Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
175. Tidak akan ada yang Patah


__ADS_3

"Pyaaakkkk....Pyuuuukkkk,"....


Deburan ombak, dengan gelombang yang begitu hebat akibat badai terdengar menghantam perahu besar itu. Getaran pun sangat terasa bagi penumpang yang kadang condong ke kanan, kadang juga ke kiri.


Untuk yang biasa bersahabat dengan dewa bahari mungkin akan terbiasa dengan goyangan yang membawa sensasi yang tak terjemahkan itu. Berbeda dengan Jingga yang baru pertama naik kapal.


Awal saat cuaca cerah suasana memang begitu syahdu, apalagi jika dewi rembulan berbaik hati menyapa malam dengan anggunya.


Pantulan cahayanya yang menyentuh air menciptakan kilauan yang sangat indah.


Akan tetapi saat mereka bersembunyi, mengungkapkan gelap yang tak terbaca, bahkan langit mencurahkan sedih dengan guyuran deras airnya. Keadaan akan berbalik.


Susana menjadi gelap, badai sampai terdengar membentak ke telinga. Seakan dunia hampir usai sampai di situ saja.


Jingga takut bukan main, semua bayangan tayangan film- film yang selama ini dia tonton datang menyergapnya.


"Hiks.. kalau aku tenggelam sekarang aku tetap syahid kan? Apa aku akan meninggal debagai anak durhaka karena melawan Baba?"


"Hiiiks hiiikss...," Jingga ketakutan mendengar suara petir yang menyambar.


"Ya Alloh, aku tetap sayang Baba dan Buna, tapi Baba nyebelin. Sebenarnya Baba kena sihir apa sih dari Pak Rendi itu. Jingga nggak pengen nikah sama dia. Engkau Maha tahu kan Ya Alloh. Kalau aku meninggal tenggelam sekarang, aku masih tetap syahid kan?"


"Bang Adip beneran suami aku kan? Kata orang kalau aku udah menikah, suami itu lebih utaama dari orang tua kan? Berarti perjalanku baik kan? Haaah" Jingga bahkan menimbang dosa yang akan dia hadapi di hisabnya nanti jika itu hari terakhirnya.


"Aaaah, tapi sebenarnya yang benar pernikahanku itu sah nggak sih?" gumam Jingga lagi.


"Kalau gitu, desa yang harus kunjungi pertama adalah desa Semilir, aku harus tanya pada pemuka agama di sana itu?"


Jingga pun berperang sendiri dalam batinya. Sebagai anak didikan Buna, sebenarnya kabur dari rumah juga merupakan hal yang dilarang. Jadi Jingga tetap ada perang batin dan ada rasa bersalah.


Hanya saja dia juga cukup jengah dan tidak sanggup jika harus mengorbankan hidup dan cintanya pada orang yang salah.


"Tuhaan...kapan aku sampai dan mendarat? Pleaase. Selamatkan aku, aku masih ingin hidup...Hiks..., Semoga aku nggak tenggelam. Aku nggak mau mati tidak terhormat karena kabur. Aku harus ketemu Bang Adip. Aku juga harus dapatkan kejelasan tenrang pernikahanku ini?"


Jingga duduk di kamarnya memegang tas pakaianya sangat kencang. Jingga terus berdoa agar badai berlalu dan ombak kembali normal.


Sudah berhari- hari Jingga menghabiskan waktu di atas laut.


"Byuuur...," hantaman badai terdengar lagi, rupanya bukan reda, badai justru lebih kencang. Jingga pun merasakan guncangan hebat lagi.


"Hoeeeek...," akhirnya Jingga tidak kuat menahan pusing dan akhirnya muntah.


Jingga yang pergi karena kabur dan memilih jalur laut dadakan, karena melihat anak buah babanya lupa membeli bekal obat-obatan.


Sekarang hasilnya Jingga mabuk laut.


Untung saja di kapal itu ada tim medisnya. Jadi Jingga tertolong.


satu hari berlalu Jingga berbaring di ruang perawatan. Jingga tidak tahu kalau Babanya sudah 4 hari sampai lebih dulu.


"Sus..." panggil Jingga ke salah satu perawat yang menolongnya setelah pusingnya hilang.


