
"Jingga mana sih? Kok nggak sampai- sampai?" tanya Buna panik.
Buna sudah tidak sabar membuktikan siapa pemuda yang mencuri hati anak kandung dan anak asuhnya itu. Benarkah pemuda yang dia cari juga.
Baba dan Amer sudah mandi sudah ganti baju, tapi Jingga dan Adip tak kunjung sampai. Padahal semua menu kesukaan Jingga sudah tersaji dan matang banyak sekali.
Selain itu, Buna belum mau dipeluk dan dicium Baba sebelum anak sulungnya tiba. Baba kan jadi kesal. Padahal kangenya Baba sudah diujung tanduk. Ibarat bom tinggal meledaknya aja. Klik langsung duer.
Bahkan Iya dan Iyu yang ngiler ingin ambil keroket kentang isi daging, tidak boleh ambil sebelum kakaknya pulang. Pokoknya semua harus nunggu Jingga dan Adip.
Oma Rita apalagi penasaranya sampai menembus langit ke tujuh. Tidak mau makan atau pun minum, minta ditemani Nila duduk di kursi roda depan pintu menunggu cucu kesayanganya bersama suaminya.
Oma Mirna yang sudah kenal Adip lebih selow. Tapi mereka tetap ingin menyambut Jingga. Tidak terkecuali Bunga. Akan tetapi di sini satu- satunya yang berdoa Jingga jangan cepat kembali Bunga.
Bukan belum move on. Tapi Bunga tetap sakit hati membayangkan kakaknya bercinta dengan orang yang dia taksir.
"Bun anak Buna itu lagi pacaran. Mereka kan penganten baru. Nggak usah ditungguin. Udah makan aja!" celetuk Amer resah melihat ibu dan Omanya tampak panik menunggu Jingga. Padahal kan Amer menahan lapar ingin makan di rumah bersama keluarga.
Tidak ada yang tahu kakaknya lagi berantem dan nangis- nangis di mobil.
"Nggak. Tunggu Jingga dan suaminya. Buna nggak bisa tenang kalau Jingga belum sampai!" jawab Buna.
"Itu anak benar- benar tidak tahu ditungguin ibunya. Malah pacaran terus. Kayak nggak punya waktu lain aja!" gumam Baba ikut menimpali.
"Ya kalian berdua juga. Udah tahu pergi jemput Jingga, kenapa pulang nggak bareng malah pulang sendiri- sendiri!" jawab Buna lagi masih kesal ke Amer dan Baba.
Menurut Buna tetap Baba yang salah. Makanya Buna nggak mau dicium dan dipeluk Baba.
Baba dan Amer pun hanya saling pandang, pokoknya mahabenar Jingga deh kalau Buna lagi ambek ke Baba.
"Tuh denger Mer, Bunamu. Gitu tuh! Salahin aja Baba terus. Padahal Baba udah kabulkan semua mau Buna," jawab Baba mengadu dan minta pembelaan Amer.
"Buna nggak tahu anaknya sih! Kak Jingga akan lupa semuanya kalau udah sama Bang Adip lagi," jawab Amer.
"Iya, tapi tunggu Jingga sampai!" jawab Buna kekeh.
"Ya sudah telpon Jingga Mer! Tanya sampai mana. Pacaranya nanti lanjut abis resepsi!" ucap Baba lagi memberi perintah.
Buna mendengar ucapan suaminya hanya mengernyit. Bisa- bisanya Baba jelek- jelekin anak kandungnya sendiri nggak ngaca Baba dulu pas muda segimana posesifnya.
Apalagi kalau Buna tahu Baba gangguin Jingga dan Adip. Buna pasti marah.
"Huh... ini nih dibalas nih Baba. Resepsi berjalan, Jingga udah nongol duluan! Sekarang anaknya ikut- ikutan marah,"
Padahal Adip dan Jingga tak seperti kata Baba.
Belum sempat Amer mengambil telepon, mereka di kejutkan dengan suara di luar. Buna mendengar suara yang ia kenali. Mereka kemudian menoleh ke luar.
"Itu sepertinya suaranya Jingga," tutur Buna bahagia.
*****
Di luar
Beberapa menit yang lalu.
Mobil yang dinaiki Jingga mulai masuk ke pelataran istana Baba. Adip menelan ludahnya dan mulai dheg- dhegan.
Dari pintu gerbang ke rumah utama ternyata jalanya masih jauh melewati pekarangan yang luaas. Ya halaman rumah Baba memang sangat luas berisi padang rumput hijau yang cantik dan pepohonan yang tertata rapi.
