
Seperti malam- sebelumnya, saking fokusnya Adip membaca hafalanya, dia tidak tahu kalau Jingga sudah bangun dan duduk manis mendengarkanya. Sehingga setelah Adip selesai dan menoleh ke belakang Jingga sudah duduk tepat di depanya.
“Astaghfirullohal’adziim!” ucap Adip berjingkat ke belakang dari duduknya karena kaget.
“He...!” Jingga malah teresenyum. “Ternyata suamiku ustad? Sejak kapan? Kenapa kau tidak memberitahuku? Aku ajarin dong!” ucap Jingga dengan centilnya meletakan kedua tanganua di dagunya dan menggeraka jari- jarinya ke pipinya.
Adip menelan ludahnya, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terlihat sulit dijangkau sekarang sangat centil dan menyebalkan begitu.
“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya.
“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot.
Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas.
“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap lagi menasehati.
“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jinggasekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan.
“Dasar jorok! Mandi lah!”
Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai.
“He... aku jorok ya?”
“Iya...!” jawab Adip terus terang.
“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga.
Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga.
“Sudah cepat bangun, ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga.
“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian.
“Tidak! kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!”
Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam. Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan. Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga hingga waktunya tiba.
“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin.
Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah.
Adip sengaja, mengajak Jingga terus mengaji, dengan dalih agar mereka aman dan terhindar dari makhluk halus. Sejak ke air melihat sesaji, Jingga selalu cerewet dan paranoid. Bahkan Jingga tidak jadi mandi hanya berwudzu, dan terus menempel ke Adip.
Sementara mahluk halus yang sesungguhnya ingin Adip usir adalah ajakan Adip untuk melahap Jingga habis- habis, karena setiap Jingga mendekat adik kecil Adip selalu bangun dan ingin menampakan dirinya.
Mereka kini pun menyempatkan waktunya, terjeda untuk makan sambil melihat langit yang cerah akan sinar bintang dan bulan.
“Berarti kita berdua?” tanya Jingga.
“Menurut kamu? Memang kamu bisa lihat kalau ada yang lain selain kita?” tanya Adip ngeledek Jingga.
“Iiiih! Sukanya nakutin!” ucap Jingga paranoid lagi dan mendekat ke Adip bahkan menggandeng tanganya.
__ADS_1
“Aku gerah, jangan dekat- dekat begini!” tolak Adip secara halus.
Padahal bukan gerah, tapi sentuhan Jingga seperti membawa aliran listrik ke Adip.
“Bohong! Orang dingin begini!” ucap Jingga kesal.
“Ehm...!” Adip berdehem mencari cara untuk membuat Jingga mengerti, sikap Jingga yang agresif sungguh menyiksa Adip.
“Sudah, sana kamu masuk dan tidur duluan. Aku masih ingin di sini!” ucap Adip lagi mengusir Jingga.
“Nggak mau! Aku nggak bisa tidur! Aku mau tidur sama kamu!” ucap Jingga lagi masih dengan wajah manyun dan bawel.
“Ehm!” Adip berdehem semakin terpojok.
“Kenapa? Kamu nggak mau? Kita suami istri kan? Katamu kamu mencintaiku?” tanya Jingga bawel.
“Huuuft!” Adip menghela nafasnya menahan sabar, bagaimana memberitahu Jingga kalau Adip juga sedang berperang.
“Ya sudah ayo tidur!” ucap Adip kemudian mengajak Jingga tidur.
Solusi terbaik untuk membungkam kecerewetan Jingga adalah membuat Jingga tidur.
Adip kemudian membuat bantaan dari kain.
“Kamu tidur di sini, aku di situ!” ucap Adip menunjukan jarak tidurnya.
“Kok gitu?” tanya Jingga tidak terima.
“Gitu gimana?”
“Ehm... ehm...!” Adip dibuat semakin tidak tahan menghadapi Jingga kenapa Jingga terlihat sangat kegatelan. Tapi Jingga memang takut dan ingin berlindung ke Adip. Setahu Jingga kan penganten baru tidur dekat- dekat. Jangankan penganten baru, kata Amora pacaran aja mereka peluk- peluk.
“Aku takut!” ucap Jingga menggeser tubuhnya menempel ke Adip.
“Huuuft!” Adip tak bisa berkata- kata hanya menghela nafas sambil membatin dalam hati, tolong adik kecil jangan bangun dulu sebelum bertemu Baba Jingga.
“Sudah tidurlah, aku mau tidur!” ucap Adip berniat memejamkan mata sebelum Jingga.
“Ya!” jawab Jingga menghadap ke ketiak Adip.
