Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
Ikhlas


__ADS_3

Tidak peduli apa yang terjadi di bawah. Adip masuk ke kamar istrinya dengan mengatupkan kedua bibirnya. Tidak menoleh sedikitpun ke belakang atau ke samping. Adip langsung naik ke kasur dan berbaring menyamping.


Jingga benar- benar kalang kabut, mendapatkan perubahan sikap suaminya yang selalu hangat dan memanjakanya. Rasanya sesak dan sakit..


Dulu saja, sebelum kenal belum jadi apa-apanya Adip bersikap cuek Jingga tersinggung apalagi sekarang.


"Baaang... Abang kok malah marah sih?" tanya Jingga meraasa pusing.


Adip diam dan malah semakin meringkuk membelakangi Jingga.


Jingga tidak paham bagaimana membujuk orang cemburu.


"Iiiihhh....," Jingga malah berdecih dan merasa mentok. Jingga jadi kesal sendiri.


Jingga merasa kan Jingga melakukan hal yang benar, hendak menyelamatkan adiknya. Adip tanya ya Jingga jawab.


Bukanya meluluhkan Adip, Jingga jadi kesal dan sedih. Jingga ikut- ikutan diam dan lalu memilih iku tidur menyamping.


Adip yang sedang mogok, diam, cemburu dengan isi otak yang datang beterbangan membayangkan istri cantiknya yang dulu belum berhijab berdekatan dan berduaan dengan pak Rendi.


Ah Rasanya sangat tidak rela membayangkan Jingga berdua satu mobil dengan Rendi itu. Entah apa yang ada di otak Pak Rendi si Pria matang yang seharusnya sudah punya setidaknya satu balita. Tidak mungkin tidak berfikir banyak.


Adip pun sebenarnya menunggu Jingga merayunya. Menjelaskan juga kalau tidak terjadi apa- apa.


Adip ingin dengar Jingga hanya cinta ke dia tidak peduli apapun tentang Rendi lagi. Lalu memeluknya, kemudian mengajaknya enak- enak. Adip kan sangat suka kalau Jingga yang agresif.


Adip kan ingin memuaskan adik kecilnya sebelum nanti harus kembali membujang untuk waktu yang tidak sebentar.


Sayangnya suasana kamar sesaat sepi hening. Tak seperti mau Adip. Mereka berdua saling diam.


Keduanya malah sama- sama memendam kesal dan sesak. Bukanya saling mengalah, mereka malah sama- sama menuntut dimengerti dan saling membelakangi.


"Kenapa Jingga malah diam sih?" gumam Adip kesal, tapi masih gengsi menoleh.


"Suka sekali dia membahas dosen itu. Detail banget lagi ingat semua momentnya. Momen denganku saja dia lupa!" gerutu Adip


Sementara Jingga juga sama.


"Kenapa semua orang nggak ada yang mengerti aku. Semuanya jahat. Bisa- bisanya dosen bangkotan itu jadi adik Iparku. Aaah kenapa harus Nila sih. Bang Adip juga bisa- bisanya dia diemin aku. Kenapa susah sekali mengerti maksudku? Aku nggak bisa ngerti arah pikiranya kemana sih?" gumam Jingga ikut kesal.


Jingga yang ***** dan mudah tidur kelamaan diam, lama- lama malah ngantuk.


Justru Adip yang menunggu dirayu dan menahan gemas masih terjaga.


Sekitar 30 menit Adip menunggu respon Jingga ternyata cukup pegal. Adip kemudian menyerah membalikan tubuhnya dan mengintip.


"Haiiisshhh...," desis Adip sangat kesal.


Jingga benar- benar tidak peka jadi istri. Bisa-bisanya suaminya cemburu malah ditinggal tidur.


Adip menegakan tubuhnya dan setengah duduk bersandar pada dinding kasur Jingga yang empuk.


"Hhhh.. Jadi Abang benar- benar tidak berarti buat kamu. Bisa- bisanya kamu tidur biarin Bang Adip terjaga sendiri? Kenapa nggak ngerti sih?" omel Adip bicara sendiri kesal dan mendadak berkecil hati.


Adip murung lalu tidur lagi terlentang menatap langit- langit.


Tapi rupanya Adip tidak tahan sendiri bicara sendirian. Ternyata punya istri yang manja dan tidak peka sangat menguras emosi. Bahkan cemburu saja salah.


