
Malam berganti, di ufuk timur sana hitam mulai mundur dan pamit menghilang, berganti terang yang datang pelan- pelan.
Adip yang kelelahan memijit bapak mertua sampai keluar iler tidurnya, masih terlelap.
Yang pertama kali bangun adalah Amer, karena didorong hasrat biologis ingin mengeluarkan kotoran hasil metabolisme tubuhnya.
Sayangnya Amer tidak cukup berani ke sumber air turun bukit sendirian apalagi hari masih petang. Mau tidak mau, Amer membangunkan Adip.
“Bang...,” panggil Amer menggoyangkan tubuh kakak iparnya yang baiknya minta ampun itu. “Bangun, Bang!”
Adip yang melongo langsung tersentak, dan tanganya reflek mengusap mulutnya yang sedikit basah.
“Heh..., ada apa?”
“Kayaknya udah subuh, temenin aku ke sumber air yuk! Perutku mules!” tutur Amer meminta.
“Hhhh...,” Adip pun bangun dan mengerjapkan matanya, lalu melihat ke sekitar. Sepertinya memang sudah masuk waktu subuh.
“Oke!” jawab Adip, bangun.
"Lets go!"
“Tunggu!" pekik Adip.
"Whats wrong?"
"Ayah mertua dan yang lain gimana? Dibangunkan sekalian nggak? Mau subuhan di sini apa di kampung? Sepertinya sebentar lagi fajar tiba,” tanya Adip ke Amer mengingat mereka harus tunaikan kewajiban.
“Bangunin sekalian! Sholat di sini saja, masjid di bawah kan jauh, Bang. Baba itu rewel, sampai masjid malah kita udah nggak kebagian subuh!” tutur Amer mengatai Babanya sendiri.
Tapi memang iya, kalau mereka turun bukit malam- malam, pasti Baba akan banyak menggerutu di jalan.
Apalagi jalanya masih setapak dengan undakan batu sederhana dan tanah gunung yang akan membuat sepatu mereka berubah ketebalanya, belum lagi tak ada lampu penerang selain lentera yang mereka bawa.
"Oke!"
Amer membangunkan Babanya, Adip membangunkan Pak Dino dan Pak Nur.
Mereka kemudian turun ke sumber air di sisi bawah bukit tempat kemarin mereka mandi. Tanpa malu Amer mencari batu strategis sebagai tempat nyamanya dia membuang hajatnya.
Agak aneh sih, mereka biasa membuang hajat di kloset duduk mengkilap dan wangi, kali ini di alam bebas, beratapkan langit yang membentang luas tak terbatas, dan tidak berbekas lagi. Karena ternyata di bawah Amer jongkok sudah mengantri ikan- ikan kecil. Aroma yang Amer keluarkan dari tubuhnya mengundang mereka untuk datang.
“Huuuuft,” Amer membuang nafasnya sangat lega setelah selesai.
Wajah Amer langsung cerah seketika seperti habis membuang beban yang sangat menyiksa.
Baba yang sedari tadi melihat- lihat dan menimbang- menimbang ternyata ingin juga. Hanya saja sebelumnya Baba merasa tengsin malu dan risih, padahal sudah menahan sejak kemarin. Itu pertama kalinya buat Baba setelah memasuki kepala 5 membuang hajat di tempat terbuka setelah ratusan hotel mewah dia singgahi untuk membuang kotoranya.
Dan ternyata kali ini yang sensasinya membekas tiada banding.
Membuang air tanpa memenet tombol air, ditemani gemericik suara air yang beradu pada batu.
Sudah begitu bekasnya langsung hilang dimakan hewan, dari situ Baba merasa berjasa. Ternyata hal yang paling sia-sia baginya juga bisa bermanfaat untuk makhluk Tuhan yang lain.
Semua pun menuntaskan keperluanya. Setelah selesai sekalian berwudzu mereka ke atas lagi.
Amer di depan berusaha menghafal jalan membawa lentera. Sementara Adip di belakang sendiri bawa lentera juga, memastikan orang kebesaran dan terhormat yang mereka kawal itu baik- baik saja.
