Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
73. Iblis jahat.


__ADS_3

Obrolan malam di kamar laki-laki.


Meski saat mengobrol Adip tak pernag melibatkan Jingga masuk di dalamnya ternyata saat malam, mereka menikmati kopi bersama Adip menyampainan ke petugas puskesmaa bahwa peserta ruang Inspirasi ada mahasiswa kedokteranya.


"Waah bagus itu. Kebetulan di desa T dan desa P memang Nakesnya lagi cuti! Jadi bisa bantu kita!" jawab seorang mantri (perawat laki- laki yang sudah bekerja lama di kecamatan MR situ).


"Iya mereka memang di tempatkan di dua desa itu!" jawab Adip.


"Bisa- bisa... tolong sebelum berangkat ke desa T. Kita adain rapat dulu bareng dokter Markus (dokter yang sudah tetap di situ) dan dokter Reza juga!” pinta Pak Martin, Mamntri kondang yang pasienya lebih banyak ketimbang dokternya. 


“Oke, ini si Aji ketua timnya Tari, sampaikan ya Ji!” ucap Adip ke Aji. 


“Siap Bang!” jawab Aji bersemangat. 


**** 


Pagi harinya.


Setelah sampai di tempat yang ditunjukan, Jingga dan Tari terbengong melihat keadaan kamar mandinya itu. 


“Ini benar kamar mandinya? Ini kamar mandi ketua suku di kecamatan begini?” tanya Jingga dengan ekspresi kecewanya. Jingga menatap sekeliling, ada bilik kayu dan satu tempayan berisi air. Satu bilik lagi tempat membuang air besar. Di situ tidak ada kran, tidak ada paralon apalagi water toren. 


Jingga melotot di depanya hanya ada satu lubang sumur tua, lalu di atasnya ada katrol timba air. 


“Sudah sih nggak usah protes! Yang penting ada air, ayo keburu mataharinya keluar! Kita ambil air wudzu!” ucap Tari menegur. 


“Tapi Tari...!” jawab Jingga masih ingin mengeluh dan merasa ini sebuah kemustahilan Jingga bisa melalui hidup seperti itu. 


“Apalagi?” tanya Tari menahan sabar ke Jingga. 


“Gimana wudzunya, nggak ada kran? Nggak ada yang buat alirin, gimana ambil airnya?” tanya Jingga lagi dengan sangat manjanya. 


“Hhhhh hah!” Tari pun lama- lama hilang kesabaran menghadapi Jingga. 


“Liat aku!” jawab Tari malas. 

__ADS_1


Tari kemudian menimba air itu dengan mudahnya dan mendapatkan seember air. 


“Sini aku alirin, kamu yang wudzu duluan! Nanti gantian!” ucap Tari lagi mengajari Jingga selayaknya kakak mengajari adiknya. 


Jingga pun patuh mengikuti apa yang Tari ajarkan. Bagi Jingga Tari keren bisa melakukan semua itu, Jingga memperhatikan dengan seksama. 


“Karena kita mengejar waktu subuh. Aku yang lakukan semuanya! Tapi nanti kamu harus belajar Ngga! Kita nanti berpisah, kamu nggak bisa minta tolong orang terus! Ngerti!” ucap Tari sambil menasehati. 


“Iya ngerti!” jawab Jingga patuh, jika dalam hal menghafal rumus Jingga terlihat pandai, kini Jingga terlihat sangat bodoh di tempat itu, Jingga tidak tahu apapun. 


**** 


Setelah melewati antrian mandi semua mahasiswa kini sudah bersih dan rapih semua. Anak – anak putri pun duduk menikmati hidangan camilan yang disediakan, ketua suku. Anak- anak putra juga bersiap ke rumah itu. 


Aji sudah bersemangatdan dan ganteng maksimal, menunaikan perintah Adip. Meski hanya sekedar memberitahu dan mengajak Jinggadan Tari menemuipegawai puskesmas, bagi Aji ada alasan untuk berbincang Jingga adalah sebuah kesempatan. 


Sebenarnya Adip sudah bertemu dengan Jingga dan Tari, bahkan tanpa Adip sadari jalan- jalanya Adip pagi memang karena Adip ingin melihat Jingga. Adip menolak mengakui jika itu sebuah kata yang berarti rindu, tapi saat Adip selesai sholat mendengarkan teman laki-laki ngobrol ngalor ngidul Adip merasa ada hal yang lebih menyenangkan, melihat makhluk cantik bak jelmaan bidadari itu. 


Bahkan Adip pura- pura meminta Pipiso menemaninya dengan alasan ingin tahu dimana letak rumah kepala suku. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Adip merasa sangat senang dan lucu melihat Tari dan Jingga mau turun dari tangga tidak jadi gara- gara ada anjing. 