Kalau jalan lumayan akan capek. Tamannya tampak sangat asri tapi sedikit seram karena luas, rumah Jingga memang tak terjangkau orang luar.
Semakin maju, mulai nampak rumah besar bak istana.
Adip pun semakin membelalakan matanya. Fiks itu istana, bukan rumah, batin Adip. Bangunan atapnya seperti ada di film- film barat.
Rumahnya ada 3 lantai tapi luas dan lebar. Tidak hanya ada satu bangunan, karena rumah pekerja, rumah utama, garasi, gudang dan rumah ternak terpisah semua. Belum kolam dan taman belakang. Ada kolam renang ada kolam ikan dan juga tempat olahraga.
Dengan komplek pondok pesantrean Abah Anwar saja masih lebih luas istana Baba. Dengan istana pemimpin negara yang Adip tahu di negaranya juga lebih megah rumah Baba.
Adip kemudian melirik ke Jingga. Ternyata, Istrinya benar- benar seorang putri. Bukan hanya putri dari seorang ayah, tapi memang putri don juan.
"Kenapa?" tanya Jingga melihat suaminya berkeringat.
"Ini rumah kalian?"
"Iyah, kita udah sampai di mansion Gunawijaya. Kamu sejak ucap ijab qobul hari itu sudah jadi bagian dari keluarga ini. Kamu suamiku kan?" jawab Jingga.
Adip terdiam menunduk.
Jingga paham bagaimana perasaan Adip. Jingga kemudian menjulurkan tanganya memegang tangan Adip dan tersenyum.
"Tentang niat kamu tadi, jangan dulu dibahas sama Baba dan Buna ya. Kita nikah sah dulu aja! Baru besok kita bahas!" ucap Jingga manis.
Adip menelan ludahnya menatap Jingga haru. Kali ini ada yang berdesir di hati Adip menatap wajah Jingga yang tatapan matanya tampak murni dan tulus.
__ADS_1
Meski kesediaan Jingga mematuhinya belum dilalui dan entah seberapa kuat nanti. Dengan Jingga menyatakan bersedia dan memilih tetap menikah dengan Adip adalah jawaban yang luar biasa. Adip bisa merasakan perjuangan Jingga yang mau bersedia mematuhinya. Pasti nanti akan sangat berat.
Adip jadi berfikir, Adip pun harus bertekad agar bisa bahagiakan Jingga seperti Babanya. Kalau bisa melebihinya. Meski Adip tahu, kasih sayang orang tua tak akan tertandingi.
"Iyah. Hari ini, Abang kenalan aja kok. Kan Abang nanti mau langsung pulang ke rumah Mamak dan Bapak sekalian ke Abah dan Umi," jawab Adip.
"Jadi kita berpisah lagi ya?" tanya Jingga cemberut.
"Berpisah sebentar ke depan kan kan kita akan bareng terus!" jawab Adip.
Jingga mengangguk dan mengeratkan pegangan tanganya.
Ada haru yang seketika datang menelusup di hati Adip. Adip jadi merasa bersalah tadi sudah membuat Jingga menangis memaksa. Padahal setelah Adip sadari, kelak yang akan berjuang banyak adalah Jingga, bukan Adip.
Jingga sama saja merelakan semua keindahan hidupnya demi dia. Kini Adip merasa benar- benar nothing melihat rumah Baba.
Di situlah syukur dan cinta Adip ke Jingga juga berlipat- lipat ganda. Di hadapan Adip kini Jingga nyata, bukan hanya cantik, tapi juga luar biasa. Adip benar-benar merasa beruntung sekarang, bahkan mata Adip memerah.
Adip hanya selalu berdoa diberi jodoh terbaik, yang mau menerima kekurangannya dan bersedia dia bimbing dalam takwa.
Tapi kini Adip oleh Tuhan diberikan jodoh yang plus- plusnya banyak sekali. Kebawelan Jingga, kemanjaanya dan ketidakbisaanya Jingga sangat Adip mengerti.
"Kamu sungguh mau menjadi istriku?" tanya Adip lagi kesekian kalinya.
Jingga pun manyun ditanya begitu.
"Kenapa tanya terus. Kan aku udah jadi istri kamu. Kan kita udah nikah! Tinggal nunggu terbit buku nikah aja kaan? Kenapa masih tanya terus!" jawab Jingga kesal. "Gimana sih!" gerutu Jingga juga.
