
"Tadi mandi nggak di kamar Buna?" tanya Adip berbisik ke Jingga yang sedang menunggu MUA mengambil rangkain bunga melati.
"He... enggak, wudzu doang sama sikat gigi, nanti aja selesai resepsi," jawab Jingga dengan percaya diri dan jujur mengakui kemalasanya.
Semenjak kenal dunia luar, Jingga jadi tak sehygienis dulu. Padahal dulu kata orang rumah Jingga miss perfect.
"Hmm! Istriku kenapa sekarang jadi jorok sih?" jawab Adip mengangguk sambir mencibir bercanda.
"Isssh, makmum kan ikuti imam, hehehe," jawab Jingga lagi nyengir, dengan iseng mau salahain Adip yang ajarin hidup di hutan mandi ala kadarnya.
Adip pun mengernyit. "Ikutin imam gimana? Emang abang ajarin gitu? Abang aja udah mandi," jawab Adip.
"He...Sssshh. Udah sih, nggak usah dibahas dan tanya-tanya terus. Nggak ada yang tahu kok! Udah diam aja!" jawab Jingga lagi, Intinya Jingga males. Jingga juga nggak mau disalahkan.
"Ya udah oke. Paling nanti tamunya pada bertanya- bertanya kok bau asem ya? Pengantenya jorok belum mandi!" ledek Adip lagi.
"Ish. Plaakk!" Jingga tidak terima dan memukul tangan suaminya.
"Enak aja! Aku udah pakai parfum dan deodorant kok, lagian kan waktunya mepet... tanggung. Aku mandinya lamam. Mandi sekarang nanti masih harus mandi lagi! Udah jangan gitu terus iiih!" jawab Jingga lagi berbisik manyun, kesel dipojokin terus.
Adip hanya tertawa geli. Istrinya ternyata memang sangat bawel. Adip kelak harus punya stok sabar untuk mendidiknya. Entahlah tidak bisa Adip bayangkan kalau nanti Jingga hamil dan punya anak.
Di saat yang bersamaan MUA datang. Mereka pun menyelesaikan pekerjaanya, menyulap Jingga menjadi putri kerajaan, dengan hiasan siger.
Jika tadi pagi saat memakai paesan, nuansa putih hitam dan gold. Malam dengan siger nuansa pink. Beberapa puluh menit selesai. Mereka pun keluar diiringi pengiring adik- adik Jingga dan rombongan Adip.
Tamu malam lebih didominasi teman- teman Jingga, teman- teman Adip dan sisa teman- teman Baba.
Faya, Amora dan Joana juga datang.
"Selamat ya Nggak, gue kira lo ikutan acara itu beneran lo berubah mo ngabdi, ternyata lo punya modus? Nggak nyangka gue," ucap Amora berbisik dengan ekspresi sinisnya di panggun. Amora tega buat mood Jingga redup.
"Apa maksud lo, Ra?" jawab Jingga sekarang baru sadar sahabat karibnya dulu itu jahat.
"Nggak usah sok polos deh. Selamat ya suami lo ganteng dan berotot. Selera lo nggak buruk kok! Moga aja setia. Biasanya kalau miskin dan ganteng, itu suka andelin tampang buat kepentingannya," ucap Amora lagi malah menilai fisik Adip sambil tersenyum sinis dan berbisik ke telinga Jingga.
Jingga pun semakin mengekerucutkan bibirnya. Kupingnya sangat panas mendengarnya. Untungnya itu di pelaminan dan Amora berucap sambil berjalan. Jika tidak tangan Jingga sudah gatal dan ingin mencakar wajah Amora.
"Suamiku nggak gitu. Dia laki- laki setia dan bermartabat, tidak seperti Tama! Brengsek!" jawab Jingga berani. Amora hanya tersenyum simpul dan berlalu.
Jingga kemudian menoleh ke suaminya yang tampak tersenyum ramah dan penuh karisma menyapa tamu. Jingga langsung mendekat dan menggandeng tanganya posesif.
Tamu selanjutnya teman- teman Adip yang gokil-gokil. Mereka bawa kado besar sekali. Entah apa isinya.
Ada juga teman Adip yang membawa banner ucapan selamat yang membuat Adip geli sendiri. Kapan teman- temanya siapin itu semua.
Ada juga yang rombongan bawa alat- alat dapur tanpa dibungkus kado, satu- satu. Mereka kemudian heboh berfoto.