Adip pun terpaksa mengalah, dengan iseng Adip menggerakan tanganya menoel Jingga.


Tidak bergeming.


Adip kesal.


Lalu menoel lagi.


Masih tidak bergeming.


Akhirnya Adip bergerak kasar dan menggoyangkan tubuh Jingga yang menyamping agar menghadapnya.


"Sayang bangun!" keluh Adip kesal membangunkan Jingga.


Jingga pun membuka mata. Karena belum lama tidur sebenarnya Jingga baru terlelap belum pulas sangat, pas Adip bicara sendiri Jingga jadi bangun.

__ADS_1


Jingga jadi merasa menang. Jingga pun semakin menunjukan marahnya dengan menunjukan wajah cemberut. Harus Jingga yang dirayu. Ya Jingga tidak mau kalah dan selalu ingin dimengerti dalam hal ini.


"Sama suami kok manyun gitu?" gerutu Adip tidak tahan sendiri Jingga cemberut.


"Yang diemin dulu siapa?" jawab Jingga masih manyun.


"Hhhhh...," Adip menghela nafas memancing ingin dimengerti.


"Tuh kan? Hh...," balas Jingga malah kembali cemberut dan memiringkan badanya.


"Haaaisssh!" desis Adip gemas dan kemudian menarik tubuh Jingga kembali menghadapnya.


"Apa sih?" jawab Jingga malah marah.


"Kok malah kamu yang marah?" tanya Adip.


"Ya emang siapa harusnya yang marah?" jawab Jingga lagi


Adip pun menelan ludahnya gemas..Kenapa Jingga tidak juga mengerti betapa terbakarnya hati Adip.


"Kamu nggak sadar juga?" tanya Adip.


"Sadar apa?" jawab Jingga.


"Ck!" Adip pun berdecak kesal.


"Yang harusnya marah tuh Jingga!" jawab Jingga.


"Abang!"


"Apa alasanya Bang Adip marah?" tanya Jingga balik


"Kamu masih tanya lagi? Nggak ngerti? Ya udah kamu emang nggak cinta ma Bang Adip. Ya udahlah Bang Adip pulang ajalah!" ucap Adip akhirnya menggunakan jurus mengancam agar Jingga mengerti. Adip pura- pura mau turun dari kasur.


"Oh Abang mau pulang. Mau ninggalin Jingga. Ya udah berarti Bang Adip yang nggak cinta sama Jingga! Soook... sook sana pulang. Biar aja. Aku di sini sendirian!" jawab Jingga cerdas tidak mau kalah.


"Hhhh....," mentok. Perempuan memang selalu benar dan menang. Adip tidak bisa meminta manja. Adip yang harus dewasa.


"Kenapa kamu nggak ngerti juga sih. Bang Adip itu cemburu!" jawab Adip akhirnya.


"Ooh Bang Adip cemburu?" jawab Jingga malah meledek.


"Kok ketawa sih?" tanya Adip mengernyit


Jingga tersenyum lagi.


"Tak cium lho kamu. Malah ngetawain?" ucap Adip lagi.


"Ya Bang Adip aneh. Kenapa juga harus cemburu?"


"Kok aneh sih?"


"Ya apa alasan bang Adip cemburu? Jingga itu ikut kelas inspirasi kabur dari rumah. Demi biar batal nikah sama pak Rendi. Jingga milih Bang Adip. Jingga lah yang harusnya marah ke Bang Adip. Kenapa Bang Adip tidak juga ngerti Jingga? Jingga beneran khawatir sama Nila!"


"Bang Adip nggak suka kamu ingat semua rayuanya. Ternyata kamu pernah dijemput segala sama dia!" jawab Adip lagi.


"Dosen dan mahasiswa Bang. Nggak ada yang lebih!"


"Nggak ada sentuhan?"


"Nggaklah!"


"Berduaan?"


"Di kampus Bang. Lagian kurang apalagi bukti cinta Jingga Bang? Jingga tutup aurat Jingga buat Bang Adip. Bang Adip juga tahu sendiri, mahkota Jingga utuh buat Abang! Bang Adip yang pertama buat Jingga. Jingga akan patuj sama Abang. Semua yang Jingga punya jadi milik Bang Adip juga!"


"Ya udah iya. Tapi tetep aja kurang?"


"Kurang apalagi?"


"Nggak peka sama suami!" jawab Adip sekarang gantian manja. Puas kalau Jingga merayu.


