Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
20. Jingga yang polos.


__ADS_3

“Jingga...” panggil Tama lembut ke Jingga. 


Jingga yang baru pertama diminta secara khusus mengobrol berdua dengan laki- laki yang dia suka pun tampak gerogi mendengar namanya dipanggil selembut itu.


“Iya Kak!” jawab Jingga dheg- dhegan, ditatapnya pria tampan yang jauh lebih muda dari Pak Dosennya. Mahasiswa satu tingkat di atasnya yang selalu tampil rapih dengan rambut belah tengahnya.


“Apa kamu udah pacar?” tanya Tama pelan. 


Dheg, jantung Jingga berdebar kencang, seperti perkiraan dan mimpi Jingga sepertinya Jingga mau ditembak si Tama ini. Betapa bahagianya Jingga ini waktu yang dimimlikan Jingga.


“Belum!” jawab Jingga cepat. 


“Gimana kalau mulai sekarang kamu jadi pacar aku?” tanya Tama lugas tanpa bosa basi dan banyak kata.


Jingga langsung tersenyum, tidak peduli dikatakan terlalu mudah didapatkan atau gampangan. Tanpa jual mahal, karena memang Jingga lebih dulu suka dengan Tama, dengan wajah polosnya Jingga mengangguk cepat. 


Bisa dekat dengan Tama itu juga keren buat Jingga. Karena banyak saat MOS dulu teman-teman Jingga berlomba dekat dengan Tama. Tapi tidak ada yang berhasil.


Sekarang bahkan Tama mengajak Jingga pacaran, tentu saja Jingga mau. Jingga juga mempunyai kebanggan tersendiri jika bisa menunjukan ke temanya kalau Jingga bisa jadian dengan Tama.


"Iya Kak. Jingga mau!" jawab Jingga.


Jingga berbeda dengan Buna dan adiknya Nila. Buna Alya dulu selalu jual mahal, jika didekati laki- laki. Buna Alya dulu juga selalu menepis apa yang Buna rasa demi patuh pada Oma Mirna. 


Nila juga, sejak kecil Nila mengidolakan Bunanya, meniru penampilan Bunanya yang berhijab. Nila juga selalu patuh dan manis terhadap Baba dan Bunanya tanpa diminta, bahkan Nila sering melakukan sesuatu kejutan untuk Baba dan Bunanya yang membuat mereka terharu. Seperti di waktu tertentu Nila memasak masakan kesukaan babanya.


Sementara Jingga, Jingga malas masak. Jingga juga tidak suka memakai hijab bahkan setelah dipaksa pun tetap menolak.


Jingga juga selalu menganggap aturan Babanya itu kolot dan menyiksa, meski Jingga tetap tidak berani melawan banyak. Jingga tidak pernah berusaha membuat kejutan untuk Baba dan Bunanya.


“Bener?” ucap Tama menanyakan ulang. 


“Emem!” tanpa bertanya banyak Jingga langsung mengangguk.


Buat Jingga adalah, Jingga ingin seperti teman-temanya. Mempunyai pacar yang keren. Bisa jalan-jalan dan mempunyai tempat mengadu dan berkeluh.

__ADS_1


Jingga tidak seperti Bunyanya yang menilai dulu apa laki-laki yang benar mencintainya atau tidak. Jingga juga tidak banyak membuat pertanyaan dan tantangan seperti kebanyakan perempuan cerdas jaman sekarang. Jingga memang sepolos itu.


Jingga hanya ingin satu hal, tidak dikatai cupu oleh teman-temanya. Bahkan Jingga juga tidak berfikir kalau baru tadi pagi Babanya berniat menjodohkanya. Menurut Jingga, justru nanti Tama yang akan selamatkan Jingga agar tidak jadi menikah degan Pak Rendi.


Tama kemudian menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa tatapan Tama berbeda dari sebelumnya. 


Tangan Tama kemudian mulai bergerak maju, berusaha meraih tangan Jingga. Jingga dibuat kaget menerimanya. Selama ini tidak ada yang berani mendekati Jingga apalagi menyentuhnya. Jingga kemudian menatap Tama dengan perasaan campur aduk. 


“Kan kita pacaran, boleh dong aku pegang tangan kamu?” tanya Tama dengan mata elangnya melihat Jingga ketakutan.


“Ehm!” Jingga dheg- dhegan dan salah tingkah, meski hanya tangan tapi itu bisa membuat bulu kuduk Jingga berdiri. Jingga menarik tangannya agar menjauh dari tangan Tama.


