Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
36. Mulai nyaman bercerita


__ADS_3

Meski dzuhur belum tiba, Jingga, Uti dan Tari sudah lebih dulu wudzu dan bersiap. Meski terlihat tomboy dan rambutnya acak- acakan ternyata Uti dan Tari muslim yang taat. Bahkan Uti dan Tari menunda makannya, dia pesen dua soto ke Bu Kantin dan menyampaikan makan setelah sholat. 


“Gue baru liat lo sholat di mari Jing?” tanya Tari. 


“He.. iya, soalnya supir papahku hari ini nggak jemput, terus jam satu aku harus nemuin seseorang, makanya aku sholat di sini. Biasanya kan jam segini supirku udah stand by, aku sholat jamaah sama Bunaku!” jawab Jingga polos. 


“Oh gitu, keren ya keluargamu ternyata!” sahut Uti. 


Mereka bertiga memkai mukenah bersama. Jingga ternyata membawa mukenah sendiri, karena Bunanya memang selalu mengajari Jingga untuk membawa mukenah saat bepergian. Sementara Tari dan Uti memakai mukenah masjid. 


“He... Bunaku memang keren, dia idolaku, tapi aku nggak mau kaya dia!” jawab Jingga. 


“Kenapa? Katanya idola?” jawab Tari. 


“Aku mau jadi perempuan karir dan bisa terbang kemana gue mau! Kaya kalian berdua!” ceplos Jingga polos. 


“Maksud Lo?” tanya Uti. 


“Bunaku sebenarnya dokter, baik sih, tapi Bunaku mengorbankan karirnya demi babaku dan kami” ucap Jingga curhat. 


“Oh gitu, itu kan pilihan Jing, tergantung Lo dan suami lo nanti!” jawab Tari. 


“Kalian mau tau nggak?” tanya Jingga berbisik. 


Karena Jingga duduk di tengah, Tari dan Uti kemudian mendekat mengapit Jingga. 


“Apa?” tanya Tari dan Uti kompak. 


“Bunaku hamil coba, padahal usia bunaku udah hampir 50 tahun!” keluh Jingga dengan muka memelasnya. 


“Hoh!” Tari dan Uti serempak menutup mulutnya kaget dan menjauh kan wajahnya dari posisi mereka yang sempat merapat. 


“Ini rahasia. Cuma kalian berdua yang aku kasih tau. aku tuh mau punya adik 6 tau nggak?” keluh Jingga lagi. 


Tari dan Uti langsung menelan ludahnya. Entah kenapa, meski baru mengobrol dan bertemu, Jingga merasa nyaman curhat dan mengeluarkan unek- uneknya pada Tari dan Uti. Jika curhat ke Amora dan yang lain, pasti Jingga dibully. 

__ADS_1


“Anak itu rejeki Jingga, aku aja pengen punya adik kok!”celetuk Uti. 


“Kamu anak tunggal?” tanya Jingga. 


“Huum, sepi Jing, ibuku hamil aku aja lama, alhamdulillah ada aku, tapi susah punya anak lagi! bersyukurlah kamu punya saudara banyak nggak kesepian, lagian orang tuamu kan kaya. Jadi Alloh menempatkan hambanya di tempat yang tepat, agar dididik dengan cara yang baik. Gue sih salut sama Buna lo!” jawab Uti. 


“Iya bener Jing, lo nggak perlu malu. Gue anak terakhir, saudara gue 2, setelah mereka menikah kakak- kaka gue ikut suaminya, gue aja sering kepikiran karena gue jauh dari mereka. Kalau anak banyak, orang tua lo nggak akan kesepian!” tutur Tari menambahi. 


“Oh gitu? Bener kalian nggak bully aku?” tanya Jingga. 


“Enggaklah, aku malah suka banget sama anak kecil!” jawab Uti. 


Jingga kemudian mengangguk, Uti dan Tari menyadarkan Jingga untuk tidak mengegrutu dan kesal dari takdirnya menjadi anak pertama. Kalau dipikir perkataan Uti dan Tari ada benarnya. 


Muadzin menempatkan diri memegang mic, suara adzan dikumandangkan. Terdengar merdu dan masuk ke relung hati. Jingga yang jarang jamaah ikut merinding, duduk di dalam masjid yang besar dan megah. Jika di dalam ruangan begitu, adzan benar- benar masuk ke hati. Entah kenapa Jingga ada rasa suka dan menyesal kenapa baru sekarang Jingga ikut jamaah di masjid itu. 


