
****
Perhatian.
Mohon maaf sebelumnya.
Sebelum baca episode ini.
Hukum yang ada di nupel dan Bab ini tidak bisa dipertanggung jawabkan ya. Semua halu dan Authornya fakir ilmu.
Tolong jangan diikuti dan jangan dipakai atau disamakan dengan hukum yang nyata.
Maaf banget. Mau dibuat tanpa menyebut agama, udah terlanjur. Mohon maafkan kesalahan author yaa.
*****
Dalam ilmu yang Adip pahami, syarat sah menikah dan agar menikah itu tidak menjadi dosa, adalah tanpa keterpaksaan dari kedua belah pihak.
Meski niat di dalam hati berbeda- beda. Bisa karena ibadaah, cinta, menolong atau sebuah bakti. Yang pasti Adip hanya memastikan Jingga melakukan ini dalam keadaan sadar.
Jika orang menikah melalui kesepakatan bahkan yang tanpa pacaran pun melalui sebuah perkenalan dan persiapan. Adip hanya ingin menggenapi itu, memohon ijin pada Jingga meski dengan satu kata yang tidak selayaknya diucapkan, maaf.
Adip berfikir Jingga sudah tahu dirinya lah mempelai prianya. Adip mengira Jingga sungguh tidak ingin menikah denganya karena dia mendengar Jingga tak mau menikah. Itulah sebabnya hanya satu kata, yaitu maaf yang ada di fikiran sadar Adip sebagi perwakilan ungkapan ijin dan meminta ketersediaan.
“Bang Adip!” lirih Jingga dengan mata nanarnya.
Berbeda dari pikiran Adip. Jingga malah mau menangis bahagia. Sungguh Jingga seperti mendapatkan kejutan dan hadiah besar.
Jingga tidak tahu, ternyata pria yang duduk di sampingnya di depan penghulu desa itu adalah seorang yang dia tangisi karena dia takut tidak bisa bertemu lagi.
Pria yang membuat tidurnya selalu terlambat karena terus mengusik pikiranya selama seminggu ini. Bahkan sekarang juga Jingga ingin memeluk Adip erat, tapi sadar itu tidak mungkin Jingga lakukan.
“Maafkan aku Tuhan, aku salah berprasangka padamu, sungguh aku mau menikah, ampuni aku sudah berprasangka jelek!” batin Jingga berfikir sendiri senang.
Tapi tiba- tiba Jingga sedih karena Jingga berfikir dirinya sudah tidak perawan lagi.
"Tapi kasian Bang Adip?" batin Jingga lagi. Ah tapi kenapa Adip yang minta maaf? Adip juga yang bersedia menikahinya. Jingga pun tidak peduli yang lain ikuti saja apa yang seharusnya terjadi.
Jingga dan Adip sama- sama saling diam dengan pemikirannya sendiri- sendiri yang berkecamuk di kedua otak itu.
“Ehm... bagaimana? Sudah siap?” tanya penguhulu mempringati Jingga dan Adip. Dari tadi Pak Penghulu menunggu jawaban Adip tapi malah Adip kebingungan.
Adip dan Jingga yang sedang melamun tersentak dan langsung menoleh. Adip yang menunggu jawaban Jingga memilih diam.
“Saya siap!” justru Jingga yang spontan menjawab tegas.
“Huuuft...” Adip menghela nafasnya sungguh dheg- dhegan.
__ADS_1
Meski udara di malam itu terasa begituu dingin, tapi tidak bagi Adip. Adip sungguh panas kegerahan tidak karuan.
“Saksi? Mana saksi?” tanya penghulu mengabsen sarat- sarat terlaksananya menikah. Pak Anton dan sahabatnya yang sesama muslim menempatkan diri. Syarat seorang wali nikah kan harus seiman dan akhil baligh.
“Wali?” tanya penghulu lagi.
“Saya!” jawab Amer dengan gagahnya.
“Mas kawinya?” tanya penghulu mengulangi pertanyaan sebelumnya. Adip kan dari tadi baru bertemu Jingga, Adip belum sempat bertanya ke Jingga ingin mas kawin apa?
“Ehm!” Adip pun gekagapan dan kakinya menyenggol kaki Jingga.
Jingga pun menoleh tidak mengerti. Jingga baru sadar tiba- tiba disuruh nikah tentu saja Jingga bingung, terbayangkan pun tidak mau maskawin apa?
“Kau mau apa?” tanya Adip berbisik.
“Aku haus, aku mau minum!” jawab Jingga nyeletuk mengeluarkan isi kepalanya.
Selama dibius kan Jingga memang tidak sadarkan diri, Jingga belum makan dan minum dari siang. Terakhir minum es teh di warung bakso.
“Ehm...” Amer Adip dan penghulu saling pandang masih tidak mengerti, mereka mengartikan kata Jingga.
“Sungguh kau hanya ingin minum?” tanya Adip mengulangi.
“Ya... aku mau minum, bawakan aku air putih, segelas aja nggak apa- apa!” bisik Jingga ke Adip mencondongkan badan dan berbisik.
“Ya!” jawab Adip.
“Bawakan nona ini segelas air sebagai maskawin!” ucap Penghulu menghambil keputusan.
