
Jingga duduk tenang di kursi paling belakang pesawat perintis yang mirip mobil angkutan umum dari jaman Jingga belum lahir itu. Meski dalam hati Jingga ingin menggerutu, protes dan mengeluh, semua itu Jingga tahan.
Pilihanya hanya ada dua, pertama jika mengeluh berarti memilih kembali ke Ibukota dan menikah dengan Pak Rendi. Jingga juga akan kembali hidup dengan semua keteraturan yang ada, bahkan dengar- dengar Jingga akan diajak ke pesantren keluarga Rendi.
Kedua, diam saja dengan semua yang ada dan nikmati masa- masa terakhir sebagai gadis, mengulur waktu menjadi seorang istri, sedikit bernafas merasakan kehidupan dunia luar.
Ya Jingga merasakan, ternyata dunia luar tanpa fasilitas babanya begini, begitu banyak ketidaknyamanan dan tanpa jaminan.
Jingga menyadari semua itu, semua tangis dan teriakan manjanya dia ikat erat- erat agar tidak keluar. Jingga ganti dengan menghadirkan rasa syukur dan tekad yang membara untuk bahagia.
Sesungguhnya Jingga ngeri- ngeri sedap, sudah pesawatnya jadul, harus terbang sore.
Langit terlihat mengeluarkan warna keemasanya, melihat ke bawah hanya ada pepohonan dan sungai-sungai besar seperti ular yang sangat panjang. Jingga pun memilih berdoa agar selamat sampai tujuan.
Heranya selain Jingga, teman- teman tampak nyaman dan bahagia. Jingga jadi kagum melihatnya. Mereka hidup di dunia yang sama menghirup nafas yang sama berbahasa sama, jika teman- teman Jingga bisa menikmati hidupnya kenapa Jingga tidak. Ya Jingga pasti bisa bertahan.
Suasana pengap panas di dalam pesawat, nyatanya lebih panas dan engap saat hanya ingin membeli eskrim saja Jingga dikawal pengawal. Kerasnya bangku pesawat yang Jingga duduki, lebih keras pendapat Babanya yang tidak bisa dia lawan. Bangku pesawat peristis yang Jingga naiki memang begitu keras karena pesawat yang Jingga naiki memang pesawat kecil dan peswat lokal yang fasilitasnya sangat amat sederhana.
“Hai... kenalan dong!” sapa teman pria di yang duduk mendekati Jingga.
Jingga menoleh sedikit kikuk. Jingga ingat pesan Tari, “Di sini tidak ada teman dan saudara, harus ramah ke semua orang agar Jingga tidak dijahati!” Jingga pun tersenyum menyambut teman pria yang mendekatinya itu.
“Hai!” jawab Jingga.
“Aku boleh duduk di sini kan?” tanya pria itu.
“Ya boleh!” jawab Jingga singkat.
“Kenalin dong, aku Aji, kamu yang tadi maju ke depan kan?” tanya Aji kembali mengingatkan peristiwa memalukan tempo hari. Jingga jadi tersipu dibuatnya.
“He... iya!” jawab Jingga.
“Dari kampus mana?”
__ADS_1
“Uiversitas I.....” jawab Jingga singkat menyebutkan nama universtitas terbaik di negerinya.
“Waah, keren, ambil jurusan apa?” tanya Aji lagi.
Jingga kemudian mengusap tengkuknya, menyebutkan jenis fakultas Jingga sedikit sungkan karena jurusan kedokteran akan dipandang sedikit istimewa. Belum Jingga menjawab Aji malah sudaah menebak duluan.
“Denger- denger katanya, calon Bu Dokter ya?” tebak Aji ternyata hanya berbosa- basi mendekati Jingga.
“He... iya, itu kamu tahu!” jawab Jingga.
“Taulah, nanti kalau aku sakit boleh dong main ke tempat kamu berobat?” ucap Aji lagi membercandai Jingga.
“Boleh!” jawab Jingga malu-malu, tidak memperdulikan pandangan orang tentang mereka.
Ternyata dari arah depan ada dua pasang mata yang melirik ke arah Jingga dengan tatapan berbeda.
“Kecentilan banget sih! Dasar sok cantik! Kegatelan!” batin Nita ketua kelompok distrik Jingga. Nita satu almamater dengan Aji, dan Nita sudah lama mendekati Aji, bahkan Nita ikut acara ini untuk mendekati Aji, eh malah dia dipisah desadari Aji. Nita pun terbakar api cemburu Aji mendekati Jingga.