"Yaya! Maaf aku hanya merasa tidak pantas sekarang jadi suamimu!"
"Sssst. Aku memilihmu dan aku bersyukur kamu memilihku.Catat itu! Awas aja kalau tanya lagi!" jawab Jingga.
"Iya, Sayang?"
"Bener ya! Lagian kenapa sih? Tanya terus, minder juga? Apa jangan-jangan kamu ragu sama aku? Atau nyesel?"
"Enggaklah! Kan tadi aku yang bilang, aku yang takut kamu yang nyesel?" jawab Adip lagi kini mereka malah berebut kejelekan dan sama- sama menyadari satu sama lain adalah anugerah terbaik dari Alloh.
"Enggak! Aku beruntung, kamu jadi suamiku. Pokoknya Abang punyaku!"
"Oke, aku juga beruntung Alloh kasih istri secantik kamu dan terima aku!" jawab Adip lagi.
Jingga pun tertawa digombali Adip begitu.
"Ya udah ayuk turun!" ajak Jingga karena sopir sudah mematikan mesin mobil.
"Silahkan Tuan!" tutur Pak Alan.
Adip mengangguk kikuk, rasanya aneh banget buat Adip diperlakukan seperti Tuan Muda.
"Ayok!" ajak Jingga menarik tangan Adip posesif.
"Huuuft! Bismillah!" gumam Adip lirih meredam dada yang berdebar kencang mau menemui kelyarga besar Jingga. Adip pun mulai melangkah menginjakan kaki di lantai marmer yang lebar dan mengkilap.
"Omaaa!" teriak Jingga girang Omanya dan adiknya sudah menunggu di depan pintu.
Omanya tersenyum ramah. Adip yang melihatnya pun menganggukan kepala sopan.
"Elegan dan penuh keteduhan," kesan pertama di hati Adip melihat Oma Rita.
"Keluarga Jingga ternyata begitu islami," kesan kedua Adip di luar dugaan.
Oma Jingga ternyata mengenakan hijab, begitu juga perempuan manis yang berdiri senyum dan alisnya mirip Jingga tapi tingginya, hidung dan bibirnya sedikit berbeda.
Nila memang mengenakan hijab yang menutup dada dan gamis cantik. Jauh lebih terlihat feminin dan dewasa ketimbang jingga. Padahal usianya terpaut jauh.
"Sayangnya Omaa," panggil Oma Rita merentangkan tangan menyambut Jingga.
"Alhamdulillah kakak sampai," ucap Nila.
Jingga melepaskan tangan Adip dan memeluk Omanya dengan penuh rindu. Adip menelan ludahnya dan tercekat melihat semua itu. Terlihat sekali Jingga seorang putri yang disayangi dan berharga. Aneh malah kalau Jingga tidak manja.
Setelah berpelukan dengan Oma. Jingga kemudian berpelukan dengan Nila. Adip jadi mengambil kesimpulan, benar itu adiknya. Tapi kenapa beda sekali dengan Jingga.
"Oma ini suami Jingga!" tutur Jingga dengan percaya diri meraih tangan Adip dan mengajak mendekat.
"Nila kenalkan ini kakakmu, Adipati!" lanjut Jingga lagi.
Oma kemudian memperhatikan Adip dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sementara Adip membungkukan badan tanda hormat, lalu menangkupkan kedua tangan tanda salam ditujukan untuk Oma dan Nila.
"Selamat Pagi, Oma. Assalamu'alaikum, perkenalkan sayan Adipati!" tutur Adip.
Nila membalas tangkupan tangan Adip dengan senyum lalu mengangguk dan menundukan pandangan lagi. Adip pun tak mengajak salam Nila atau menatapnya terlalu lama. Nila terlihat sangat menjaga diri dan tertata. Perlakuan Adip terhadap Oma dan Nila pun jadi berbeda.
Terhadap Oma Adip berani tersenyum dan menatap lama.
__ADS_1
"Kemari Nak!" ucap Nenek ingin menyentuh Adip.
Adip pun mendekat dan mencium tangan Oma. Oma pun kemudian menangkup kedua tangan Adip yang berdiri di depanya.
"Kamu sungguh tampan Nak. Beruntungnya cucuku bersuami tampan sepertimu. Pantas dia kekeh. Tolong jaga dia ya, harus sabar juga. Dia bawel!" ceplos Oma dengan tatapan sayangnya.
"Omaaa!" pekik Jingga manja kenapa Jingga dibilang bawel.
Oma tersenyum, Oma juga kaget melihat Jingga yang kemarin di rumah masih polosan pakai celana seksi sekarang berhijab.
