tetap sejenak.
Udah lagi sedih malah diomelin. Dikatai lagi, buat Jingga yang skincarenya jutaan, jerawat satu doang itu musibah besar nah ini 3 kemungkinan akan bertambah, Jingga sedihnya nggak bohongan tapi beneran.
"Ish!" desis Jingga kesal ingin pergi menghindar. Jingga pun berusaha naik, tapi karena emosi terburu- buru dan salah tingkah saat melangkah ke tangga Jingga kaki Jingga beringsut (Bahasa jawanya kesrimper) dan hampir jatuh. Kaki Jingga masuk ke sela- sela tangga kayu sederhana itu.
Untung ada Adip. Adip yang di bawahnya pun langsung menahan Jingga sehingga mereka kembali berdekatan dan saling pandang.
Gleg
Jingga menelan ludahnya. Tiba- tiba jantungnya berdetak sangat kencang, pertama Jingga kaget karena hampir jatuh dan bahkan kakinya sudah lecet perih terperosok ke sela- sela kayu. Kedua kaget karena dia kembali berdekatan denga Adip.
"Berat tau!" omel Adip lagi, langsung menegakan tubuh Jingga dan bertumpu pada pegangan tangga. Padahal saat menggendong Jingga, Adip tak mengeluh sedikitpun. Kenapa hanya menahan saja berat. Dasar Adip.
__ADS_1
Yuri yang di sampingnya hanya jadi penonton
Jingga pun berpegangan tangan pada sandaran tangga dan berusaha berdiri tegak.
"Suka banget ya kamu ngrepotin orang dan sakitin diri sendiri. Jalan pakai mata makanya! Dasar lebay!" omel Adip lagi. Jingga yang mendengarnya jadi kesal lagi.
"Nggak usah pake otot ngomongnya, bisa nggak sih? Kalau nggak ikhlas bantu nggak usah nolongin!" jawab Jingga menggerutu kesal, pura- pura menepuk- nepuk tangan yang baru saja disentuh Adip seakan sentuhan Adip itu najis.
"Ck. Nggak tahu terima kasih ya jadi orang?" jawab Adip lagi.
"Hoh. Terima kasih?" jawab Jingga balik bertanya dengan menelan ludahnya dan gelagapan, dan memamanyunkan bibir.
Sebenarnya sejak di rumah Tuan Abraham Jingga sadar betul ingin berterima kasih, tapi tampang Adip selalu menyebalkan di hadapan Jingga apalagi kata- katanya, nggak ada baik- baiknya. Bagaiamana mau berterima kasih. Rasanya sangat berat.
Tidak menjawab pertanyaan Jingga atau menanggapi, Adip berjalan naik melewati Jingga dengan tampang cueknya. Adip kemudian naik ke rumah panggung itu dan mengetuk pintu.
"Eh Bang Adip?" sapa Siska.
Jingga dan Yuri terpaku di tangga menonton sekilas dan mendengar.
" Aku mau ambil tas!" ucap Adip.
"Oh Ya Kak!" jawab Siska mengambilkan tas Adip. Jingga dan Yuri yang tidak tahu kalau tas Adip ada bersama mereka jadi terbengong.
Adip mengambil tasnya dan berlalu kembali berjalan tegap dan dingin melewati Jingga yang masih berdiri di tangga. Adip berjalan tanpa menoleh apalagi menyapa. Adip benar- benar sangat cuek ke Jingga.
Entah kenapa, Jingga merasa sakit diperlakukan seperti itu ke Adip. Adip kenapa ramah ke semuanya tapi tidak ke Jingga. Seakan Jingga jadi perempuan paling menyebalkan dan memalukan.
Yuri pun melanjutkan buang sampahnya. Bahkan Jingga melihat, bersama Yuri Adip juga tersenyum ramah dan menyapa.
"Apa aku sungguh lebay? Apa aku sungguh manja dan menyebalkan?" tanya Jingga merasa sakit hati dan minder sendiri. Jingga pun menundukan kepalanya sakit sendiri.
"Ish!" desis Jingga kemudian berjalan dengan menghentakan kakinya masuk ke kamar.
__ADS_1
Sementara Adip sambil berjalan menjauh dari rumah dinas mahasiswa ke arah rumah dinasnya, Adip senyum- senyum sendiri. Wajah manyun Jingga terus melambai- lambai dan berputar-putar di depan mata Adip.