Adip ingin menyebunyikan identitasnya, Adip juga masih ingin mengerjai Jingga, Adip lebih suka menikmati keindahan Jingga dalam diamnya. Adip juga tidak mau Jingga mengetahui apa yang dia lakukan terhadapnya. 


“Ayo Bang! Sarapan ke tempat kepala suku!” ajak Aji dan teman- temanya. 


Meski senior dan junior, keperluanya juga berbeda, karena mereka dipertemukan dalam satu tempat, Aji dan teman- temanya jadi akrab dengan Adip. 


“Kalian duluan saja!” ucap Adip mempersilahkan adik- adik mahasiswa nya itu. 


Adip memilih mengobrol dulu dengan dokter Reza dan Martin. Mereka kan sama- sama pekerja jadi mereka lebih nyambung mengobrol. 


“Oke, Bang! Kita duluan ya Bang!” pamit Aji. 


“Oke!” 


“Oh ya Bang, kita ke kampungnya jam berapa sih?” tanya Aji menghentikan langkah tidak jadi pergi. 

__ADS_1


“Menunggu perahu pengangkut tiba, kalau cuacanya bagus kita berangkat hari ini, kalau jelek besok atau besoknya lagi!” jawab Adip. 


“Oh oke!” jawab Aji mengangguk saja, tapi dalam hati Aji berfikir, kalau semua agenda perjalanan semua tergantung sikon alam, berarti tidak ada istilah tepat waktu dan disiplin di tempat itu. Apa itu artinya mereka akan bisa lebih lama tinggal di desa itu? 


“Wahh!” pekik Aji tersenyum sambil berjalan. 


Kalau mahasiswa seperti Aji yang sudah tidak ada perkuliahan itu hal yang sangat menggembirakan, apalagi dengar- dengar meski tidak besar mereka akan mendapat gaji sebagai ganti uang makan. Aji pun mengaminkan dan berharap lebih lama, Aji juga ingin mendekati Jingga. 


Setelah sampai di rumah kepala suku, kedatangan mahasiswa laki- laki pun di sambut kawan- kawan mahasiswa perempuan. Nita, Siska dan Prilly pun tampak terseyum senang dan memberikan celah tempat duduk untuk Aji dan 2 kawanya. 


“Hai Ji!” sapa Nita ramah merasa mereka satu almamater, Nita berharap Aji dan Nita akan semakin dekat. 


“Hai Ta?” jawab Aji dingin, karena ternyata pandangan mata Aji tertuju pada rombongan Jingga, Tari, Lili dan Yuri yang tampak duduk bersila membentuk setengah lingkatan menikmati hidangan nasi jagung dengan ayam bakar. 


Aji pun mengacukkan Nita dan yang lain. Aji langsung berjalan dan duduk nimbrung ke gerombolan Jingga. Tentu saja hal itu membuat wajah Nita merah padam. 


Tenggorokan Nita seperti terdorong ada larva panas yang datang dari lambung, sakit sakit dan tak bisa berkata apapun. Siska yang melihatnya pun langsung mengompori Nita. 


“Kayanya kita mang harus kasih pelajaran ke dia deh Nit, denger- denger si Jingga itu anak Mama, tanpa Tari dia nggak akan bisa apa- apa!” bisik Siska ke Nita. 


“Iya, gue juga udah nggak sabar buat berangkat ke desa biar Jingga nggak lagi- lagi deketin Aji!” jawab Nita. 


“Hari ini cuacanya panas, gue yakin kita berangkat hari ini!” jawab Siska. 


“Oke!” jawab Nita. 


Prilly yang hanya ikut- ikutan mendengarkan percakapan Siska dan Nita, jadi meriding, mereka sama- sama baru kenal. 


“Duh bahaya kalau satu kelompok ada beginian?” batin Prilly jadi ragu mau pilih ke kubu Jingga apa kubu Nita. Sesungguhnya watak Prilly lembut dan baik, tapi dia juga plin plan dan takut melawan Nita. 


“Emang kalian mau ngerjain apa ke Jingga? Denger- denger dia anak orang kaya! Kalian nggak takut?” tanya Prilly polos. 


“Gue nggak peduli dia anak siapa. Di sini dia bukan siapa- siapa. Siapa yang berani senggol kenyamanan gue, gue akan senggol balik kalau bisa gue singkirin. Termasuk lo. Kalau Lo nggak nurut ke kita, siap- siap aja!” jawab Siska mengancam, membuat Prilly terdiam dan menelan ludahnya. 


“Duh... dapet kelompok iblis macam apa ini?” batin Prilly bayangan indah pengabdianya lennyap, kenapa harus ditemuin orang macam Nita dan Siska. 

__ADS_1


__ADS_2