"Iya Kakak,"


"Kapan sih kita sampai ke daratan?" tanya Jingga sudah sangat putus asa.


"Ini kita sudah mau mendarat, kakak...tuh lampu mercusuar sudah mulai terlihat," tutur perawat menunjuk satu titik nan jauh di sana berwarna keemasan.


"Benarkah?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan hatinya mengembang sempurna.

__ADS_1


Jingga langsung berjingkat dan bangun dari berbaringnya.


"Iya...karena kemarin arah ke pulau seberang ada badai, jadi perahu ini tidak mampir ke dua pelabuhan seharusnya. Kita ambil arah lanjut ke tujuan utama, kita sampai 1 hari lebih cepat," tutur perawat memberitahu.


"Benarkah?" Tanya Jingga semakin girang, Tuhan mendengar doanya.


"Huuum,"


"Hoooh, alhamdulillah, itu berarti kita selamatkan? Kita nggak akan mati karena kapalnya tenggelam kan?" tanya Jingga dengan polosnya.


Perawat yang biasa berlayar malah tersenyum.


"Kakak baru pertama ya, naik kapal?"


"Iya," jawab Jingga malu.


"Selama nggak ada karang, nggak ada kebocoran, atau kerusakan mesin dan bahan bakar cukup insya Alloh selamat Kaak, badai hujan biasa Mah"


"Tapi aku pusing sekali, pas kapalnya goyang- goyang rasanya kaya mau tenggelam tahu, Haah, ternyata begini rasanya berlayar?" ceplos Jingga lagi. Makanya Jingga mutah-mutah dan hampir pingsan.


Perawat tertawa lagi mendengar cerita Jingga yang terdengar alami dan jujur.


"Kok ketawa sih?" tanya Jingga manyun dengan wajah menggemaskanya.


"Yang namanya di kapal kalau pas ada gelombang emang gitu Kak. Tapi nggak apa kok. Biasa mah. Emang kakak, darimana mau kemana Kak?" tanya perawat lagi.


"Dari Ibukota, mau susul suami ke Pulau Panorama," jawab Jingga malu- malu.


"Oh gitu? Aku kira Kakak masih sekolah udah punya suami toh ternyata?" jawab perawat.


Jingga memang sangat cantik dan terlihat belia.


"He...," Jingga tersenyum malu - malu sampai pipinya merona dikira anak sekolah.


"Suaminya asli orang Panorama atau hanya kerja Kak?" tanya perawat lagi.


"Kerja,"


"Oh gitu," jawab Perawat dan memberikan obat ke Jingga. "Ini obatnya diminum ya Kak, saya pamit dulu, tenang aja bentar lagi sampai, udah rindu sama suami ya Kak?" tutur perawat berpamitan.


"Iyah," Jingga mengangguk tersenyum dengan wajah cantiknya.


Seketika pusing Jingga hilang berganti semangat membara. Bayangan wajah tenang cool dan dewasa Adip nampak di depan mata Jingga. Rasanya Jingga sudah tidak sabar berlari, memeluk dan menyandarkan kepalanya yang pusing di dada Adip.


"Aah waktu cepatlah berlalu,"


Ombak di luar sana juga mulai tenang, tinggal angin laut yang mengalir sebagai mana mestinya, mengantarkan menepi ke arah daratan tanah Panorama.


****


Beberapa jam lalu.


Dalam hati Baba sebenarnya ingin tersenyum bangga pada pria yang sejak hari kemarin mencuri hatinya, dari cerita- cerita warga.


Baba juga menahan tanganya yang sebenarnya gatal ingin menepuk punggung Adip, merengkuhnya dengan penuh syukur dan haru.


Diam- diam, Baba mulai sayang pada Adip saat melihat Adip tanpa jijik mencucikan pakaianya.


Akan tetapi Baba tetaplah Baba. Kesalnya karena dicueki belum hilang.

__ADS_1


Apalagi Baba merasa sebagai seorang ayah yang merawat dan membesarkan Jingga. Baba tau jika menikah nanti, Jingga bidadari cantiknya akan mempersembahkan surga dunia yang indah. Yang nikmatnya tiada tara bagi Adip. Seperti Buna yang menjelma menjadi candu buat Baba sampai Buna masih hamil di usia tua.


