Kisah Cinta Anak Sultan

Kisah Cinta Anak Sultan
121. Tidak mau


__ADS_3

Setelah berjam- jam berlalu, sedikit demi sedikit fungsi obat yang masuk ke tubuh Jingga, mulai hilang. Fungsi otak, susunan saraf tepi dan semua indra Jingga berangsur kembali. Pertama- tama Jingga terbangun dari kesadaranya, kelopak matanya terbuka perlahan.


Sayup- sayup Jingga melihat seorang perempuan tampak duduk bersandar pada penyangga bangku kayu menahan kantuk, menunggunya. 


Jingga segera mengedarkan pandanganya, dengan nafas yang memburu. 


“Gue dimana?” batin Jingga melihat ke sekeliling. Ruangan yang Jingga tempati jauh lebih bersih dari gubuknya atau tempatnya di desa T. Di sekeliling tembok kayu yang tampak kokoh itu terpasang gambar ibu menyusui dengan banner ASI ekslusif. 


“Gue dimana? Ini klinik!” batin Jingga ingin bangun dan menggerakan tanganya. Sayang seluruh tubuhnya terasa sedikit kaku dan berat. 


“Hai... Nona, Syukurlah kamu sudah sadar?” sapa Bidan Risa. 


Jingga membulatkan kedua bola matanya, memperhatikan Bu Risa dengan seksama. Memory Jingga mengenali Bidan Risa. Dia adalah seorang perempuan yang dia temui saat mencari Tari. 


“Kenapa saya ada di sini? Apa yang terjadi?” tanya Jingga kebingungan, Jingga bahkan melihat ke tubuhnya mengenakan pakaian yang tidak dia kenali. Gamis brukat dengan warna gold kegedean. 


“Kamu  masih ingat saya kan?” tanya Bidan Risa ramah. 


“Bukankah kau Bidan yang kutemui siang kemarin? Kenapa saya ada di sini?” tanya Jingga lagi, “Kenapa tubuhku tak bisa ku gerakan?” lanjut Jingga mulai panik.


“Tenanglah, pelan- pelan kau akan pulih lagi! Kamu baik- baik saja.Di sini, Aku yang ingin bertanya padamu? Apa yang terjadi padamu Nona Jingga? Kenapa kamu begini?” jawab bidan Risa justru bertanya balik. 


Jingga terdiam dan mencoba mengingat peristiwa menyakitkan yang dia alami.


"Hah....!" Jingga tercekik seketika itu dengan mengkerucutkan keningnya. Sepersekian detik air mata Jingga yang menggenangi kelopak matanya tekumpul dan meluap perlahan.


“Hiks... hiks... tidak ini mimpi kan? Ini tidak mungkin!” gumam Jingga malah menangis.


Jingga justru menduga ke hal buruk yang jauh. Ingatan terakhirnya adalah tertuju pada Tama yang terus mengatakan, “Malam ini kamu jadi milikku Jingga, hahaha, kita akan bersenang- senang! Hahaha” 


Saat obat Jingga mulai bereaksi, Tama sempat menjamah tubuh Jingga dengan tangan kotornya dan mengatakan perkataan yang merobohkan harga diri Jingga.


“Tidaaak, tidaaak! Ini salah, ini salah!” pekik Jingga histeris.


Jingga berusaha menggerakan tanganya untuk menutup kupingnya dan meringkuk tapi tidak bisa. Jari- jarinya berhasil digerakan tapi tanganya masih kaku untuk diangkat. Jingga hanya bisa memejamkan matanya dan menjerit.


Bidan Rissa pun mencoba memahami apa yang terjadi dengan Jingga. Bidan Risaa kemudian mendekat dan menggenggam tangan Jingga memberi kekuatan.


Bidan Risa ikut merasakan ngilu membayangkan apa yang terjadi pada Jingga. Sesuatu yang sangat mengguncang mental perempuan.

__ADS_1


Semua orang, termasuk Jingga sendiri berfikir, Jingga berhasil diperkooosa. 


“Apapun yang terjadi denganmu. Saya tahu ini berat, tapi ingatlah ini bukan akhir Sayang, kamu bisa perbaiki hidupmu. Its not ended, Oke! You must believe, You can do it! Saya percaya Nona Jingga, perempuan kuat!” tutur Bidan Risa memberi semangat ke Jingga. Jingga hanya bisa meneteskan air matanya.


Di saat yang bersamaan, pintu klinik Bidan Risa diketuk oleh beberapa utusan warga. Dua orang itu suruhan  Guru tua, meanyakan kesiapan Jingga. 


“Dia sudah sadar, saya butuh orang membantu membawanya, dia harus ditandu karena belum sepenuhnya efek obat itu hilang!” tutur Bidan Risa keluar memberitahu. 


Dua warga itu kemudian mengambil tandu yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut hasil tani. 


“Hiks... hiks....” Jingga masih terus menangis, menyadari dia kehilangan sesuatu yang berharga, tanpa merasakanya, tanpa bisa berbuat apa- apa.


Rasanya Jingga ingin terus berada dalam tidur yang panjang. Jingga tak ingin kembali jika kesadaranya membuat Jingga berada dalam keadaan seperti sekarang. Jingga bahkan tak bisa mengendalikan anggota badanya sendiri.


“Air matamu tidaak akan mengembalikan semua yang sudah terjadi. Ayo, bersiap, jangan sampai kamu membuat masalah lagi! Bersyukurlah Tuhan masih menyelamatkanmu kali ini! Kita bersiap ya!” tutur Bidan Risa lembut memberikan sapu tangan ke Jingga


“Apa maksud anda? Hidupku sudah berakhir, kenapa Tuhan jahat dan menempatkan ke situasi yang seperti ini? Apa salahku? Aku mau mati saja!” jawab Jingga justru berteriak histeris. 


