
Jingga berjalan cepat keluar dari ruangan Pak Rendi. Hatinya kacau, ingin berteriak sekencangnya.
Kenapa bisa ada orang bermuka dua seperti Pak Rendi. Hal mengerikan apa yang akan Nila terima jika hidup bersama laki- laki seperti dia.
Benar kata orang, pamor orang tua tak menjamin kualitas anaknya. Pantas saja Pak Rendi tak mau memikul amanah Abi dan Uminya mengabdi di pesantren, otak Pak Rendi memang geser. Untung Jingga tak jadi berjodoh denganya.
"Tapi kenapa harus Nila?" batin Isyana lemas terduduk di bangku depan pagar kampus menunggu Adip.
"Bagaimana aku menjelaskan ke Baba. Aku tak punya bukti apapun?" gumam Jingga memilin jari- jarinya.
Sesaat telpon di tasnya berdering.
Jingga segera meraihnya. Dilihat panggilan dari suaminya. Gelombang gelisah di hati Jingga mereda.
Jingga segera menjawab panggilan suaminya.
"Ya Bang...," jawab Jingga cepat.
"Assalamu'alaikum, salam dulu dong!"
"Waalaikum salam iya Maaf!" jawab Jingga gugup Jingga ingin cepat cerita ke Adip.
"Lihat ke kanan, Sayang, Bang Adip tunggu ya!" tutur Adip lagi.
Jingga menoleh ke kanan. Tapi tidak terlihat suaminya beserta motor kesayanganya.
"Bang Adip dimana? Jingga nggak lihat Abang?"
"Masa sih? Mobil silvera!" jawab Adip lalu mengeluarkan tanganya melambai.
"Oh.. ya!" jawab Jingga cepat.
"Ya udah tutup teleponya ya!" jawab Adip.
Jingga menutup teleponya, meski dalam hati penuh tanda tanya Adip naik mobil siapa? Jingga memilih segera berjalan ke arah mobil yang terparkir di bawah pohon.
Adip pun keluar dan membuka pintu mobil untuk Jingga sambil tersenyum lebar.
"Selamat siang,istri Abang yang cantik," tutur Adip mengulurkan tanganya.
Jingga meraihnya dan mencium tanganya. Sayangnya Jingga tak membalas senyum Adip. Jingga melirik ke mobil, Ada sepasang manusia satu berhijab tersenyum menoleh ke Jingga, satu pria berkacamata.
"Gagal nih aduin Pak Rendi?" batin Jingga langsung lesu.
"Kenalin, mereka berdua Kakaknya Banh Adip yanh Bang Adip ceritain, namanua Kak Nisa dan Kak Baim," tutur Adip ramah memperkenalkan sahabatnya.
Jingga yang kecewa hanya berusaha tersenyum masam. Lalu menganggukan kepala menyambuy senyum teman Adip
"Silahkan masuk Mbak. Kenalkan aku Nisa" sapa Mbak Nisa teman Adip.
Mau tidak mau Jingga berusaha ramah dan menyambutnya.
Jingga masuk duduk di samping Adip dan duduk di belakanh. Rupanya Kak Baim dan Kak Nisa pasangan suami istri juga.
Sepanjang jalan Adip dan kedua temanya memperkenalkan diri dan kegiatanya. Mereka berdua ini teman seperjuanhan Adip yang peduli hewan liar dan suka kasih bantuan ke anak jalanan.
__ADS_1
Adip berharap selama Adip pergi Jingga bergaul dengan mereka. Adip berharap Jingga menjadi istri yang melanjutkan perjuanhanya
"Iyah," jawab Jingga iya iya aja.
Sebenarnya Jingga setuju dan antusias. Sayangnya pikiran Jingga bercabang dan tidak mood memikirkan Rendi dan Nila.
Sampai akhirnya mereka sampai ke baskem organisasi Adip. Adip mengajak Jingga agar berkenalan denhan sahabat- sahabatnya.
"Kamu kenapa sih? Kaya nggak suka?" bisik Adip sadar Jingga beda ekspresi. Jingga banyak benngong saat diajak ngobrol. Jingga juga tak ramah pada teman-teman Adip.
"Suka Bang!" jawab Jingga.
Tapi Adip tetap bisa rasain Jingga tidak nyaman.
"Nggak usah bohong. Bang Adip nggak maksain kok kalau kamu nggak suka. Ya udah kita pulang ya!" ucap Adip malah tersinggung dan badmood, tapi Adip tetap berusaha mengalah dan mengerti Jingga.
"Lah kok gitu?" pekik Jingga lirih.
Sayangnya Adip terlanjur mengambil kesimpulan.
