
Setelah selesai mengangkut semua barang. Laki-laki bertopi itu pun naik. Sesekali dia mengelap keringat dengan lenganya.
"Iyuuh, bau banget sih!" gerutu Jingga mengibaskan tangan dan menoleh ke luar jendela.
Mendengar keluhan Jingga pria itu menoleh ke Jingga tersenyum.
"Nggak usah protes, kalau nggak tahan di depan ke belakang aja. Sana biar digigit semut. Kalau masih nggak tahan juga. Turun aja di sini!" jawab pria itu jual mahal dan galak.
"Ya kali lo nyuruh gue turun di tempat begini? Lo sengaja banget ya. Gue laporin bokap gue beru tahu rasa lo!" ucap Jingga mengancam.
Laki-laki itu malah ketawa.
"Emang siapa bapak Lo? Lo kira gue takut? Emang gue ngapain ke lo, hh" jawab laki-laki itu.
"Ishh" Jingga hanya mendesis kesal tidak menjawab siapa bapaknya.
"Dasar anak manja, bodoh!" batin laki- laki itu.
Lalu si laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya. Tentu saja menyalakanya tidak secepat mobil Jingga di rumah. Dan setelah menyala, pria itu tancap gas.
Jingga memandang keluar. Hamparan sawah dan gunung tampak di depan mata Jingga. Belum sungai yang mengalir tenang. Tanpa sadar Jingga menikmati pemandangan itu.
Memang tidak luas karena beberapa saat setelah melewati sawah itu Jingga kembali ke pemukiman padat. Dan beberapa menit setelahnya kembali ke pamandangan gedung-gedung tinggi.
"Lo sebenarnya sopir angkot beneran bukan sih?" tanya Jingga tiba-tiba melirik ke laki-laki itu.
"Kan gue udah jelasin, gue supir angkut barang" jawab laki-laki itu santai
"Jadi ini bukan angkutam umum?" tanya Jingga emosi.
"Ya angkutan umum. Angkutan barang!"
"Hhhh... jadi lo bohongin gue?" tanya Jingga melotot.
"Bohong dari mananya coba? Yang naik ke mobil gue duluan siapa? Gue kan juga udah jelasin! Gue harus angkut barang baru antar lo!"
"Kenapa nggak ada orang yang naik ke angkot lo. Dan kenapa angkot lo nggak ada nama atau nomernya?" tanya Jingga lagi baru menyadari angkot yang dia naiki aneh, setelah di jalan raya Jingga melihat mobil yanh sama dengan mobil yang dia naiki tapi ada tulisanya.
"Nah itu lo tau. Kenapa lo main naik aja ke mobil gue?" tanya laki-laki itu tanpa rasa bersalah malah menyudutkan Jingga.
Kalau diingat-ingat benar juga. Kan dari awal Jingga yang salah. Dan tiba- tiba signal ponsel Jingga menyala. Daftar panggilan dan pesan whatsap langsung bermuncullan. Mulai dari teman-teman Jingga ataun Baba Jingga.
"Haaah, Ya Tuhan bagaimana ini? Baba nyariin aku?" gumam Jingga membaca pesan sambil berekspresi panik, menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata dan menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Sayang kamu dimana? Baba sama Jingga udah pulang kenapa kamu belum pulang? Buna diinfus di rumah," begitu isi pesan Baba Jingga.
"Ah... gawat gawat!" gerutu Jingga lagi.
Jingga pun membalas pesan Babanya dan beralasan pergi bersama teman-temanya.
"Sekali aja Ba. Jingga pengen seneng-seneng hari ini. Pokoknya Jingga harus berhasil main" batin Jingga.
Laki-laki di samping Jingga kemudian menatap Jingga aneh.
"Apa lo liat-liat!" bentak Jingga tau dirinya diperhatikan.
"Ish dasar cewek gila aneh. Hhh" ucap pria itu malah bergidik.
"Heh. Lo ngatain gue?" tantang Jingga kesal. Mengepalkan tanganya mendekat hendak memukul. Tapi dari jarak itu aroma keringat pria itu menyeruak.
"Hooeek, lo bau banget sih!" ejek Jingga lagi laki-laki di sampingnya sungguh bau keringat.
__ADS_1
"Ya namanya juga kuli angkut" jawab laki-laki itu.
"Isshh" Jingga kembali merapatkan duduknya ke tepi jendela.