Jingga tidak tahu kalau beberapa waktu sebelumnya dia diarak, diikat di tiang menjadi tontonan.


Jingga tidak tahu kalau adik kandungnya ada di situ. Jingga juga tidak tahu kalau Adip dan beberapa orang kiriman Tuhan menyelamatkanya. 


Bidan Risa menggenggam tangan Jingga lagi. 


Perkataan Bidan Risa semakin membuat Jingga terkurung dalam terkaan dan pemikiran buruknya, dugaanya semakin kuat, hal buruk itu sungguh terjadi. 


“Huu.... hu.... Bunaa... Babaa.... maafin Jingga!” Jingga terus menangis menyesali keputusanya pergi.


“Beberapa warga sepertinya sudah siap, ayo persiapkan dirimu!” ucap Bidan Risa lagi memberitahu, Jingga pun dibuat semakin bingung. 


“Persiapkan untuk apa?” 


“Kamu harus segera menikah!” 


“Menikah?” tanya Jingga benar- benar membuat Jingga berhenti bernafas dan semakin bingung. 


“Astagah aku lupa, kamu kan daritadi tidak sadar. Waktunya mepet, maaf aku tak bisa menceritakan ini sekarang. Yang paling penting, jangan sampai buat Guru Tua dan para warga marah, kau bisa tanyakan pada temanmu nanti, yang penting sekarang, Kau menikah dulu, ya!” jawab Bidan Risa memberitahu. 


Jingga menelan ludahnya dengan nafas memburu. Mulutnya tercekat benar- benar seperti ada yang mengikat pita suaranya. Jingga ingin berteriak dan bertanya, tapi dia tidak bisa. “Apa ini? Kenapa banngun- bangun Jingga disuruh menikah!” 

__ADS_1


Jingga terus mengumpulkan tenaganya melawan.


“Aku tidak mau. Aku tidak mau menikah, aku tidak mauu!!” Rengek Jingga menggelengkan kepalanya diikuti deraian air mata tidak menerima apa yang Jingga hadapi. 


Sayangnya warga yang membawa tandu sudah ketok- ketok pintu. Sebelum pagi Jingga harus sudah menikah dengan Adip, karena pagi nanti Guru Tua akan melakukan ritual di gua tempat dia bermeditasi. 


“Ini yang terbaik Nona, yang penting kalian selamat dari hukum adat di sini, oke? Ikuti saja aturan di sini. Aku yakin temanmu baik!” bisik Bidan Risa melepas Jingga.


“Teman?” kata teman yang diucapkan Bidan Risa, otak Jingga mencerna itu adalah Tama. 


Dengan sekuat tenaga, Jingga berusaha memberontak untuk tidak mau dinikahkan dengan Tama. 


“Aku tidak mau menikah! Aku tidak mau! Aku tidak mauuu!!!” teriak Jingga ingin bangun tapi tidak bisa. 


Bidan Risa hanya bisa melihatnya iba. Warga memaksa Jingga mengangkat ke tandu. 


“Aku mau dibawa kemana? Tolong aku... tolong aku tidak mau! Toloong!!” teriak Jingga meminta.


“Diam! Dasar perempuan hina!” bentak warga primitif yang membawa Jingga. 


Jingga semakin sakit dan tidak terima diperlakukan kasar, meski belum bisa bangun, ternyata Jingga mulai bisa merasakan aliran darah di badanya. Jingga mulai bisa memiringkan tubuhnya.


Jingga pun memberontak, ingin turun dari tandu itu. 


“Aku tidak mau! Aku harus pergi, aku tidak mau!” teriak Jingga menggerak- gerakan badanya sehingga Jingga justru terlempar dari tandu dan jatuh tergelincir. 


Sayangnya Jingga tidak bisa bangun saat terjatuh di semak itu. Meski jari- jarinya bisa digerakan tapi Jingga masih lemah untuk mengangkat tubuhnyanya. 


“Hiks... hiks.... kenapa Tuhan jahat padaku? Kenapa aku begini? Bunuh saja aku!” Jingga terus meracau merasa sangat frustasi karena tidak bisa melakukan apapun, selain menangis dan menyesali apa yang sudah terjadi.


"Apa ini azab durhaka pada Baba? Aku kan tidak perbah jahat?"


“Hikss hiks... aku hanya ingin buktikan ke baba, aku bukan anak manja. Aku hanya tidak ingin menikah dengan Pak Rendi, selebihnya aku selalu jadi orang baik, Aku tidak jahatin orang? kenapa Tuhan kasih aku ini?” Jingga tersu merutuki hal yang menimpanya, menerka sendiri Tuhan marah. Jingga merasa kalau Tama sudah berhasil merenggut mahkota berharganya dan itu sebuah hukuman.


“Perempuan ini benar- benar merepotkan, harusnya Guru Tua tak menghentikan ritual!”gerutu warga sambil mengangkat tubuh Jingga ke tandu lagi. 


Jingga yang mulai merasakan sakit hanya bisa terus menangis dan pasrah.


Warga kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke balai tempat Guru Tua para tetua desa, Adip dan Amer menunggu. Mereka membelah kegelapan malam dengan ditemani lentera alami menyusuri jalan setapak penuh rerumputan itu. 

__ADS_1


****


Selamat sahut Kakaak


__ADS_2