Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
69. Sampai


__ADS_3

Jingga pun menutup hidungnya sangat kesal dan membalikan pandanganya berpaling dari Adip. Adip hanya diam dengan santainya. Entah kenapa ada rasa lega berhasip menmbuat Aji menjauh dari Jingga.


"Udah belum kentutnya?" tanya Jingga masih cemberut.


"Udah! Buka aja hidungnya!" jawab Adip.


"Awas kalau masih bauk. Kenapa juga sih harus kesini?" jawab Jingga membuka tangan yang menutup hidungnya.


"Salah siapa duduk di belakang sendiri!" ucap Adip tidak mau kalah.


"Hhh" Jingga kemudian diam dan memalingkan wajahnya lagi.


"Aaakh!"


Tiba-tiba pesawat seperti oleng dan miring, secara reflek Jingga jadi berpegangan pada paha Adip. Ternyata mereka sampai di landasan peswat perintis kecil itu.


Landasan pesawat itu tidaklah seperti bandara modern pada umumnya. Melainkan hanya seperri tanah lapang yang dipadatkan dan dengan batu kerikil. Landasan berada di atas bukit, yang biasanya banyak binatang buas seperti babi dan anjing. Jika salah titik pesawat juga bisa terpeleser ke jurang. Jadi sebelum memastikan titik pas untuk mendaray pilot berputar- putar di atas landasan membuat penumpangnya pusing dan oleng.

__ADS_1


Jingga pun mencengkeram paha Adip sangat kencang, karena kaget dan takut. Adip diam tidak menolak. Adip menelan ludahnya dan terus melihat tangan lentik yang bertengger di kakinya itu.


Entah kenapa, Adip tidak merasa pusing karena pesawatnya berputar- putar. Yang ada jantung Adip berdebar kencang, ada rasa yang tidak bisa dia jelaskan.


Setelah berputar- putar agak lama dan cukup membuat Jingga pusing pesawat kecil itu turun.


"Ehm!" dehem Adipati karena tangan Jingga masih berada di atas kakinya.


Mendengar deheman Adip, Jingga langsung menarik tanganya gelagapan.


"Ayo turun!" ucap Adip.


Tari yang duduk berjejer dengan Lili pun menoleh ke Jingga mengajaknya turun. Mereka pun turun, menapakan kakinya untuk pertama kali di tanag pedalaman itu.


Hari mulai gelap, pemandangan di depan mereka tinggal pohon- pohon tinggi yang tampak mencekam. Burung- burung pun beterbangan, menghiasi langit yang warnanya sudah bercampur warna abu dan jingga keemasan.


Landasan pesawat mereka benar- benar tanah lapang jauh dari keramaian. Sekeliling mereka bahkan tebing yang curam dan mengerikan.

__ADS_1


Jingga pun bergidik ngeri, mereka berasa di dunia lain. Ternyata rombongan mereka adalah rombongan pertama dan terakhir di hari itu yang diantar. Kelompok lain menginap di kota memilih terbang besok.


Rombongan mereka pun disambut ketua suku di kecamatan itu. Mereka menyambut ramah 11 orang yang katanya mau mengabdi di daerahnya. 10 orang mahasiswa 1 orang pekerja kontrak.


Mereka pun bersalam- salaman saling sapa. Setelag berbosa -basi kepala suku langsung mengajak mereka berisitirahat.


"Mari silahkan ikut kami, Pak Che, Nonae!" sapa ketua suku.


"Baik Pak!" jawab Adip selaku yang paling tua di situ.


Mereka kemudian berjalan kaki di hari yang mulai gelap itu menuju ke sebuah gereja. Penduduk setempat mayoritas beragama non muslim jadi menyambut pendatang baru di sebuah rumah ibadah yang luas dan bisa menampung orang banyak.


****


Maaf ya Kakak.


Ini benar- benar kehaluan author, takut salah riset dan menyinggung author tak menyebutkan nama tempat. Mungkin akan ada banyak kehaluan yg tidak sesuai kenyataan maafkan yaa.

__ADS_1


Tapi ini kegiatan seperti yang author imaginasikan emang ada meski beda nama dan tugas. Author ambil riset dari itu meski banyak perbedaan. Hihi.


__ADS_2