Baba seistimewa itu memang. Sebanyak apapun keburukan orang, akan istimewa jika bertemu dengan orang yang tepat. Bahagianya Baba punya anak dan menantu yang baik dan penyayang, menerimanya dengan segala keriwehanya.
“Ehm...,” Baba berdehem dan berdiri di dekat Adip, yang sedang menata karpet agar bisa digunakan untuk jamaah.
“Katamu, kamu besar di pondoknya Kyai Anwar, kamu nggak ngarang cerita kan?” bisik Baba ke Adip, bertanya setengah menyindir dan menantang.
Adip menelan ludahnya tenang.
"Iya, benar, Kyai Anwar yang merawat saya, dan membiayai sekolah saya," jawab Adip jujur.
Ternyata Baba juga menyuruh Pak Dino menelisik siapa Adip. Adip punya 3 orang tua bahkan lebih. Yang utama, orang tua kandung yang sudah meninggal, lalu orang tua asuh yang menolong Adip pertama saat ditinggal orang tuanya, dia petani miskin yang tidak punya anak dan sekarang tinggal di daerah.
Ketiga Kyai Anwar, guru orang tua asuh Adip, kyai sepuh yang punya pesantren kecil di daerah. Kyai Anwar lah yang mengantarkan Adip bisa kuliah dan banyak bekerja.
"Kalau gitu, coba aku ingin tahu, seperti apa hasil kamu belajar di sana, bisa diaplikasikan tidak!" tutur Baba kembali ingin menguji Adip.
__ADS_1
"Ehm... maksud Ayah mertua? Ingin saya jadi imam?" tanya Adip.
"Jangan panggil ayah mertua. Aku belum acc kamu jadi mantuku," jawab Baba masih saja gengsi.
Adip menelan ludahnya, bener- bener oraang satu ini, pelit banget kasih restu. Padahal Adip meminta baik- baik.
Untung Adip baik, coba kalau enggak udah Adip lahap habis tanpa permisi si Jingga sejak pertama liat Jingga tanpa pakaian. Apalagi Jingga menawarkan diri siap dan bahkan meminta dibuahi Adip.
Adip sudah cukup banyak berjuang meminta adik kecilnya bersabar di saat dia meronta meminta haknya masuk ke tempat impianya, masih saja dibantai habis- habisan.
Perasaan semalam udah disogok pakai pijitan, kurang apalagi coba.
"Baiklah, ijin ke depan, Baba!" jawab Adip malah meledek Baba untuk ngeyel panggil Baba, Baba.
Baba pun hanya mendekil kesal, mantunya kali ini rupanya sedikit tengil.
"Aku mau kamu baca Surat Al mulk dan Naba," pinta Baba kesal dan ingin balas mengerjai Adip
"Baba yakin ingin saya baca surah itu?" tanya Adip berbalik menantang.
"Kenapa? Kamu tidak sanggup, apa itu artinya kamu membohongiku? Kamu beneran santrinya Kyai Anwar kan?" jawab Baba lagi menantang.
Adip menelan ludahnya sebenarnya bukan tidak bisa, Adip takut makmumnya itu ngantuk dan kelelahan menunggu.
"Baik, meski ini permintaan Baba, kita luruskan niat karena Alloh ya Ba. Sholat karena kebutuhan kita, saya sanggupi itu karena kebetulan saya lama tak lama-lama bermunajat dalam sholat, semoga dengan bacaan dua surah ini bisa menambah kita banyak terhubung dan khusuk sholat kita" tutur Adip lagi dengan tenang.
"Hemmm, sudah jangan banyak omong, keburu kentut!" Baba berdehem sombong mengira Adip akan gerogi.
Adip meminta Amer iqomah, Adip pun menjadi imam.
Di luar dugaan Baba, di rakaat pertama Adip membaca Alfatihah dan Al Mulk, bacaan Adip bukan hanya membuat Baba terkesima, tapi cukup menggetarkan hati Baba.
Baba tidak merasa sedang jamaah di gubug kecil, tapi Baba merasa seperti di alam yang luas. Baba sangat kecil di atas bukit di bawah langit yang luas membentang.
Baba meraasa dirinya dan Tuhan sang Khalik yang memiliki alam ini kini tak ada batas.
