
Kata orang, orang jahat adalah orang baik yang disakiti dan berubah menjadi jahat, entahlah itu terbukti atau tidak dan ada risetnya atau salah satu pembenaran.
Hanya saja, mungkin teori itu sedang terjadi dan menimpa seseorang. Rasa sakit yang menjangkiti hati seseorang yang seharusnya tadinya baik jadi berubah. Atau lebih tepatnya bisa dikatakan dendam.
"Ini gila dan konyol. Bagaimana mungkin aku disuruh menikahi bocah SMA dan aku tidak boleh menyentuhnya selama tiga tahun. Hah.. perjanjian konyol!"
"Baiklah Umi... Tuan Ardi jika ini yang kalian inginkan. Kalian pikir hatiku apa? Aku punya harga diri, tapi kalian menganggapku seperti boneka yang tidak punya rasa," gumam seseorang memegang balpoint saking kesalnya sampai patah.
"Rasa sakitku akan kalian rasakan juga. Aku akan membuat Putrimu merasakan rasanya dianggap tidak ada rasa dan tidak ada keberadaanya," batin Laki- laki itu lagi dengan mata merah.
"Thok... thok....," seketika lamunan pria itu buyar. Ketukan pintu membawanya kekesadaranya.
Pak Rendi pun menormalkan emosinya dan kembali dengan tampang misterius dan dingin yang tidak bisa dia tebak.
"Masuk!" jawab Pak Rendi dingin
"Mau mengumpulkan tugas, Dok!" sapa salah satu mahasiswa.
"Taruh di meja!" jawab Dosen sekaligus Dokter itu.
Mahasiswa itu pun meletakan tugasnya.
Semua mahasiswa kecuali Jingga serasa masuk ke kandang macan kalau masuk ke ruangan Pak Rendi. Dingin mencekam, tak ada bosa basi atau suara. Sepi mencekam.
Pokoknya tidak ada yang mau lama-lama di ruangan itu. Begitu menaruh tugasnya langsung pergi.
Pak Rendi juga terbiasa akan hal itu dan cuek. Dia tidak peduli apa pendapat orang. Pak Rendi tenggelam dalam dunianya sendiri. Entahlah apa yang ada di hatinya, yang pasti dari keluarga Pak Rendi dia yang paling berbeda.
Di saat anak- anak yang lain santun ramah dan fokus mengurus pondok. Rendi memilih pergi meninggalkan pondok bahkan kuliah di luar negeri. Meski orang tuanya keteteran pun Rendi memilih karir menjadi dosen sekaligus dokter kontrak di salah satu rumah sakit pemerintah.
Rendi melirik jamnya, sekarang ternyata waktunya dia ngajar.
****
"Kamu udah mulai masuk kuliah kan?" tanya Adip saat di jalan sambil menepuk tangan Jingga yang melingkar di perutnya.
Adip dan Jingga pergi dengan motor sembari menunggu Baba kelar rapat di kantornya.
"Bolos aja lah!" jawab Jingga enteng.
"Haiisssh nakal kamu ya. Jangan bilanh kamu nakal setelah menikah. Padahal kan Bang Adip nggak ngajarin gitu!" jawab Adip.
"Sekarang kelasnya Pak Rendi, Bang. Males Jingga!" jawab Jingga mengeratkan pelukanya.
"Nggak apa- apa.Justru karena kelasnya dia, kamu harus rajin dan nilainya bagus. Tunjukin dong pernikahan kita tak berimbas buruk pada kualitas kemahasiswaanmu!" ucap Adip menasehati.
Jingga tak menjawab dan mulutnya berkomat kamit sambil lubang hidungnya membesar. Adip mah nggak asik kalau diajak nakak. Untung naik motor jadi Adip nggak lihat.
"Abang anter ke kampus ya!" ucap Adip tanpa persetujuan Jingga belok ke arah kampus Jingga.
__ADS_1
"Ehhh ngapain. Jingga males kuliaah!" jawab Jingga menepuk punggung Adip meronta
Adip tidak peduli malah tambah kecepatan gasnya.
"Katanya pengen bareng Bang Adip terus. Nggak boleh bolos. Harus lulus cepat dan tepat waktu. Bang Adip nggak mau LDR lama- lama!" jawab Adip beralasan tepat.
Kalau udah bahas LDR dah Jingga pasrah dan patuh.
"Katanya mau ajak Jingga ke suatu tempat?"
"Nanti pulang kuliah!" jawab Adip.
Jingga tidak menjawab lagi dan kini mereka sampai di kampus Jingga.
"Biasa aja... nggak usah gerogi kalau ketemu dia yah! Jangan tatap matanya. Oke!" tutur Adip memberi pesan
"Ya!" jawab Jingga.
Lalu mencium tangan Adip,memberikan helmnya dan berpamitan.
Di lantai dua kampus kedokteran itu, beberapa teman Jingga jadi menatap masam dan saling mengejek ke Jingga.
Jingga yang dulu selalu diantar mobil dengan harha milyaran, bahkan ada yang satpamin Jingga dan mengantar Jingga sampai kelas, kini terlihat naik motor.