Adip malah memutuskan pamitan ke teman- temanya dengan alasan mau berangkat siang ini.
"Hati- hati di jalan ya Bang. Mbak Jingga yang kuat dan sabar yah!" sahut teman- teman Adip.
Jingga tersenyum mengangguk.
Sementara Adip.tampak berpeluka pamit pada teman laki-lakinya..Sementara teman peremluanya tampak sibuk mengambil beberapa bingkisan.
"Bawa ini...," tutur teman Adip perhatian.
Jingga jadi menunduk dan merasa bersalah. Kenapa sebagai Istri Jingga tak memikirkan itu.
Setelah berpamitan Adip dan Jingga keluar mnuju ke motor Adip. Karena ada kardus oleh- oleh, Jingga dan Adip jadi tidak berpelukan. Motor Adip kan NMAX, kardus susah ditaruh di depan dan Jingga pangku.
Sepanjang jalan, Jingga mau cerita, sayangnya karena sama-sama pakai helm dan duduknya berjauhan. Adip tak nyambung. Jingga jadi kesel sendiri.
"Ya udah nanti aja ceritanya," jawab Jingga.
Adip menyegerakan sampai rumah Baba.
"Dheg," seketika Jingga semakin lemas.
Mobil Pak Rendi terparkir di halaman rumah Baba. Pintu ruang tamunya juga terbuka. Jingga pun melihat Rendi, Nila dan Baba tampak mengobrol ramah.
"Hoh... dia benar- benar pandai bersandiwara. Bagaimana ini?" gumam Jingga langsung lemas.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Adip ke Jingga dan mengambil kardusnya.
Jingga tidak menjawab
"Abang cemburu lhoh. Kalau kamu masih mikirin Pak Rendi," bisik Adip kesal karena tatapan Jingga ke Rendi dan Nila.
"Baang... kok gitu?" pekik Jingga mendelik, "kenapa jadi salah paham dan runyam begini?" batin Jingga.
"Ya udah biasa aja liatnya. Ayo masuk!" ajak Adip masuk.
__ADS_1
Jingga pun berjalan mengekori Adip.
Baba tampak tersenyum menyambut mereka berdua.
"Akhirnya kalian pulang? Sudah siap beranngkat? Rendi mau antar kita ke Bandara," tutur Baba sumringah.
"Gleg," Jingga pun lansung melirik geram ke Rendi.
Adip menyalami Baba dan Pak Rendi, dan tersenyum ke Nila.
"Oh iya? Terima kasih sekali Dok," jawab Adip.
Rendi tampak membalas tersenyum sok ramah pada Adip.
"Kalau di sini jangan panggil Dok. Kan aku panggil kamu Mas. Nggak nyangka ya.Dip. Jadi ini berangkat sekarang?" tanya Pak Rendi.
"Insya Alloh. Tapi ke kampung Eyang saya dulu!" jawab Adip.
"Oh gitu? Kenapa cepat sekali berangkat? Padahal aku ingin ngobrol banyak!" tutur Rendi ke Adip.
"Ah iya Pak. Hehe.. Kan tahu sendiri cutiku tidak banyak," jawab Adip.
"Sayang sekali yah. Jadi nggak bisa saksiin ijabku," tutur Rendi lagi melirik ke Jingga.
"Kalau Nak Rendi jadwalnua kosong. Ikut aja. Kita pakai Gunawijaya air kok!" jawab baba menyahut.
Rendi tersenyum melirik Jingga lagi.
"Sayangnya Rendi ada agenda Ba," jawab Rendi.
"Oh ya sudah," jawab Baba.
"Pesawat setengah jam lagi. Cepat kalian beres- beres. Baba udah siap kok!" tutur Baba.
"Iya Ba!" jawab Adip mengangguk
Sementara Jingga tak bisa mengangkat kepala sama sekali dan hanya bisa mengepal. Jingga ingin teriak tapi yang ada hanya bisa mempernalukan diri sendiri.
"Ayo, Yang!" ajak Adip.
Jingga patuh berjalan masuk.
"Kamu kebapa sih murung terus. Bang Adip mau berangkat lhoh!" tanya Adip lemas.
"Baang," jawab Jingga ingin buka suara.
"Kita pasti bisa lalui ini Sayang, Bang Adip.akan sering ke kota buat telepon kamu," jawab Adip mengira Jingga sedih Adip mau berangkat.
"Bukan itu?"
"Apa?"
"Tentang Pak Rendi!"
"Sssshhh...," Adip langsung gemas dan kembali cemburu..Adip mengacuhkan Jingga dan marah,
__ADS_1