
Menggunakan mobil besarnya, Baba, Amer, Ikun dan Nila melesat menuju kafe milik Gunawijaya. Keluarga Gunawijaya memang mempunyai banyak kafe dan semuanya laris, dengan ke identikan sendiri- sendiri setiap kafenya.
Jadi seberapapun anak Baba Ardi, kelak semua akan mempunyai warisan sendiri- sendiri dengan sangat Adil. Usaha keluarga Gunawijaya juga tak hanya satu bidang saja, makanan, Fashion, properti, wisata, perumahan, perhotelan, perkebunan dan sebagainya tak terhitung di berbagai daerah.
Setiap ada kesempatan Baba Ardi selalu ambil, dan membiarkan anak asuhnya yang mengelola, tapi kepemilikan tetap punya Baba Ardi.
Jika kemarin bersama calon besan di kafe danau bertemakan makanan lokal, Kafe yang Baba datangi hari ini, berada di kota dan bertema makanan barat.
Tidak berapa lama mereka sampai. Supir membukakan pintu untuk Tuan dan para Pangeranya itu.
Baba Ardi pun keluar dengan aura dinginya yang semakin tua semakin terbentuk. Diikuti Amer dan Ikun yang tingginya sudah hampir melebihi Baba Ardi tapi wajahnya lebih mirip ke Buna Alya, terkesan ramah meski sebetulnya juga cuek. Berjalan paling terakhir Nila, anak paling mungil dan manis yang sangat mirip dengan Buna Alya.
Nila berjalan menunduk dengan wajah tenang dan imutnya yang berbalut kain panjang berwarna senada dengan namanya, warna ungu lembut. Nila memang terdidik untuk menjaga pandangan, tapi wajahnya selalu memancarkan ketenangan. Meski sama- sama mempesona, tapi pesona Jingga dan Nila berbeda.
“Selamat Pagi Tuan!” para pengurus kafe sudah berjajar menyambut owner mereka dan sengaja membuat jam buka siang karena pagi ini ada pertemuan privat sang Owner.
“Pagi...!” jawab Amer dan Ikun sementara Baba hanya mengedikan mata dan menarik sedikit sudut bibirnya.
Petinggi kafe yang merupakan mantan anak asuh panti Gunawijaya kemudian mengantar mereka ke ruangan khusus, dimana seorang laki- laki dewasa duduk dengan tenang di ruangan dengan meja panjang.
“Sudah matang rupanya?”
“Cukup rapih, dan sopan?”
“Tampan?”
Semua adik- adik Jingga membatin sesuai penilaian masing- masing begitu melihat Rendi berdiri, tersenyum dan menyambut calon mertua beserta adik- adiknya.
“Sudah lama menunggu Nak Rendra?” sapa Baba Ardi dengan sangat bangga menyapa calon mantunya itu.
“Belum, Pak. Baru saja!” jawab Rendi sesuai permintaan Baba Ardi tidak boleh memanggil Tuan, mau memanggil ayah atau Baba, Rendi takut dianggap lancang, jadi panggil Bapak.
“Oke, ayuk duduk... duduk..!” tutur Baba Ardi mengajak Rendi duduk kembali.
Dengan sangat sopan dan santun, Rendi ikut duduk diikuti Amer, Ikun dan Nila. Sesaat Rendi menatap satu persatu adik- adik Jingga. Jingga memang mempunyai wajah yang berbeda sendiri. Jingga sepertinya satu- satunya anak yang wajahnya dominasi mirip Baba Ardi.
Baba Ardi pun duduk di dekat Rendi dengan sangat bangga.
Sesuai cita- cita Baba Ardi saat hamil Jingga dulu, dan menghadiri lamaran temanya yang bernama Pak Dika dan dokter Dinda. Baba Ardi salut, karena Pak Dika itu berhasil buat teman Buna yang bernama dokter Dinda jadi perempuan berhijab dan patuh, padahal sebelumnya tengil.
Baba Ardi selalu berdoa punya menantu yang sholeh dan bersedia membimbing Jingga anaknya yang cenderung manja, pundungan dan keras hati melawan Babanya. Jingga satu- satunya anak yang berani mengeluarkan argumenya ke Baba.
Apalagi saat sahabat Baba Ardi yang bernama Om Farid bercerita kalau Rendi dari keluarga yang memiliki pesantren. Baba Ardi semakin mantap dan yakin. Rendi lah jodoh yang tepat untuk Jingga, yang nanti akan menyadarkan Jingga, termasuk menutup auratnya.
Jingga sangat susah diberitahu, semakin dilarang semakin Jingga ingin mencoba.
__ADS_1
“Kenalkan Nak Rendi, mereka adalah adik- adik Jingga. Amer, Ikun, Nila, ayo kenalkan diri kalian ke kakak Ipar kalian!” tutur Baba mengajak putra putrinya.
“Amer!” ucap Amer mengulurkan tangan menjabat Rendi.
“Ikun!” ucap Ikun mengikuti, sementara Nila hanya menyunggingkan senyum dan mengangguk memberikan hormat.
“Jangan canggung- canggung! Kalian nanti akan jadi saudara!” tutur Baba ke anak- anaknya.
Semua mengangguk tapi tetap saja suasananya canggung karena Rendi orangnya sedikit pendiam. Akhirnya, Baba Ardi yang tetap memulai menghangatkan.
“Nak Rendi, dialah Amer yang akan menyusul dan menjemput Jingga!” tutur Baba menepuk bahu putra tampanya itu.
“Ya Pak!” jawab Rendi menganguk dan menatap Amer. Amer membalasnya tersenyum.
