
Jingga bersama Uti dan Tari berjalan menuju ke kelas mereka. Karena Jingga mutah-mutah dulu dan dipotong ada Pak Rendi, Jingga belum sempat cerita.
"Kalau aku cerita ke mereka, nanti malah ketahuan, kalau aku ada perjodohan dengan Pak Rendi. Oh no no no. Aku nggak boleh cerita kesiapapun. Titik! Nggak ada yang boleh tau!" batin Jingga berfikir.
"Lo, katanya mau cerita Jing? Cerita apa?" tanya Uti.
"Nggak apa-apa nggak jadi!" jawab Jingga.
"Oh oke!" jawab Uti berlenggang.
Tapi Jingga kemudian ingat Tama, tentang Tama Jingga masih bingun dan tidak puny penyelesaian. Akhirnya Jingga memutuskan untuk bertanya tentang Tama.
"Eh tunggu tunggu!" panggil Jingga.
Uti dan Tari kemudian berhenti.
"Apa!"
"Duduk dulu aku jadi cerita!" tutur Jingga.
Tari dan Uti kemudian ikut duduk di bangku depan kelas. Mereka bersiap mendengar cerita Jingga.
Jingga tidak biasa curhat ke orang lain. Akhirnya Jingga inisiatif. Melakukan screenshoot pesan dari Tama lalu menyembunyikan identitasnya.
"Temenku. Pacarnya wa seperti ini. Padahal temenku itu sibuk beneran. Bukan selingkuh. Menurut kalian, temenku harus temuin pacarnya nggak? Di saat yang bersamaan temenku itu ada kepentingan yang sangat genting juga!" tutur Jingga bercerita dengan ragu.
Uti dan Tari membaca pesan Jingga kemudian menyerahkan ke Jingga. Uti bangun tidak berkomentar dan meninggalkan Tari dan Jingga. Jingga pun jadi tersinggung dan cemberut.
Tari masih duduk tapi menatap Jingga setengah mengejek.
Jinggga menunduk membolak balikan ponselnya merasa salah bercerita. Uti dan Tari jauh berbeda dengan Amoora, Joana dan Faya.
"Lo dapat nilai cumlaude bukan karena nyogok pakai uang bokap Lo kan?" tanya Tari malah keluar dari topik yang diajukan Jingga
Pertanyaan Tari langsung membuat Jingga tersinggung dan terhenyak.
"Maksud kamu apa tanya begitu? Kamu juga sering liat kan? Aku suka presentasi di depan. Bahkan teman-teman langganan nyontek dari aku? Kok lo tanya gitu?" jawab Jingga tersinggung.
"Oke. Kalau emang lo pinter? Menurut lo, sebelum lo pacaran dan menjalin hubungan sama cowok, hal yang paling penting dalam hubungan itu apa?" tanya Tari dewasa.
"Ehm..." Jingga diam berfikir.
Jujur kalau dari kenyataan Jingga menerima Tama, karena Jingga sering dikompor-kompori Amora, udah kuliah tuh pacaran. Yang kedua, Tama itu ganteng kaya dan keren. Tama juga sering kasih perhatian ke Jingga.
__ADS_1
Tapi, Jingga juga sering dengerin Baba dan Bunanya pas bertengkar. Jingga juga suka nonton film dan baca buku. Sebuah hubungan akan berjalan baik jika keduanya berkomitmen, saling percaya, saling melengkapi dan mengerti.
Pertanyaan Tari membuat Jingga jadi sadar. Kenapa Jingga nggak memikirkan matang-matang tentang prinsip-prinsip itu. Jingga hanya menuruti rasa dheg-dheganya karena ketampanan Tama.
"Lo denger pertanyaan gue kan?" tanya Tari lagi.
"Ya nanti gue bilang ke temenku. Harusnya kan cowok dan cewek harus saling percaya dan mengerti!" jawab Jingga.
"Cowok temen lo itu terlalu negatif thingking, psiko, chieldist dan nggak pandai mengatur emosi. Masa sih cuma nggak angkat telpon segitunya. Tinggal jelasin kan beres! Kalau dijelasin masih begitu. Tinggalin aja. Sok aja, masalah kecil aja ancamanya putus. Gimana kalau masalah gede!" tutur Tari panjang.
Jingga diam.
"Itu lo kan?" tanya Tari lagi.
"He... " Jingga nyengir.
"Siapa emang tu cowok?" tanya Tari lagi.
"Rahasia! Lo udah punya pacar?" tanya Jingga.