Adip memejamkan mata pura- pura tidur, padahal kesadaranya sedang betarung. Setelah sekian menit, Adip membuka matanya dan memastikan Jingga sudah terlelap.
Setelah yakin Jingga tidur, Adip membawa bantalan pakaianya dan menjauh dari Jingga. Bahkan Adip duduk dan mengambil ponselnya yang mulai lowbat, menggesernya maju mundur, sangat fokus.
“Kenapa kau terus menjauhiku?” tanya Jingga tiba- tiba dengan ekspresi kesalnya.
Adip kembali kaget sampai ponselnya jatuh. Jingga selalu mengagetkannya.
“Ka- ka- kamu tidak tidur?” tanya Adip tergugup.
Jingga daritadi tidur tapi dia memandangi wajah tampan suaminya yang terlelap.
“Jawab pertanyaanku? Kenapa kau terus menjauhiku? Apa aku benar- benar bau?” tanya Jingga meracau mengira Adip menjauh karena Jingga jorok, seperti Tama dulu.
__ADS_1
Adip jadi bingung, dan belum menjawab. Jingga kemudian mencium kedua keteknya.,
“Aku tidak bau kok, tapi kenapa kau terus menjauhiku? Bahkan setelah kamu bilang kau mencintaiku dan aku istrimu? Kenapa?” tanya Jingga lagi mode cerewet.
“Aku tidak menjauhimu? Kenapa kamu berkata begitu?” jawab Adip bertanya merasa tidak nyaman karena Jingga mulai emosional.
“Bohong!” jawab Jingga ternyata otaknya mulai baper lagi.
“Aku tidak bohong, Jingga!” jawab Adip.
“Sungguh?” tanya Jingga.
Adip mengangguk pasti.
“Katakan padaku, apa kau tukang ojek dan tukang angkoot yang aku temui?”
“Ya!"
“Apa kamu veteriner yang dikenal Bunga dan Oma?”
“Hei...kenapa kamu tanya ini? Kan sudah jelas iya, makanya aku kenal Amer!”
“Diam dulu!” bentak Jingga.
“Sungguh kau mencintaiku dan benar mau menerimaku menjadi istrimu?” tanya Jingga lagi.
“Astaghfirulloh, aku tidak pandai mengungkapkan perasaanku, tapi aku ada di sini untuk kamu? Apa itu tidak cukup?” jawab Adip lagi.
“Tidak, kau selalu menghindar dariku, bukankah selayaknya orang pacaran, bahkan menikah itu sebaiknya mesra dan berdekatan? Kamu terus menjauhiku, dari awal sampai sekarang! Tapi kau selalu ramah dan dekat dengan perempuan lain!” ucap Jingga panjang mengeluarkan emosinya.
“Haish... apa kau merasa aku begitu? Apa kau sedang cemburu? Kita kan sekarang berdekatan? Aku tidak dekat dengan siapapun kecuali kamu!” jawab Adip.
“Sungguh?”
“Ya!” jawab Adip.
“Bohong!” jawab Jingga lagi masih mode bawel, membuat Adip garuk- garuk kepala bingung.
“Gimana aku ngejelasinya?”
“Aku tahu kau hanya kasian padaku, kau tidak mencintaiku? Kamu pasti tidak mau menjadi suamiku karena aku tidak suci lagi!” tutur Jingga kumat sensinya.
“Astaghfirulloh, kenapa kamu berkata begitu? Kan aku sudah jelaskan, aku mencintaimu, aku menerima kamu apadanya, kan justru kamu yang tidak pernah bilang ke aku kalau kamu mau menerimaku!” jawab Adip.
Jingga diam mendengar penuturan Adip, Jingga memang belum bilang cinta. Tapi kan ke agresifan Jingga dan kode- kode Jingga harusnya Adip paham.
“Iya kan?” tanya Adip membuat Jingga malu.
“Aku, kan udah bilang, aku ingin jadi istri kamu, aku ingin terus jadi istri kamu, aku mencintaimu, jadi ayo jangan menghindar kalau kau memang mencintaiku!” ucap Jingga jujur apa adanya tanpa malu.
“Ehm...” Adip jadi gelagapan, sepertinya Adip memang harus memberi pengertian agar Jingga tak salah paham.
“Kau pasti akan tetap menjauhiku kan? Kau seorang hafids, kau pasti juga ingin menikah dengan ukhti pesantren. Bukan sepertiku!” ucap Jingga lagi.
__ADS_1
"Bukan... Aku tidak seperti itu" jawab Adip tidak menyangka sikap nya yang menjauhi Jingga ternyata disadari Jingga dan menyakiti Jingga.