Teman- teman kelompok angklung Adip juga datang. Mereka bahkan perform. Ada juga yang sumbang lagu dan ada juga yang stand up komedi di depan.
Semua membully Adip dan membercandai Adip bak anak jalanan yang naik pangkat jadi sultan.
Jingga jadi mengernyit tidak menyangka teman- teman suaminya seheboh itu. Tapi Jingga merasa tersanjung dan berharga semua teman Adip berbisik katanya Adip hebat, dapet bini cantik.
Buna dan Baba, Emak dan Bapak juga ikut terharu. Teman- teman Adip banyak sekali. Lucu- lucu dan kompak. Tidak seperti Jingga temanya sedikit.
Mereka jadi senang, Adip berarti di sayang teman-temanya.
"Perasaan gue nggak undang kalian deh? Kok kalian pada dateng sih?"gurau Adip akrab dengan teman- temanya.
"Waah parah. Dia lupa sama kita gengs. Yook balik yook! Kita nggak dianggap! Mentang-mentang sultan gaya lo!" celetuk teman- teman Adip tanpa tahu malu.
"Bodo. Kapan lagi malan enak. Kan kita mau abisin makanan, teman kita jadi sultan Bos!" celetuk yang lain tidak tahu malu, tapi niat mereka hanya bercanda. Mereka memang surprise buat Adip tiba-tiba datang. Mereka kemudian foto bersama.
Adip hanya garuk- garuk kepala malu dan sungkan pada Baba. Tapi kan Baba sayang Adip jadi sok- sok aja. Toh makanan pesta disediakan memang untuk dihabiskan.
"Woi jangan malu- maluin we...udah wee!" seru yang lain.
Adip pun tersenyum lagi dan mempersilahkan temanya menikmati hidangan. Mereka memang biasa saling hina dan urat saraf malunya udah putus.
Jingga hanya tersipu-sipu melihat teman suaminya. Kini Otak Jingga malah diserby setan lagi. Karena omongan Amora, Jingga jadi paranoid dan terus memegang tangan Adip.
"Kamu kenapa sih? Kok tiba- tiba murung gitu? Nggak suka ya sama temen- temen Abang? Maaf teman- teman Abang mang gitu." tanya Adip berbisik.
"Suka kok! Mereka seru aku nggak punya banyak teman kek mereka."
"Senyum dong. Capek banget yah? Bentar lagi selesai kok?" tutur Adip lagi dengan tatapan sayangnya.
"Iyah!" jawab Jingga mengangguk.
__ADS_1
"Ehm!" dehem seseorang. Dia sudah berjalan mendekat dan sudah menyalami Baba dan Buna.
Adip dan Jingga pun menoleh. Suasana mendadak jadi tegang dan canggung. Tamu kali ini tamu spesial.
Pria berkemeja batik rapi, berkacamata dan berperawakan tinggi berdiri di hadapan mereka. Tatapanya aneh. Berusaha tersenyum tapi senyumnya begitu menyeramkan.
Jingga langsung merapatkan pelukan tanganya ke Adip. Sementara Adip menganggukan kepala hormat.
"Dokter Rendi? Terima kasih sudah datang," sapa Adip sopan menelan ludahnya canggung.
Telepon Adip yang berisikan permintaan maaf dan ijin menikahi Jingga tak ada balasan. Kini orangnya ada di hadapanya
"Selamat untuk kalian berdua!" ucap Rendi dingin tapi mengacuhkan Adip seperti enggan menyapa. Rendi malah menatap Jingga tajam.
Tapi Jingga tidak membalas menatapnya, Jingga memalingkan mukanya menggenggam tangan Adip erat.
Tatapan Jingga justru beralih pada Bunga dan Nila yang sedang tertawa dengan wajah cantik ceria, entah membahas apa dengan Iya dan Iyu. Jingga masih merasa ngilu, jika adik manisnya menikah dengan orang yang menurut Jingga menyebalkan.
Pak Rendi tidak banyak bicara. Dia ikut menoleh ke arah mata Jingga menatap. Pak Rendi ikut menatap Nila. Pak Rendi kemudian berlalu dengan senyum yang tak bisa diartikan.
"Dasaarr dosen nyebelin?" gerutu Jingga setelah Pak Rendi berlalu.
"Nyebelin apa cinta?" ledek Adip cemburu.
"Iiih apaan sih?"
Di saat yang bersamaan, Salwa dan rombongan Abah beserta beberapa santri datang.