“Maaf Kak, Jingga malu!” jawab Jingga polos, Jingga mengedarkan pandangan, takut- takut ada yang memfotonya dan memperhatikanya lalu melaporkan pada Babanya. 


“Kenapa malu?” tanya Tama dengan gerakan cepat meraih tangan Jingga dan menggenggamnya dengan paksa. 


“Kak Tama!” panggil Jingga melotot, Jingga benar- benar tidak menyangka bersentuhan dengan laki- laki bisa membuatnya senam jantung begitu. 


“Ini hany pegangan tangan Jingga, apa sungguh kamu tidak pernah pacaran?” tanya Tama nakal, tingkah Jingga sangat tidak wajar menurut Tama. Di usianya yang 20 tahun hanya disentuh tanganya seperti ketakutan. Padahal anak SMP di jaman sekarang sudah melakukan hal yang lebih.


“SMA?” tanya Tama lagi.


“Nggak pernah!” jawab Jingga tegas. 


“Kuliah?” 


“Sama sekali. Kaka yang pertama!” jawab Jingga lagi.


Jingga masih berusaha menarik tanganya. Jingga berkeringat dan terus memutarkan bola matanya. Meski Jingga akan merasa lega punya pacar, tapi itu hanya ingin Jingga tunjukan pada teman yang mengatainya cupu.


Tapi kalau di tempat umum dan bisa dilihat banyak orang. Jingga tetap takut dan malu. Jingga juga tau, babanya akan marah jika melihat Jingga bermesraan dengan laki-laki.


"Teryata seperti ini rasanya jadian? Kenapa aku gerogi sekali?" batin Jingga menundukan kepala.


“Kamu beneran cinta sama aku nggak sih?” tanya Tama tiba-tiba dengan ekpresi cemberut, karena Jingga tetap menolak dipegang tanganya. 

__ADS_1


“Maksud Kak Tama?"


"Kamu cinta nggak sama aku?"


"I-iya Kak, Jingga suka sama Kak Tama?"


"Kamu bohong ya? Kenapa kamu menghindar dariku?"


"Menghindat gimana Kak? Jingga nggak menghindar kok. Jingga suka Kak Tama!” jawab Jingga terbata. 


“Lah tapi. Katanya mau jadi pacarku, suka sama aku, kenapa kupegang saja nggak mau?” gerutu Tama lagi. 


“Maaf Kak, bukan begitu, Jingga suka sama Kak Tama, Jingga mau jadi pacar Kak Tama, tapi kan Jingga udah bilang, ini yang pertama buat Jingga. Jingga belum terbiasa, Jingga malu kalau Kak Tama harus pegang tangan Jingga seperti ini. Banyak yang melihat kita. Apa kalau pacaran harus pegangan tangan?” tanya Jingga polos. 


Tama pun langsung tersenyum, menggerakan lidahnya , menggigit bibirnya dan menatap Jingga dengan tatapan nakal. Entah apa yang ada dipikiran Tama. Tapi yang jelas mata Tama menyiratkan banyak kata.


Ditatap seperti itu Jingga semakin dheg- dhegan dan pipinya memerah. Jingga terus panik dan melihat sekeliling, meski orang lain dan Tama menganggapnya biasa saja, tapi buat Jingga apa yang dia lakukan sekarang seperti kesalahan besar, tapi ingin dilakukan.


"Jadi kamu benar belum tahu bagaiamana orang berpacaran?" tanya Kak Tama lagi.


"He... " Jingga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Jika di satu sisi Jingga bisa jadi gadis yang galak dan pandai menghafal rumus. Di depan Tama Jingga benar-benar tampak seperti perempuan polos yang pipinya memerah karena jatuh cinta.


“Baiklah, kalau benar begitu, akan aku ajari cara menjadi pacar yang baik!” jawab Tama kemudian.


“Terima kasih Kak” jawab Jingga tulus.


Jingga merasa kekuperan dirinya sebuah kekurangan. Apalagi teman- temanya sering mengataianya. Jingga mengira dan merasa kalau Tama sangat baik menerima kekurangan Jingga itu.


"Ya sudah kita makan dulu yuk! Bentar lagi dzuhur dan jam kuliahmu dimulai kan?"


"Iya!" jawab Jingga mengangguk.


Mereka kemudian berjalan ke kantin bersama.

__ADS_1


__ADS_2