Baba tersadar dirinya kecil dan tak punya apa-apa.
Semua asetnya anak- anaknya dan istrinya sekarang tak ada di sampingnya.
Tidak ada yang melihat, Baba meneteskan air matanya, sampai Adip mengucap takbir untuk rukuk.
Adip benar- benar membacanya seperti masuk ke dalam artian setiap kata yang dia lafalkan, membacanya dengan penuh khusuk dan penghayatan. Bahkan orang yang mendengarnya ikut hanyut dan bergetar. Dirinya seperti terhubung dengan Sang Pencipta.
Di rakaat kedua, karena Baba manusia biasa, khusuknya teralihkan saat melakukan gerakan yang lain, seperti duduk.
Kini Baba sedikit hilang fokus dan kakinya malah terasa pegal karena kelamaan berdiri. An- Naba kan ada 40 ayat.
Baba ingin protes meminta Adip mempercepat bacaanya, dan Baba percaya, apalagi tiba- tiba seperti ada gerakan halus dari perut menuju pantatnya dan meminta ijin untuk keluar.
Tapi kan mereka sedang sholat. Apalagi itu rakaat terakhir. Baba harus pertahankan kuat- kuat agat si gerakan halus dari perutnya itu tak kaluar.
Baba juga harus menahan lututnya yang tidak sabar ingin ditekuk. Baba juga berusaha memusatkan otaknya agar khusuk lagi, tapi tetap tidak bisa karena pegal di lututnya lebih mendominasi.
Sepertinya tantangan Baba menjadi bumerang dan senjata makan tuan.
Saat Adip mengucap salam, Baba pun dalam hati bersorak sorai ingin meluruskan kakinya dan langsung mengusir udara yang sudah antri di depan pintu. "Tuuut," akhirnya keluar di saat yang lain sedang berdzikir.
Setelah sholat subuh. Adip mengajak mereka turun mencari bahan makanan.
"Tunggu agak siang, aku ingin lihat matahari terbit!" jawab Baba.
Adip mengangguk.
"Baiklah kalau begit," jawab Adip, lalu mengajak Amer mengambil air ke bawah. Kini sudah mulai cerah jadi Amer berani kemana- mana.
Adip mengajak Amer untuk membuat kopi panas.
Menunggu Amer dan Adip membuat minum. Baba duduk di batu pinggir tebing, menikmati udara segar dan melihat langit yang mulai dihiasi sinar keemasan.
"Dia sungguh menantu yang kuinginkan Din," tutur Baba lirih ke Pak Dino, di akhir obrolanya tanpa Adip dengar.
Semalam Baba sempat mewawancarai Adip, kenapa Adip memilih jadi veteriner kontrak di pedalaman.
__ADS_1
Padahal lowongan Veteriner di kota yang kerjanya di laboratorium besar gajinya lebih tinggi atau membuka klinik hewan banyak dan lebih menjanjikan.
Adip menjawab.
"Kalau semua orang ingin hidup enak dan mencari banyak uang di kota, lalu siapa yang akan peduli dengan mereka yang di desa, Ba,"
"Meski tertinggal, penduduk di desa juga ingin diperhatikan. Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan dan pembangunan yang layak."
"Mereka juga berhak sukses dan hidup sejahtera. Mereka hanya butuh pengetahuan dan kereampilan lebih, hanya saja keterbatasan jangkaun membuat mereka seakan buta. Mereka terpenjara dalam pulau yang tak terjangkau ilmu pengetahuan. Padahal sumber daya mereka melimpah,"
"Satu contoh kecil, rerumputan. Di Ibukota atau pulau yang padat penduduk, mencari pakan ternak akan sangat susah karena hampir semua lahan ditanami sekarang di tumbuhi rumah. Bukan lagi pohon dan rerumputan. Peternak di kota sampai harus membuat bahan pakan kimia yang harganya tidak murah, pemerintah malah impor daging dari luar negeri,"
"Padahal di sini di pedalaman, bahkan jika kambing atau sapi bahkan kuda kita gembalakan liar, mereka akan tumbuh subur dan sehat. Bahan pangan mereka melimpah ruah tak terolah.