Yang membuat Jingga salah fokus. Di kala orang lain berjalan salaman sumringah. Salwa si gadis manis, terisak bahkan memeluk Adip sejenak. Adip yang menganggap Salwa Adik biasa saja. Tapi wajah Jingga langsung merah padam melihatnya.
"Dia siapa?" tanya Jingga manyun setelah rombongan pesantren turun.
"Putrinya Abah. Adik aku, adik kamu juga!" jawab Adip.
"Adik kok gitu sih?" gerutu Jingga, perempuan kan peka.
Saat Adip hendak menjawab lagi, Vivi datang dan terlihat cipika cipiki dengan Buna.
Adip langsung mengernyit heran. Jingga pun menoleh tersenyum. Jingga tahu Kak Vivi anak asuh Buna yang selama ini memanjakan Jingga sebagai Kakak.
Tapi mendadak senyum Jingga hilang. Saat tiba, Vivi justru menyapa Adip akrab. Adip juga begitu, tapi Vivi tampak dingin dan cuek ke Jingga.
"Yeey... surprise. Selamat ya, guys!" ucap Dokter Vivi berusaha menampakan wajah ramah dan bahagia. Dokter Vivi juga menepuk lengan Adip akrab.
"Kok bisa?" tanya Adip.
"Bisa lah. Dunia itu sempit kan? Selamat ya! Foto yuk foto!" tutur Dokter Vivi lagi.
Saat foto dokter Vivi juga banyaknya fokus ke Adip bukan Jingga. Jingga jadi kembali manyun. Padahal kan dimana- mana fokusnya penganten perempuan.
"Nggak usah kecentilan gitu, kenapa? Kenal Kak Vivi dari mana?" tanya Jingga lagi dengan ekspresi kesal.
Adip jadi bingung sendiri.
"Abang kecentilan gimana?" tanya Adip lagi menganggap Vivi sahabat. Adip nggak ngeh kalau tatapan Vivi dan gelagat Vivi berbeda.
Belum Jingga menjawab, rombongan Nita, Siska, Yuri dan Lili datang lagi. Kalau Tari dan Uti kan memang menemani. Sama seperti sebelumnya, mereka lebih antusias ke Adip. Jingga pun semakin dibuat murka.
Alhasil 30 menit terakhir sesi resepsi malam, wajah Jingga gelap bak bulan yang tertutup awan. Sampai resepsi selesai, Jingga lupa semua PR pertanyaan tips- tips tentang malam pertama.
*****
Jingga dan Adip masuk ke kamar pilihan Jingga. Kini mereka berdua di kamar.
Jingga masuk masih dengan wajah bermuram durja. Berbeda dengan Adip, Adip masuk dengan wajah sumringah. Sepertinya doa Jingga tidak dikabulkan. Tak ada keletihan sedikitpun di wajahnya.
"Capek, banget ya? Abang pijitin yah!" tutur Adip mengira Jingga lelah.
"Abang nggak pernah cerita, siapa gadis yang peluk- peluk Abang, kenal dimana sama Kak Vivi? Terus itu si Tita, Tita siapa?" tanya Jingga menyerbu Adip dengan ekspresi cemburunya. Jingga hafal semua wajah perempuan yang sksd ke Adip.
Bukanya menjawab Adip malah tersenyum. Mendekat ke Jingga, merangkul bahunya dan memberikan kecupan di keningnya.
"Ternyata istri Abang lagi cemburu?" bisik Adip.
Sebenarnya Jingga senang di perlakukan begitu, tapi kan lagi ngambek, tatapan Jingga pun teralihkan ke tempat lain.
"Suka banget dipegang- pegang orang?" gerutu Jingga lagi.
__ADS_1
Adip tersenyum geli lagi.
"Abang udah menghindar dan nggak bales kok. Masa di pelaminan mau Abang tolak begitu. Dia adik Abang kok. Besok kenalan yah! Udah jangan cemberut gitu," ucap Adip menyentuh dagu Jingga agar menatapnya.
Jingga pun menatap Adip, tapi manyun.
"Cup!" Karena bibir Jingga manyun sama Adip malah dikecup sekalian.
"Ish...," desis Jingga manja, merasa kecurian. Tapi Jingga senang dan dadanya mengembang mengusir semua cemburunya.
Adip tersenyum dan langsung menggendong Jingga.
"Abang...," pekik Jingga kaget. Tapi kemudian Jingga mengalungkan tanganya tersipu-sipu.