"Belum! Gue pengen punya pacar kayak Kak Adipati. Ya meskipun mungkin bukan dia. Fotokopianya deh nggak apa-apa!" ucap Tari malah membayangkan Adipati.
Jingga mendelik.
"Sekeren apa sih Adipati itu?"
"Hemmm, okelah, semoga lo berjodoh ya dengan orang yang bernama Adipati itu!" ucap Jingga.
"Aamiin. Ya udah yuk ke kelas. Gue belon belajar!" ucap Tari mengajak Jingga bangun.
"Eh, Uti marah ya sama aku?" tanya Jingga.
"Dia itu paling males bahas pacaran. Dia kan jomblo kronis kaya aku!" jawan Tari
"Jadi kalian juga nggak punya pacar?" tanya Jingga.
"Jingga, kita kuliah aja itu bayar semesteran dibayarin pemerintah. Uang bulanan aja emak bapak ku suka telat. Mana sempat kita pacaran!" jawab Tari.
"Oh, He... maaf!" jawab Jingga.
"Kamu mau kan jadi temenku?" tanya Jingga lagi berbisik.
"Lhoh kita kan emang udah berteman!" jawab Tari lagi.
__ADS_1
"Maksudku. Jadi temen cerita aku!" jawab Jingga lagi.
Tari kemudian tersenyum.
"Harusnya yang tanya itu, gue ke lo. Bukan lo ke gue!'" jawan Tari datar lalu berjalan cepat meninggalkan Jingga.
Jingga kemudian menatap langkah Tari yang berjalan meninggalkanya.
"Ternyata, gue belum tau tentang banyak hal. Kenapa selama ini bahkan gue nggak kenal dengan mereka. Benar kata Buna? Kita nggak harus dengerin kata orang? Pacaran atau nggak pacaran itu nggak masalah, tapi Kak Tama kan emang ganteng! Ah, tapi dia jahat ngatain aku selingkuh. Yang bener aja aku selingkuh sama si tukang ojek itu. Iyuh!"
Jingga berbicara dalam hati, mematung di depan kelas dengan bibirnya belak belok dan manyun sendiri tanpa ada yang mendengar.
"Woy... Jingga!" sapa Faya dari belakang menepuk bahu Jingga.
Jingga kemudian menoleh.
"Eh lo Fay. Kaget gue!" jawab Jingga.
"Lo ngobrol sama siapa tadi?"
"Oh tadi? Sama si Tari. Yang biasa duduk di pojokan di kelas kita!" jawab Jingga.
"Yang anaknya tomboy dan rambutnya suka berantakan itu?" tanya Faya dengn ekspresi merendahkan.
Tari dan Uti kan kalau kuliah pakaianya suka asal. Pakai celana panjang kulot atau jeasn. Lalu atasan kemeja kotak-kotak atau kadang-kadang kadang celana kain dan outer. Uti dan Tri hampir tidak pernah memakai dress.
Abis itu rambut mereka diikat ke atas satu ikatan, kadang hanya ditekuk dan dijepit dengan catokan rambut. Uti dan Tari nggak pernah creambath, smoothing atau semacamnya, seperti yang dilakukan Jingga dn teman-temanya. Mereka memang tampi apa adanya. Padahal mereka mahasiswa kedokteran.
"Tapi mereka bersih dan baik kok!" jawab Jingga membela. Meski penampilan Uti dan Tari sederhana, mereka memang masih menjaga kebersihan dan wangi.
"Lo ada perlu apa sama mereka?" tanya Faya lagi posesif.
"Nggak. Sih tanya biasa aja!" jawab Jingga lagi.
"Oh. Gue kira? Abis lo keliatan deket gitu ma mereka!" ucap Faya lagi.
"Biasa aja. Kita kan sekelas sama mereka wajar dong. Gue ngobrol sama dia!" ucap Jingga menutupi ke Faya kalau Jingga ikut acara semacam Ruang Inspirasi.
"Oke! Eh, gue belum belajar nih. Ntar kasih tau ya!"
"Siip. Ya udah yuk masuk!" jawab Jingga.
"Ayuk!"
__ADS_1
Jingga dan Faya masuk. Rupanya Amora dan Joana sudah menunggu. Bahkan Jingga dan Faya sudah dibookingkan tempat duduk, agar mereka duduk berdekatan dan bergerombol.
Jingga sedikit lega karena dosen yang mengawasi adalah Bu Santi bukan dosen gila. itu.