Lalu Jingga membuka pesan lagi. Berisi pesan dari teman-temanya kalau mereka sudah lama menunggu. Mengirim foto dimana mereka menunggu. Tempat duduk mereka dan acara film pilihan mereka sudah dimulai.
Mereka juga mengundang Kak Tama, Kakak tingkat mereka yang merupakan idola Jingga. Jingga ngefans berat sama pria itu. Dia seorang ketua BEM universitas, wajahnya pun tampan bak artis korea.
"Lo jadi nyusul nggak sih Jing?"
"Gue udah nunggu sejam nih!"
"Gue ketemu sama Kak Tama. Gue kasih tau kalau lo mau nyusul kita. Terus kita ajakin nonton sekalian. Dia nanyain lo tau!"
"Lo nggak salah alamat kan? Atau lo udan dijemput suruhan Baba Lo? Angkotnya warna merah. Lo nunggu di jalan Lingga samping kampus, bukan depan kampus kita ya. Tapi bagian selatan dekat dengan gedung farmakologi"
Membaca pesan terakhir temanya mata Jingga langsung melotot.
"Ih ih ih... pantas gue nggak nemu angkot dan jalanan sepi. Ternyata gue salah jalur buat dapetin angkot. Sial!" batin Jingga memandang kesal ke laki-laki di sampingnya yang sampai sekarang belum diketahui namanya. Jingga baru sadar dikerjai. Tega amat laki-laki ini nggak kasih tau Jingga angkot yang bener dimana.
Lalu Jingga mengirim pesan ke temanya.
"Gue salah naik angkot. Gue baru di jalan Kasuari"
"What... ya elah. Jauh amat lo nyasarnya. Omaigat"
"Ya gue nggak tahu, gue pilih angkutnya di jalan depan kampus kita"
"Sory gue lupa kasih tau lo. Filmya udah mau selesai. Lo mau tetep nyusul apa gimana?"
"Kak Tama masih di situ?" tanya Jingga.
"Masih"
"Bener ya. Lo sampai mana? Turun dimana?"
"Gue masuk ke daerah Kantor Kementria Ss"
"Kak Tama mau jemput lo nih. Lo tunggu aja di situ"
"Oke, gue di halte ya" jawab Jingga menutup ponsel mahalnya.
Lalu Jingga menoleh ke sopir aneh di sampingnya.
"Eh sopir bau. Turunin gue di halte depan!" ucap Jingga kasar melihat ada halte di depan sebuah perkantoran.
"Udah numpang, ngata-ngatain gue lagi!" jawab pria itu galak.
Dan laki-laki itu angsung ambil kiri dan nurunin Jingga bukan di halte tapi di jalan dekat jembatan.
"Turun!" ucap laki-laki itu.
"Gue? Suruh turun di sini?" tanya Jingga melotot tau sekarang bukan di halte.
"Iya dari tadi lo pengen turun kan? Ayo turun!"
"Eh lo songong banget sih. Kok lo ngomongnya pake otot gitu? Gue kan udah bayar mahal. Lo yang nggak beres gue minta anter ke mall xx malah lo bawa kemana-mana, harusnya gue yang marah? Kenapa sekarang lo yang marah?" ucap Jingga marah-marah.
"Siapa yang suruh naik ke mobil gue? Turun nggak!" bentak laki-laki itu lagi.
"Halte masih di depan. Ogah gue turun di sini!"
__ADS_1
"Turun nggak!"
"Galak banget lagi. Dasar sopir gila!" balas Jingga akhirnya turun lalu membanting pintu yang usang itu.
Dan setelah Jingga turun tanpa kasian dan ragu pria itu melajukan mobilnya cepat. Jingga pun merutuki sopir itu.
"Dasar Sopir galak, sopir bauk, sopir jahat. Amit-amit jangan sampai gue ketemu orang jenis kaya dia lagi, bisa-bisanya aku ketemu orang macam dia! Ihh"
Siang itu matahari bersinar terik dan menyengat kulit. Jingga tau haltenya masih agak jauh. Itu artinya Jingga masih harus berjalan jauh dari tempat dimana Jingga harus bertemu dengan Tama idola nya.
"Iih sial banget sih gue. Ternyata gue dikerjain supir sialan. Awas lu dasar orang gila. Nggak tau diri!" gerutu Jingga lagi sambil berjalan dengan nafas ngos-ngosan. Karena jalan di jembatab itu tanjakan tinggi.