"Iiiissshh, Bang Adip juga nggak peka sama Jingga malah nggak percaya. Jingga marah lagi aah," jawab Jingga manyun lagi menang lagi.

__ADS_1


"Jangan!" jawab Adip kalah lagi. Adip pun kembali narik Jingga agar menatapnya.


Mereka kemudian saling tatap dan berhiimpitan. Adip kemudian menarik Jingga masuk ke dalam pelukanya.


"Jangan sebut nama laki- laki lain apalagi memikirkanya di hadapan Abang," ucap Adip memeluk Jingga erat dan meminta.


Jingga pun menerimanya, beringsut dan berlindung menghirup aroma suaminya.


"Maaf Jingga tidak bermaksud begitu. Jingga hanya terlalu Sayang Nila,"


"Pokoknya jangan bahas lagi!"


"Apa Bang Adip benar- benar cemburu?"


"Sangat!"


"Bagaimana rasanya cemburu?" tanya Jingga ngeles.


Sontak Adip kesal Jingga malah seakan meremehkanya, moment romantis masih saja bikin kesal.


Adip melonggarkan pelukanya.


"Sesak! Bang Adip nggak suka! Pokoknya jangan bahas lagi. Titik!"


"Uluh galaknya. Ya itu, Bang, yang Jingga rasain kalau Bang Adip dekat dengan perempuan lain dan pergi tanpa Jingga. Jingga sangat sesak Bang! Jingga nggak bisa berhenti mikirin Bang Adip," tutur Jingga dengan mata beningnya malah curhat masih berharap Adip memikirkan keputusan LDR nya.


Adip diam tidak menjawab, Adip kembali memeluk Jingga.


"Jingga nggak bisa bayangin Bang... Jingga harus memanggil dia adik. Tanpa Bang Adip di sisi Jingga. Jingga cuti kuliah aja yaa! Jingga ikut Bang Adip aja ya!" ucap Jingga lagi.


"Nggak! Bang Adip ingin buktikan kalau menikah itu bukan penghalang seseorang untuk berkembang Sayang. Buktikan dengan kita menikah dan cinta kita bawa dampak positif. Tetap lanjutkan kuliahmu. Hanya satu minta Bang Adip. Berhenti mikirin dia. Percayalah, kalau memang dia bukan jodoh Nila. Pasti akan ada hambatan dan halangan yang membuat pernikahan mereka batal! Sama kaya kita. Kita juga harus percaya, itu pilihan Nila. Dia sudah akhil baligh kan?"


"Kalau terjadi?"


"Ya itu berarti dia jodoh Nila. Berhentilah memikirkanya mulai sekarang. Abang mohon. Ikhlaskan!"


"Ya!" jawab Jingga.


"Yakinkan ikhlas?"


"Ikhlas tapi khawatir Bang!"


"3 tahun cukup koj buat Nila dewasa hadapi masalahnya sendiri, kamu kalau sayanh sama dia. Doakan saja Alloh tumbuhkan cibta di hati pak Rendi. Semua bisa terjadi kan. Kaya kita?"


"Ya.. iya Bang. Jingga ikhlas!"


"Bagus!"


Adip pun tersenyum mengecup rqmbut Jingga.


"Bang Adip pengen...," bisik Adip tanganya bergerilnya ke bawah.


"Pengen apa?"


"Masa nggak tahu?"


"Kita belum Isyaan, Bang!" jawab Jingga tumbenan Jingga yang mengingatkan.


"Ya udah. Yuk sholat!" ajak Adip semangat 45. Menguraikan pelukanya hendak turun wudzu dan ingin segera sholat.


"Bang.. ," panggil Jingga menghentikan langkah Adip.


"Ya!"


"Nanti jangan kasar dan over kaya kemarin malam ya!"


"Iyah... tapi bukanya kamu lebih suka sedikit kasar?" tanya Adip.


"Tapi efeknya perih, ternyata ada yang lecet!" jawab Jingga manyun dan menunduk.


Adip tersenyum kemarin merka di rumah Adip memang bermain sepuasnya.


"Okeh. Malam ini kita main lembut, yuuk buruan!" jawab Adip menggandeng istrinya ke kamar mandi.

__ADS_1


****


Maaf ya.. kalau alurnya udah minin konflik. Doain ya Kaak. Level Jingga naik sebelum tamat. Aamiin.


__ADS_2