
Pov Pak Rendi.
Rendi rasanya masih sakit hati dengan tindakan dan keputusan Baba. Bukan tanpa masalah, selama bertahun- tahun, Pak Rendi menjaga dan memperhatijan Jingga dari kejauhan, membayangkanya merasakan debaran tiap hari bertemu bahkan keluarga Rendi sudah tahu semua, akan tetapi batal sepihak.
Jingga memang mahasiswinya, tapi jarak 10 tahun masih bisa ditolelir. Lalu bagaimana kalau jaraknya 14 tahun. Pak Rendi yang sakit hati ditambah sakit hati dengan ajakan orang tuanya agar Rendi menikahi Nila, Adik Jingga yang masih 16 tahun.
"Ummi..., ini konyol!" jawab Rendi saat Uminya datang di apartemenya.
"Apanya yang konyol, Nak. Ummi sudah kasih kamu waktu sebelum membuat kesepakatan dengan Tuan Ardi. Umii sudah kasih kesempatan dan perjanjian dengan kamu. Cari jodoh. Tapi kamu kan yanh janji patuh pada Ummi" tutur Ummi Rendi panjang.
"Tapi Nila masih kecil. Ummi...," jawab Rendi lagi.
"Kamu juga masih 3 tahun lagi kan ada kontrak di rumah sakit itu?" tanya Ummi lagi.
Rendi diam tidak menjawab.
"3 tahun cukup untuk menunggu Nila siap menjadi istri dan diperbolehkan negara. 3 tahun juga cukup untuk Ummi didik dia jadi pengasuh pondok Putri. Uang sumbangan sudah Abi belanjakan untuk buat perpustakan. Ummi hanya ingin kamu tunaikan janjimu. Menikahlah denganya, di pondok. 3 tahun setelahnya pulanglah!" tutur Ummi panjang.
Anak- anak Ummi yang lain memang fokus di yayasan keluarga Abi dan Pak Dhe Farid. Hanya Rendi yang melenceng keluar memilih jalur kesehatan.
****
Karena lusa Nila sudah harus mulai masuk SMA di yayasan keluarga Pak Rendi, Ummi pun ingin memastikan hari pernikahan Pak Rendi.
Ummi mau selama 3 tahun menempuh pendidikan Nila tinggal di rumah Ummi. Itu sebabnya agar tidak terulang gagal nikah lagi, Ummi ingin mereka nikah secepatnya.
****
"Ba...," pekik Jingga orang pertama yang langsung meradang.
Baba dan Nila langsung menatap ke Jingga.
"Itu Ibunya Pak Rendi mau apa?" tanya Jingga kesal.
"Oh iya,Baba lupa kasih tahu. Baba yang undang mereka. Harusnya Baba dan mereka bertemu di restoran. Karena Baba antar kamu jadi kita ketemu di sini saja." jawab Baba enteng.
"Hooh!" pekik Jingga kaget.
"Kenapa?" tanya Baba.
"Ba...Nila masih mau sekolah SMA!" protes Jingga ngotot.
Tapi Adip langsung menggenggam tangan Jinhga dan menggelengkan tanganya peringatan tanda jangan protes.
Jingga menoleh ke Nila. Sayangnya Nila tampak tenang tidak protes.
Buna dan Oma juga hanya diam
"Oma.. Buna.. ini apa?" protes Jingga masih tidak terima.
__ADS_1
"Semalam.kita udah bahas ini Nak. Nila 3 tahun ke depan fokus sekolah dan selesaikan ngajinya kok," jawab Buna malah menenangkan Jingga.
Jingga hanya diam menghela nafas dan masih tidak percaya. Bagaimana Jinhga menjelaskanya ke Nila, Baba dan Buna.
Bahkan Pak Rendi pernah sangat percaya diri bilang kalau Pak Rendi tergila- gila padanya. Pak Rendi bahkan mengancamnya kalau cepat atau lambat Jingga akan jadi istrinya.
"Ya Tuhan Nila... aku tidak mau kamu sakit hati?" gumam Jingga dalam hati kesal sendiri ingin menangis, tapi mobil sudah berhenti. Bahkan Baba sudah turun dan menyalami Abi dan Umminya Pak Rendi.
Hanya untungnya, Pak Rendi tak pernah ikut.
Adip satu- satunya orang yang mengerti Jingga tetap duduk di mobil.
"Sayang...," panggil Adip ke Jingga sambil menepuk bahunya.
Jingga yang sedang melamun langsung menoleh dengan tatapan nanar.
"Jingga takut Nila sakit hati Bang! Nila masih kecil!" ucap Jingga.
"Tapi Nilanya mau!" jawab Adip lagi.
"Nila itu terlalu polos dan nggak ngerti apapun.Teman aja mungkin hanya Bunga,Iya Iyu dan Jingga Bang. Dia tahunya cuma ibadah baca buku sama ngasuh Iya Iyu!" jawab Jingga merendahkan adiknya.