"Ya ampun, kenapa panas banget gini sih. Hh hh hh" Jingga menggumam sambil menciumi keteknya. Karena Jingga harus berjalan di bawah terik, Jingga berkeringat.
"Ya Tuhan. Kenapa aku jadi kringetan begini? Mana mau ketemu Kak Tama lagi, ouh, harus gimana nih?" Jingga panik.
Kini rambut Jingga mulai tidak tertata kena asap dan debu kendaran. Wajah Jingga juga berkeringat dan pucat. Jingga sampai di halte dan di situ ada tiga laki-laki bergerombol sedang merokok. Aroma asap rokok pun ikut berkontribusi menambahkan parfum khas jalanan.
"Oh my God. Benar- benar ya, ternyata banyak banget orang yang nggak tau aturan? Bisa-bisanya merokok di tempat begini" batin Jingga mengatai tiga orang itu dengan jijik dan kesal.
Tapi Jingga tidak berani menegur apalagi Jingga sendiri. Jingga juga takut diapa-apain. Jingga baru tahu dunia luar ternyata lebih banyak hal di luar keinginannya.
Tidak lama Tama datang. Jingga pun menyunggingkan senyumnya lega. Pria pujaan hatinya datang.
"Udah lama nunggunya?" tanya Kak Tama keluar dari mobil dan mendekati Jingga.
"Belum?" jawab Jingga dheg- dhegan.
"Yuk masuk!" ucap Tama mempersilahkan Jingga.
"Iya Kak makasih" jawab Jingga masuk.
Lalu tama ikut masuk ke mobil.
Saat menyalakan mesin mobil tiba-tiba Tama menyiratkan membau sesuatu. Lalu Tama menggerakan parfum mobilnya mengecek masih penuh atau udah abis. Jingga pun tersinggung dan malu. l
"Maaf, Kak Tama bau Jingga yah?" tanya Jingga lirih dan ragu.
"Lo abis dari mana sih?" tanya Tama tanpa bosa basi "Kok tumben baunya gini?"
"Ehm... Jingga salah naik angkot Kak. Terus Jingga jalan kaki, jadi Jingga keringetan, maaf ya" jawab Jingga menjelaskan.
Kemudian Tama diam dan melirik ke Jingga. Jingga tampak berkeringat, lipstiknya juga sudah hilang. Masih cantik sih tapi udah nggak on make up.
"Sayang banget ya. Sebenernya Kak Tama pengen ajak Jingga ke reuni Kak Tama bareng temen- temen organisasi Kak Tama" ucap Tama kemudian.
"Hoh?" tanya Jingga terkejut tapi dengan mimik kecewa.
Jingga memang tidak ada persiapan tampil cantik. Untuk acara birthday party teman Jingga saja Jingga belum beli kado. Keluar rencananya nyari kado. Lah ini acara reuni mana Jingga tau.
"Tapi penampilan kamu begini, ck, kayaknya nggak jadi deh!" ucap Tama lagi PHP ke Jingga.
"Kenapa nggak jadi Kak? Jingga bisa mandi dulu kok. Jingga beli baju dulu deh, ya!" ucap Jingga memelas ini pertama kalinya ada laki-laki yang mengutarakan mau ajak Jingga pergi. Jingga sangat ingin pergi bareng Tama.
Jingga memang naksir berat ke Tama. Tama tau juga peraaan Jingga, Tama juga ada ketertarikan ke Jingga. Tapi semua orang tau siapa Jingga. Apalagi di kampus mereka ada banyak mata-mata dari anak teman Baba Ardi. Jadi tidak ada yang berani resmi pacaran dengan Jingga.
"Maaf Jing, waktunya mepet, udah mulai malah. Kak Tama antar kamu ke Amora aja ya!" ucap Tama lagi membuat Jingga kecewa.
"Hmm. Iya" jawab Jingga patah hati.
Dan benar saja, Tama hanya mengantar Jingga ketemu teman-temanya. Dan malangnya lagi film pilihan mereka sudah selesai. Teman-teman Jingga juga sudah selesai belanja.
__ADS_1
Jingga kemudian hanya berjalan sendiri mencari kado untuk teman Jingga. Setelah itu minta dijemput sopir Baba Ardi.