Baba merasa sama saja membangunkan surga untuk Adip dengan merawat Jingga.


Baba tidak rela dan jadi sentimen kalau Adip dengan mudah mendapatkan keindahan dunia itu.


Adip tetap harus melewati ujian dari Baba.


Baba tidak mau menyia- nyiakan kesempatan, pumpung tidak ada Buna dan Jingga Baba mau bertindak sesukanya.


"Ehmm...," dehem Baba masih jual mahal tidak menjawab beri restu atau tidak.


Adip masih diam menunggu jawaban Baba. Suasana hening dan menegangkan, burung malam yang menguping kemudian mengeluarkan suaranya ingin tertawa dan memecahkan suasana.


"Aku perlu memikirkan keputusanku," jawab Baba gaya dinginya.


Adip diam menelan ludahnya menahan sabar, "Susah amat bilang iya, ngapain jauh- jauh ke desa kalau menemuinya kalau nggak mau setuju?" batin Adip dengan terus mengulur ususnya.


"Saya percaya, Tuan Ardi orang bijaksana dalam memberi keputusan, saya akan menunggu itu," tutur Adip berusaha tetap tenang, meski suasananya mencekam.


"Ehm...," dehem Baba lagi.


Kini tingkahnya mulai aneh dengan menghentak-hentakan kaki dan tangannya.


Adip pun tanggap melihat tingkah kembaran istrinya versi cowok tua yang tadi tegang jadi melunak dan lucu.


"Ada apa Ba?" ceplos Adip manggil Baba, Ba lagi.


"Badanku terasa sangat pegal," jawab Baba juga tidak protes lagi dipanggil Ba, ternyata Baba sedang memberi kode.


"Ehm...," Adip berdehem menahan senyum, kenapa nggak terus terang aja sih ingin dipijit.


"Sepertinya Anda, perlu dipijat Tuan, boleh saya pijat?" tanya Adip sopan lagi dengan tebakanya, Adip pun mengikuti permainan Baba.


"Memang kamu bisa mijat?" tanya Baba jual mahal.


"Insya Alloh bisa,"


"Punya sertifikat nggak? Bisa jamin nggak mijatnya aman? Awas lho ya, saya biasa pijat di tukang pijat profesional. jangan - jsngan nanti patah lagi tulangku?" ucap Baba dengan gayanya.


Sebenarnya Adip menahan dongkol ingin tonjok Baba mendengar ucapanta, tapi calon mertua.


Pengen dipijit aja kode- kode, ngehina lagi, sumpah gayanya selangit. Adip pun memilih sabar demi pujaan hatinya.


"Saya jamin tidak ada satu bagian pun yang patah. Saya biasa jadi tukang pijat keliling selama tinggal di asrama, kok!" jawab Adip ngeles.


"Hmmm," dehem Baba.


"Mari...," ajak Adip masuk kalau Baba mau dipijit.


Baba yang sengaja memang ingin dipijit pun masuk. Di dalam Pak Dino sudah tidur, Amer dan Pak Nur sedang bermain ponsel.


Amer sampai heran melihat Baba dipijit Adip. Sampai diam- diam di sisa bateray ponselnya yang mau mati, Amer mengabadikan moment itu.


Adip pun mulai memijit Baba dari ujung kaki sampai ujung kepala. Di sela- sela menikmati sentuhan tangan Adip, Baba terus menanyai Adip. Dimana Adip sekolah? Siapa orang tuanya dan sekarang dimana?


Tak terasa mereka akrab dalam waktu dekat, meski Baba belum bilang "ya" dan membahas pernikahan, tapi sekarang mereka pantas seperti sepasang anak dan ayah.


Sampai- sampai saat Adip menjawab pertanyaan apa yang membuat orang tua Adip meninggal. Tak ada respon lagi dari Baba. Adip memeriksa ternyata Baba sudah tidur.

__ADS_1


"Huuuuft....,"


Adip menghela nafas dan mengelap keringat di keningnya. Perjuangan yang melelahkan ternyata berakhir juga. Memijat Baba yang berbadan tinggi besar sungguh menyita banyak tenaga.


__ADS_2