“Ck... sudah diingatkan jangan kecentilan. Jangan bilang nanti dilecehkan lagi, apa itu hobby mu menggoda laki- laki!” batin Adip menelan ludahnya entah kenpa dia geram sendiri.
Adip ingat pelecehan yang kemarin Jingga alami dari Tama. Adip juga melihat dan memperhatikan Jingga beberapa kali duduk berdua dengan Pak Rendi sampai Adip mempunyai kesimpulan kalau Jingga ada hubungan dengan Pak Rendi.
“Tapi kenapa wajahnya begitu polos, dasar!” gerutu Adip kesal sendiri.
“Hhhhh.... kenapa juga gue suruh panitia terima dia kemarin ya?” batin Adip lagi mengulum lidahnya.
Entah kenapa saat Adip pertamaa mengetahui identitas Jingga seorang putri Gunawijaya, Adip penasaran dan ingin melihat bagaiamana Jingga. Bahkan terbersit di hati Adip ingin mengerjai Jingga yang menurutnya saat itu menyebalkan karena tidak mau mengurus kucing. Bayangan Adip mengerjainya itu akan sangat menyenangkan.
Setelah mengetahui bagaimana Jingga selama di asrama begitu lemah dan polos, Adip kini merasa bertanggung jawab dan seperti teramanahi menjaga Jingga. Karena kalau bukan karena ulahnya Jingga tidak ada di sini bersamanya.
Diam- diam, sebelum Pak Rendi memeriksa pembagian penempatan Jingga, Adip juga yang mendekati panitia dan meminta Jingga di tempatkan di daerah yang dekat dengan tempat kerjanya. Adip juga ingin memastikan keputusanya tidak berakibat fatal.
“Haiiish!” desis Adip melirik ke Jingga lagi, Jingga malah terlihat semakin akrab dengan Aji, karena Aji tidak tahu malu cerita tanpa disuruh. Adip jadi penasaran ingin dengar apa yang Aji bahas, tapi apa untungnya dan apa haknya?.
__ADS_1
“Ngapain juga gue peduliian dia, hah siapa dia juga?” ucap Adip memalingkan wajahnya lalu Adip mengepalkan tanganya memukul- mukul pahanya sendiri tanpa sadar. Di samping Adip siska padahal sudah menyodorkan sebungkus permen.
“Bang Adip!” panggil Siska untuk yang ketiga kalinya akhirnya Adip bangun dari lamunanya.
“Heh ya Sis!” jawab Adip.
“Ngelamunin apa sih?” tanya Siska melihat Adip memukul- mukul pahanya berulang kali dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.
“Nggak, nggak apa- apa, nggak sabar aja pengen segera sampai pengen tidur!” jawab Adip.
“Hemmm gitu? Katanya sih 2 jaman Bang!” jawab Siska.
“Oke berarti bentar lagi!” jawab Adip.”
“Permen Bang biar nggak bete!” ucap Siska memberi perhatian ke Adip.
Adip yang ramah dengan semua orang kemudian menerima permen dari Siska. Hanya saja Adip tetap merasa tidak nyaman dan berselera mengobrol dengan Siska.
Tidak bisa dijelaskan dengan kata, bahkan tidak juga dia sadari. Adip dikuasai rasa yang begitu menyiksa, tidak bisa dijabarkan apa namanya, yang jelas Adip jadi tidak mood melakukan apapun. Membuka mulutnya saja Adip rasanya berat, tapi Siska terus menanyainya.
“Eh gue mau buang angin, gue ke belakang dulu ya!” ucap Adip moodnya sangat jelek untuk menanggapi Siska. Dia melihat di dekat Aji ada kursi kosong.
“Oh iya Bang!” jawab Siska sedikit kaget dan menelan ludahnya, wuaa Adip sopan banget mau buang angin di pesawat.
Adip kemudian bangun dan berjalan ke kursi paling belakang. Aji dan Jingga langsung terdiam, terutama Jingga langsung gelagapan dan menelan ludahnya.
“Sory gue mau kentut, kalau di depan takut nyebar!” ucap Adip terus terang menoleh ke depan penuh dengan teman-temanya.
“Wua?” pekik Aji dan Jingga bersamaan dengan ekspresi jijik dan kesal. Aji secepat kilat bangun berjalan ke depan, sementara Jingga yang lelet hanya mengernyit kesal dan langsung menutup hidungnya.
"Nyebelin banget sih?" gerutu Jingga.
"Kita impas kan? Lo juga udah ngotorin kaosku!" ucap Adip merasa biasa saja karena sebenarnya dia tidak sungguh ingin kentut.
__ADS_1