Petani yang belum tahu cara mengolah tanah dan nelayan sederhana yang hidupnya memprihatinkan bertarung dengan alam bisa menjadi peternak sukses,"
"Bahkan kalau teroganisir ada yang menyalurkan mereka bisa memasok ke daerah lain, kita tidak perlu impor,"
"Sumber daya Alam di pulau ini, juga bisa dikembangkan menjadi tempat wisata yang berdaya saing internasional. Saat ada lowongan di sini, ini seperti dunia yang saya impikan. Adip ingin berperan di dalam itu semua, terdengar terlalu besar dan kejauhan memang, tapi bukankan hal besar dimulai dari hal kecil dulu?"
Itulah jawaban Adip yang membuat Baba terdiam, kecuali gengsi memuji, Baba dibuat melayang dengan pijitan Adip.
Pak Dino tersenyum mendengar pernyataan Baba. Pak Dino sudah hafal watak Baba dari jaman masih suka kabur- kaburan.
Baba sebenarnya bukan hanya setuju Jingga dengan Adip, tapi Baba sendiri jatuh cinta dengan Adip. Mungkin kalau Jingga tidak jatuh cinta, Baba akan angkat Adip jadi anak ke delapan.
"Apa rencana Tuan?" tanya Pak Dino seterusnya.
"Butuh berapa Trilyun untuk membangun desa ini?" tanya Baba lagi.
"Kita tidak bisa mengerjakanya sendiri Tuan. Butuh waktu yang tidak sedikit. Perlu perencanaan yang matang. Kita juga harus ajak pemerintah pusat dan juga beberapa perusahaan lain. Kita harus perbaiki dulu jalur transportasinya Tuan," jawab Pak Dino.
"Oke," jawab Baba mengangguk tenang.
Saat mereka terdiam mereka tiba- tiba dikagetkan oleh suara teriakan. Baba dan Pak Dino menoleh.
"Bang Adiiiiip," teriak Jingga berlari dengan mata berkaca- kaca.
Jingga langsung berlari memeluk Adip yang sedang berdiri hendak mengambil gelas bambu untuk menuang air mendidih membuat kopi.
Jingga yang mendarat pagi itu, langsung naik pesawat perintis, menuju ke desa S.
Awalnya Jingga tidak tahu Adip dan keluarganya di desa itu.
Jingga ke desa S bertujuan menemui penghulu untuk menjawab tanda tanyanya, sebenarnya pernikahanya sah atau tidak.
Saat Jingga naik ke desa, Jingga bertemu Pak Anton dan bilang di atas bukit ada keluarganya. Meski baru sampai, dengan semangat membara Jingga buru- buru ke atas.
"Jingga...." lirih Adip bingung.
Jingga langsung memeluk Adip dengan membabi buta dan sangat erat.
"Bang Jingga kangen," bisik Jingga menenggelamkan wajahnya ke dada Adip.
Adip jadi gelagapan, mendadak celana Adio jadi sesak karena ada yang membesar di bawah sana saat kedua benda Jingga yang menonjol rapat mendarat ke perut Adip.
"Ehm," dehem Adip bingung. Adip juga tertegun karena Jingga sekarang memakai hijab.
"Abang juga kangen, jangan erat- erat. Ada Baba," bisik Adip bingung mau balas memeluk atau melepaskan, Adip kan juga punya malu dan adab.
Sayangnya Jingga tidak peduli dan memeluk Adip posesif.
****
Note :
"Pekerjaan Adip itu tidak ada di dunia nyata ya... itu hanya hayalan author yang nggak jelas dan remahan ini. Aku juga nggak tahu kerjaan veteriner yang real gimana.
Oh iya, sedikit curhat ya.
Entah krn cerita Jingga aneh dan nggak sesuai pasaran, dari keempat nupelku Jingga paling mengesedih dan tenggelam. Apalagi dibanding author lain, aah jaaauh, nggak bisa dibilang.
Tapi meski begitu, aku tetap cinta. Buat pupuk cintanya author tetap bersemi, kasih vote, dan like yang banyak yaaa.
__ADS_1
Setidaknya biarkan sampai Jingga bahagia sebelum menghilang beneran.
Hehe