Amer kemudian garuk- garuk kepala dan menatap gemas ke kakaknya, kenapa kakaknya meminta maskawin segelas air putih. Pak Anton dan yang lain juga menatap lucu ke Jingga.
Sementara Jingga menggigit bibir bawahnya dengan tatapan polosnya celingak celinguk tidak menyadari dimana letak kesalahanya.
Berbeda dengan yang lain Adip mentap calon istrinya penuh haru dan syukur, maskawinya sangan mudah, hanya minum. Di hati Adip pun timbul keinginan membelai Jingga dengan penuh sayang, tapi semua dia tahan. Wajah polos Jingga membuat Adip semakin mengira Jingga sungguh tidak tahu apa- apa.
Adip pun berdiri pamit ingin dia yang mengambilkan air minum itu. Warga memberitahu, agar Adip mengambil minum dari mata air di pangkal tebing belakang tempat mereka berkumpul.
Tidakk lama Adip membawa satu teko dari tanah liat yang dia pinjam dari warga dan satu gelas bambu. Adip meletakanya di depan Jingga.
Tanpa dosa Jingga langsung mengambil gelas itu, menuangkan air dari teko itu dengan tangan lentiknya. Jingga langsung meminumnya tanpa malu. Semua orang hanya melihat Jingga lucu. Jadi pusat perhatian Jingga jadi keki sendiri.
“Ehmm...!” Jingga meletakan gelas dari bambu itu dan melirik ke Adip.
“Salah ya aku minum?” bisik Jingga ke Adip bertanya.
“Tidak!” jawab Adip tersenyum.
__ADS_1
“Sudah?” tanya penghulu.
Jingga mengangguk ikut saja. Penghulu pun mengajari Adip dan Amer melakukan ijab qobul, setelah itu memimpin acara pernikahan. Jingga hanya pasrah dan ikut saja.
Malam itu, di tanah terasing di Pulau Panorama di saksikan warga desa S dan Pak Anton, dengan menyebut nama Tuhanya, Adip mengikrakran janji pada Amer, bahwa dia menerima tanggung jawab sebagai suami Jingga. Sesuai dengan ajaran yang Adip yakini.
“Saya terima nikah dan kawinya, Jingga Putri Gunawijaya, dengan mas kawin segelas air putih...!” ucap Adip.
“Wuoah!” celetuk Jingga di samping Adip.
Saat Adip mengucapkan ijab qobul Jingga yang dari tadi ngebleng, sekarang nyanthol kenapa semua orang memperhatikan Jingga minum. Ternyata jawaban Jingga diartikan sebagai permintaan maskawin, dirinya pun merutuki kekonyolanya diri sendiri.
“Haish...” desis Adip dan Amer menghentikan ijab qobul mendengar celetukan Jingga.
Semua orang kemudian menoleh ke Jingga lagi. Adip dan Amer pun kompak kakinya menyenggol kaki Jingga.
“Apa aku salah menyebut namamu?” bisik Adip.
“Tidak lanjutkan saja!” jawab Jingga menunduk menahan tawanya sendiri. Kenapa Jingga baru sadar kalau dia tadi minta minum saat Adip meminta mas kawin. Ah ya sudahlah yang penting nikah saja.
“Bagaimana? Bisa diulangi dan dilanjutkan? Ada yang mau disampaikan?” tanya Penghulu.
“Maaf tidak ada!” jawab Jingga
Adip dan Amer kembali berjabat tangan dan melanjutkan ijab qobul dengan serius. Dengan satu nafas Adip berhasil mengikrarkan dengan benar. Penghulu dan saksi kemudian menyatakan sah. Mereka pun mengaminkan doa yang dipimpin pemuka agama setempat.
Tuan Guru tua dan warga primitif yang mempunyai kepercayaan lain hanya menyimak. Lalu merek menyuruh Adip dan Jingga tetap tinggal di desa itu selama tiga hari. Lebih tepatnya di gubug hukuman di atas bukit.
Jinggga yang tidak tahu apa- apa hanya mengangguk angguk memperhatikan dan menghubung- hubungkan sendiri. Warga pun mengantar Adip ke bukit hukuman.
“Terima kasih, Pak, doakan 3 hari kedepan matahari bersinar terang!” tutur Adip ke Pak Anton.
“Ya!” jawab Pak Anton.
Jingga yang dari tadi di kepalanya berputar- putar banyak sekali pertanyaan akhirnya dengan tengilnya, mendekat ke Adip yang berdiri melihat pohon pinang tempat dirinya tadi. Jingga kemudian menoel siku Adip.
Adip yang sedang termenung jadi kaget danh heran sendiri.
“Apa?” tanya Adip.
“Emm... ehm!” Jingga kikuk dan mengusaptengkuknya.
Amer yang berdiri di dekat Adip ikut geli melihat kakanya centil- centiil dengan wajah tersipu begitu, beda sekali dengan tadi saat belum sadar.
“Apa?” tanya Adip lagi.
“Jadi kita sekarang suami istri?” tanya Jingga.
__ADS_1
“Ehm!” Adip pun berdehem malu. “Ya... sepertinya begitu?”