Jingga juga berlenggang sendiri seperti mahasiswa lain tanpa beda. Hal yang lebih mencolok lagi, kini tak ada lagi pemandangan indah kulit Jingga yang putih berseri tanpa celah yang bisa dinikmati kaum pria.
Memang wajah Jingga masih tetap cantik dan bisa dilihat, tapi tatapan Jingga kini berbeda. Jingga lebih teduh dan terlihat dewasa.
"Tariii...., Utii...!" pekik Jingga berlari saat melihat sahabatnya sesampainya di depan kelas.
Sesaat teman- teman Jingga agak kaget dan tidak mengenali Jingga akan tetapi sekarang paham siapa Jingga.
"Jingga...," pekik keduanya.
Jingga berlari sampai tidak sadar saat di belokan tangga dia hampir menabrak lebih tepatnya berpapasan dengan seseorang yanh membawa tumpukan kertas.
Karena Jingga berlari orang tersebut mengalah berhenti mendadak menghindar, akan tetapi agak oleng dan kertasnya jatuh.
"Haiiishhh bocah kurang ajar!" batin orang itu memperhatikan Jingga yang tidak tahu malu berlari seenaknya padahal udah tua.
Jingga tidak peduli dan langsung memelik dan merangkul Tari dan Uti.
Tari dan Uti masih speechless dengan penampilan Jingga.
"Kok bengong sih! Ayo masuk!" ajak Jingga menarik mereka masuk kelas.
"Ini beneran kamu?" tanya Tari.
"Lah kamu pikir aku siapa? Hantu? Siapa lagi? Aku Jingga." jawab Jingga berlenggang.
__ADS_1
"Kamu nggak gabung sama geng kamu yang dulu?" tanya Utie lagi melirik ke rombongan sosialita Jingga.
Jingga diam dan ikut menoleh ke teman- temanya yang sedang sibuk memainkan ponsel. Amora, Faya dan Joana seperti tak melihat Jingga ada. Padahal saat Jingga pamitan sama Adip mereka lihat Jingga.
"Aku nggak punya geng. Semua orang di kelas ini temanku. Aku mau duduk di situ!" ucap Jingga sambil tersenyum dan menunjuk bangku depan
Tari dan Uti yang masih agak aneh dengan perubahan Jingga hanya mengangguk. Tapi dalam hati Tari membatin iri. "Ini semua pasti karena Bang Adip,"
Padahal dalam senyum Jingga ke Tari dan Uti. Jingga memendam nyeri melirik ke Amora dan yang lain.
Tadinya Amer dan Ikun punya foto tak senonoh Amora bermain di kamar hotel dengan Tama.
Ikun mau mempublish foto itu. Tapi Jingga larang, selain membayahakan Ikun terjerat UU prnoografi. Jingga tidak mau melibatkan Amora.
Akan tetapi Jingga cukup mengerti sahabatnya itu benar- benar busuk. Berhianat di belakang. Menikungnya lalu memfitnahnya dan selama ini tanpa sadar manfaatin Jingga. Bahkan selama Jingga pergi, Jingga balik lagi, whastap Jingga tak dibalas.
Di hari pernikahan Jingga mereka juga menghina Adip. Belum lagi Jingga tahu di internet banyak teman- temanya yang update story, menyindir Jingga.
"Abis kena skandal, nikah langsung pakai hijab. Maklumlah orang kaya, tinggal bayar orang kampung suruh ngaku. Hijab apa topeng tuh!"
Jingga tahu meski Baba sudah membereskan tentang fitnah Jingga dan Adio di pulau, orang- orang yang benci Jingga masih percaya Adip dan Jingga memang terlibat dalam perbuatan tidak bernorma itu.
Akan tetapi Adip selalu menasehati Jingga. Setiap Jingga mau curhat hp Jingga langsung diminta Adip.
"Nggak usah dilihat. Ini masanya kita happy happy senang- senang. Jangan rusak mood kamu," bisik Adip sambil memeluk Jingga dan menxoumi Jingga tiap Jingga merajuk.
"Tahu kan orang yang fitnah biasanya maling teriak maling. Kita punya Alloh!"
Jingga jadi berfikir mulai sekarang jadi diri sendiri.
****
"Oke.. baguslah!" sahut Uti mengambil tempat duduk di dekat bangku yang Jingga tunjuk.
"Gue makin ngefans sama Bang Adip, Ngga!" celetuk Tari dengan polosnya mengungkapkan kekagumanya di depan Jingga
Sontak Jingga langsung manyun dan cemberut
"Apa maksud kamu. Ingat Bang Adip milik aku. Nggak ada ngefans- ngefans lagi!" jawab Jingga langsung bete.
"Iya, abis. Bang Adip kaya pesulap yang langsunh rubah kamu gini. Keren Bang Adip!" sahut Tari lagi tanpa rasa bersalah atau khawatir Jingga cemburu. Tari memang suka ceplas ceplos.
"Iiihhh," Jingga kesal dan cubit Tari. "Kok gue yang berubah Bang Adip yanh lo puji sih?" gerutu Jingga galak.
Tari menangkis hampir menghindar, Jingga mau mukul lagi, tapi gerakanya terhenti.
"Heh.. Siswi berkerudung!" panggil seseorang arogan di belakang Jingga.
Semua terdiam dan menoleh.
__ADS_1