Satu persatu shaf terisi, baik dari dosen dan mahasiswa. Jingga baru tahu ada banyak orang baik di kampusnya. Dari wajah mereka semua memancarkan tatapan ramah. Saat mengenakan mukenah semua wajah terlihat sama. Tidak kentara mana anak sultan dan mana mahasiswa biasa. Berbaris menjadi satu. Setelah shaf penuh bertepatan Imam datang. Sholat jamaah dimulai. 


Setelah beberapa saat, imam mengucapkan salam. Entah kenapa Jingga ingin menangis. Padahal tidak ada hal yang membuatnya sedih, intinya Jingga jadi ingin sholat jamaah lagi. 


“Makan yuk!” ajak Tari setelah melipat  mukenah.


“Oh oke, hati- hati ya!” ucap Uti tulus Jingga mengangguk membiarkan teman- temanya pergi. 


Jingga kemudian mengambil sepatunya dan memakainya. Saat Jingga menoleh ke arah samping. Jingga langsung tersentak kaget. 


“Bapak!” pekik Jingga mengelus dada. 


“Aku baru tau lho, kamu sholat di sini?” ucap orang itu yang tak lain Pak Rendi. 


“Ishh!” Jingga mendesis kesal, kemudian menatap sekeliling. 


“Bapak ngapain di sini?” tanya Jingga kesal sambil menunduk dan mendesis. 


“Nungguin kamulah!” jawab Pak Rendi biasa saja. 

__ADS_1


“Sssshh, pak please ya Pak! Ini kampus, tolong bapak jaga sikap bapak!” ucap Jingga lagi geram. 


“Emang kenapa?” tanya Pak Rendi biasa saja. 


“Pak Ingat perjanjian kita. Saat di kampus, tolong profesional. Kita ketemu di mobil!” ucap Jingga lagi masih tidak mau menatap Pak Rendi. 


“Oh, oke!” jawab Pak Rendi. Demi mendapatkan hati Jingga Pak Rendi patuh. 


“Bapak tunggu di mobil ya!” 


“Di luar kampus depan toko Ban!” ucap Jingga lagi memberitahu. 


“Jauh amat? Kamu nggak capek?” tanya Pak Rendi lagi. 


“Nggak!” jawab Jingga ketus bangun berdiri memegang erat tasnya dan pergi. Jingga mengacuhkan Pak Rendi seakan mereka tidak sedang mengobrol. Jingga melewati jalan yang berbeda dari Pak Rendi. 


Pak Rendi hanya bisa menatap punggung Jingga menjauh sambil mengulum lidahnya. 


“Untuk medapatkan berlian memang harus berjuang lebih keras!” batin Pak Rendi. 


Pak Rendi akirnya bangun. Sesuai dengan rencana setelah mengemasi meja kerjanya Pak Rendi menuju ke mobil, melajukan mobilnya ke tempat yang ditujukan Jingga. 


Meski harus melewati terik dan berjalan kaki agak jauh, Jingga rela. Jingga tidak mau ada temanya tau Jingga kenal dan dekat dengan Pak Rendi apalai dijodohkan. Kalau bisa Jingga ingin kabur, tapi mengingat ancaman nikahnya dipercepat Jingga terpaksa menemui Pak Rendi. 


**** 


Di kafe Serenity. 


Adip memarkirkan motornya di parkiran motor. Sangat longgar, karena rata- rata pengunjung kafe itu bermbil. Motor yang ada adalah motor pegawai kafe dan beberapa ojek online. 


Adip mengintip ke kaca melihat wajah maconya. Masih dengan pakaian tadi pagi yang dia kenakan Adip berjalan percaya diri. Meski aroma parfumnya sudah hilang dan bajunya sudah mulai bercampur keringat karena Adip sudah banyak bekerja menerjang jalanan yang terik Adip tidak peduli. Pikir Adip yang penting sudah memakai deodorant. 


Bertemu dengan Pak Menteri atau President sekalipun, Adip akan jadi diri sendiri. Menjadi Adip yang santai, apa adanya dan sederhana. Prinsip Adip yang terpenting adalah, tidak menyakiti orang lain. 


“Hai dokter Adip!” sapa seseorang berpenampilan sangat elegan, berdiri dari sebuah ruangan khusus di kafe itu. 

__ADS_1


Adip menganggukan kepala tanda iya. Adip kemudian berjalan menuju ke tempat laki-laki matang yang tampak berwibawa dan sangar itu. Dia adala Dokter Gery. 


“Selamat Siang, Dok!” sapa Adip. 


__ADS_2