"Abang itu punya kamu seorang, Sayang. Istri yang Abang yang paling cantik. Sok kamu ingin apa dari Abang, semuanya punya kamu. Malam ini, malamnya kita, hmm?" ucap Adip membawa Jingga ke kasur.
Senyum Jingga merekah dan terbuai dengan ucapan dan tatapan Adip itu.
Mereka pun kini di kasur hotel yang sudah disiapkan. Adip menidurkan Jingga melintang dan kini mereka saling berhadapan. Adip bertumpu pada kedua sikunya mengungkung Jingga.
"Ehm....," Jingga berdehem mendadak dheg- dhegan dan ada angin panas datang, menatap Adip yang ada di atasnya itu.
"Wangi banget," celetuk Adip bangun dan malah mengomentari bunga yang tertata di atas kasur.
"Suka nggak? Nggak suka yah? Aku yang minta aroma ini. Maaf!" tanya Jingga ikut bangun dan duduk juga. Jingga kira Adip mau lanjut ke step yang lain, ternyata malah bangun.
Adip menoleh ke Jingga dengan tatapan nakalnya. Baru di tatap saja Jingga langsung dheg- dhegan.
"Jangankan di tampat bersih wangi dan luas ini. Di desa Teras dan Di Desa semilir, di gubuk reot itu, Abang sangat suka asal sama kamu. Abang suka sekali, makasih ya!" rayu Adip mengeluarkan bakat gombalnya.
Senyum Jingga merekah digombali Adip begitu. Soalnya sebelum menikah yang ngebet kan Jingga bukan Adip. Jadi Adip tidak pernah ngegombal.
"Beneran? Di Pulau Panorama kenapa selalu hindari aku terus?" tanya Jingga gegara tadi ada Nita dan Siska jadi kumat cemburunya.
"Itu karena kita belum halal, Sayang. Abang takut kelepasan. Terus Abang juga, menghargai Baba. Tapi kalau sekarang.....," jawab Adip lagi dengan pelan. Adip kemudian menyentuh dagu Jingga dan mencari peniti hijab di bawahnya.
"Sekarang apa?" tanya Jingga.
"Sekarang Abang nggak mau menahanya lagi. Kamu anugerah terindah yang pernah Abang miliki," tutur Adip pelan melepas hijab Jingga lalu membelai lembut rambut Jingga.
Jingga jadi semakin meleleh diperlakukan seperti itu. Bahkan di sekitar kepala Jingga seperti ada jutaan kupu- kupu yang menggelitik dan membuat Jingga merasa aneh.
"Mandi bareng yuk!" ucap Adip lagi.
"Gleg!" Jingga langsung menelan ludahnya. "Sekarang?" tanya Jingga gugup dan melotot.
"Tahun depan! Sekarang lah! Yah! Kamu belum mandi kan? Bau asem tauk!" jawab Adip memecahkan suasana tegang Jingga.
"Haiissshh," desis Jingga tidak terima dikatai bau.
"Nggak percaya? Sok cium ketek kamu! Bau banget!" ejek Adip lagi.
"Iiiihhh...," keluh Jingga manyun dan heranya nurut menciumi ketek Jingga. Padahal nggak bau.
Adip tertawa geli melihat ke istrinya, kemudian mengambil handuk yang dibuat seperti angsa dan mengalungkan ke lehernya dan satunya dilempar ke Jingga asal.
"Jangan bilang malas lagi! Kalau nggak mau mandi tak mandikan lho!"
"Ih... aku bisa mandi sendiri!"
"Ya udah bareng yuk!" ajak Adip lagi.
"Aku haus banget. Ambilin minum dulu dong!" ucap Jingga manja.
"Dimana emang?" tanya Adip.
"Di depan situ. Minta tolong ya. Suamiku yang paling ganteng!" tutur Jingga nyengir.
Digombali Jingga, Adip pun bucin. Adip kemudian berjalan ke depan.
Saat Adip berjalan ke depan,Jingga turun dari kasur dan lari ke kamar mandi lalu menutup pintunya dari dalam
"Hoooh... yang benar saja mandi bareng? Aku malu. Aku belum sempat bersihkan ini? Bagaimana ini? Aaah aku malu?" gumam Jingga mengigit jarinya di kamar mandi.
Jingga belum siap kalau seluruh tubuhnya kini adalah hak Adip. Jingga lupa kalau Adip juga pernah melihatnya.
*****
Hehehehe.
__ADS_1
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ™ˆ