Adip mendengar itu malah mengangkat alisnya.
"Yakin? Tapi kayaknya kebalik deh!" jawab Adip malah meledek Jingga.
"Uummm," jawab Adip mengangguk tersenyum.
"Waaah.Abang ngehina Jingga?" pekik Jingga tidqk terima.
"Yang Bang Adip lihat sih. Nila malah lebih tahu banyak hal dari kamu. Dia jago masak kan? Dia juga SMP di pondok kaan? Dia pandai bebersih dan lebih mandiri. Kayaknya malah dia yang banyak teman deh! Yang nggak punya teman malah kayaknya bukan dia deh.." jwab Adip malah menjatuhkan Jingga yang tentu saja membuat Jingfa kesal.
"Abaaang...," pekik Jingga kesal dan memukul lengan Adip.
Adip tersenyum sambil menangkis.
Adip kemudian menggenggam tangan Istrinya lalu membelainya tenang.
"Sayang...jodoh itu, kuasaNya Alloh. Sebenci apapun kamu ke Pak Rendi, kalau memang Nila suka dan sudah jalanya kita mau apa? Toh Baba dan orang tua Pak Rendi sudah membuat kesepakatan tetap memberikan hak pendidikan Nila dan memberi Nila waktu mempersiapkan diri. Ya sudah bukan ranahnya kita lagi," tutur Adip bijak.
"Baaang. Masalahnya bukan itu?" jawab Jingga.
"Lantas apa?" jawab Adip.
Jingga terdiam. Masa iya Jingga kasih tahu Adip seperti apa Pak Rendi memperlakukan Jingga selama ini..
"Apa Sayang?" tanya Adip.
Jingga diam dan menatap suaminya dalam.
__ADS_1
"Jingga takut Bang!"
"Takut apa?"
"Jingga takut Pak Rendi sakitin Nila," ucap Nila serius.
"Sakitin gimana?"
"Pak Rendi pernah bilang. Dia itu tergila- gila sama Jingga,"
mendengar itu Adip malah melepaskan tanganya dan menatap acuh ke depan.
"Jadi kamu nggak setuju karena nggak rela penggemar kamu nikahin orang lain?" jawab Adip cemburu.
"Kok Abang jawabnya gitu?"
"Kamu percaya diri banget Pak Rendi tergila- gila sama kamu?" tanya Adip lagi masih cemburu.
"Ya dia bilang sendiri Bang... dia bilang sendiri kenapa selalu kasih aku tugas tambahan dan minta aku asisteni dia. Dia yanh paka jemput aku. Dia juga yany belikan baju- baju aku selama di asrama. Dia juga berkali-kali bilanh kalau aku akan jadi istrinya. Dia bilang cinya sama aku...," cerosos Jingga panjang kali lebar kali tinggi menjelaskan bagaomana proses pdkt Pak Rendi ke Jingga.
Tidak sadar dada Adip bergemuruh, rahangnya mengeras. Apalagi pas Jingga bilang Pak Rendi sering diasisteni Jingga, jemput Jingga.
Adip kira Jingga dan Pak Rendi tak saling dekat, hanya sebatas dijodohkan.Rupanya Pak Rendi dan Jingga saling kenal dan banyak kasih perhatian.
Jika laki- laki lain kan Adip tidaj cemburu sebab tidak kenal Baba.Jika Pak Rendi kan pria hampir sempurna dan sangat disukai Baba. Adip jadi cemburu.
"Hhhh...," Adip tidak menjawab malah buka pintu mobil.
Jingga pun mengernyit dan kaget lihat ekspresi Adip.
"Baaaang!" pekik Jingga tarik tangan Adip.
Jingga jadi gelagapan untuk oertama kalinya lihat ekspresi suaminya keal begitu.
"Abang kenapa?" tanya Jingga.
"Jadi kamu nggak rela Pak Rendi nikah sama orang lain. Biar deket- deketin kamu di kampus? Ya udahlah ngapain nikah sama Bang Adip!" jawab Adip cemburu. Sontak Jingga sangat kaget.
"Bang.. bukan giti. Bukaan! Jingga khawatirun Nila. Jingga takut Nila tidak mendapatkan balasan atas ketulusanya," jawab Jingga.
Sayangnya Adip marah dan menghempaskan tangan Jingga, dan berlalu dingin
"Hoooh.. bagaimana ini? Kenapa malah Bang Adip marah? Kenapa tidak ada yang mengerti maksudku?" batin Jingga mengernyit gemas dan bingunh.
Tapi suami Jingga sekarang lebih utama. Jingga pun berlari menyusul suaminya. Jingfa dan Adip tak menyapa tamu dan berlalu ke kamar.
Jingfa dan Adip juga tak ikut andil di rapat keluarha mereka.
"Baaang.. maafin Jingga. Maksud Jingga bukan gitu?" rayu Jingga sesampainya di kamar.
__ADS_1