“Maaf, karena saya besok pagi harus berangkat ke negara T. Dik Amer, sendiri atau bersama Ikun?” tutur Rendi.
“Saya sendiri, Kak!” jawab Amer sopan.
“Amer sendiri Nak Rendi, karena Ikun di rumah jagain Buna dan adik- adiknya, saya juga ada agenda ke luar minggu- minggu ini!” jawab Baba menjelaskan.
Baba memang sedang sangat sibuk melakukan beberapa pertemuan dengan banyak orang penting dari berbagai negara membahas investasinya. Banyak anak membuat Baba Ardi semakin semangat mencari cuan.
Meski Buna sedang hamil muda, perhatian Baba Ardi di anak yang ketuju ini berbeda, Baba sering keluar. Buna dibiarkan mandiri, ditiggal dan anak- anaknya yang menjaganya, padahal Buna sudah tua.
“Oke... berdasar informasi kawan saya, Jingga berada di desa T di salah satu kabupaten M, desa T adalah sebuah desa di hilir, untuk ke desa itu, kalau mau melalui jalur darat maksudnya dengan jalur biasa bisa menggunakan helikopter sampai ke kecamatan lalu naik perahu kecil. Karena di Hilir jika mau langsung dari kota provinsi sampai, tanpa mampir- mampir, bisa dengan kapal besar langsung lewat laut, tapi lama. Karena tidak selalu ada!” tutur Rendi memberitahu.
“Pesawat nggak bisa langsung ke desa T kak?” tanya Amer.
“Di sana tidak ada Bandara yang memadai jika ukuran pesawatnya besar. Paling helikopter!” jawab Rendi lagi.
“Hemmm!” Amer berdehem berfikir.
“Apa perlu Baba belikan helikopter Mer?” tanya Baba menyimak.
“Hemm... sebentar Pah, Amer pikir mengikuti lalu lintas normal lumayan seru. Sungainya besar atau kecil, Kak?” tanya Amer lagi.
“Sebenarnya saya juga belum pernah kesana, tapi dari informasi beberapa rekan yang pernah kesana, akan melewati sungai besar, lalu belok ke anakan sungai kecil!” jawab Rendi.
“Kalau begitu, biar Baba belikan kapal saja!” sambung Baba lagi.
Baba kan uangnya trilyunan, untuk anak- anaknya semua akan dia usahakan.
“Nanti, Ba! Amer akan lihat situasi di sana dulu!” jawab Amer.
Baik Buna, semua anak- anak Baba sudah paham tabiat Baba. Baba kan suka berlebihan dan loyal. Saat tau Jingga di pulau, P. Kalau tidak dicegah Buna, Baba hampir langsung mengerahkan pasukan jemput Jingga.
__ADS_1
Hanya saja Buna tetap ngeyel, kalau putrinya butuh kelonggaran untuk bernafas dan menikmati hidupnya. Baba patuh dan nurut apa nasehat istri, tapi Baba pundung.
“Oke... apapun yang kamu butuhkan beritahu Baba!” jawab Baba.
“Satu lagi, listrik di sana masih terbatas! Di desa hanya fasilitas umum, itu saja mengandalkan solar. Untuk listrik seperti di sini hanya ada di kabupaten!” tutur Rendi lagi memberitahu.
Baba masih menyimak dan memikirkan bagaimana bisa putrinya tinggal di tempat seperti itu.
“Tapi di sana aman kan nak Rendi? Apa itu sebabnya Jingga sama sekali tak menghubungiku?” sahut Baba.
“Dari laporan kawan saya, di penempatan kabupaten Jingga semua aman. Ada siswa yang dibawa ke kabupaten karena sakit itu di kabupaten tetangga!” jawab Rendi lagi terus memantau laporan dari kawanya.
“Sakit? Sakit apa?”
“Katanya malaria! Sebagian daerah di sana memang rawan terkena sakit malaria!” jawab Rendi lagi.
“Waduh, kalau gitu, langsung jemput kakakmu saja Mer!” tutur Baba gusar mendengar ada sakit.
Amer hanya mengangguk.
“Amer juga harus hati- hati dan banyak bawa obat nyamuk!” sahut Rendi.
“Siap Kak!” jawab Amer, tapi Amer ingin jika tempatnya bagus tak langsung menjemput Jingga melainkan liburan dulu.
Setelah sedikit berbincang, dan menikmati jamuan dessert karena mereka sudah darapan di rumah masih- masing. Rendi menyerahkan alamat Jingga berada. Rendi pun pamit harus menunaikan kewajibanya.
Baba juga ke kantor, sementara Amer dan yang lain belanja persiapan berangkat ke pulau P.
“Nila belikan banyak makanan ya Kak!” tutur Nila memikirkan kesehatan perut dan makanan.
“Beli power bank, baterai kamera! Videoin setiap hal luar biasa di sana ya Kak!” sahut Ikun.
“Haish, kalau kamu mau lihat kenapa nggak ikut aja sih?” jawab Amer ke Ikun.
“Nggak gitu, Kak! Baba mau ke luar negeri, di rumah tidak ada laki- laki, Opa Nando kan nggak selamanya di rumah. Ikun di rumah saja!” jawab Ikun.
“Hmmm, doakan semua baik – baik saja!” jawab Amer.
“Ikun akan ikut nyusul kalau Baba sudah pulang, kabari saja bagaiamana keadaan di sana! Ikun juga pengen liburan Kak!” sahut Ikun kemudian.
“Ih Kaka! Aku nggak diajak” sahut Nila.
"Anak baik di rumah saja!" jawab Ikun dan Amer membuat Nila manyun.
Mereka kemudian melanjutkan belanja.
__ADS_1