"Ayo masuk, semua sudah menunggu!" tutur Oma kemudian.
"Ya Oma!"
Belum Adip dan Jingga masuk, dari dalam rombongan Buna sudah duluan datang menyambut.
"Jingga!" pekik Buna terharu melihat putrinya pulang- pulang berhijab.
"Ini kamu Nak?" tanya Buna dengan bahagia.
"Iya Buna!" jawab Jingga tersenyum, tapi Jingga tidak langsung memeluk Buna. Jingga malah menggandeng tangan Adip percaya diri.
"Ini suami Jingga, Buna!" ucap Jingga.
Buna pun tertegun menatap menantunya dengan seksama.
Adip membungkukan tubuhnya tanda hormat, lalu memajukan tubuhnya hendak meminta salam.
"Asaalamu'alaikum Buna. Perkenalkan saya Adipati," ucap Adip hormat.
Sayangnya tangan Adip dianggurkan, Adip dan Jingga pun jadi bingung. Buna malah menatap Adip dengan mata berkaca- kaca hampir menangis.
"Buna!" panggil Jingga jadi negatif thingking dan panik. "Buna kenapa?" tanya Jingga.
Air mata Buna lolos, dan menetes. Buna menyekanya menatap Jingga tersenyum, lalu maju balik menatap Adip dan meraih tangan Adipati.
"Kamukah yang bernama Adipati yang menolong putriku?" tanya Buna dengan suara gemetar.
Semuanya jadi bingung dengan tingkah Buna, tak ada yang mengira akan sedramatis itu
"Iya... saya Adipati," jawab Adip gemetaran bingung.
"Kamu pemuda yang biasa di perempatan lampu merah dekat dengan sekolah An Nur kan?" tanya Buna lagi.
"Ehm...," Adip berdehem, bertanya dalam hati, kenapa memangnya?
"Kamu pemuda yang suka pakai topi hitam itu kan?" tanya Buna lagi.
Jingga kemudian ikut menatap suaminya dan Bunanya. Kenapa Buna tanya banyak tentang Adip.
"Ehm...," Adip masih berdehem bingung tapi itu memang dia.
"Mba Fitri...," panggil Buna.
Semua menoleh ke Fitri yang segera datang menuju ke Buna. Fitri juga sempat kaget melihat Adip.
"Ini pemuda yang aku cari kan? Mana fotonya!" ucap Buna.
"Iya Nyonya!" Fitri mengangguk dan memberikan ponselnya. Buna buru- buru menununjukan pada Buna.
"Naak, ini kamu kan?" tanya Buna, menujukan foto Adip yang punya kebiasaan kasih makan kucing liar, dan mengobati kucing- kucing yang sakit.
Adip kemudian melirik ke Jingga dan merasa kikuk ke semuanya. Sesungguhnya Adip juga tak ingin apa yang dia lakukan diketahui banyak orang.
"Ehm...," Adip bingung mau jawab iya atau tidak.
"Saya selama ini mencarimu, Nak. Ya Alloh, baik sekali takdir putriku," ucap Buna kembali menitikan air mata tidak menunggu jawaban Adip malah meraih tangan Adip. Ibu mertua kan mahrom juga untuk menantu.
"Tanpa aku bersusah payah, sekarang Alloh berikan kamu jadi putraku. Ayo masuk!" ajak Buna terharu.
Adip semakin bingung sendiri. Tapi ya sudah ikut saja.
"Iya Buna," jawab Adip.
Jinggapun menatap suaminya bangga.
"Bunaku baik kan?" bisik Jingga centil sambil mengerlingkan matanya.
Adip mengangguk sambil menahan gerogi memasuki rumah besar Baba.
Berbeda dengan Buna dan Oma yang sampai menyambut keluar, di dalam para lelaki dan yang sudah kenal Adip menunggu di meja makan menahan lapar dengan tatapan kesal.
"Alhamdulillah akhirnya kalian sampai juga. Laper nih aku. Yuk makan, yuk!" celetuk Amer girang saat Adip datang.
"Amer!" pekik Buna bukanya kenalan dulu malah makan, tapi ternyata Amer didukung Iya dan Iyu. Mereka berdua langsung ke girangan ambil keroket kentang.
__ADS_1
"Kak Jingga datang. Yeeey makan!" seru Iya dan Iyu.
Jingga pun manyun. "Dasar adik nyebelin semua, ternyata yang ditunggu makananya bukan Jingganya,"